Sariputta | Suttapitaka | PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA RATHAKARA Sariputta

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA RATHAKARA

Ratha­kāra­peti­vatthu (Pv 28)

‘Berpilar batu alam, berkilau, cemerlang.’ Ini dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Savatthi berkenaan dengan sesosok peti.

Dikatakan bahwa dahulu kala, pada zaman Buddha Kassapa, ada seorang wanita yang memiliki perilaku yang baik Dia memperoleh keyakinan pada Ajaran karena berhubungan dengan seorang sahabat yang luhur.1 Dia membangun tempat tinggal yang amat indah untuk dipandang karena pembagian ruangan yang baik, yang diperindah dengan dinding, pilar, anak tangga dan lantai tanah.2 Dia mengundang para bhikkhu untuk duduk di sana, melayani mereka dengan makanan pilihan dan mempersembahkannya kepada Sahgha para bhikkhu. Dia meninggal pada saatnya dan karena suatu tindakan jahat yang pemah dia lakukan- muncul sebagai vimanapeti di dekat danau Rathakara3 di pegunungan Himalaya, raja gunung. Melalui kekuatan tindakan berjasanya -yaitu mendanakan tempat kediaman tersebut kepada Sangha- maka muncullah sebuah istana tinggi yang seluruhnya terbuat dari batu permata, dengan segala sisi yang amat menarik, memukau, dan menyenangkan – di tengah kolam lotus teratai dan dihias bagaikan Hutan Nandana, [187] sementara dia sendiri memiliki kulit keemasan, cantik, indah dipandang dan menarik Di sana dia berdiam, menikmati keelokan surgawi, tetapi tidak ada pria satu pun.

Ketidak-puasan muncul di dalam dirinya karena hidup tanpa laki-laki dalam kurun waktu yang begitu lama. Dia menjadi tidak puas. Dengan pemikiran , ‘Akal ini akan berhasil!’, dia menurunkan beberapa buah mangga surgawi ke dalam sungai. Hal ini seluruhnya harus dipahami dengan cara yang sama seperti Cerita Peta Kannamunda.4 Hanya saja, di sini seorang pemuda penduduk Benares melhat salah satu rnangga itu di Sungai Gangga. Pada waktunya, dia pergi untuk mencari dari mana asal mangga itu. Dia melihat sungai itu5 dan dengan mengikutinya, dia pun sampai ke tempat kediaman vimanapeti itu. Sang vimanapeti melihat pemuda itu, lalu mengaiaknya ke tempat kediamannya. Setelah membuatnya merasa nyaman, sang vimanapeti itu pun duduk. Ketika sang pemuda melihat keelokan tempat kediaman itu, dia menyampaikan syair-syair ini yang menanyakan (tentang hal itu):

1. ‘Berpilar batu alam,6 berkilau, cemerlang dan memiliki lukisan tak terhitung banyaknya istana ke mana engkau naik; dan di sana engkau beristirahat, 0 dewi dengan keagungan yang besar, bagaikan rembulan di tengah-perjalanan pada hari kelimabelas.7
2. Dan kulitmu menyerupai emas cair, penampilanmu yang kemilau sungguh luar biasa8 indah dipandang, tetapi engkau duduk sendirian di kursimu yang elok, tiada bandingnya; (kelihatannya) engkau tidak memiliki suami.
3. Dan di semua sisi engkau memiliki kolam-kolam teratai, penuh bunga, dengan banyak teratai dan seluruhnya ditebari debu emas, lumpur dan rumput air9 tidak dikenal di sana.
4. Angsa-angsa yang menyenangkan dan indah untuk dipandang ini, [188] meluncur di atas air sepanjang waktu dan -bersama-sama dalam kelompok- mereka semuanya menyanyi dengan indah, suaranya penuh10 bagaikan bunyi11 tambur-ketel.
5. Gemerlap, cemerlang dalam keagunganmu, engkau beristirahat berbaring di perahumu, dengan bulu mata yang tebal, gembira dan berbicara dengan menyenangkan;12elok di setiap anggota tubuh, engkau sangat cemerlang.
6. Istana ini tanpa cacat dan berdiri rata; memiliki taman- taman yang menambah kegembiraan dan kesenanganmu. Saya berharap, 0 wanita dengan kecantikan luar biasa, agar saya bisa bersenang-senang bersamamu di sini di tengah-tengah kenikmatan ini.’13
1 Di sana(tattha):di istana itu. Engkau beristirahat (acchasi): engkau duduk, engkau berdiam, kapan pun engkau inginkan. 0 devi (devi): dia menyapa wanita itu. Dengan keagungan yang besar (mahanubhave): diberkahi dengan keagungan surgawi yang besar. Di tengah-perjalanan (pathaddhani): menelusuri jalannya sendiri, yang artinya pada jalurnya sendiri di angkasa

2 Dan kulitmu menyerupai emas cair (vanno ca te kanakassa sannibho): kulitmu luar biasa memikat, karena mirip emas cair. Untuk alasan inilah dia berkata,’Penampilanmu yang kemilau14 sungguh luar biasa indah dipandang.’ Tiada bandingnya (atule): besar nilainya; atau pilihan lain (kita harus membaca:) 0, engkau yang tidak dapat dibandingkan (atule), yang merupakan cara menyapa devata itu, yang artinya ‘0 engkau dengan kecantikan yang tiada bandingnya. ‘Engkau tidak memiliki suami : n’atthi ca tuyham samiko=samiko ca tuyham n’atthi15 (bentuk tata bahasa alternatif).

3. Penuh bunga (pahutamalya): kolam-kolam itu memiliki banyak dan berbagai bunga, seperti misalnya teratai dan lili air biru dan sebagainya. [189] Debu emas (suvannacunnehi): pasir keemasan16. Seluruhnya ditebari (samant’otata): seluruhnya ditaburi. Di sana (tatha): di kolam-kolam teratai itu. Lumpur dan rumput air (panko pannako ca): tidak ada lumpur maupun kotoran.17

4. Angsa-angsa yang menyenangkan dan indah untuk dipandang ini (hamsa pi me dassaniya manorama): angsa-angsa ini menyenangkan dan indah dipandang. Meluncur (anupariyanti): berenang kian kemari. Sepanjang waktu (sabbada): di semua musim. Bersama-sama dalam kelompok (samayya): datang bersama. Dengan indah (vaggu): dengan manis. Menyanyi (upanadanti): bersuara. Suaranya penuh (bindussara): suaranya tak terganggu, suaranya bulat. Bagaikan bunyi tambur-ketel (dundubhinam va ghoso) yang artinya karena sifat suara angsa yang penuh dan indah itu, bunyi angsa-angsa di kolam terataimu itu bagaikan tambur ketel.

5. Gemerlap (dadalhamana): dengan cemerlang memancar. Dalam keagunganmu (yasasa): dengan kesaktian dewa. Di perahumu (navaya): di perahumu yang kedap air;18dia mengatakan hal ini karena telah melihat peti itu19 bersenang-senang di air, duduk di kursinya yang amat indah itu di dalam perahu yang berbentuk seperti teratai keemasan20 di kolam teratai. Berbaring: avalamba=olambitva (bentuk tata bahasa alternatif); bersandar pada topangan.21Engkau beristirahat (titthasi): ini merupakan ungkapan yang berlawanan untuk gerak22 karena tersirat adanya penghentian gerak pada kata ‘(sedang) beristirahat’. Bacaan alternatifnya adalah nisajjasi; artinya dapat dianggap ‘engkau duduk’. Dengan bulu mata yang tebal (Alarapamhe): dengan bulu mata yang melengkung, hitam, panjang. Gembira (hasite): penuh dengan keriangan, dengan wajah yang riang. Berbicara dengan menyenangkan (piyamvade): bercakap-cakap dengan menyenangkan. Elok di setiap anggota tubuh (sabbangakalyani): indah di setiap anggota tubuh, yang artinya menawan di setiap anggota tubuh, baik yang besar maupun kecil. Engkau cemerlang (virocasi): engkau bersinar terang.

6. Tanpa cacat (virajam): tidak memiliki cacat, tanpa kesalahan. Berdiri rata (same thitam): berdiri pada level tanah yang datar (sama bhumibhage); atau, pilihan lain, karena keelokannya di (semua) empat (sisi),23istana itu berdiri dalam porsi yang sama (samabhage), yang artinya sempurna seluruhnya. Memiliki taman-taman (uyyanavantam): mirip Hutan Nandana. Menambah kegembiraan dan kesenanganmu (ratinandivaddhanam): semuanya ‘menambah kegembiraan [190] dan kesenanganmu, karena meningkatkan kegembiraan dan kesenanganmu, yang artinya menyebabkan dan sukacitamu bertambah. O wanita (nari): ini adalah cara menyapa peti itu. Dengan kecantikan luar biasa (anomadassane): tampak tanpa cacat karena sempurna di setiap anggota tubuh, baik yang besar maupun kecil.24Di tengah-tengah kenikmatan ini (nandane): di antara apa yang menghasilkan kenikmatan. Di sini (idha): di ‘Hutan Nandana’ ini atau di istanamu. Agar saya bisa bersenang-senang (moditum): saya berharap bisa bermanja-manja di dalam kenikmatan bercinta – demikianlah hal ini harus dipahami.

Ketika pemuda itu telah mengatakan demikian, vimanadevata itu25 menyampaikan syair ini untuk menjawabnya:

7. ‘Lakukanlah suatu tindakan yang harus dialami di sini dan biarkanlah pikiranmu cenderung26 ke sini; bila engkau telah melakukan suatu tindakan yang harus dialami di sini, engkau dengan demikian akan memperoleh diriku yang akan memuaskan segala keinginanmu.’
7. Di sini, Lakukanlah suatu tindakan yang harus dialami di sini (karohi kammam idha vedaniyam): lakukanlah, engkau harus mengejar, suatu tindakan bajik yang akan masak dan memberikan hasilnya di sini, di tempat surgawi ini. Cenderung ke sini (idha natam): condong ke arah sini; bacaan alternatifnya adalah meluncur ke arah sini (idha ninnam) yang artinya biarkan pikiranmu, izinkan pikiranmu untuk meluncur, cenderung, condong27 menuju tempat ini. Diriku: maman=mam (bentuk tata bahasa alternatif). Engkau akan memperoleh: lacchasi=labhissasi (bentuk tata bahasa alternatif).

Ketika pemuda itu mendengar kata-kata vimanapeti tersebut, dia pergi dari sana menuju jalan manusia; dia teguh mengarahkan pikirannya ke tempat itu dan melakukan tindakan berjasa yang sesuai. Dia mati tak lama sesudah itu, dan muncul di sana ditemani peti itu.28Mereka yang mengulang teks mengucapkan syair penutup yang menjelaskan hal itu:

8. ‘Pemuda itu memberikan persetujuannya kepada peti tersebut dengan mengatakan, “Baiklah”, dan melakukan tindakan yang harus dialami di sana;29ketika dia telah melakukan tindakan yang harus dialami di sana, pemuda itu muncul ditemani peti tersebut.’
8. [191] Di sini, baiklah (sadhu): ini merupakan. partikel yang mengatakan persetujuan. Dia memberikan persetujuannya (patisunitva): dia setuju dengan apa yang dikatakan peti itu. Harus dialami di sana (tahim vedaniyam): suatu tindakan berjasa yang menghasilkan kebahagiaan yang dialami bersama peti itu di istananya. Ditemani (sahavyatam): bersama dengan; pemuda itu muncul di dekat peti itu – demikianlah hal ini harus dipahami.

Ketika mereka telah dengan demikian menikmati keelokan surgawi di sana selama kurun waktu yang lama, pria itu mati karena habisnya buah tindakan itu. Namun wanita tersebut berdiam di sana selama satu masa interval-Buddha karena buah tindakan berjasanya yang telah menuju ke ladang itu.30Kemudian Guru Agung kita muncul di dunia dan memutar Roda Dhamma yang Agung, dan pada saatnya tinggal di Hutan Jeta. Ketika itu, Y. M. Mahamogallana pada suatu hari berkelana di pegunungan dan melihat istana serta vimanapeti tersebut. Y. M. Mahamogallana menanyai dia dengan syair-syair yang bermula dengan: ‘Berpilar batu alam, berkilau, cemerlang.’ Vimanapeti itu melaporkan seluruh kejadian kepadanya dari awal. Setelah Y. M. Mahamogallana mendengar cerita ini, beliau pergi ke Savatthi dan mengemukakan (hal) itu ke hadapan Sang Buddha. Sang Buddha menganggap persoalan itu sebagai kebutuhan yang muncul, dan mengajarkan Dhamma kepada mereka yang berkumpul di sana . Setelah mendengar hal ini, orang-orang tersebut melakukan tindakan-tindakan berjasa, seperti misalnya memberikan dana dan sebagainya serta cenderung menuju ke Dhamma.

Catatan

kalyanamitta, istilah teknis untuk pembimbing atau penasihat spiritual.
Terbaca suvibhattavicitrabhittithambhasopanabhumitalam pada Be (Se menghilangkan-bhitti-) untuk suvibhattavicittathambasopanabhumitalam pada teks.
Satu dari tujuh danau besar – lihat PvA 152 di atas.
II 12.
Terbaca nadim pada Se Be untuk na pada teks.
Terbaca -thambham pada Se Be untuk thambam pada teks.
Terbaca pannarase pada Se Be dan komentar di bawah untuk pannasare pada teks.
Terbaca bhusa pada Se Be untuk bhusa pada teks; awalan PED sv bhusa harus dihilangkan. Bandingkan J v 203.
pannaka; saya mengikuti Nanamoli, Path of Purification, hal. 280. Bandingkan S v 122; A iii 187, 232, 235; J iv 71; Miln 35; Vin iii 177.
Terbaca bindussara pada Se Be untulk vindussara pada teks; bandingkan Sn 350, Thag 1270 dan D ii 211 di mana hal itu merupakan satu dari delapan kualitas suara Brahma Sanamkumara yang memiliki angsa (hamsa) sebagai hewan yang dikendarainya.
PED sv ghosa secara keliru mengaitkan suara ini dengan para peta, dengan mengusulkan bahwa seharusnya diterjemahkan sebagai ‘meraung’.
Terbaca piyamvade pada Se Be untuk piyavade pada teks.
nandane, suatu kiasan untuk Hutan Nandana di surga Sakka; bandingkan III 1 19. Kami dapat menerjemahkannya sebagai ‘di tengah-tengah “Nandana” ini’sebagai alternatif.
Terbaca uttattarupo pada Se Be dan v 2 untuk uggatarupo pada teks.
Se Be menuliskan n’ atthi ca tuyha-samiko=tuyham samiko ca n’atthi; artinya tetap sama.
Terbaca suvanna- pada Se Be untuk suvanna- pada teks.
Terbaca udakapicchilo pada Se (Be -picchillo) untuk udakacchikkhalo pada teks, air dan rawa (bandingkan PvA 102, 225), karena di sini terkesan sebagai sesuatu yang mencemari kolam.
doniyam; PED sv doni menyatakan hal ini sebagai ‘kano yang berbentuk seperti palung (bandingkan Marathi don “perahu yang dasarnya rata dan panjang, terbuat dari kayu undi” dan Kanarese doni “kano yang berlubang (sic) terbuat dari balok kayu)’. Dengan ini kita ,bisa membandingkan kata bahasa Inggris ‘dinghy’yang berarti sampan kecil (dengan kata bahasa Hindi dengi). Akan tetapi perahu ini dikatakan menyerupai kuncup teratai dan pengertian lain dari doni, sesuatu yang berlubang (bandingkan Skt drona, tabung atau ember dan sebagainya), yang mungkin lebih dominan.
Se Be menambahkan petim di sini.
Terbaca paduminiyam suvannanavaya pada Se Be untuk Paduminisuvannanavcaya pada teks.
Terbaca apassenam pada Se Be untuk apassena pada teks.
Terbaca gatiya pada Be untuk Se gatiya ca pada teks.
Terbaca caturassa sobhitataya pada Se Be untuk caturamsaso hitaya pada teks.
Terbaca paripunnangapaccahgataya aninditadassane pada Se Be untuk paripunnangataya nandanadassane pada teks; bandingkan Sn 548 dan SnA 452. Kesempurnaan tubuh sering digolongkan sebagai hasil dari perbuatan baik dan berjasa seperti halnya tiga puluh dua tanda di tubuh Sang Buddha – bandingkan D iii 142 dst.
Demikian pula teks kita dan Se; Be menuliskan vimanapetidevata. Sebelumnya, dia disebut seorang vimanapeti.
natam; Se Be menuliskan nihitam sedangkan Pv menuliskan nitam.
Bandingkan M i 493 untuk pemakaian paralel dari istilah ini.
Tanda baca teks ini perlu diubah,menurutSe Be,menjadi sebagai berikut : …. tattha nibbatti tassa petiya sahavyatam. Tam ….
Terbaca tahim vedaniyam pada Se Be dan komentar di bawah untuk sahavedaniyam pada teks; PED tidak memiliki catatan untuk tahim.
Yaitu, ladang-kebajikan yang tidak tertandingi di dunia, dari I1 di atas.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com