Sariputta | Suttapitaka | ISTANA MANGGA Sariputta

ISTANA MANGGA

Ambavi­mānavat­thu (Vv 46)

Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi. Pada waktu itu, seorang umat awam perempuan di sana mendengar tentang buah yang besar dan keuntungan yang besar dari mendanakan tempat-kediaman. Maka, dengan bersemangat , dia menghormati Yang Terberkahi dan berkata demikian, “Bhante, saya ingin membangun tempat-tinggal. Saya mohon Bhante menunjukkan tempat yang sesuai kepada saya.” Yang Terberkahi menyuruh para bhikkhu untuk menunjukkan kepadanya tempat yang sesuai. Kemudian perempuan itu membangun suatu tempat tinggal yang indah dengan pohon-pohon mangga yang ditanam di sekelilingnya. Tempat tinggal yang dikelilingi deretan pohon mangga di semua sisinya itu memiliki banyak tempat yang teduh dan banyak air. Tanahnya yang putih ditaburi bagaikan jala mutiara. Semua itu tampak memukau. Perempuan itu mendekor vihara dengan hiasan dinding berbagai warna dengan karangan bunga dan rangkaian wewangian bagaikan Istana dewa. Dia menaruh lampu minyak, membungkus pohon-pohon mangga engan kain baru, kemudian mempersembahkannya kepada Sangha. Setelah meninggal, dia terlahir lagi alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Baginya disana muncul sebuah Istana besar yang dikelilingi oleh hutan mangga. Di sana , dikelilingi sekelompok peri, dia menikmati sukacita-surgawi. Y.M. Maha-Moggallana menghampirinya dan bertanya:

1. “Engkau memiliki hutan mangga surgawi, menarik, sungguh mengesankan Istana di sini, yang bergema dengan banyak instrumen musik, bergelora dengan suara-suara sekelompok peri.

2. Dan disini sebuah lampu emas yang besar selalu menyala, dan di semua sisinya dikelilingi pohon-pohon dengan kain (untuk) buah-buahnya.1

3. Karena apakah maka hutan manggamu ini menarik, mengesankan Istana di sini?2 karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa, karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan yang sesuai dengan hatimu?

4. Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?”

5. Devata itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang memberikan buah itu.

6. “ketika di dalam kelahiran sebelumnya saya terlahir sebagai manusia diantara manusia di dunia manusia, saya membangun sebuah vihara yang dikelilingi pohon-pohon mangga untuk Sangha.

7. Ketika vihara telah selesai, saya menyiapkan upacara untuk persembahan itu dengan menutupi pohon-pohon mangga (dengan kain) dan membuat buah-buah kain,3

8. Setelah menyalakan lampu di sana dan setelah mempersembahkan makanan kepada kelompok yang tiada bandingnya,4 dengan tanganku sendiri, karena memiliki keyakinan, saya mempersembahkannya5 kepada Sangha.

9. Karena inilah maka hutan manggaku menarik, mengesankan Istana di sini, bergema dengan banyak instrumen musik, bergelora dengan suara-suara sekelompok peri.

10. Dan di sini sebuah lampu emas yang besar selalu menyala, dan di semua sisinya dikelilingi pohon-pohon dengan kain (untuk) buah-buahnya.

11 Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.

12. Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.”

Catatan :

Pentingnya dussa (maya) phala tidak jelas. VvA.199 mengatakan mereka membuat buah pohon-mangga ini dari kain, artinya adalah ‘dengan kain surgawi yang menjurai’, yaitu kain yang digunakan sebagai pengganti buah.
Baris ini tidak terdapat di Ee, VvA. Atau Be. Tetapi tanggapannya muncul di syair 9.
Lihat n.1.
Sang Buddha dan Sangha para siswa Beliau, VvA.199.
Vihara itu.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com