ISTANA PERAHU, KEDUA

Dutiya­nāvāvi­mānavat­thu (Vv 7)

Ketika yang terberkahi sedang berdiam di Savatthi, ada seorang Thera yang kekotoran batinnya telah hancur. Di awal musim penghujan, dia ingin memulai musim itu di suatu desa. Maka setelah makan (tengah hari), beliau berangkat melalui jalan raya dari Savatthi ke desa itu. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, dalam keadaan yang kelelahan dan kehausan, beliau sampai di sebuah desa. Karena tidak melihat tempat berteduh dan air di lingkungan itu, dan karena di kuasai kelelahan, beliau memakai jubah luarnya, memasuki desa, dan berdiri di pintu sebuah rumah induk.1Di sana seorang perempuan melihatnya dan bertanya, “Darimanakah engkau dating, Tuan?” Melihat sang Thera kelelahan dan kehausan, dia mempersilahkan beliau masuk ke dalam rumah dan memepersilahkannya duduk. Dia mempersembahkan air dan minyak untuk mencuci dan meminyaki kaki, dan mengipasi beliau. Setelah beliau tidak lagi kepanasan, perempuan itu menyiapkan miniman dingin yang manis dan harum. Sang Thera meminumnya. Setelah tidak lagi merasa haus, Sang Thera mengucapkan terima kasih dan pergi melanjutkan perjalanan. Di kemudian hari, perempuan itu meninggal dan terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Segalanya harus di pahami seperti cerita Istana sebelumnya. Bahkan syair-syairnya tidak ada yang baru.2

“O, putri, engkau berdiri di atas perahu dengan atap keemasan; engkau mencebur ke dalam kolam-teratai, engkau memetik teratai dengan tanganmu.
Tempat kediamanmu merupakan rumah-rumah berpinakel, berpartisi dan direncanakan dengan proporsi yang baik. Rumah-rumah itu memukau dan bersinar ke empat penjuru.
Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?
“Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?”
Devata tersebut, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberikan pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.
“Ketika di dalam kehidupan lampau saya terlahir sebagai manusia di antara manusia di dunia manusia, saya melihat seorang bhikkhu yang kehausan dan kelelahan. Dengan bersemangat, saya memberinya air untuk diminum.
Sesungguhnya, orang yang bersemangat memberikan air untuk diminum oleh dia yang kehausan dan kelelahan-baginya akan ada sungai dengan air yang sejuk, yang dihiasi berbagai bunga, dan banyak teratai putih.
Disisinya air mengalir, sungai-sungai – dengan air yang sejuk dan tepian berpasir-mengalir sepanjang masa. Ada pohon-pohon mangga dan pohon-pohon sala, tikala dan apel-mawar, kasia dan bunga terompet yang sedang bermekaran.
Untuknyalah, dengan keelokan yang diperindah lingkungan seperti itu, terdapat Istana yang paling bagus, yang bersinar terang. Inilah buah dari tindakan itu sendiri. Mereka yang melakukan tindakan jasa menerima seperti ini.3
Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.
Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.”
Catatan :

dhurageha, tidak terdapat di PED.; bandingkan Vism.66 Dimana dhurabhatta tampaknya adalah makanan yang diberikan dirumah induk, lihat Ppn.67,n.11. Atau mungkin di sini adalah rumah pejabat?
Kecuali perubahan dari bentuk jamak ke bentuk tunggal yang mengacu pada para bhikkhu, serta penghapusan dua baris pada jawaban sang dewi yang bermula dengan “Tempat kediamanku merupakan rumah-rumah berpinakel…”
Editor vihara awal tidak mencantumkan disini syair yang terdapat di cerita Istana sebelumnya.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com