Sariputta | Suttapitaka | PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA YANG TANPA-MENYIBAK Sariputta

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA YANG TANPA-MENYIBAK

Abhij­jamā­na­peta­vatthu (Pv 26)

‘Tanpa menyibak air.’ Ini dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di hutan Bambu sehubungan dengan peta yang dulunya seorang pemburu.

Dikatakan bahwa di seberang sungai Gangga di sebelah barat1, Benares menuju2 desa Vasabha, ada seorang pemburu di desa itu yang bernama Cundatthila. Dia biasa membantai rusa di hutan, memakan dagingnya yang paling lezat yang telah dimasaknya di atas bara api. Kemudian sisanya dibungkus dan dimasukkannya ke keranjang dari daun, lalu dibawanya dengan galah ke desa. Ketika anak-anak lelaki melihatnya di gerbang desa, mereka berlari kepadanya dengan tangan terulur sambil berkata, ‘Beri saya daging! Beri saya daging!’ Setiap kali, mereka diberinya sedikit daging. Namun suatu hari dia tidak memperoleh daging apa pun.[169] Dengan berhiaskan bunga-bunga 3 uddala dan bunga di tangannya, dia pergi ke desa. Ketika anak-anak lelaki melihatnya di gerbang desa, mereka berlari kepadanya dengan tangan terulur sambil berkata, ‘Beri saya daging! Beri saya daging!’ Kepada mereka masing-masing dia memberikannya setangkai bunga. Pada saatnya dia pun mati dan muncul di antara para peta dalam keadaan telanjang, cacat, dan mengerikan untuk dipandang. Tidak mengenal makanan atau minuman, bahkan tidak juga di dalam mimpinya, dan dengan rangkaian-rangkaian bunga uddala yang terikat di kepalanya, dia pun berjalan ke hulu sungai Gangga tanpa menyibak air, sambil berpikir, ‘Aku akan memperoleh sesuatu di hadapan sanak saudaraku di Cundatthila.’ Pada saat itu, menteri utama raja Bimbisara yang bernama Koliya, sedang di dalam perjalanan pulang setelah mengatasi kekacauan di perbatasan. Setelah mengatur pasukan gajah dan kuda dan sebagainya untuk berjalan lewat darat, dia sendiri pulang dengan menggunakan perahu menuju hilir sungai Gangga ketika dia melihat peta itu mendekat dengan cara itu. Koliya mengucapkan syair ini untuk bertanya:

1. ‘Engkau bergerak di sini tanpa menyibak air Gangga; engkau telanjang tetapi separuh bagian depanmu tidak seperti peta, berhias, memakai rangkaian-rangkaian bunga. Kemanakah engkau pergi, peta, dan engkau akan berdiam di mana?’
1 Di sini, tanpa menyibak (abhijamane): menyatu tanpa menyibak 4 pada saat menapakkan kaki. Air Gangga (varimhi Gangaya): air di sungai Gangga. Di sini (ida) : di tempat ini. Tetapi separuh bagian depanmu tidak seperti peta (pubbaddhapeto 5va): separuh bagian depanmu tidak seperti yang dimiliki peta lain – bagian itu seperti yang dimiliki devaputta, yang bukan milik kandungan-peta. Mengapa? Berhias, memakai rangkaian-rangkaian bunga (maladhari alankato) berarti di atas kepalamu 6 dihiasi, diperlengkapi dengan rangkaian-rangkaian bunga. Engkau akan berdiam di mana? (kattha vaso bhavisati): di desa atau di tempat manakah engkau akan berdiam, yang berarti silakan beritahukanlah hal ini (kepada saya).

Untuk menunjukkan apa yang dikatakan pada waktu itu oleh peta dan oleh Koliya, mereka yang mengulang teks [170] mengatakan syair-syair ini:

2. “Saya akan pergi ke Cundatthila,” kata peta itu, “di antara desa Vasabha, di dekat Benares .”
3. Dan ketika melihat peta itu, sang menteri utama, Koliya yang terkenal, memberi peta tersebut makanan biji-bijian dan makanan dan seperangkat (pakaian) kuning.
4. Ketika perahunya berhenti, peta itu menyuruh (benda-benda itu) diberikan kepada tukang cukur; ketika benda-benda itu diberikan kepada tukang cukur, benda-benda itu pun segera terlihat pada (tubuh) peta itu.
5. Setelah itu (dia menjadi) mengenakan pakaian yang indah, berhias, memakai rangkaian-rangkaian bunga; berdiri dengan posisi itu, dana tersebut bermanfaat bagi peta tersebut- oleh karenanya seseorang seharusnya memberikan dana karena belas kasihan bagi para peta berkali-kali.’
2. Di sini, ke Cundatthila (Cundatthilam): menuju desa dengan nama itu. Antara desa Visabha, di dekat Benares (antare Vasabhagamam Baranasiya santike): di tengah-tengah antara desa Vasabha dengan Benares. Kata depan antara 7 ini (desa Vasabha (Vasabagamam)) memiliki bentuk akusatif (tetapi) dalam arti genetif, 8 karena desa itu berada di dekat Benares . Inilah artinya di sini. 9 ‘Antara (antare) desa Vasabha dan Benares , tidak jauh dari Benares , terdapat sebuah desa yang bernama Cundatthila – saya sedang menuju desa ini.’

3 Koliya yang terkenal (Koliyo iti vissuto): dengan nama yang sudah dikenal baik 10 yaitu Koliya. Makanan biji-bijian dan makanan: sattubhattan ca=satuh c’eva bhattan 11 ca (ketentuan bentuk majemuk). Memberi … dan seperangkat kuning (pitakan cayugamada): memberi … dan seperangkat pakaian kuning, yang berwarna keemasan. Seandainya (ditanyakan), ‘Kapan dia memberi (ini)?’, dia 12 berkata:

4 Ketika perahunya berhenti, peta itu menyuruh (benda-benda itu) diberikan kepada tukang cukur (navaya titthamanaya kappakassa adapayi): dia menghentikan perahunya yang bergerak, dan di sana dia telah menyerahkan kepada seorang pelayan-mandi 13 yang merupakan pengikut awam; ketika seperangkat pakaian ini diberikan – demikianiah hal ini harus dipahami. Segera: thane=thanaso (bentuk tata bahasa alternatif): pada saat itu juga. Benda-benda itu pun terlihat pada peta itu (petassa dissatha): benda-benda itu diterima di tubuh peta tersebut, pakaian luar dan dalam itu menjadi ada baginya. Untuk alasan inilah dia 12 mengatakan:

5 [171] Setelah itu mengenakan pakaian yang indah, memakai rangkaian-rangkaian bunga (tato suvatthavasano maladhari alankato): mengenakan pakaian yang indah dan berhias elok dengan rangkaian-rangkaian bunga yang dipakainya.14 Berdiri dengan posisi itu, dana itu bermanfaat bagi peta tersebut (thane thitassa petassa dakkhina upakappatha): bagaimanapun juga, dana itu sesuai bagi yang pantas mernperoleh dana, karena dana tersebut dapat digunakan peta itu. Oleh karenanya seseorang seharusnya memberikan dana karena belas kasihan bagi para peta berkali-kali (tasma dajjetha petanam anukampaya punappunam) berarti seseorang harus memberikan dana karena belas kasihan bagi para peta, atas nama para peta, berkali-kali.

Kini, menteri utama Koliya, yang merasakan belas kasihan bagi peta itu, mengadakan suatu bentuk pemberian dana makanan dan kemudian pergi ke hilir sungai dan sampai ke Benares saat matahari terbit. Sang Buddha, yang telah datang melalui udara demi untuk membantu 15 mereka, sedang berdiri di tepi sungai Gangga. Menteri utama Koliya turun dari perahu dan dengan amat bersuka-cita mengundang Sang Buddha dengan mengatakan, ‘Semoga Yang Mulia karena belas kasihan menerima (undangan) saya, Yang Mulia, untuk makanan hari ini’. Sang Buddha setuju dengan cara berdiam diri. Setelah mengetahui bahwa Sang Buddha menerimanya, dia segera mendirikan satu paviliun yang besar dari cabang-cabang pohon yang dihias bagian atasnya dan empat sisinya dengan berbagai kain yang dihiasi dan diberi warna-warni. Kemudian dia menawarkan kepada Sang Buddha tempat duduk yang telah disiapkan di sana . Sang Buddha pun duduk di kursi yang telah disediakan. Kemudian menteri utama itu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan wewangian, bunga-bunga, dan sebagainya, menghormat Beliau, dan duduk di satu sisi. Dia melaporkan kepada Sang Buddha apa yang telah dia katakan serta jawaban dari peta itu seperti yang disebutkan di atas. Sang Buddha memutuskan, ‘Biarlah sangha bhikkhu datang (ke sini)! Begitu Beliau memutuskan hal ini, sangha para bhikkhu yang didorong oleh keagungan Sang Buddha, mengelilingi Raja Dhamma tersebut bagaikan kelompok angsa emas (mengelilingi) Dhatarattha, raja 16 dari angsa (emas).17

Orang-orang pun langsung berkumpul, sambil berpikir, ‘Akan ada Ajaran besar tentang Dhamma.’ Ketika melihat hal ini, menteri utama dengan bakti di hatinya, memuaskan sangha para bhikkhu dengan Sang Buddha di ujung meja dengan minuman dan makanan, baik yang keras maupun lunak. Setelah selesai makan, Sang Buddha karena belas kasihan pada orang-orang itu lalu memusatkan pikirannya pada buah pikir, ‘Semoga mereka yang berdiam di lingkungan Benares berkumpul (di sini)!’ Dan semua orang karena kekuatan supranormal Beliau pun berkumpul (di sana ). Kemudian Sang Buddha membuat sejumlah besar peta mewujudkan diri sehingga orang-orang itu melihat para peta tersebut dengan mata mereka sendiri: beberapa peta memakai potongan-potongan kain compang-camping yang robek dan tercabik-cabik; [172] beberapa menutupi bagian tubuh yang memalukan18 hanya dengan rambut mereka sendiri; sementara beberapa peta telanjang sejak saat mereka dilahirkan,19 dikuasai oleh rasa lapar dan rasa haus, dengan kulit yang berkerut dan tubuh yang semata-mata hanya tulang-belulang dan berkelana kian-kemari. Sang Buddha kemudian menggunakan kekuatan-kekuatan supranormal Beliau sedemikian rupa sehingga mereka sernua berkumpul di tempat yang sama. Lalu Beliau menyatakan kepada orang-orang itu perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh para peta.

Mereka yang mengulang teks mengatakan syair-syair ini untuk menjelaskan hal itu.

6. ‘Para peta, beberapa terbungkus potongan-potongan kain buruk, yang lain dibungkus rambut mereka sendiri, pergi mengembara mencari makanan, pergi ke segala arah.
7. Beberapa berlari jauh tetapi berbalik kembali tanpa memperoleh apa-apa, kelaparan, pingsan, terseok-seok clan tenggelam ke tanah.
8. Dan beberapa yang jatuh di sana , tenggelam ke tanah, tersiksa seolah-olah dibakar oleh api karena belum melakukan tindakan-tindakan yang baik apa pun di masa lampau (berkata,)
9. “Di masa lampau, kami adalah para istri perumah-tangga yang bersifat jahat dan ibu dari keluarga baik-baik; walaupun persembahan-persembahan jasa ada di depan mata, kami tidak membuat perlindungan bagi diri sendiri.
10. Walaupun ada makanan dan minuman yang melimpah ruah -begitu banyak sehingga 20 makanan minuman itu dibuang- tetapi kami tidak memberikan apa-apa kepada mereka yang telah mencapai puncak, 21 kepada mereka yang telah meninggalkan keduniawian.
11. Bernafsu untuk melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan, malas, bernafsu akan benda-benda manis22 dan rakus, kami merupakan para pemberi23 potongan dan gumpalan makanan serta melecehkan para penerima dana.
12. Rumah-rumah itu dan pelayan-pelayan itu serta hiasan-hiasan milik kami itu – semua ini sekarang dinikmati24 oleh orang-orang lain, sementara bagian kami adalah kesengsaraan.”
13. Mereka akan menjadi pembuat keranjang25 yang dipandang hina dan menjadi pembuat kereta yang berakal busuk; mereka akan menjadi candalas26 yang hidup amat menderita dan pelayan-mandi berkali-kali.
14. [173] Keluarga apa pun yang rendah dan hidup amat menderita – hanya di antara keluarga ini saja mereka akan terlahir, inilah yang merupakan tujuan dari orang-orang egois.
15. Sedangkan para pemberi yang tidak egois yang di masa lampau telah melakukan tindakan-tindakan yang bajik akan mengisi surga dan menerangi Nandana.
16. Setelah mereka menghibur diri di Istana Vejayanta27 dan puas dengan semua yang mereka inginkan, mereka akan terlahir di keluarga yang kaya, dan berkedudukan tinggi ketika mereka jatuh dari sana.
17. Di rumah yang memiliki pinakel dan di istana, di atas kursi yang ditebari bulu-bulu28 wol yang panjang, dengan tangan-kaki mereka yang dikipasi29 oleh mereka yang memegang (kipas-kipas) bulu merak, ke dalam keluarga semacam itulah mereka akan dilahirkan, yang mengenal segala kenyamanan kehidupan.
18. Mereka berpindah dari satu pangkuan ke pangkuan lain dengan berhias, mengenakan rangkaian-rangkaian bunga;30 para perawat melayani mereka pagi dan petang, berusaha untuk memberi mereka kenyamanan.
19. Nandana31 yang menawan, dan bebas kesulitan, hutan besar bagi dewa Tiga Puluh ini, hanya inilah yang diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan tindakan-tindakan berjasa, bukan bagi mereka yang belum melakukan tindakan-tindakan berjasa.
20. Bagi mereka yang belum melakukan tindakan-tindakan berjasa, tidak ada kebahagiaan di alam sini maupun di alam selanjutnya, sedangkan bagi mereka yang telah melakukan tindakan-tindakan berjasa, ada kebahagiaan di alam sini dan juga di alam selanjutnya.
21. 32Banyak perbuatan bajik yang harus dilakukan untuk orang-orang yang ingin berteman dengan mereka, karena orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan berjasa akan diperlengkapi dengan kepemilikan harta benda dan sukacita di surga.
6 Di sini, terbungkus potongan-potongan kain buruk (sahundavasino): berpakaian33 potongan-potongan kain buruk yang robek dan tercabik-cabik. Beberapa: eke=ekacce (bentuk tata bahasa alternatif). Dibungkus rambut mereka (kesanivasino): bagian yang memalukan ditutupi rambut mereka saja. Pergi mengembara mencari makanan (bhattaya gacchanti): tempat apa pun yang mereka datangi, mereka pergi ke sana mencari makanan ternak dengan berpikir, Mungkin setelah pergi dari sini kami bisa di sana sini memperoleh makanan yang telah dibuang atau dimuntahkan, atau kotoran-kotoran yang menemani kelahiran bayi dan sebagainya’. Pergi ke segala arah (pakkamanti diso disam): pergi dari satu arah ke arah lain, ke tempat-tempat yang jaraknya tak terhitung panjang yojananya.

7 Jauh (dure): menuju tempat yang jauh. Beberapa (eke): beberapa peta. Berlari (padhavitva): berlari mencari makanan ternak. [174] Tetapi berbalik kembali tanpa memperoleh apa-apa (aladdha ca nivattare): tetapi berbalik kembali tanpa memperoleh makanan atau minuman. Pingsan (pamucchitta): mereka berada dalam kondisi yang lemah sekali karena penderitaan rasa lapar dan rasa haus dan sebagainya. Terseok-seok (bhanta): terhuyung-huyung. Tenggelam ke tanah (bhumiyam patisumbhita): mereka bangkit dalam keadaan lemah seperti itu dan kemudian jatuh ke bumi, menjadi layu34bagaikan gumpalan tanah liat yang dilemparkan.

8 Di sana (tattha): di tempat mereka pergi. Tenggelam ke tanah (bhumiyampatisumbhita): mereka jatuh ke tanah seolah-olah jatuh ke dalam jurang yang dalam, tidak dapat berdiri oleh karena penderitaan rasa lapar dan sebagainya; pilihan lainnya adalah: mereka kehilangan harapan karena mereka gagal mencari makanan apa pun dan sebagainya di sana, di tempat mereka pergi, dan mereka jatuh (patisumbhita) ke tanah seolah-olah seseorang di hadapannya (patimukham) telah memukul mereka iatuh (sumbhita), 35 menghantam mereka sehingga jatuh. Karena belum melakukan tindakan-tindakan yang baik apa pun di masa lampau (pubbe akatakalyana): karena belum melakukan tindakan-tindakan bajik apa pun di kehidupan sebelumnya. Tersiksa seolah-olah dibakar oleh api (aggidadhhava atape): seolah-olah di bakar oleh api di suatu tempat, tersiksa oleh matahari musim panas, 36 yang artinya: mereka menjalani penderitaan yang besar karena dibakar oleh api kelaparan dan kehausan.

9 Dimasa lampau(pubbe):di dalam kehidupan yang lampau. Bersifat jahat (papadhamma): memiliki watak yang menjijikkan karena iri hati dan dengki. Istri perumah-tangga (gharani): nyonya-nyonya rumah. Ibu dari keluarga baik-baik (kulamataro): para ibu yang memiliki putra-putra di keluarga yang baik, atau ibu yang memiliki pria-pria dari keluarga baik-baik. Perlindungan (dipam): penopang, yang artinya: tindakan-tindakan berjasa. Tindakan-tindakan itu disebut penopang karena merupakan penopang bagi para makhluk di alam-alam bahagia. 37 Kami tidak membuat : nakamha=na karimha (bentuk tata bahasa alternatif) .

10 Melimpah-ruah (pahutam): banyak. Makanan dan minuman: annapanam pi = annan ca panan (ketentuan bentuk majemuk). Begitu banyak sehingga makanan minuman itu dibuang (api ssu avakiriyati): ssu (tidak diterjemahkan) hanyalah partikel; begitu banyak sehingga dibuang (api avakiriyati): bahkan sampai batas makanan minuman itu dibuang, sehingga disingkirkan.38 Kepada mereka yang telah mencapai puncak (sammaggate): kepada mereka yang telah melangkah dengan benar, 39 kepada mereka yang telah menjalani hidup dengan benar (sammapatipanne=sammapatipannaya); kepada mereka yang telah meninggalkan keduniawian: pabajjite=pabajjitaya – ini merupakan bentuk lokatif di dalam bentuk datif; atau, pilihan lain (jika benar-benar lokatif artinya adalah’Walaupun mereka yang telah mencapai puncak,40 mereka yang telah meninggalkan keduniawian, berada di dekat, ada tersedia.,41 Tetapi kami tidak memberikan apa-apa (na ka kinci adamhase): dikuasai penyesalan, mereka mengatakan bahwa mereka tidak memberikan bahkan satu persembahan-jasa pun.

11 Bernafsu untuk melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan (akammakama): (menjadi) bernafsu untuk melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan adalah bernafsu (untuk melakukan) tindakan tak-bajik yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang luhur; (menjadi) berkeinginan melakukan apa yang seharusnya dilakukan berarti berkeinginan melakukan tindakan-tindakan bajik yang seharusnya dilakukan oleh orang luhur. Bernafsu untuk melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan itu bukanlah (menjadi) berkeinginan akan apa yang seharusnya dilakukan, [175] artinya tidak memiliki usaha yang benar sehubungan dengan keadaan-keadaan yang bajik. Malas (alasa): lamban,42 tidak memiliki energi dalam mengejar keadaan-keadaan yang bajik. Bernafsu akan benda- benda manis (sadhukami): menyukai benda-benda yang manis dan menyenangkan. Rakus (mahagghasa): makan banyak. Kedua (ungkapan) itu menunjukkan bahwa walaupun memperoleh makanan yang lezat dan juga manis namun mereka tidak memberikan apa pun kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka sendiri saja yang menikmatinya. Kami merupakan para pemberi potongan dan gumpalan makanan (a1opapindadataro): kami adalah orang-orang yang memberikan gumpalan makanan tidak lebih dari sepotong. Para penerima (patiggahe): mereka yang menerima43-nya. Melecehkan (paribhasimhase): kami berbicara dengan menunjukkan penghinaan, 44 yang artinya kami merendahkan dan mencemooh.

12 Rumah-rumah itu (te ghara): di mana dulunya kami bertindak secara sangat melekat karena berpikir, ‘Rumah ini adalah milik kami’; rumah-rumah itu masih tetap berdiri sama seperti dulu 45 tetapi sekarang tidak ada gunanya sama sekali bagi kami – dernikianlah artinya. Dan pelayan-pelayan itu serta hiasan-hiasan milik kami itu (ta ca dasiyo tan’ evabharanani no): hal yang sama berlaku di sini juga. Di sini, milik kami.. no=amhakam (bentuk tata bahasa alternatif); semua ini (te): rumah-rumah ini dan sebagainya; sekarang dinikmati oleh orang-orang lain (anne paricarenti)46 yang artinya: digunakan untuk kenikmatan dan sebagainya. Sementara bagian kami adalah kesengsaraan (mayam dukkhassa bhagino): mereka berbicara sambil mencela diri mereka sendiri, ‘Dulunya kami sepenuhnya cenderung mengejar hal-hal untuk mainan, karena tidak menyadari bahwa harta milik harus ditinggalkan ketika pergi (menuju kehidupan baru dan bahwa kami) seharusnya melakukan hal-hal yang akan mengikuti kita di alam berikutnya; dan sekarang bagian kami adalah kesengsaraan ini karena kelaparan dan kehausan dan sebagainya,’47Nah, menurut hukumnya semua makhluk yang muncul di antara makhluk manusia setelah jatuh dari kandungan peta itu akan memiliki kelahiran yang rendah dan menjalani kehidupan dengan amat sengsara sebagai akibat-akibat sisa 48 dari tindakan yang sama itu. Oleh karena itu, kedua syair yang bermula dengan: ‘(Mereka akan menjadi) pembuat keranjang’dikatakan untuk menjelaskan hal ini.

13 Di sini, pembuat keranjang yang (veni va): para pembuat keranjang lewat kelahiran, yang artinya: mereka akan menjadi pekerja bambu, pekerja rumput liar. Kata ‘yang'(va) mempunyai pengertian kata ganti relatif. Dipandang hina (avanna): pasti dipandang rendah, yang maksudnya, dihina; bacaan alternatif adalah dicela (vambhana),49 yang artinya, mereka yang ditindas oleh orang-orang lain. Pembuat kereta (rathakari): pembuat pelana.50 Akal busuk (dubbhika): berakal busuk kepada teman-temannya, yang menindas teman-temannya. Candalas (candali): candalas lewat kelahiran. Yang hidup amat menderita (kapana): miskin, [176] yang telah sampai pada keadaan yang luar biasa menyedihkan. Pelayan-mandi (nahamini): tukang cukur lewat kelahiran; mereka akan menjadi (demikian) di semua tempat – demikianlah hal ini harus dipahami; yang maksudnya, mereka akan muncul berturut-turut di dalam (kelahiran-kelahiran) di keluarga-keluarga rendah.

14 Hanya di antara keluarga ini saja mereka akan terlahir (tesutesveva jayanti): keluarga lain apa pun -seperti misainya pemburu dan pembersih barang buangan dan sebagainya- yang hidupnya amat menderita dan amat terhina, tempat-tempat tujuan yang amat sengsara, di antara keluarga-keluarga rendah seperti inilah mereka yang -karena noda keegoisan- telah muncul di antara para peta akan muncul setelah mereka jatuh dari sana . Untuk alasan inilah dikatakan: Inilah yang merupakan tujuan dari orang-orang egois.’ Dengan demikian, tempat tujuan bagi mereka yang belum melakukan tindakan- tindakan berjasa telah ditunjukkan, tujuh syair yang (bermula dengan:)'(Sedangkan para pemberi yang tidak egois yang) di masa lampau telah melakukan tindakan-tindakan yang bajik’ dikatakan untuk menunjukkan tempat tujuan bagi mereka yang telah melakukan tindakan-tindakan berjasa.

15 Di sini, akan mengisi surga (saggan te paripurenti): para pemberi yang tidak memiliki iri hati, yang tidak memiliki noda keegoisan, yang di masa lampau -persis di kelahiran sebelumnya- telah melakukan tindakan-tindakan yang bajik, yang bergembira dalam tindakan-tindakan berjasa seperti misalnya berdana dan sebagainya, akan mengisi, akan memenuhi, surga, devaloka, dengan kemuliaan keelokan mereka serta dengan kemuliaan pengikut mereka. Dan menerangi Nandana (obhasenti ca Nandanam): namun tidak sepenuhnya mereka mengisi keseluruhan. Ada pula pohon pengabul-keinginan dan sebagainya, yang juga bersinar dengan kemilau alaminya sendiri. Walaupun demikian, mereka bersinar melebihi semua itu dan lebih hebat dari semua itu karena cemerlangnya pakaian dan hiasan mereka serta karena gemerlapnya tubuh mereka sendiri, dan mereka pun menerangi hutan Nandana.

16 Puas dengan semua yang mereka inginkan (kammakamino): menikmati diri sepuas hati mereka di antara kesenangan-kesenangan indera pilihan mereka sendiri. Di keluarga yang berkedudukan tinggi (uccakulesu): dalam keluarga-keluarga yang berkedudukan tinggi, seperti misalnya keluarga ksatria dan sebagainya. Kaya (sabhogesu): memiliki banyak harta benda. Ketika mereka jatuh dari sana (tato cuta): ketika mereka jatuh dari sana , dari devaloka itu.

17 Di rumah yang memiliki pinakel dan di istana (kutagare ca pasade): baik di rumah yang berpinakel 51 dan di istana. Dengan tangan-kaki mereka yang dikipasi (vijitanga): dengan tubuh mereka yang dikipasi.52 Oleh mereka yang memegang bulu merak (morahatthehi): oleh mereka yang memegang kipas yang dihiasi bulu ekor burung merak. Mengenal segala kenyamanan kehidupan (yasassino): memiliki pengikut, mereka menghibur diri – dernikianlah artinya.

18 Mereka berpindah dari satu pangkuan ke pangkuan lain (ankato ankam gacchanti): bahkan di masa kecil pun, mereka pergi dari satu pangkuan ke pangkuan sanak saudara atau perawat mereka lainnya, tidak menapak permukaan tanah dernikianlah artinya. Melayani mereka (upatitthanti): merawat mereka. Berusaha untuk memberi mereka kenyamanan (sukhesino): mengharapkan kenyamanan mereka; [177] orang-orang itu melayani dan melindungi mereka dari ketidaknyaman yang terkecil sekalipun, dengan bertanya-tanya, ‘Apakah ini (terlalu) dingin? Atau apakah ini (terlalu) panas?’- dernikianlah artinya.

19 Bukan bagi mereka yang belum melakukan tindakan-tindakan berjasa (nay idam akatapunnanam): karena tidak memiliki hal-hal yang menyebabkan kesedihan, maka Hutan Nandana yang membahagiakan, hutan yang hebat, taman luar biasa dari alam Tiga Puluh,53 dari para dewa di alam Tiga-Puluh-Tiga, akan selalu tersedia bagi mereka yang telah melakukan tindakan-tindakan berjasa, bukan bagi mereka yang belum melakukan tindakan-tindakan berjasa, yang artinya: tidak dapat dicapai oleh mereka.

20 Sini (idha): ini dikatakan dengan acuan pada kenyataan bahwa khusus di alam manusia inilah dapat dilakukan tindakan-tindakan berjasa itu; atau, pilihan lain, di sini (ida): di dalam kehidupan ini juga. Di alam selanjutnya (parattha): di dalam kehidupan berikutnya.

21 Dengan mereka (tesam): dengan para dewa yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk orang-orang yang ingin berteman (sahavyakamanam): untuk orang-orang yang ingin bersama (dengan mereka). Diperlengkapi dengan kepemilikan harta benda (bhogasamangino): memiliki harta milik, artinya mereka bersuka-cita karena memiliki lima kesenangan indera surgawi.

Yang lain sudah cukup jelas.

Demikianlah para peta itu diberitahu tentang tempat tujuan dari tindakan-tindakan yang telah mereka lakukan serta tempat tujuan dari tindakan-tindakan berjasa. Kemudian Sang Buddha mengajarkan Dhamma secara terperinci, sesuai dengan sifat kecenderungan orang-orang yang berkumpul di sana , yang dikepalai oleh Koliya si penasihat khusus yang hatinya telah tergugah. Di akhir Ajaran ini, pandangan terang ke dalam Dhamma pun muncul di dalam 84.000 makhluk.

Catatan

aparadisabhage; pengertian tentang apara ini tidak tercantum di PED.
atikkamitva; ati- di sini pasti memiliki pengertian abhi- jika tidak diinginkan adanya kontradiksi antara bacaan ini dengan v 2 dan kornentarnya di bawah.
uddalakapuppham, Cassia fistula; bandingkan VvA 43, 197.
Terbaca abhijjamane sanghate pada Se Be untuk abhijjassamanasanghate pada teks.
Terbaca pubbaddhapeto pada Se Be dan versi untuk pubbadhapeto pada teks; sulit untuk mengetahui bagaimana Gehman dapat merujuk pada’seolah-olah bebas dari nasib terdahulu’seperti di komentar.
Terbaca alankatasisaggo pada Se Be untuk -sisatta pada teks.
Kelihatannya Dhammapala menuliskan antara Vasabhagamam pada syair tersebut, dan bukannya antare Vasabhagamam yang sekarang tertulis di semua teks; mungkin tulisan yang sekarang telah diambil dari komentar berikutnya.
Terbaca samyatthe pada Se Be untuk samyatte pada teks.
Tanda baca teks buruk sehingga harus diubah pada Se Be sebagai berikut : … so gamo ti; ayam h’ ettha attho: antare Vasabhagamassa….
Terbaca pakasitanamo pada Se Be untuk pakasananamo pada teks.
bhattun dieja salah pada teks di sini.
Begitu pula semua teks, tetapi semula disebutkan bahwa syair- syair ini diucapkan oleh mereka yang telah menghafal teks ini.
Bandingkan PvA 127.
Mengikuti tanda baca yang lebih disukai Be, teks harus diubah dengan cara mengakhiri PvA 170 dengan Tenaha: dan kemudian memulai alinea baru di PvA 171 dengan baris pertama dari syair dan menghilangkan ti persis sebelum ma1abharanehi.
Bandingkan PvA 196 untuk yang dilibatkan di sini.
Terbaca -rajam pada Se Be untuk -rajanam pada teks.
Bandingkan J iv 425 dst., v 333 dst., 354 dst.
paticchaditakopina;untuk kopinam lihat catatan di PvA88 diatas.
yatha jatarupa, secara harafiah suatu bentuk (atau penampilan) seperti yang telah dimiliki sejak lahir. Di Vism xvii 153 dst. Buddhagosa menegaskan bahwa para peta mungkin terlahir melalui empat cara, yaitu terlahir melalui telur, terlahir melalui rahim, terlahir melalui kelembaban dan terlahir melalui kemunculan spontan (opapatika) (bandingkan M i 73) tetapi tidak memberikan contoh mengenai, misalnya, peta yang terlahir melalui telur. Akan tetapi, lebih sering dianggap bahwa peta selalu berasal dari kemunculan spontan. Ceritara-ceritera ini tidak memberikan penjelasan mendetil mengenai bagaimana peta menjadi eksis, namun tampaknya dapat diasumsikan bahwa mereka begitu saja muncul dalam bentuk yang ditentukan oleh perbuatan-perbuatan masa lampau mereka. Tidak pernah disebutkan bahwa mereka harus menunggu sampai masa dewasa dan seterusnya. Referensi-referensi yang tidak lazim tentang para peti yang melahirkan anak tetapi kemudian anak-anak itu mereka telan tidak harus berarti bahwa anak-anak itu sendiri pun adalah peta yang terlahir melalui rahim.
Terbaca annapanam pi api ssu pada Se Be untuk annapanam hi api su pada teks.
Terbaca sammaggate pada Se Be untuk samaggate pada teks; ini adalah julukan untuk arahat – lihat Dial i 73 n. 2; bandingkan S i 76, It 87. Penyangkalan bahwa terdapat individu-individu sedemikian itu menjadi pandangan salah – contoh D i 55 = A iv 226 = v 265 sedangkan penekanannya menjadi pandangan benar duniawi (lokiya) – contoh M iii 72; bandingkan A i 269.
Terbaca sadukama pada Se Be untuk sadhukama pada teks.
dataro, sekaligus bentuk jamak akusatif dan nominatif. Syair sebelumnya menyiratkan seakan-akan akusatif karena mereka sama-sama memaki para pemberi dan penerima sekaligus, tetapi komentar di bawah menganggapnya nominatif dengan hanya para penerima (patiggahe) saja sebagai objek makian.
Terbaca paricarenti pada Be untuk Se pariharenti pada teks; bandingkan II 3 21 dan IV 14 1.
Terbaca venni pada Se Beuntuk venim pada teks; bandingkanPED sv vena.
candali, isu tentang bentuk perkawinan campuran yang paling jarang dibicarakan – wanita brahmana dan pria pancama atau cudra.
Gehman sebenarnya tidak perlu mengambil vl. Se Be keduanya menuliskan Vejayante, nama istana Sakka yang terkenal di Hutan Nandana di alam Tiga-Puluh-Tiga. Untuk penjelasannya, lihat Culatanha Sankhayasutta (M-37) di mana Sakka menunjukkan sekelilingnya kepada Moggallana (M i 252-254). Istana itu bukan hanya milik Sakka saja, tetapi ‘muncul untuk digunakan oleh orang banyak’ (DhpA i 273; bandingkan DA 698 dan DPPN ii 915).
Terbaca gonakatthate pada Se Beuntuk gonasanthite pada teks; Gehman hal. 209 n. 2 salah mengeja gonakatthate.
Terbaca vijitanga pada Se (Be bijitanga)untuk vijitanga pada teks; bandingkan PED sv vijita.
Terbaca dhatiyo pada Se Be untuk jatiyo pada teks.
Hutan di alam Tiga-puluh-tiga di mana para dewa bersuka-ria. Di Ji 49 dikatakan bahwa terdapat taman seperti itu di semua devaloka. Ke Hutan Nandana jugalah Sakka mengirirnkan para dewa yang hampir jatuh, dan di sana mereka akan mencair seperti salju, atau padam seperti nyala api dan kemudian muncul di tempat lain bandingkan KS i 9 n. 1; M i 505; S v 342; A iii 40.
Syair ini muncul tanpa nomor di teks.
Terbaca -nivasana pada Se Be untuk -mivasana pada teks.
Terbaca vissussitva pada Be (Se visussitva) untuk vissattha pada teks.
Etimologi-Quasi.
Bandingkan PvA 37.
Terbaca sugatisu patittha bhayato pada Se Be untuk sugatisupatitthabhavato pada teks.
Sernua teks bertentangan di sini. Se menuliskan api avakiriyati chadiyati dan Be menuliskan api avakiriyati chattiyati. Saya mengikuti teks kami api avakiriyati yadi pi avakiriyati chaddiyati.
Terbaca samma gate pada Se Be untuk samagate pada teks.
Terbaca sammaggate pada Se Be dan versi untuk samaggate pada teks.
Kitab komentar agak tidak jelas di sini. Sammaggate dan pabbajite pada syair ini sama-sama bersifat lokatif. Dengan adanya dua sinonim yang bersifat lokatif – samma gate dan sammapatipanne – untuk sammaggate, Dhammapala kemudian mengulangi yang kedua ini dalam bentuk datif – sammapatipannaya – clan melanjutkan dengan menafsirkan pabbajite dengan bentuk datif pabbajitAya. Barulah kemudian dia menjelaskan alasannya, menambahkan alternatif dari makna frasa tersebut seandainya saja frasa itu dimaksudkan untulk diartikan secara lokatif.
Terbaca kusita pada Se Be untuk kusita pada teks.
Terbaca patigganhanake pada Se Be untuk patiggahake patigganhanake pada teks.
Terbaca paribhavam karonta pada Se Be untuk paribhasam karonta pada teks.
Terbaca yattha mayam pubbe amhakam gharan ti mamattam akarimha tani gharani yathathitani pada Se Be untuk tani gehani yattha mayam pubbe amhakan ti mamakattam akarimha tani gharani yatha thitani pada teks.
Terbaca anne paricarenti ti pada Beuntuk Se Anne ti apare pada teks. Pariharenti ti paricaranti dan sesuai dengan vi yang diambil di syair ini.
Bandingkan PvA87.
Terbaca vipakavasesena pada Se Be untuk vipaka ‘va sesena pada teks; lihat S i 91-93 untuk contoh lain dari hasil suatu perbuatan yang masih tersisa.
Demikian Se Be untuk’vambhana pada teks.
Secara harafiah adalah pekerja-kulit-binatang.
‘Ini mengacu pada atap-atap India kuno yang memiliki bubungan tinggi dan berbentuk kubah yang menggantung’ – A.K. Warder , Introduction to Pali, London 1963, hal 78 n. 2; bandingkan juga III 2 21 dan komentarnya.
Terbaca vijiyamanadeha pada Se ( Be bijiya-) untuk vijamanadeha pada teks; bandingkan PED sv vijati. 53 Terbaca tidasanam pada Se Be untuk ti dasanam pada teks.
Terbaca tidadasanam pada Se BE untuk ti dasanam pada teks.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com