Sariputta | Suttapitaka | Mata Kail Sariputta

Mata Kail

Balisa (SN 17.2)

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, sungguh menakutkan perolehan, kehormatan, dan pujian itu, pahit, busuk, menghalangi untuk mencapai keamanan tertinggi dari belenggu. Misalnya seorang nelayan melemparkan mata kail berumpan ke dalam danau yang dalam, dan seekor ikan yang sedang mencari makanan menelannya. Ikan itu, setelah menelan mata kail si nelayan, akan menemui kemalangan dan bencana, dan si nelayan dapat melakukan apa pun yang ia inginkan terhadap ikan itu.

“‘Nelayan’, para bhikkhu: ini adalah sebutan untuk Māra Si Jahat. ‘Mata kail berumpan’: ini adalah sebutan bagi perolehan, kehormatan, dan pujian. Bhikkhu mana pun yang menyukai dan menikmati perolehan, kehormatan, dan pujian yang telah muncul disebut bhikkhu yang telah menelan mata kail berumpan, yang telah menemui kemalangan dan bencana, dan Si Jahat dapat melakukan apa pun yang ia inginkan terhadapnya. Sungguh menakutkan, para bhikkhu, perolehan, kehormatan, dan pujian itu, pahit, busuk, menghalangi untuk mencapai keamanan tertinggi dari belenggu. Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan meninggalkan perolehan, kehormatan, dan pujian yang telah muncul dan kami tidak akan membiarkan perolehan, kehormatan, dan pujian yang telah muncul, bertahan menguasai pikiran kami.’ Demikianlah kalian harus berlatih.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com