ISTANA DANA – WIJEN

Tila­dak­khi­ṇa­vi­mānavat­thu (Vv 10)

Yang Terberkahi sedang berdian di Savatthi di Jetavana, di taman Anathapindika.1Pada saat itu, di Rajagaha ada seorang perempuan bersama anaknya sedang mencuci wijen dan mengeringkannya di bawah terik matahari karena dia ingin minum sedikit minyak wijen. Pada hari itu sebenarnya masa hidupnya berakhir. Dia harus mati dan kumpulan tindakannya akan mendorongnya menuju (kelahiran ulang di) alam menderita. Yang Teberkahi, sementara menagamati bumi pada saat fajar, melihat perempuan itu dengan mata-dewa dan berpikir: “Perempuan yang seharusnya mati hari ini akan terlahir kembali di alam menderita; sekarang biarlah aku menerima biji wijen sebagai dana makanan agar dia bisa mencapai surga.” Dalam sekejap Beliau meninggalkan Savatthi menuju Rajagaha, dan ketika beliau berjalan untuk mengumpulkan dana makanan di Rajagaha, Beliau sampai di pintu rumah perempuan itu. Perempuan itu melihat Yang Terberkahi. Dipenuhi sukacita dan kebahagiaan, dia segera berdiri dan menangkupkan tangannya. Karena melihat tidak ada apa pun yang cocok untuk dipersembahkan, dia mencuci tangan dan kakinya, menumpuk sejumlah wijen, memenuhi kedua tangannya dengan biji-biji tersebut dan meletakan biji wijen di genggaman itu ke mangkuk Yang Terberkahi. Yang Terberkahi berkata dengan penuh welas asih kepadanya, “Semoga engkau bahagia,” dan pergi. Menjelang Fajar, perempuan itu mati dan terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa di suatu Istana keemasan duabelas dewa, seperti yang dijelaskan di atas, bertemu dengannya dan bertanya:

1. “Engkau yang berdiri dengan keelokan melebihi yang lain, devata, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang penyembuh.

2. Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?

3. Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?”

4. Devata itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilak buah itu.

5. “Ketika di dalam kehidupan lampau saya terlahir sebagai manusia diantara manusia di dunia manusia, saya melihat Yang Tercerahkan, yang tanpa noda, tenang pikirannya tanpa kebingungan.2

6. Saya menghampiri Beliau dengan keyakinan, dan saya memberikan dana dengan tangan sendiri, tanpa nafsu keinginan – dana penghormatan dalam bentuk wijen – kepada Yang Tercerahkan yang pantas mendapatkan dana penghormatan.

7. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.

8. Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.”

Catatan :

“Vihara ini hampir selalu dirujuk sebagai Jetavane Anathapndikassa arame. Kitab Komentar mengatakan bahwa hal ini disengaja, agar nama-nama pemilik awal dan pemilik barunya tercatat, dan agar orang-orang mengingat mereka yang sangat dermawan itu sehubungan dengan agama. Dengan demikian orang-orang lain mengikuti teladannya.” Kamus Pali Nama Diri, Vol 1, hal.966 [Edisi ke 1, hal 15, n. 3].
Sama seperti 3.6,4,6, dll

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com