Sariputta | Suttapitaka | Burung Hantu Sariputta

Burung Hantu

Ulūkaṅgapañha (Mil 7.6 5)

“Bhante Nāgasena, ketika Anda mengatakan dua sifat burung hantu harus diterapkan, yang manakah itu?”

“Seperti, Baginda, burung hantu, bermusuhan dengan burung gagak, mendatangi kawanan burung gagak pada malam hari dan membunuh banyak dari mereka; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus bermusuhan dengan ketidaktahuan dan, duduk sendiri dalam kesunyian, memusnahkan ketidaktahuan dan mencabut akarnya. Inilah, Baginda, sifat pertama burung hantu yang harus diterapkan.

Dan lagi, Baginda, burung hantu adalah (burung) yang menyendiri; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus mengembangkan sukacita dalam meditasi sunyi dan bahagia karena hal tersebut. Inilah, Baginda, sifat kedua burung hantu yang harus diterapkan.

Dan ini, Baginda, diucapkan oleh Sang Buddha, dewa di atas para dewa, di dalam Saṁyutta Nikāya,

‘Disini, para Bhikkhu, seorang bhikkhu bersukacita dalam meditasi
sunyi dan bahagia karena hal tersebut;
dia memahami sebagaimana adanya: Ini penderitaan;
dia memahami sebagaimana adanya: Ini asal mula penderitaan;
dia memahami sebagaimana adanya: Ini lenyapnya penderitaan;
dia memahami sebagaimana adanya: Ini jalan menuju lenyapnya
penderitaan.’


Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com