Sariputta | Suttapitaka | Kembali pada Kehidupan Awam Sariputta

Kembali pada Kehidupan Awam

Hīnā­yāvatta­na­pañha (Mil 6.1 5)

56. Kembali pada Kehidupan Awam

“Apakah memperbolehkan umat awam masuk ke dalam Sangha sebelum mereka mencapai Jalan Pemenang-Arus itu sudah benar? Jika mereka lalu meninggalkan kehidupan kebhikkhuan, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa ajaran Sang Buddha tidak memberikan manfaat.”

“Jika, O baginda, ada kolam yang airnya sangat bersih dan ada orang yang pergi ke sana untuk mandi, tetapi kemudian dia berbalik lagi tanpa mandi, apakah orang-orang akan menyalahkan orang itu atau kolamnya?”

“Mereka akan menyalahkan orang itu.”

“Demikian juga, O baginda, Sang Tathagata telah membangun kolam yang penuh dengan ajaran Dhamma yang murni. Sang Buddha berpikir, ‘Mereka yang mempunyai kekotoran batin tetapi memiliki kepandaian akan dapat menghilangkan kekotoran mereka di sini.’ Tetapi jika ada orang yang kembali ke kehidupan awam sebelum kekotoran batinnya lenyap, maka orang-orang akan menyalahkan dia. Tidak ada alasan untuk mencari kesalahan di dalam Ajaran. Sebaliknya, mereka yang kembali pada kehidupan berumahtangga menunjukkan lima sifat khusus Ajaran Sang Penakluk:
Mereka menunjukkan:

betapa mulianya Ajaran itu,
betapa murninya Ajaran itu,
betapa Ajaran itu terbebas dari hubungannya dengan kejahatan,
betapa sulitnya untuk menembus Dhamma, dan
betapa banyaknya pengendalian diri di dalam kehidupan suci.

“Dan bagaimana mereka menunjukkan kemuliaan kehidupan suci itu? Sama halnya, O baginda, dengan orang yang dilahirkan di kelas bawah, miskin dan tidak pandai. Jika dia mendapat kekayaan kerajaan yang agung, tidak lama kemudian dia akan terguling dan tidak lagi memiliki kemuliaan. Demikan juga orang yang tidak mempunyai kebijaksanaan dan hanya mempunyai sedikit kebajikan. Bila dia meninggalkan kehidupan duniawi, dia tidak akan mampu melaksanakan Ajaran Sang Penakluk dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah.

“Dan bagaimana mereka menunjukkan kemurniannya? Seperti halnya, O baginda, bila air jatuh pada bunga teratai, air itu akan bergulir dan tidak menempel pada teratai itu. Demikian juga mereka yang bersifat tidak murni, licik, dan yang berpegang pada pandangan salah. Ketika mereka masuk ke dalam Ajaran Sang Penakluk, tidak lama kemudian mereka akan terlepas dari Ajaran yang murni dan tanpa kesalahan itu, karena mereka tidak dapat menempel padanya.

“Dan bagaimana mereka menunjukkan kebebasannya dari hubungannya dengan kejahatan? Seperti samudera yang tidak mau menerima keberadaan mayat dan dengan cepat menggulungnya ke pantai dan melemparnya ke tanah kering; demikian juga, O baginda, mereka yang berpikiran jahat dan malas tidak akan dapat bertahan di dalam Sangha dan berhubungan dengan para Arahat yang bebas dari noda.

“Dan bagaimana mereka menunjukkan sulitnya menembus Dhamma? Seperti halnya, O baginda, pemanah yang ceroboh dan tidak terampil tidak akan dapat mempertunjukkan keahliannya, atau mungkin malahan meleset dari sasarannya; demikian juga mereka yang dungu dan bodoh yang meninggalkan kehidupan duniawi tidak akan dapat memahami Empat Kesunyataan Mulia Sang Penakluk yang sangat halus. Karena tidak dapat memahaminya, mereka kembali ke tingkat yang lebih rendah.

“Dan bagaimana mereka menunjukkan banyaknya pengendalian diri di dalam kehidupan suci? Seperti halnya, O baginda, seorang pengecut yang pergi ke medan perang. Ketika dikepung oleh musuh dari segala penjuru dia akan berbalik dan lari terbirit-birit karena takut mati; demikian juga siapa pun yang tidak terkendali, tidak tahu malu, tidak sabar dan plin-plan. Ketika meninggalkan kehidupan duniawi, mereka tidak akan mampu melaksanakan berbagai macam peraturan dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com