Sariputta | Suttapitaka | Angin Badai Sariputta

Angin Badai

Veramba (SN 17.9)

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, sungguh menakutkan perolehan, kehormatan, dan pujian itu … Para bhikkhu, tinggi di angkasa angin yang disebut badai sedang bertiup. Jika seekor burung terbang ke sana, angin badai itu akan menghempaskannya, dan ketika ia terhempas oleh angin badai itu, kakinya bergerak ke satu arah, sayapnya ke arah lain, kepalanya ke arah lain lagi, dan badannya ke arah lain lagi.

Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini yang pikirannya digoda dan dikuasai oleh perolehan, kehormatan, dan pujian merapikan jubah di pagi hari dan, dengan membawa mangkuk dan jubahnya, memasuki desa atau kota untuk menerima dana makanan dengan jasmani, ucapan, dan pikiran tidak terkendali, tanpa perhatian murni, dengan indria tidak terkendali. Ia melihat perempuan di sana yang berpakaian minim dan nafsu menguasai pikirannya. Dengan pikirannya dikuasai oleh nafsu ia meninggalkan latihan dan kembali ke kehidupan yang lebih rendah. Beberapa orang mengambil jubahnya, orang lain mengambil mangkuknya, orang lain lagi mengambil alas duduknya, orang lain lagi mengambil kotak jarumnya, bagaikan burung yang dihempaskan oleh angin badai. Sungguh menakutkan, para bhikkhu, perolehan, kehormatan, dan pujian itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com