Sariputta | Suttapitaka | Pemanah Sariputta

Pemanah

Issāsaṅgapañha (Mil 7.8 7)

“Bhante Nāgasena, ketika Anda mengatakan empat sifat pemanah harus diterapkan, yang manakah itu?”

“Seperti, Baginda, pemanah, dalam melepaskan anak panah,memposisikan kedua kakinya dengan kokoh di atas tanah, meluruskan kedua lututnya, menggantung tempat anak panah di pinggangnya, menegakkan tubuh, menempatkan kedua tangan pada pegangan , mengepalkan tinju, tidak ada celah di antara jari-jarinya, menegakkan leher, menutup mulut dan mata, mengambil target lurus, dan membangkitkan kegembiraan (dengan pikiran), ‘Saya akan menembus’; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus memposisikan langkah energi pada landasan sila, harus tetap mempertahankan kesabaran dan kehalusan, mengawasi pikirannya, tetap mengawasi dan mengendalikan diri, menekan keinginan dan nafsu berahi, tidak membiarkan ada celah dalam pikirannya terkait perhatian benar, tetap semangat, menutup enam pintu, meningkatkan kesadaran, dan membangkitkan kegembiraan (dengan pikiran), ‘Saya akan menembus semua kekotoran batin dengan anak panah pengetahuan.’ Inilah, Baginda, sifat pertama pemanah yang harus diterapkan.

Lagi, Baginda, seorang pemanah membawa alat pelurus anak panah untuk meluruskan anak panah yang melengkung, tidak lurus atau bengkok; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus membawa, ketika masih dalam tubuh jasmani ini, alat pelurus penerapan kesadaran untuk meluruskan pikiran yang melengkung, tidak lurus atau bengkok. Inilah, Baginda, sifat
kedua pemanah yang harus diterapkan.

Lagi, Baginda, seorang pemanah berlatih pada target; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu, ketika masih dalam tubuh jasmani ini, harus berlatih. Dan bagaimana caranya, Baginda? Dia harus berlatih (dengan pikiran) ketidakkekalan, dia harus berlatih (dengan pikiran) penderitaan, dia harus berlatih (dengan pikiran) tanpa diri/aku; tentang penyakit, luka, rasa nyeri, rasa sakit, kejahatan, kemalangan, ketergantungan, pembusukan, bencana, kecelakaan, ketakutan, bahaya, yang sementara, yang rusak, yang tidak stabil; yang tanpa pertolongan, tanpa
pertahanan, tanpa tempat berlindung, tanpa tempat berteduh; yang hampa, yang kosong; bahaya, tanpa inti, akar kejahatan, yang kejam, memiliki leleran batin, yang dibentuk, yang tidak bebas dari kelahiran, tidak bebas dari penuaan, tidak bebas dari pembusukan, tidak bebas dari kematian, tidak bebas dari kesedihan, tidak bebas dari duka nestapa, tidak bebas dari kesengsaraan, tidak bebas dari kekotoran batin—begitulah, Baginda, ketika masih dalam tubuh jasmani ini, yogi, bhikkhu berlatih. Inilah, Baginda, sifat ketiga pemanah yang harus
diterapkan.

Dan lagi, Baginda, pemanah berlatih siang dan malam; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus berlatih siang dan malam dengan objek pendukung (meditasi). Inilah, Baginda, sifat keempat pemanah yang harus diterapkan.

Dan ini, Baginda, diucapkan oleh Bhikkhu Sāriputta, siswa utama Sang Buddha:

‘Seperti seorang pemanah yang berlatih siang dan malam,
Dan, tidak mengabaikan latihan, akan memperoleh hasilnya,
Demikian juga siswa Sang Buddha melakukan latihan dalam tubuh jasmani
Dan, tidak mengabaikan latihan, mencapai kearahatan.’

---------------------
Selesai sudah dua ratus enam puluh dua pertanyaan Raja Milinda yang dituliskan di buku ini dalam enam bagian, dihiasi dua puluh dua bagian. Namun, empat puluh dua belum
dituliskan. Menggabungkan semua yang sudah dan belum dituliskan, ada tiga ratus empat pertanyaan. Semua ini diperhitungkan sebagai Pertanyaan Milinda.
---------------------
Ketika Raja dan Bhikkhu sampai pada akhir tanya jawab mereka, bumi ini, seluas delapan puluh empat ribu yojana, bergetar enam kali sejauh tepi samudra, kilat berkelebat dan para dewa menaburkan bunga-bunga surgawi, Maha Brahma bertepuk tangan, dan di laut dalam terdengar raungan hebat seperti raungan petir dari awan badai. Milinda, Sang Raja dan para selirnya, merangkupkan kedua telapak tangan di kepala, menghormati Bhikkhu Nāgasena.

Raja Milinda dipenuhi oleh sukacita di dalam hatinya, semua keangkuhannya sirna; dia memahami intisari Ajaran Buddha, yakin pada Tiga Permata, tanpa keraguan, tidak lagi
keras kepala; dan sangat senang dengan nilai-nilai luhur Bhikkhu Nāgasena yang serasi dengan kehidupan kebhikkhuan; Raja kemudian dengan yakin dan tanpa hawa nafsu, tidak angkuh namun rendah hati, seperti raja ular yang kehilangan gigi taring, berkata, “Bagus sekali, bagus sekali, Bhante Nāgasena; pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan Buddha
telah Anda jawab; dalam masa Buddha ini tidak ada lagi yang mampu menjawab pertanyaan seperti Anda, kecuali Bhikkhu Sāriputta, siswa utama Sang Buddha. Maafkan semua kesalahan saya, Bhante Nāgasena. Terimalah saya sebagai upasaka, Bhante Nāgasena, sebagai orang yang telah menemukan perlindungan mulai hari ini sepanjang hidup saya.”

Lalu Raja dan para prajuritnya memberi hormat kepada Bhikkhu Nāgasena; dan setelah dia membangun tempat tinggal (wihara) yang diberi nama Milinda, dia menyerahkannya kepada Bhikkhu, dan dia memenuhi empat kebutuhan Bhikkhu Nāgasena bersama tak terhitung banyaknya bhikkhu yang leleran batin mereka sudah musnah. Bahkan, bersukacita dalam kebijaksanaan Bhikkhu, dia menyerahkan kerajaan kepada putranya, dan setelah melepaskan keduniawian dan memajukan pandangan terang, dia mencapai Arahat. Oleh karena itu, dikatakan:

Kebijaksanaan dipuja-puja di dunia;
pembabaran adalah untuk melestarikan Dhamma yang murni.
Mengikis keraguan dengan kebijaksanaan,
orang bijaksana memperoleh kedamaian.
Pada siapa yang kebijaksanaannya kokoh,
di mana kesadaran tidak pernah pudar,
Dialah yang terdepan untuk dihormati,
dia tak terkalahkan.
Oleh karena itu, biarkan orang yang bijaksana,
melihat kebaikannya sendiri,
Hormatilah mereka yang memiliki kebijaksanaan
layaknya menghormati tempat suci.


Selesai sudah penjelasan terperinci dari Tanya Jawab antara Raja Milinda dan Bhikkhu Nāgasena

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com