Sariputta | Suttapitaka | PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ANAK LELAKI Sariputta

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ANAK LELAKI

Kumāra­peta­vatthu (Pv 30)

‘Pengetahuan Sang Sugata1 sungguh luar biasa.’ Ini adalah Peta Anak Lelaki. Bagaimana asal mulanya?

Dikatakan bahwa di Savatthi banyak pengikut awam bersatu dan membentuk kelompok Pengikut-Dhamma. Mereka membangun di kota itu suatu pavilliun yang besar dan menghiasnya dengan kain-kain beraneka warna. Suatu pagi mereka mengundang Sang Guru dan Sangha para bhikkhu, serta mempersilakan para bhikkhu itu -dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya- untuk duduk di tempat duduk yang diberi penutup yang mahal dan berkualitas tinggi, menghormati mereka dengan wewangian dan bunga-bunga dan lain sebagainya, [195] dan mempersembahkan dana makanan yang melimpah. Ketika melihat semua ini, seorang pria –yang hatinya dipenuhi dengan noda keegoisan dan tidak senang dengan penghormatan sedemikian rupa- berkata, ‘Akan lebih baik jika semua ini dibuang saja ke tumpukan sampah daripada diberikan kepada orang-orang gundul ini.’Ketika mendengarnya, para pengikut awam merasa gelisah, dan berpikir, ‘Benar-benar serius tindakan jahat yang dilakukan oleh pria ini, karena dia menyinggung Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai kepalanya.’ Mereka melaporkan masalah itu kepada ibu pria itu dan berkata,’Engkau harus pergi dan meminta maaf kepada Sang Buddha dan Savakasangaha Beliau.”Baiklah’, si ibu setuju. Setelah berbantahan dengan putranya dan menegurnya, si ibu menghadap ke pada Sang Buddha dan Sangha para bhikkhu untuk meminta maaf. Dia mengakui pelanggaran yang telah dilakukan oleh putranya, dan selama tujuh hari memberi hormat kepada Sang Buddha dan Sangha para bhikkhu dengan dana bubur-nasi. Putranya ini mati tak lama sesudah itu, dan muncul di kandungan seorang pelacur yang mencari nafkah dengan tindakan-tindakan yang tidak murni. Begitu pelacur ini mengetahui bahwa bayinya adalah lelaki, langsung saja bayi ini ditinggal di kuburan.2Di sana , bayi itu diselamatkan oleh kekuatan tindakan-tindakan berjasanya sehingga tidak diganggu oleh siapa pun. Dia tidur dengan bahagia seolah-olah di pangkuan ibunya. Dikatakan bahwa bayi itu dilindungi oleh para devata.

Ketika itu, menjelang fajar Sang Buddha bangkit dari meditasi kasih-sayang yang besar,3dan mengamati dunia dengan mata Buddha. Beliau melihat bayi lelaki yang ditinggalkan di tanah pekuburan itu, dan pada saat matahari terbit Sang Buddha pergi ke kuburan itu. Orang-orang telah berkumpul di sana dan berkata, ‘Sang Guru telah datang ke sini; pasti ada tujuan Beliau ke sini.’ Sang Buddha berbicara kepada mereka yang telah berkumpul itu, ‘Anak lelaki ini tidak boleh dihina; walaupun dia sekarang ditinggalkan di kuburan ini dalam keadaan yang tak berdaya, namun kelak dia akan memperoleh kemuliaan tertinggi baik di dalam kehidupan kali ini maupun di dalam kehidupan yang akan datang.’Ketika ditanya oleh orang-orang itu, “Yang Mulia, tindakan apakah yang telah dilakukan olehnya di dalam kelahiran sebelum ini?” Sang Buddha menjelaskan tindakan yang telah dilakukannya dan kemuliaan yang akan diperolehnya di masa mendatang dengan (syair-syair) yang bermula dengan:

“Penghormatan tertinggi sedang diberikan oleh orang-orang kepada Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya ketika pria ini memiliki sikap mental yang menyimpang dan menyampaikan kata-kata yang kasar dan tidak sopan.”

Sang Buddha pun mengajarkan Dhamma yang sesuai dengan kecenderungan orang-orang yang berkumpul di sana , dan sesudahnya menyampaikan Ajaran mengenai Dhamma yang telah diketemukan sendiri (oleh para Buddha) (: derita, munculnya, berhentinya, sang jalan).4Di akhir Ajaran itu, [196] pandangan terang ke dalam Dhamma muncul pada 84.000 makhiuk. Dan di hadapan Sang Buddha, seorang pria kaya yang memiliki harta 80 koti mengadopsi anak itu dengan mengatakan, ‘Dia akan menjadi putraku.’5Sang Buddha berkata, ‘Anak lelaki ini dilindungi oleh (kekayaan) yang sedemikian besar dan bantuan telah diberikan kepada orang-orang ini’, 6dan kemudian pulang ke vihara Beliau. Pada saatnya, ketika pria kaya itu meninggal, putranya ini memiliki kekayaan yang diwariskan oleh ayahnya. Dia mendirikan suatu usaha, 7dan menjadi perumah-tangga yang amat makmur di kota yang sama dan cenderung melakukan tindakan-tindakan berjasa, seperti misalnya berdana dan sebagainya.

Pada suatu hari, para bhikkhu saling berbincang-bincang di ruang Dhamma. ‘Memang luar biasa bagaimana Sang Gurumemiliki belas kasihan bagi para makhluk. Memang benar, si anak lelaki yang pada saat itu keadaannya tak berdaya sekarang menikmati kemuliaan yang luar biasa dan melakukan banyak tindakan berjasa yang tinggi nilainya.’ Ketika mendengar ini, Sang Guru menjawab, ‘ Para bhikkhu, kemuliaannya ini masih belum seluruhnya, karena sungguh di akhir hidupnya dia akan muncul sebagai putra Sakka, raja para deva, di alam Tiga- Puluh-Tiga dewa dan mencapai keelokan surgawi yang luar biasa.’ Ketika mendengar ini, para bhikkhu dan orang-orang memuji pengetahuan unik Sang Guru dengan berkata,8‘Dikatakan bahwa Guru Agung yang memiliki kemampuan melihat-jauh melihat apa yang harus dilakukan. Kemudian Beliau pergi ke sana dan memberikan bantuan kepada bayi yang telah ditinggalkan di kuburan yang berbau busuk itu segera setelah dia dilahirkan’. Mereka pun membicarakan kejadian yang berhubungan dengan anak lelaki itu selama kehidupan mereka.9Mereka yang mengulang teks mengucapkan enam syair yang menjelaskan hal ini:

1. “Pengetahuan Sang Sugata sungguh luar biasa; Sang Guru menjawab sesuai dengan individu itu: walaupun berlimpah dengan jasa, beberapa individu menjadi [terlahir rendah] sementara walaupun memiliki jasa yang terbatas beberapa menjadi [tinggi].10
2. Anak lelaki ini, yang ditinggalkan di tanah pekuburan, bertahan hidup selama malam itu melalui kelembaban ibu jari: tidak raksasa-yakkha tidak juga binatang melata mungkin mengganggu11 anak lelaki yang telah melakukan tindakan-tindakan berjasa.12
3. Apalagi, anjing-anjing menjilati kakinya sementara gagak dan serigala mengelilinginya; [197] kelompok-kelompok burung menghilangkan kotoran kelahiran anak sementara gagak-gagak menghilangkan kotoran dari matanya.
4. Tak seorang pun memberinya perlindungan, tidak juga rnemberinya obat-obatan atau pengasapan-mostar; bahkan mereka pun tidak memperhatikan perjalanan planet atau menebarkan secara rata segala biji-bijian.
5. Jatuh ke dalam keadaan yang sepenuhnya kacau sedemikian itu, bagaikan diambil di malam hari dan ditingggalkan di tanah pekuburan dan, gemetar bagaikan segumpal mentega segar, meragukan namun tetap memiliki kehidupan
6. Orang yang dihormati para dewa dan orang-orang melihatnya; segera setelah melihat bayi itu, Yang Maha Bijaksana menyatakan.’Anak lelaki ini akan menjadi anggota keluarga tertinggi di kota ini karena kekayaannya.”’
7. ‘Apakah ibadahnya, apakah praktek-Brahma yang dia jalankan;13dari perilaku baik apakah maka hasil ini terjadi sehingga, walaupun menemui keadaan buruk semacam itu, dia dapat terus menilkmati potensi seperti ini?’14
1 Di sini, luar biasa (accherarupam): memiliki sifat yang luar. Pengetahuan Sang Sugata (Sugatassa nanam): pengetahuan Buddha Sempurna tidak dimiliki oleh orang lain dikatakan sehubungan dengan ke-mahatahu-an Beliau, seperti misalnya pengetahuan mengenai kecenderungan dan sifat seorang, dan sebagainya. Bagaimana bisa pengetahuan ini berada di dalam jangkauan orang lain? Mereka mengatakan, ‘Sang Guru menjawab sesuai dengan individu itu, ‘lni menunjukkan bahwa hanya15 melalui ajaran Sang Buddha-lah maka sifat luar biasa dari pengetahuan Beliau ini menjadi jelas. Kemudian, untuk menjelaskan (metode) menjawab ini mereka mengatakan, 16‘Walaupun berlimpah dengan jasa, beberapa individu menjadi [terlahir rendah] sementara walaupun memiliki jasa yang terbatas beberapa menjadi [tinggi].’ Inilah artinya: walaupun melimpah dengan keadaan-keadaan yang bajik, beberapa individu di sini [198] menjadi rendah dalam hal kelahiran dan sebagainya, yang merupakan akibat dari suatu jenis tindakan tercela yang telah tersimpan; sedangkan walaupun memiliki jasa yang terbatas, walaupun memiliki keadaan-keadaan berjasa yang lebih sedikit, beberapa makhluk – karena sukses pencapaian mereka di dalam ladang itu dan sebagainya17 menjadi tinggi kerena kemegahan jasa yang luar biasa itu.

2 Di tanah pekuburan (sivathikaya): di kuburan. Melalui kelembaban ibu jari (anguttasnehena): melalui kelembaban yang datang dari ibu jari, yang artinya dari susu yang mengalir dari ibu jari satu devata. Tidak raksasa-yakkha tidak juga binatang melata (na yakkhabhuta na sirimsapa va): bukan raksasa-piscaca, bukan pula raksasa-yakkha, bukan pula binatang melata, bukan pula apa pun yang merayap ketika bergerak.18Mungkin mengganggu (na vihethayeyyum): mungkin menindas.

3 Menjilati kakinya (palihimsu pade): menjilati kakinya dengan lidah-lidah mereka.19Gagak (dhahka): burung gagak (kaka). Serigala mengelilinginya (singala parivattayanti): mengelilinginya terus-menerus,20untuk melindunginya dan mempertahankan kesehatannya dengan pemikiran, ‘Semoga tak seorang pun melukai anak lelak ini!’ Kotoran kelahiran anak (gabhasayam): kotoran pada waktu bayi dilahirkan. Kelompok-kelompok burung (pakkhigana): kawanan burung, seperti misalnya burung nasar dan elang dan sebagainya. Menghilangkan (haranti): mengambil pergi. Kotoran dari matanya (akkhimalam): apa yang dikeluarkan oleh matanya.

4 (Tak) seorang pun (keci): (tak) seorang pun yang merupakan manusia, karena makhluk-makhluk bukan-manusia sudah memberikan perlindungan. Obat-obatan (osadham): penangkal yang memberikan kesehatan, baik pada waktu itu maupun di masa depan.21Atau pengasapan-mostar (sasapadhupanam va): pengasapan yang mereka lakukan dengan biji mostar demi melindungi seorang bayi yang baru lahir, mereka menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang melakukan hal ini bagi si bayi. Bahkan mereka pun tidak memperhatikan perjalanan planet: nakkhattayogam pi na uggahesum=nakkhattayuttam pi na uggaphimsu (bentuk tata bahasa alternatif), yang artinya tak seorang pun mencatat horoskopnya, sekalipun dengan cara seperti misalnya, ‘Anak ini terlahir di bawah tanda zodiak ini atau itu, di bawah planet ini atau itu, pada hari rembulan ini atau itu, dan tepatnya pada waktu ini.’Atau menebarkan secara rata segala biji-bijian (na sabadhannani pi akirimsu): mereka akan menebarkan biji-bijian, seperti misalnya padi dan sebagainya, yang dicampur dengan minyak mostar ketika melakukan suatu perbuatan yang menguntungkan sebagai penangkal terhadap penyakit, yang artinya bahkan ini pun tidak mereka lakukan untuknya.

5 Sedemikianitu(etadisam):[199] seperti itu. Jatuh kedalam keadaan yang sepenuhnya kacau (uttamakicchapattam): menemui keadaan sekacau-kacaunya, jatuh ke dalam penderitaan yang luar biasa. Bagaikan diambil di malam hari: rattabhatam=rattiyam abhatam (ketentuan bentuk majemuk). Bagaikan segumpal mentega segar (nonitapindam viya): mirip segumpal mentega segar; ini dikatakan karena bayi itu hanya merupakan seonggok daging saja. Gemetar (pavedhamanam): gemetar karena kondisinya yang lemah. Meragukan (pavedhamanam): penuh dengan keraguan karena ketidakpastian apakah dia akan hidup atau tidak.22Namun tetap memiliki kehidupan (jivitasasesam): tetapi masih memiliki sedikit kehidupan yang tersisa karena tidak adanya bahan-bahan yang merupakan sarana23 untuk mempertahankan kehidupan bagi para makhluk.

6 Akan menjadi anggota keluarga tertinggi karena kekayaannya (aggakuliko bhavissati bhogato) yang berarti dia akan menjadi anggota dari keluarga tertinggi, keluarga yang terbaik, karena kekayaannya, lewat kekayaannya. Syair (yang bermula:) ‘Apakah ibadahnya’ dikatakan oleh para pengikut awam yang sedang berdiri di hadapan Sang Guru sebagai cara untuk menanyakan tindakan yang telah dilakukan oleh dia, oleh mereka yang telah berkumpul di tempat penguburan. Demikianlah hal itu harus dipahami.

7 Di sini, apakah -nya?: ki’ssa=kim assa (ketentuan bentuk majemuk). Ibadah (vatam): menjalankan ibadah. Sekali lagi dari apakah? (kissa) : dari perilaku baik macam apa, dari ibadah dan melakukan praktek Brahma yang mana? – demikianlah hal itu harus dipahami, setelah infleksi tata bahasanya diubah. 24Walaupun (etadisam): seperti munculnya dalam kandungan seorang pelacur dan ditinggalkan di kuburan. Keadaan buruk kemalangan. Semacam itu (tadisam): yang amat besar, yang artinya dengan cara yang telah disebutkan, yaitu, ‘Bertahan hidup selama malam itu melalui kelembaban ibu jari’ dan seterusnya, serta juga ‘Anak lelaki ini akan menjadi anggota keluarga tertinggi di kota ini’ dan seterusnya. Potensi (iddhim) mengacu pada keelokan surgawi dari kesaktian dewa

Sang Buddha ketika ditanya demikian oleh para pengikut awam, menjawab sesuai dengannya; mereka yang mengulang teks mengucapkan empat syair yang menjelaskan hal ini:

8. ‘Penghormatan tertinggi sedang diberikan oleh orang-orang kepada Sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya ketika pria ini memiliki sikap mental yang menyimpang dan menyampaikan kata-kata yang kasar dan tidak sopan.
9. Ketika dia telah menghalau buah-pikir itu dan kemudian telah memperoleh sukacita dan bhakti, [200] selama tujuh hari dia melayani dengan bubur-nasi Sang Tathagata yang sedang berdiam di Hutan Jeta.
10. Itulah ibadahnya, itulah praktek-Brahmanya; dari perilaku baik itulah maka hasil ini terjadi sehingga, walaupun menemui keadaan buruk semacam itu, dia dapat terus menikmati potensi seperti ini.
11. Setelah hidup persis di sini selama 100 tahun diperlengkapi dengan sernua yang diinginkannya, ketika tubuhnya hancur, dia akan masuk ke dalarn kelompok Vasava di dalarn kehidupan yang akan datang.
8 Di sini, oleh orang-orang (janata): oleh segenap anggota yang membentuk kelompok umat awam – demikianlah artinya. Ketika (tatra): pada saat pemberian penghormatan itu.25Dia (assa): anak lelaki itu. Memiliki sikap mental yang menyimpang (cittassa ahu annathattam): di dalam kehidupan sebelumnya, pikirannya memiliki sifat menyimpang dan dia kurang menghormat, menghargai dan mempercayai. Tidak sopan (asabbhim): dia berbicara dengan kasar, yang tidak sesuai untuk didengar di dalam pertemuan para luhur.26

9 Dia (so): orang ini (yang baru disebutkan). Buah-pikir itu (tam vitakkam): buah-pikir yang jahat itu. Telah menghalau (patiwinodayitva): telah melenyapkan karena teguran ibunya. Telah memperoleh sukacita dan bhakti (pitipasadam patiladdha): telah memperoleh, telah menimbulkan, sukacita dan pengabdian.27Dia melayani dengan bubur-nasi (yaguya upatthasi): dia melayani dengan dana bubur-nasi. Selama tujuh hari (sattarattam) : 28selama tujuh hari.

10 Itulah ibadahnya, itulah praktek-Brahmanya (ta’ssa vatam tam pana brahmacariyam): pengabdian dari hati dan dana seperti yang telah dinyatakan olehku di atas merupakan ibadah dari orang ini, bersamaan dengan praktek-Brahmanya, yang artinya tidak ada hal lain (selain ini).

11 Setelah hidup (thatvana): setelah dia hidup disini, di alam manusia ini, sampai akhir hidupnya. Di dalam kehidupan yang akan datang (abhisamparjyam): di dalam kehidupan berikutnya. Dia akan masuk ke dalam kelompok Vasava (sahavyatam gacchati Vasavassa): dia akan masuk ke dalam kelompok Sakka, 29raja para dewa, [201] sebagai putranya; ini merupakan pernyataan dalam bentuk masa-kini dengan pengertian masa-depan. Lainnya sudah cukup jelas.

Catatan

Nama julukan Sang Buddha, yang kadang-kadang diterjemahkan ‘Yang-Telah-Pergi-Dengan-Baik’.
Tampaknya hal ini merupakan adat – lihat H. Kern, A Manual of Indian Buddhism, Delhi 1974, hal. 29.
Bandingkan PvA61.
Lihat catatan di Pv A 38 di atas.
Tanda baca teks ini harus diubah agar terbaca pada Se Be sebagai berikut: … Bhagavato sammukha ‘va ‘mama putto’ti aggahesi.
Bantuan tersebut (anuggaho) adalah pandangan terang ke dalam Dhamma yang telah diberikan kepada mereka, dan di sini dibedakan dari perlindungan duniawi (rakkhito) yang diperoleh anak tersebut; tampaknya Gehman sepenuhnya salah mengerti mengenai hal ini.
kutumbam santhapento, demikian PED; mungkin yang dimaksudkan adalah bisnis keluarga.
Tanda baca teks ini harus diubah agar terbaca pada Se Be sebagai berikut: Tam sutva bhikkhu mahajano ca: Idam kira karanam disva dighadassi Bhagava….
Terbaca attabhave pada Se Be untuk atthabhave pada teks.
Syair ini menyimpang, dan bila memang begitu, tidak mungkin sama artinya dengan Dhammapala. Akan tetapi, tampaknya Dhammapala sendiri menghadapi syair yang keliru. Maka, saya telah menyisipkan ringkasan dari kitab komentar yang mengikuti di antara tanda [ ], semata-mata agar syairnya memberikan arti.
Terbaca vihethayeyyum pada Se Be untuk na hethayeyyum pad teks.
Dari sini dan seterusnya saya mengikuti pembagian syair yang terdapat di Se Be, yang tidak terdapat di dalam teks kami ataupun Pv.
Syair ini harus terbaca ki’ ssa …. kissa … sesuai dengan kitab komentara di bawah, dan bukan kissa … ki’ ssa…
Bandingkan Vv 84 24.
Terbaca eva pada Se Be untuk evam pada teks.
aha, secara harafiah dia berkata.
Bandingkan Pv A 191 di atas.
Demikian semua teks lain; akan tetapi vl dari Be mungkin lebih disukai; na yakkhabhuta ti yakkha va bhuta va. Na sarisapa va ti ye keci saranta gacchanti yang artinya: tidak yakkha dan tidak pula raksasa: na yakkhabhuta=yakkha va bhuta va (ketentuan bentuk jamak). Tidak juga binatang melata (sarisapa va): tidak juga makhluk yang merayap ketika bergerak. Dapat dicatat bahwa sarisapa, yang di sini diterjemahkan reptil, berarti merayap, merangkak, atau meluncur, dan secara luas berarti makhluk yang bergerak demikian; bandingkan etimologi ‘reptil’ yang mirip.
Terbaca Palihimsu pade ti attano jivahaya pade lihimsu pada Be(“ Se) untuk Palahimsu pade ti attano jivhaya pade palahimsu pada teks.
Terbaca aparaparam pada Se Be untuk aparaparam pada teks.
Bandingkan GS ii 55 n. 1 dengan mana hal ini dirujuk.
Terbaca na nu pada Se Be untulk nanu pada teks.
Terbaca hetabhutanam pada Se Be untuk hetu bhutanam pada teks.
Yaitu, kim nominative yang mendahului, disini adalah kissa datif datif
Terbaca tassam pujayam pada Se Be untuk tasa pujayam pada teks.
Terbaca sadhusabhaya pada Se Be untuk sadhu sabhaya pada teks. Sabha, yang biasanya diartikan ruang pertemuan, di sini diartikan ‘sopan santun’ untuk menekankan fakta bahwa asabbhim diturunkan dari sabha bersama dengan prefiks negatif a- sehingga berarti bersifat tidak sopan, kurang ajar, tidak cocok dengan hal-hal yang baik – lihat PED sv asabbha. Se Be terbaca asabbham di sini.
Se Be menambahkan pitim pasadan ca di sini; teks menghilangkannya.
Secara harafiah selama tujuh malam.
S i 229 menyatakan bahwa dia memperoleh nama Vasava karena teah memberikan tempat-tempat tinggal (avasatham adasi) di dalam kehidupan sebelumnya, sehingga jadilah Vasava, pemilik-rumah bandingkan Dhp A i 264; D ii 260 menyatakan bahwa dia juga disebut demikian karena dia adalah kepala dari Vasu (Vasunam settho) yang dianggap Buddhaghosa sebagai suatu kelas para dewata (Vasudevatanam DA 690): lihat DPPN ii 857 dst. untuk detail lebih lanjut.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com