Peraturan yang Minor dan Tidak Begitu Penting

Khuddā­nu­khudda­ka­pañha (Mil 5.2 1)

11. Peraturan yang Minor dan Tidak Begitu Penting

“Telah dikatakan oleh Sang Buddha, ‘O bhikkhu, dari pengetahuan yang lebih tinggilah aku mengajarkan Dhamma.’ Tetapi Beliau juga berkata:
‘Setelah aku tidak ada lagi, Ananda, bila diinginkan oleh Sangha, biarlah Sangha menghapus peraturan yang minor dan tidak begitu penting.’Apakah itu berarti bahwa peraturan-peraturan itu ditetapkan secara salah dan tanpa sebab yang tepat?”
“O baginda, ketika Sang Buddha berkata, ‘Biarlah Sangha menghapus peraturan yang minor dan tidak begitu penting’, itu dikatakan untuk menguji para bhikkhu. Seperti halnya seorang raja ketika akan mangkat akan menguji putra-putranya dengan berkata: ‘Daerah-daerah di luar kerajaanku akan terancam bahaya keruntuhan setelah aku mangkat.’ Nah, setelah ayahandanya mangkat, apakah para putra raja itu akan mau begitu saja kehilangan daerah-daerah di luar kerajaan?”
“Tentu saja tidak, Yang Mulia. Para raja mempunyai keinginan menguasai. Karena nafsu akan kekuasaan, para pangeran mungkin justru akan memperluas daerah kekuasaannya dua kali lipat dari apa yang telah mereka miliki. Mereka tidak akan pernah mau begitu saja kehilangan apa yang telah mereka miliki.”
“Begitu pula, baginda, karena semangat Dhamma, para siswa Sang Buddha mungkin akan mempertahankan bahkan lebih dari seratus lima puluh peraturan, tetapi mereka tidak akan pernah mau begitu saja kehilangan apa yang ditetapkan.”
“Yang Mulia Nagasena, ketika Sang Buddha mengacu pada ‘Peraturan yang Minor dan Tidak Begitu Penting’ orang mungkin merasa ragu-ragu, yang mana peraturan dimaksud itu.”
“Tindakan yang berkenaan dengan perbuatan-salah merupakan peraturan yang tidak begitu penting, dan ucapan-salah mengacu pada peraturan minor. Para sesepuh yang bertemu dalam Konsili Buddhis Pertama juga tidak satu pendapat mengenai hal ini.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com