ISTANA PERAHU

Paṭha­ma­nāvāvi­mānavat­thu (Vv 6)

Ketika yang terberkahi sedang berdiam di Savatthi, enam belas bhikkhu yang telah melewatkan masa penghujan di suatu desa berangkat melalui jalan raya menuju Savathi di musin panas. Meraka berkata, “Kami akan menemui Yang Terberkahi dan mendengarkan Dhamma. “Perjalanan itu melewati gurun yang tak berair. Dibakar panasnya matahari dan karena tidak menemukan air, mereka pergi ke sebuah desa. Di sana para bhikkhu melihat seorang perempuan yang membawa tempayan air. Memang dia akan pergi ke sumur. Mereka berkata, “Jika kita pergi ke tempat perempuan ini pergi, kita akan memperoleh air.” Maka para bhikkhu itu pun mengikuti perempuan itu. Di dekat sumur itu, mereka berhenti. Perempuan itu mengambil air dari sumur, dan melihat para bhikkhu. “Orang-orang terhormat ini haus,”katanya di dalam hati. Dengan penuh hormat dia mengundang mereka untuk minum. Para bhikkhu mengeluarkan saringan dari tas, lalu menyaring dan minum sebanyak yang mereka inginkan, menyejukkan tangan dan kaki, memberkahi perempuan yang memberi mereka air, dan kemudian pergi. Perempuan itu mengingat tindakan jasa itu di pikirannya, dan sering kali memikirkan perbuatannya itu.

Setelah meninggal, dia terlahir lagi di alam Tiga puluh-Tiga dewa. Melalui kekuatan tindakan jasanya, muncul baginya sebuah Istana Besar yang diperindah dengan pohon pengabul-keinginan. Di sekelilingnya mengalir sungai dengan air yang murni bagaikan kelompok permata dan dengan tepian pasir putih yamg luas berkialu bagaikan untaian mutiara dan perak. Di tepian sungai maupun di gerbang taman hiburan Istana itu terdapat kolam teratai yang besar, yang dihiasi kelompok teratai lima warna dan perahu keemasan. Dewi itu berdiam di sana menikmati sukacita surgawi, berolah raga, dan bersantai di perahu. Pada suatu hari, Y.M. Maha-Moggallana-ketika sedang mengunjungi alam dewa – melihat devata yang sedang bersenang –senang itu dan berkata :

“O, putri, engkau berdiri di atas perahu1 dengan atap keemasan; engkau mencebur ke dalam kolam-teratai, engkau memetik teratai dengan tanganmu.2
Tempat kediamanmu3 merupakan rumah-rumah berninakel, berpartisi dan direncanakan dengan proporsi yang baik.4Rumah-rumah itu memukau dan bersinar ke empat penjuru.
Karena apakan maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?
“Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?”
Devata tersebut, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.5
“Ketika di dalam kehidupan lampau saya terlahir sebagai manusia di antara manusia di dunia manusia, saya melihat para bhikkhu yang kehausan dan kelelahan. Dengan bersemangat, 6saya memberi mereka air untuk diminum.
Sesungguhnya, orang yang bersemangat memeberikan air untuk diminum oleh mereka yang kehausan dan kelelahan – baginya akan ada sungai dengan air yang sejuk, yang dihiasi berbagai bunga, dan banyak teratai putih.
Di sisinya air mengalir,7sungai-sungai – dengan air yang sejuk dan tepian berpasir – mengalir sepanjang masa. Ada pohon-pohon mangga dan pohon-pohon sala, tikala dan apel-mawar, kasia dan bunga terompet yang sedang bermekaran.
Untuknyalah, dengan keelokan yang diperindah lingkungan seperti itu, terdapat Istana yang paling bagus, yang bersinar terang. Inilah buah dari tindakan itu sendiri. Meraka yang melakukan tindakan jasa menerima seperti itu.
8Tempat kediamanku merupakan rumah-rumah berpinakel, berpartisi dan direncanakan dengan proporsi yang baik. Rumah-rumah itu memukau dan bersinar ke empat penjuru.
Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.
Saya beritahukan kepadamu, bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.”
Catatan :

Mungkin sebuah feri – untuk pergi dari satu sisi ke sisi yang lain, VvA.42
Kutipan Netti. Hal. 140, namun selanjutnya berbeda
Syair ini dihilangkan oleh VvA. [Mungkin merupakan ulangan dari Istana Perahu Ketiga, di mana syair ini terdapat di VvA.]
Bandingkan Sn.300.
Syair ini diucapkan oleh para pengulang, VvA. 41.
VvA. 43 berkata bahwa utthaya berarti telah membuat agar anerginya muncul, tidak malas.
Apaga
Syair ini, yang dihilangkan oleh VvA., ditemukan [pertama kali di Istana Perahu Ketiga yang juga dikomentari,Vva. 50.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com