Sariputta | Suttapitaka | Angin Sariputta

Angin

Vāyuṅgapañha (Mil 7.4 4)

“Bhante Nāgasena, ketika Anda mengatakan lima sifat angin harus diterapkan, yang manakah itu?”

“Seperti, Baginda, angin berhembus melalui semak belukar yang sedang mekar sempurna; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus bersukacita dalam semak objek pendukung (meditasi) yang sedang mekar dengan bunga-bunga kebebasan yang indah. Inilah, Baginda, sifat pertama angin yang harus diterapkan.

Lagi, Baginda, angin mengusik kumpulan dharaṇiruha atau pohon pādapa; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu pergi ke daerah berhutan, harus mengusik kekotoran batin dengan menyelidiki aktivitas mereka. Inilah, Baginda, sifat kedua angin yang harus diterapkan.

Lagi, Baginda, angin bergerak di angkasa; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus membuat pikirannya bergerak dalam kondisi non duniawi. Inilah, Baginda, sifat ketiga angin yang harus diterapkan.

Lagi, Baginda, angin membawa aroma; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu harus membawa aroma harum sila miliknya. Inilah, Baginda, sifat keempat angin yang harus diterapkan.

Dan lagi, Baginda, angin tidak punya tempat tinggal, dia tidak berdiam di dalam rumah; begitu juga, Baginda, yogi, bhikkhu, dalam semua situasi harus bebas, tanpa tempat tinggal, tak berumah dan mandiri. Inilah, Baginda, sifat kelima angin yang harus diterapkan.

Dan ini, Baginda, diucapkan oleh Sang Buddha, dewa di atas para dewa, dalam Suttanipāta:

‘Rasa takut lahir dari persaudaraan,
Debu berasal dari rumah yang didirikan.
Tidak berumah dan mandiri;
Itulah visi orang bijak.’


Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com