Sariputta | Suttapitaka | ISTANA KUNING Sariputta

ISTANA KUNING

Pītavi­mānavat­thu (Vv 47)

Setelah Yang Terberkahi mencapai nibbana akhir, Raja Ajatasattu mendirikan stupa besar di Rajagaha untuk menempatkan relik Yang Terberkahi yang dimilikinya dan melakukan upacara persembahan. Pada waktu itu, seorang umaat awam perempuan datang dengan empat bunga rambat kosataki untuk memberikan persembahan tanpa memperdulikan bahaya di jalan. Namun tiba-tiba ada seekor sapi dengan anaknya yang menerjang dengan liar. Dengan marah sapi itu menyerang perempuan itu dengan tanduknya sehingga dia meninggal.1 Dia terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Ketika dia muncul di sana , Sakka-raja para dewa – sedang berada di keretanya untuk berolah raga di taman hiburan. Sakka bertanya kepada perempuan itu dalam syair-syair ini:

1. “Dewi dengan bendera dan pakaian kuning-keemasan,2 dengan perhiasan3 kuning-keemasan,3 yang diolesi cendana keemasan, yang memiliki rangkaian bunga4 teratai kuning-keemasan,

2. Dewi dengan Istana dan tempat tidur, tempat duduk dan mangkuk5 kuning-keemasan, dengan paying, kereta kencana, kuda dan kipas kuning-keemasan,

3. Tindakan apakan yang telah engkau lakukan, dewi yang elok, di dalam kehidupan manusia sebelumnya? Devata, ketika ditanya, jelaskan tindakan apa yang menghasilkan buah ini”

Devata itu mmenjelaskan dalam syair-syair ini:

4. “ Ada tanaman rambat, Bhante yang terhormat, yang disebut kosataki,6 yang pahit,7 tidak ada harganya. Saya mengambil empat bunganya untuk stupa.

5. Dengan pikiran yang penuh bakti terhadap relik Sang Guru, dengan perhatian yang dipusatkan padanya,8 saya tidak memperhatikan jalan.

6. Jadi sapi itu menerjangku, kerinduan akan stupa itu tak terpenuhi. Seandainya saja waktu itu saya mengumpulkan (apa yang seharusnya9), (hasilnya) sungguh jauh lebih besar daripada ini.

7. Melalui tindakan itu, O,pemimpin-dewa, Maghava10, gajah para dewa, setelah bebas dari tubuh manusia, saya datang ke dalam kelompokmu.”

8. Setelah mendengar hal ini, Maghava, tuan dari alam Tiga-Puluh-Tiga, gajah para dewa yang menggembirakan alam Tiga-Puluh-Tiga dewa, mengatakan hal ini kepada Matali11:

9. :Lihat, Matali, buah dari tindakan yang luar biasa, beraneka ragam12 buah (dari tindakan jasa). Bahkan satu hal sepele yang dilakukan untuk orang yang pantas menerima dana sudah merupakan (tindakan) jasa, yang menghasilkan buah yang besar.

10. Bila pikiran memiliki keyakinan, tidak ada dana yang bersifat sepele (jika) diberikan kepada Sang Tathagata atau Yang Terjaga atau kepada para siswa Beliau.13

11. Ayo, Matali, kita juga bisa menghormat berulangkali. Sungguh membahagaiakan kumpulan tindakan jasa (yang diberikan) oleh relik-relik Sang Tathagata.

12. Apakah Beliau masih hidup atau telah meninggal, buah mantap untuk pikiran yang mantap, karena sebagai akibat dari tekad mentallah maka para makhluk pergi menuju kelahiran yang baik.

13. Sesungguhnya para Tathagata muncul untuk kebaikan banyak orang; dengan demikian, setelah melakukan suatu pelayanan, para pendana pun pergi ke surga.

Setelah hal ini dikatakan, Sakka-pemimpin para dewa-meninggalkan taman hiburan itu dan selama tujuh hari memberikan penghormatan dari altar Culamani. Selang beberapa waktu ketika Y.M. Narada sedang berkunjung ke alam dewa, Sakka memberitahukan kejadian itu kepada beliau dalam syair-syair. Thera tersebut memberitahu para pengulang. Mereka memasukkannya ke dalam koleksi.

Catatan :

Bandingkan No. 21
Segala keadaannya di syair 1,2 diberi awalan pita, yang dikatakan di VvA.201 harus dipahami sebagai suvanna, keemasan. Saya telah menggabungkan keduanya menjadi kuning-keemasan’, tetapi untuk menghindari pengulangan yang membosankan, kata sifat ini tidak selalu disisipkan.
Seperti di no. 36. 1
Ee pituppaladharini, VvA, 200, Be – Malini. Tetapi bentuk femininnya seharusnya –malini.
Ee, VvA. 200 pitabhojane, makanan kuning : Ce, Be- bhajane, mangkuk (-mangkuk).
Ee kosatiki. Juga di Vism. 256,260, 359. PPn. Menerjemahkan sebagai labu kering atau labu-tetapi arti ini belum tentu sesuai.
Ee, Be tittika, VvA. 200 kittika dengan v.1. kattika. Saya mengikuti bacaan sebelumnya sehingga arti kata berikutnya adalah anabhijjhita, penjelasan di VvA. 201 sebagai na abhikankhita, tidak diinginkan.
Stupa itu.
Ini artinya : seandainya saja saya telah sampai di stupa itu untuk mempersembahkan bunga dan telah mengumpulkan jasa kebajikan VvA. 202.
Nama julukan untuk Sakka, yang berarti ‘pemurah’
Kusir keretanya. VvA. 202 menganggap syair ini berasal dari para pengulang.
citta, diterangkan oleh vicitta acinteyya.
Syair juga di Ja i.228, iii. 409.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com