Sariputta | Suttapitaka | PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ENAMPULUH – RIBU PALU Sariputta

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ENAMPULUH – RIBU PALU

Saṭṭhi­kū­ṭapeta­vatthu (Pv 51)

‘Mengapa engkau, seperti orang gila?’ Ini dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Hutan Bambu sehubungan dengan peta tertentu.

Dikatakan bahwa dahulu kala di kota Benares ada seorang pincang yang terampil dalam praktek melempar batu dengan ketapel. Ketika keahliannya dalam seni melempar batu telah mencapai kesempurnaan, dia sering duduk di kaki pohon beringin di pintu gerbang kota. Di situ dia melempari daun-daun beringin di pintu gerbang kota. Di situ dia melempari daun-daun beringin dengan kerikil dan menyebabkan munculnya pola gajah, kuda, kereta, manusia, rumah yang berpinakel dan berbendera, pot penuh air dan sebagainya pada daun-daun itu. 1Para pemuda kota itu suka memberinya sedikit uang yang merupakan uang saku mereka dan menyuruh dia mempraktekkan seninya sesuka mereka. Kemudian pada suatu hari ketika raja Benares meninggalkan kota, dia sampai ke akai pohon beringin itu. Dia melihat berbagai bentuk dan pola seperti misalnya gajah dan sebagainya-diwujudkan2 di daun-daun beringin itu. Raja bertanya, ‘Siapa yang telah membuat berbagai bentuk dan pola dengan cara ini pada daun-daun beringin ini?’ Orang-orang menunjuk kepada si pincang itu dengan berkata ‘Semuanya dilakukan oleh dia, tuanku.'[283] Raja memanggilnya dan berbicara demikian, ‘Begini, jika saya tunjukkan orangnya, apakah kamu bisa mengisi perut orang itu dengan butir-butir kotoran kambing sementara dia berbicara? Tetapi jangan sampai dia mengetahuinya.’ ‘Bisa saja, tuanku'(jawabnya). Raja membawa si pincang itu ke tempat kediaman kerajaan. Karena sudah bosan mendengar pendeta utamanya yang selalu berceloteh tanpa henti, raja menyuruh agar pendeta utama itu dipanggil. Raja duduk dengan pendeta itu di tempat terpisah yang dikelilingi oleh dinding bertirai. Sementara raja berembuk (dengannya), si pincang dipanggil. Si pincang pun datang membawa batang yang berongga, dengan butir-butir kotoran kambing yang diisikan ke situ. Setelah mencatat posisi raja, dia duduk menghadap pendeta utama itu. Ketika mulut pendeta utama itu terbuka, dia melemparkan butir-butir kotoran kambing melalui lubang di tirai, satu demi satu, ke dasar tenggorokannya. Karena malu bila harus memuntahkan (dihadapan raja), pendeta itu terpaksa menelan semuanya. Ketika perut pendeta utama itu sudah penuh dengan butir-butir kotoran kambing, raja menyuruhnya pulang dengan berkata, ‘Pergilah, brahmana, engkau telah menerima buah dari celotehmu yang tanpa henti. Setelah engkau minum minuman yang disiapkan dari buah yang telah dihancurkan dan daun piyangu3 dan sebagainya, engkau akan muntah. 4Dengan cara ini engkau akan sehat.’ Raja amat gembira dengan apa yang telah dilakukan si pincang itu, dan memberinya empatbelas desa. Setelah memperoleh desa-desa ini, si pincang merasa bahagia dan senang, dan dia membuat para pelayannya bahagia dan senang juga. Dia hidup dalam kenyamanan, tetapi dia tidak melalaikan5 kepentingannya – baik di dalam kehidupan ini maupun di dalam kehidupan yang akan datang. Dia memberikan apa pun yang sesuai bagi mereka yang membutuhkan, 6seperti misalnya para petapa dan brahmana dan sebagainya. Dan dia memberikan makanan dan upah kepada mereka yang datang kepadanya untuk melatih seni melempar itu. Pada suatu ketika, ada seorang pria yang menghampirinya dan berkata demikian, ‘Saya mohon, jadilah guru saya. Dan latihlah saya dalam seni ini. Tetapi saya tidak bisa memberimu makanan sebagai upah. 7Dia melatih laki-laki itu di dalam seni melempar itu. Sebagai orang yang telah mempelajari suatu seni, dia pergi dengan keinginan untuk menguji kemampuannya. Dia mengetepel dengan batu, dan membelah kepala Paccekabuddha Suneta yang sedang duduk di tepi Sungai Gangga. Paccekabuddha itu langsung mencapai Parinibbana8 di sana,. Di tepi Sungai Gangga. [284] Ketika mendengar peristiwa ini, orang-orang menghantam dia berulang-ulang dengan bongkahan-bongkahan tanah dan tongkat dan sebagainya dan membunuhnya. Ketika dia mati, dia muncul di neraka Avici yang besar dan digodog selama beribu-ribu tahun di neraka itu. Selama masa-Buddha ini, dia muncul, sebagai akibat-sisa dari tindakan yang sama itu, sebagai peta tidak jauh dari kota Rajagaha, Karena akibat memang selalu sesuai dengan tindakannya,9maka enampuluh ribu palu besi diangkat pagi, siang dan malam oleh dorongan tindakan itu, dan kemudian jatuh di atas kepalanya. Dengan kepala yang terpecah dan terbelah dan didera perasaan-perasaan yang luar biasa (menyakitkan), dia pun jatuh ke tanah-tetapi segera setelah palu-palu besi itu pergi, dia akan berdiri dengan kepala yang kembali ke keadaan semula. Kemudian suatu hari Y.M. Mahamoggallana turun dari puncak Burung Nasar. Beliau melihatnya dan bertanya kepadanya dengan syair ini:

1. ‘Mengapa engkau, bagaikan orang gila, lari kian kemari bagaikan rusa yang terkejut? Engkau pasti adalah seorang pelaku kejahatan10 – mengapa engkau membuat suara itu?11
Di sini, bagaikan orang gila (ummattarupo va): bagaikan orang yang pada dasarnya gila, 12bagaikan orang yang didorong menuju kekacauan. Lari kian kemari bagaikan rusa yang terkejut (migo bhanto va dhavasi): lari ke mana-mana bagaikan rusa yang terkejut. Karena tidak melihat perlindungan apa pun ketika palu-palu besi itu jatuh, dia lari kesana kemari (karena berharap). ‘Mungkin palu itu tidak akan13 menghantamku di sini.’ Tetapi karena diangkat oleh kekuatan dorongan tindakannya itu, palu-palu itu jatuh persis di atas kepalanya di mana pun dia berdiri. Mengapa engkau membuat suara itu? (kin nu saddayase tuvam): mengapa engkau membuat suara itu, mengapa engkau berkelana kian kemari mengeluarkan jeritan keputusasaan seperti itu?

Ketika mendengar ini, peta tersebut memberi jawaban dengan dua syair ini:

2. ‘Saya, tuan, adalah peta yang pergi menuju kehidupan yang sengsara di alam Yama. Setelah melakukan tindakan yang jahat saya telah pergi dari sini menuju alam para peta.
3. [285] Seluruhnya ada enampuluh ribu palu penuh jatuh ke atas kepalaku dan ini membelah kepalaku.’
3 Di sini enampuluh ribu palu (satthikutasahassani): sebanyak enampuluh rubu palu besi. Penuh (paripunnani): tak kurang dari, Seluruhnya (sabbaso): totalnya. Dikatakan bahwa kepalanya menjadi seukuran puncak gunung, cucup besar untuk enampuluh ribu palu besi jatuh ke atasnya. 14Palu-palu yang jatuh itu membelah kepalanya sampai bahkan tak tersisa satu titik untuk tumbuhnya sehelai rambut pun. 15Untuk alasan inilah dia mengeluarkan jeritan yang penuh kesengsaraan; untuk alasan inilah dia berkata ‘Seluruhnya (enampuluh ribu palu penuh) jatuh ke atas kepalaku dan ini membelah kepalaku’.

Thera tersebut kemudian menyampaikan dua syair yang menanyakan tindakan yang telah dia lakukan:

4. ‘Tindakan jahat apakah yang dilakukan olehmu lewat tubuh, ucapan atau pikiran? Sebagai hasil dari tindakan apakah engkau telah pergi dari sini menuju alam peta?
5. (Mengapa) seluruhnya enampuluh ribu palu penuh jatuh ke atas kepalamu dan (mengapa) ini membelah kepalamu?’
Peta tersebut menyampaikan tiga syair yang menjelaskan tindakan yang telah dia lakukan:

6. ‘ Saya melihat16 Sang Buddha Sunetta- manusia yang kemampuannya telah berkembang- duduk di kaki pohon, sedang bermeditasi dan tidak memiliki rasa takut dari penjuru mana pun.
7. Lewat hantaman ketapel batu saya membelah kepala beliau-sebagai akibat dari tindakan itulah saya menjalani kesengsaraan ini:
8. Seluruhnya enampuluh ribu palu penuh jatuh ke atas kepala saya dan ini membelah kepala saya.’
6. Di sini, Sang Buddha (sambuddham): Paccekabuddha. Suneta (Sunettam): Buddha dengan nama itu. Manusia yang kemampuannya telah berkembang (bhavitindriyam): manusia yang kemampuan keyakinan dan sebagainya17 telah dikembangkan lewat pengolahan jalan ariya.

7. Lewat hantaman ketapel batu (salittakappaharena): dengan hantaman yang menggunakan batu dengan cara berikut: latihan melempar kerikil hanya dengan jari-saja atau busur kecil yang disebut ketapel. Bacaan alternatifnya adalah ‘dengan menghantam melalui batu-batu yang dikatepelkan’ (salittakappaharena)18 Saya membelah: bhindissam=bhindim19 (bentuk tata bahasa alternatif).

[286] Ketika mendengar ini, sang thera mengucapkan syair penutup yang menunjukkan bahwa buah dari dari tindakan sebelumnya yang sekarang dia terima itu memang cukup sesuai dengan tindakan yang telah dia lakukan:
9. ‘Engkau memang pantas menerimanya, wahai manusia jahat sehingga seluruhnya enampuluh ribu palu penuh jatuh ke atas kepalamu dan ini membelah kepalamu.’
8. Di sini, engkau memang pantas menerimanya (dhammena): ini sesuai dengan penyebabnya.20Engkau: te=tava (bentuk tata bahasa alternatif). Buah yang telah datang kepadamu ini cukup sesuai dengan tindakan jahat yang telah kau lakukan karena mencelakakan Paccekabuddha itu. Karena itu, beliau menunjukkan bahwa ini tidak dapat dihindari oleh siapa pun-tak peduli apakah dia deva atau Mara atau Brahma, atau bahkan seorang Buddha Sempurna.

Setelah berkata demikian, beliau pun pergi dari sana menuju kota untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika telah selesai makan, beliau menghampiri Sang Guru di petang hari dan mengemukakan masalah itu kepada Sang Buddha, Sang Buddha mengambil masalh itu sebagai kebutuhan yang muncul, dan sementara mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok, Beliau memperkenalkan sifat-sifat Paccekabuddha yang luar biasa dan bagaimana tindakan-tindakan tidak pernah mandul.21Orang-orang dipenuhi kegelisahan, dan juga dipenuhi keyakinan; mereka pun meninggalkan tindakan-tindakan jahat dan menjadi suka melakukan tindakan berjasa, seperti misalnya berdana dan sebagainya.

Penjelasan, mengenai Cerita Peta Enampuluh ribu Palu selesai. Dengan demikian, penjelasan mengenai arti dari Bab Empat, bab Besar, yang berisi enambelas cerita di dalam Cerita-cerita Makhluk Peta dari Khuddaka Nikaya ini selesai.22

Catatan :

Bagian dari cerita ini harus dibandingkan dengan Salittaka Jataka(No. 107). Di situ dinyatakan bahwa dia memotong dedaunan menjadi bentuk ini dengan cara melemparkan batu.
Terbaca appita pada Be untuk anappaka pada teks; Se menuliskan anappaso.
Be menuliskan maddanaphalapiyangutacadihi untuk madanaphalam piyangupattadihi pada teks. Se sependapat kecuali untuk pembentukannya yang menjadi bentuk majemuk. Saya mengusulkan penulisan maddanaphalapiyangupattadihi di tanah sehingga buah itu adalah maddana yang dihancurkan, dan bukannya maddana yang meracuni. Dan penghancuran seperti itu mungkin juga termasuk kulitnya, taca, maka lebih mungkin bila daunnya, patta, juga ditambahkan ke dalam campuran itu. Piyangu adalah benih panic, Panicum italicum, dan digunakan sebagai bahan pemicu muntah.
ucchaddehi, tidak dicantumkan oleh Childers atau PED, sementara CPD, walaupun mengetahui adanya kata kerja ini di Be pada PvA 256, tidak bisa melihat kemunculannya padahal semua teks sepakat.
Terbaca ahapento pada Se Be untuk gahapento pada teks.
atthikanam; Se Be menghilangkannya.
mayham pana alam bhattavetanena; penggunaan lama dengan instrumental ini tidak dicantumkan oleh PED tetapi bandingkan CPD sv.
parinibbayi.
Bandingkan PvA 206
Terbaca papakammanto pada Be dan IV 8 (1) untuk Se papakammam pada teks.
Bandingkan IV 8 (1).
Terbaca ummattakasabhavo pada Be untuk Se ummattasabhavo pada teks; bandingkan PvA 39.
Terbaca na siya pada Se Be untuk siya pada teks.
Kata untuk ‘puncak’ dan ‘palu’ di sini adalah sama (kuta) dan tidak diragukan disini dipakai secara kiasan.
Terbaca valaggakotinittuddanamattam pada Se (-nitudana-pada Be) untuk balakotimattam pada teks.
Terbaca addasasim pada Se Be untuk addusasim pada teks.
Yaitu, lima kemampuan (spiritual) yakni keyakinan, semangat, kewaspadaan, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Lihat contoh E. Conze, The Way of Wisdom, Kandy 1964, Buddhist Publication Society Wheel Series Nos. 65/66.
Terbaca – payogo tatha sakkharaya paharanena. Salittakappaharanena ti va patho pada Se untuk –payogo pada teks. Tatha sakkharaya paharanena salittakappahare ti va patho. Be sangat berbeda.
Terbaca bhindissan ti bhindim pada Se Be untuk te bhindissasn ti te bhindim pada teks.
Bandingkan PvA 125.
Terbaca avanjhatam pada Se Be untuk avatthanam pada teks (dicantumkan oleh PED sebagai avatthanam). 22. Demikian se.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com