Sariputta | Suttapitaka | SARABHAṄGA-JĀTAKA Sariputta

SARABHAṄGA-JĀTAKA

Sara­bhaṅ­ga­jātaka (Ja 522)

“Dengan memakai cincin dan dihiasi dengan gagah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veluvana, tentang kematian dari bhikkhu senior, Mahā Moggallāna58 (Maha Moggallana).

Sariputta Thera59, setelah mendapatkan persetujuan dari sang Tathagata di saat Beliau berada di Jetavana, pergi dan parinibbāna (parinibbana) di desa Nāla, di dalam kamar yang sama tempat beliau lahir.

Ketika mendengar tentang kematiannya, Sang Guru pergi ke Rājagaha (Rajagaha) dan berdiam di Veluvana. Di sana, Maha Moggallana Thera berdiam di lereng Isigili (Gunung Para Resi) di Pegunungan Hitam (kāḷasilā ).

Dengan mencapai kesempurnaan dalam kekuatan kemampuan gaib, beliau dapat pergi memasuki alam dewa dan alam neraka. Di alam dewa, beliau melihat seorang siswa Sang Buddha menikmati kekuasaan besar, di alam neraka beliau melihat seorang siswa dari Pengikut Pandangan Salah (siswa Titthiyā ) mengalami penderitaan besar.

Ketika kembali ke alam manusia, beliau memberitahukan orang-orang bagaimana di alam dewa seorang upasaka anu dan upasika anu terlahir dan menikmati pencapaian besar, dan di antara siswa dari Pengikut Pandangan Salah, seorang laki-laki anu atau perempuan anu terlahir di alam neraka [126] atau alam rendah lainnya. Orang-orang dengan senang menerima ajarannya (sāsana) dan menolak ajaran Titthiyā. Kehormatan besar ada pada para siswa Sang Buddha, sedangkan kehormatan yang sama itu menjauh dari para siswa Titthiyā.

Mereka menaruh dendam terhadap sang Thera, dan berkata, “Selama orang ini hidup, terdapat pemisahan di antara para pengikut kita dan kehormatan yang diberikan kepada kita pun menghilang. Kita harus membunuhnya.” Dan mereka memberikan seribu keping uang kepada seorang penyamun untuk membunuhnya. Ia bertekad untuk membunuh sang Thera dan datang ke kāḷasilā dengan pengikut yang banyak.

Ketika melihatnya datang, Bhikkhu senior tersebut dengan kemampuan gaibnya terbang melayang di angkasa dan menghilang. Karena tidak menemukan sang Thera pada hari itu, perampok tersebut pulang ke rumah dan kembali lagi pada hari-hari berikutnya selama enam hari berturut-turut. Akan tetapi, sang Thera, dengan kemampuan gaibnya, selalu menghilang dengan cara yang sama. Pada hari ketujuh, suatu perbuatan masa lampau yang dilakukan oleh sang Thera dengan membawa akibat yang harus berbuah di kemudian hari, pun mendapatkan kesempatannya untuk berbuah.

Kisah perbuatan masa lampau itu bermula pada suatu ketika, dengan mendengarkan perkataan istrinya, ia (sang Thera di kehidupan lampaunya) berkeinginan untuk membunuh ayah dan ibunya. Setelah membawa mereka dengan kereta ke dalam hutan, ia berpura-pura bahwa mereka itu diserang oleh para perampok, ia menyerang dan memukul orang tuanya.

Dikarenakan kelemahan penglihatan sehingga tidak dapat melihat dengan jelas, mereka tidak mengenali putranya, dan dengan berpikir bahwa mereka itu adalah para perampok, orang tuanya berkata, “Putraku tercinta, para perampok akan membunuh kita. Selamatkanlah dirimu,” dan hanya meratap tangis untuk dirinya. Ia berpikir, “Meskipun mereka dipukul oleh diriku, tetapi hanya demi diriku mereka meratap tangis. Saya sedang melakukan hal yang memalukan.” Maka ia meyakinkan mereka, dan dengan berpura-pura bahwa perampoknya telah lari, ia mengusap tangan dan kaki mereka, seraya berkata, “Jangan takut, Ayah, Ibu. Para perampok itu telah pergi,” dan membawa mereka kembali ke rumah.

Perbuatan ini yang dalam waktu lama tidak menemukan kesempatan untuk berbuah, tetapi selalu menantikan waktunya seperti bara api yang tersembunyi di bawah abu, muncul dan menyerang orang tersebut di saat ia mengalami kelahiran untuk terakhir kalinya. Oleh karenanya, sang Thera, sebagai akibat dari perbuatanya itu, tidak dapat terbang melayang di angkasa. Kemampuan gaibnya yang dahulu dapat menaklukkan Nanda, Upananda, dan menggetarkan Vejayanta60, sebagai akibat dari perbuatannya (di masa lampau itu), hanya menjadi suatu kelemahan. Penyamun itu menghancurkan semua tulang sang Thera, membuatnya seperti mengalami siksaan ‘jerami dan makanan61’.

Berpikir bahwa ia telah mati, perampok itu pun pergi dengan semua pengikutnya. Tetapi sang Thera, setelah sadar kembali, mengenakan jhana sebagai pakaian dan terbang sampai ke hadapan Sang Guru, memberinya salam hormat, dan berkata, “Bhante, jumlah kehidupanku telah habis. Saya akan parinibbana,” dan setelah mendapat persetujuan Sang Guru, ia pun kemudian parinibbana di sana.

Pada saat itu juga, keenam alam dewa berada dalam keadaan kacau balau. “Guru kita,” teriak mereka, “telah tiada.” Dan mereka datang dengan membawa untaian wewangian bunga surgawi, dupa, kayu cendana, wewangian, dan beragam jenis kayu lainnya. [127] Kayu pemakamannya terbuat dari kayu cendana dan sembilan puluh sembilan permata. Sang Guru, yang berdiri dekat bhikkhu senior tersebut, meminta agar sisa-sisa abunya disimpan.

Dan di sekelilingnya dalam jarak sejauh satu yojana dari tempat jenazahnya dikremasi, bunga-bunga berguguran, para makhluk dewa berdiri di antara makhluk manusia, selama tujuh hari mengadakan upacara suci. Sang Guru meminta siswanya untuk mengumpulkan relik sang Thera dan membangun sebuah cetiya di sebuah ruangan dalam gerbang wihara Veluvana.

Pada waktu itu, mereka membicarakan topik ini di dalam balai kebenaran, dengan berkata, “Āvuso, Sariputta Thera, karena beliau tidak parinibbana di hadapan Sang Tathagata, tidak mendapatkan kehormatan yang agung dari tangan Sang Buddha, sedangkan Maha Moggallana Thera, karena ia parinibbana di dekat Sang Buddha, mendapatkan kehormatan agung yang diberikan kepadanya.”

Sang Guru datang dan menanyakan apa yang mereka bicarakan dengan duduk bersama di sana. Ketika mendengar apa yang mereka bicarakan itu, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, para bhikkhu, tetapi di masa lampau juga Moggallana menerima kehormatan agung dariku.”

Setelah berkata demikian, Beliau menghubungkannya dengan sebuah kisah masa lampau.
____________________

62Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terkandung di dalam rahim istri pendeta kerajaan, dan pada bulan kesepuluh, ia lahir di waktu subuh hari. Pada saat itu terjadi letupan semua jenis senjata di Kota Benares sampai jarak sejauh dua belas yojana.

Ketika putranya lahir, petapa tersebut melangkah keluar dan melihat ke angkasa dengan tujuan meramalkan nasib putranya. Ia mengetahui bahwa anak laki-laki ini, karena ia dilahirkan pada saat gugus bintang anu, akan menjadi pemanah terbaik di seluruh India.

Maka pada waktu yang tepat, ia pergi ke istana dan menanyakan tentang kabar sang raja. Ketika dijawabnya, “Bagaimana, Guruku, saya bisa berada dalam keadaan baik? Hari ini terjadi letupan senjata di sekeliling kediamanku,” ia berkata, “Jangan takut, Paduka, bukan hanya di kediaman Anda saja, tetapi di seluruh kota juga terdengar letupan senjata ini. Hal Ini disebabkan karena lahirnya seorang anak laki-laki di rumah kami.” “Apa, Guru, yang akan menjadi akibat dari kelahiran seorang anak laki-laki dengan keadaan seperti ini?” “Tidak ada, Paduka, ia akan menjadi pemanah terbaik di seluruh India.” “Baiklah, Guru, kalau begitu jagalah dirinya. Di saat ia dewasa nanti, bawalah ia ke hadapan kami.” Setelah berkata demikian, raja memerintahkan untuk memberikan uang seribu keping kepadanya sebagai uang perawatan. Pendeta itu menerimanya dan pulang ke rumah.

Di hari pemberian nama putranya, disebabkan karena letupan senjata di waktu kelahirannya, ia memberinya nama Jotipāla. Ia dibesarkan dalam keadaan lingkungan orang banyak, dan ketika berusia enam belas tahun, ia menjadi pria yang sangat tampan.

Kemudian ayahnya yang melihat keistimewan dirinya, berkata, “Anakku, pergilah ke Takkasila [128] untuk mendapatkan arahan dalam segala pembelajaran dari seorang guru yang terkenal.” Ia setuju untuk melakukannya. Dengan membawa uang untuk gurunya, ia berpamitan kepada orang tuanya dan berangkat. Ia mempersembahkan uang sebanyak seribu keping dan memulai untuk mendapatkan arahan.

Dalam kurun waktu tujuh hari, ia telah mencapai kesempurnaan. Gurunya merasa begitu senang terhadap dirinya sehingga memberikannya sebuah pedang permata miliknya, sebuah busur dari tanduk domba beserta tempat anak panah, keduanya tepat sekali digabungkan bersama, dan baju besi miliknya sendiri serta mahkota, dan berkata, “Anakku Jotipāla, sekarang saya adalah seorang laki-laki tua. Tolong latihlah siswa-siswa ini,” dan ia mengalihkan kepadanya lima ratus orang siswa.

Bodhisatta, setelah menerima semuanya itu, berpamitan kepada gurunya dan kembali ke Benares untuk menjumpai orang tuanya. Kemudian ketika melihat dirinya berdiri dengan hormat di hadapannya, sang ayah berkata, “Putraku, apakah Anda telah selesai belajar?” “Ya, Ayah.” Setelah mendengar jawabannya itu, ia pergi ke istana dan berkata, “Paduka, putraku telah menyelesaikan pembelajarannya. Apa yang harus dilakukannya?” “Guru, buatlah ia bekerja untuk kita.” “Bagaimana Anda memutuskan tentang upahnya, Paduka?” “Ia akan mendapatkan uang seribu keping setiap harinya.” Ia setuju dengan ini. Sekembalinya ke rumah, ia memanggil putranya dan berkata, “Anakku, Anda akan melayani raja.” Sejak saat itu, ia menerima uang seribu keping setiap hari dan melayani raja.

Para pembantu raja yang lainnya merasa tersinggung. “Kami tidak melihat Jotipāla melakukan apa pun dan ia menerima seribu keping uang setiap hari. Kami ingin sekali melihat bukti keahliannya.” Raja mendengar apa yang mereka katakan itu dan memberitahu pendeta kerajaan. Ia berkata, “Baiklah, Paduka,” dan memberitahu putranya. “Bagus sekali, Ayah,” katanya, “pada hari ketujuh mulai dari hari ini, saya akan menunjukkan kepada mereka. Mintalah raja untuk mengumpulkan semua pemanahnya di tempat kekuasaannya.” Pendeta kerajaan itu pergi dan mengulangi apa yang dikatakan putranya kepada raja. Dengan menabuh genderang di seluruh kota, raja meminta semua pemanah untuk berkumpul bersama. Ketika mereka terkumpul, semuanya berjumlah enam puluh ribu orang.

Mendengar bahwa mereka telah berkumpul, raja berkata, “Biarlah semua orang yang tinggal di kota ini menyaksikan keahlian dari Jotipāla.” Dengan menabuh genderang untuk membuat pengumuman, raja meminta pengawalnya untuk menyiapkan halaman istana dan diikuti dengan kerumunan orang banyak, [129] raja mengambil tempat duduknya di takhta yang sangat bagus. Setelah memanggil semua pemanahnya, ia pun memanggil Jotipāla. Ia meletakkan busur, tempat anak panah, baju besi dan mahkota, yang diberikan oleh gurunya dahulu, di balik pakaiannya dan meminta orang untuk membawakan pedangnya, kemudian datang menghadap raja dengan pakaian biasa dan berdiri di satu sisi dengan hormat.

Para pemanah tersebut berpikir, “Dikatakan, Jotipāla datang untuk menunjukkan bukti keahliannya kepada kita, tetapi dari kedatangannya yang tanpa busur, pastinya ia akan meminjam satu busur dari kita,” mereka semua sepakat tidak akan memberikan busur kepadanya. Untuk menyapa Jotipāla, raja berkata, “Tunjukkanlah kepada kami bukti keahlianmu.” Maka ia meminta pengawal untuk membuat layar yang menyerupai tenda di sekelilingnya, kemudian ia berdiri di dalamnya, menanggalkan pakaiannya, mengenakan pakaian kebesarannya, baju besi dan mahkota di kepalanya. Kemudian ia memasang tali yang berwarna merah muda pada busur tanduk dombanya itu, mengikat tempat anak panah di punggungnya dan pedang di sisi sebelah kiri, memutar ujung anak panah dengan mantap pada kukunya, membuka layar tersebut dan terlihat seperti seorang pangeran nāga yang muncul keluar dari bumi, dilengkapi dengan luar biasanya, berdiri sembari membungkuk memberi hormat kepada raja.

Kerumunan orang yang melihat dirinya itu terkagum, berteriak dan bertepuk tangan. Raja berkata, “Jotipāla, tunjukkanlah kepada kami bukti keahlianmu.” “Paduka,” katanya, “di antara para pemanahmu, terdapat orang-orang yang mampu memanah secepat kilat, yang mampu membelah sehelai rambut, yang mampu memanah dengan mendengarkan suara (tanpa melihat), dan yang mampu membelah anak panah (yang tertancap). Panggillah keempat pemanah ini.” Raja pun memanggil mereka.

Sang Mahasatwa membuat sebuah paviliun di tempat bersegi empat di halaman istana, di keempat sisi ia menempatkan empat pemanah tersebut, dan kepada masing-masing pemanah ia meminta pengawal untuk membagikan tiga puluh ribu anak panah, ia sendiri memegang ujung anak panah dengan mantap berdiri di tengah-tengah paviliun tersebut dan berkata dengan keras, “Wahai raja, mintalah empat pemanah ini menembakkan anak panahnya secara bersamaan untuk melukai diriku. Saya akan menangkis tembakan mereka.” Raja memberikan perintah kepada mereka untuk melakukan itu.

“Paduka,” kata mereka, “kami mampu memanah secepat kilat, mampu membelah sehelai rambut, mampu memanah hanya dengan mendengarkan suara (tanpa melihat), dan mampu membelah anak panah (yang tertancap), sedangkan Jotipāla hanyalah seorang anak yang masih muda. Kami tidak akan memanah dirinya.” Sang Mahasatwa berkata, “Jika kalian memang mampu, panahlah saya.” “Baiklah,” kata mereka, dan dengan satu kesepakatan mereka menembakkan panah mereka. Sang Mahasawa menangkis panah-panah itu dengan anak panah besinya satu per satu, [130] membuat panah-panah itu jatuh ke tanah, dan kemudian dengan membuat dinding63 di sekeliling mereka, ia menumpuk mereka bersama dan demikian membuatnya menjadi tumpukan anak panah, meletakkan tiap anak panah dengan tepat, gagang dengan gagang, batang dengan batang, bulu dengan bulu, sampai semua anak panah dari para pemanah tersebut habis.

Ketika ia melihat mereka telah kehabisan anak panah, tanpa merusak tumpukan anak panah tersebut, ia terbang melayang di angkasa dan berdiri menghadap raja. Orang-orang membuat suara gaduh, dengan berteriak dan menari-nari, bertepuk tangan, dan mereka melemparkan pakaian dan perhiasan mereka sehingga terdapat satu tumpukan harta yang bernilai delapan ratus juta.

Kemudian raja bertanya kepadanya, “Anda sebut dengan apa keahilan ini, Jotipāla?” “Pertahanan anak-panah, Paduka.” “Apakah ada orang lain yang mengetahui ini?” “Tidak ada satu pun di seluruh India, kecuali saya sendiri, Paduka.” “Tunjukkanlah kepada kami keahlian yang lain, Teman.” “Paduka, empat orang ini yang ditempatkan di empat sudut tidak mampu melukaiku. Akan tetapi jika mereka tetap ditempatkan di empat sudut itu, saya dapat melukai mereka dengan satu batang anak panah.” Para pemanah tersebut tidak berani berdiri di sana. Jadi Sang Mahasatwa meletakkan empat pohon pisang di keempat sudut tersebut, dan setelah mengikatkan benang berwarna merah menyala di bagian bulu anak panahnya, ia pun menembakkannya dengan membidik ke salah satu pohon itu. Anak panah itu menembusnya, kemudian menuju ke pohon kedua, ketiga, dan keempat secara bergantian, kemudian menusuk pohon pertama yang telah dilubanginya tadi, dan kembali ke tangan sang pemanah. Sedangkan pohon-pohon pisang tersebut berdiri terhubung dengan melingkar oleh benang tersebut. Orang-orang menimbulkan suara tepukan tangan yang tidak terhitung banyaknya.

Raja bertanya, “Anda sebut dengan apa keahlian ini, Teman?” “Tembakan-roda, Paduka.” “Tunjukkanlah lagi kepada kami yang lainnya.” Sang Mahasatwa menunjukkan kepada mereka keahlian batang-anak-panah, benang-anak-panah, pembelahan-anak-panah, menara-anak panah, tangga-anak-panah, paviliun-anak-panah, dinding-anak panah, kolam-anak-panah, teratai-anak-panah-bermekaran, dan hujan-anak-panah. [131] Demikianlah ia menunjukkan dua belas keahlian yang tiada bandingannya, dan kemudian ia membelah tujuh benda besar yang tiada bandingannya. Ia melubangi papan dari kayu elo yang tebalnya delapan aṅgula64, papan dari kayu asana65 yang tebalnya empat aṅgula, papan tembaga yang tebalnya dua aṅgula, papan besi yang tebalnya satu aṅgula, dan setelah melubangi seratus papan yang digabungkan bersama, satu per satu, ia menembakkan anak panah di bagian depan gerobak yang penuh dengan jerami, pasir dan papan, membuatnya keluar dari bagian belakang, kemudian menembaknya dari belakang dan keluar dari depan. Ia membuat anak panah masuk ke air sedalam empat usabha66 dan lebih dari delapan usabha di bawah tanah, ia membelah sehelai rambut, pada jarak sejauh satu usabha, dengan tanda pergerakkannya oleh angin. Ketika ia telah selesai menunjukkan semua keistimewaan dari keahlian memanahnya ini, matahari pun terbenam.

Kemudian raja menjanjikan dirinya untuk mendapat kedudukan sebagai Panglima Tertinggi, dengan berkata, “Jotipāla, sekarang sudah malam. Besok Anda akan menerima kehormatan sebagai Panglima Tertinggi. Pulanglah, rapikanlah janggutmu dan mandi,” dan pada hari yang sama itu raja memberikan kepadanya uang seratus ribu keping untuk pengeluarannya. Sang Mahasatwa berkata, “Saya tidak memerlukan ini,” ia memberikan harta senilai delapan ratus juta tersebut kepada raja, dan pergi dengan rombongan pengawal untuk mandi.

Setelah merapikan janggutnya dan mandi, dihias dengan segala jenis perhiasan, ia masuk ke dalam kediamannya dengan kebesaran yang tiada tara. Setelah menikmati beragam makanan pilihan yang lezat, ia bangkit dan berbaring di tempat tidur megah. Ketika ia telah tertidur selama dua waktu penggal (8 jam), pada waktu penggal yang terakhir, ia bangun dan duduk bersila di tempat tidurnya, memikirkan tentang permulaan, pertengahan dan akhir dari pertunjukkan keistimewaan dari keahlian memanahnya. “Keahlianku,” pikirnya, “pada awalnya pasti adalah pembunuhan, pada pertengahannya adalah penikmatan kotoran batin, dan pada akhirnya adalah kelahiran di alam neraka; karena pembunuhan dan kelalaian yang berlebihan dalam penikmatan kotoran batin menyebabkan kelahiran di alam neraka. Kedudukan Panglima Tertinggi diberikan kepadaku oleh raja, kekuasaan yang besar akan bertambah kepadaku, dan saya akan mempunyai istri serta anak-anak yang banyak. Tetapi jika benda-benda (berupa) kotoran batin terus berkembang, akan sulit untuk menghilangkannya. Saya akan meninggalkan keduniawian dan pergi ke hutan: [132] adalah hal yang benar bagiku untuk menjadi pabbajita.” Maka dengan bangkit dari tempat tidurnya dan tanpa memberitahukan siapa pun, Sang Mahasatwa turun dari teras, keluar dari pintu rumah (aggadvāra), masuk ke dalam hutan sendirian, menuju ke suatu tempat di tepi Sungai Godhāvarī, dekat Kaviṭṭhavana 67, yang luasnya sebesar tiga yojana.

Dewa Sakka yang mendengar peninggalan kehidupan duniawinya, memanggil Vissakamma dan berkata, “Teman, Jotipāla telah meninggalkan keduniawian. Sekelompok besar orang akan mengikuti dirinya. Buatkanlah sebuah tempat pertapaan di tepi Sungai Godhāvarī di Kaviṭṭhavana dan sediakan semuanya yang diperlukan dalam kehidupan suci.” Vissakamma pun melakukan demikian.

Ketika sampai di tempat tersebut, Sang Mahasatwa melihat suatu jalan untuk seorang pejalan kaki dan berpikir, “Ini pasti adalah suatu tempat tinggal bagi para pabbajita,” dan setelah berjalan di sepanjang jalan tersebut, tidak bertemu dengan siapa pun, ia masuk ke dalam gubuk daun itu. Ketika melihat barang perlengkapan untuk pabbajita, ia berkata, “Dewa Sakka, raja para dewa, mengetahui bahwa saya telah meninggalkan keduniawian.” Dan setelah menanggalkan pakaiannya, ia mengenakan busana petapa terbuat dari kulit kayu berwarna merah, menyampirkan kulit kijang di pundaknya. Kemudian ia mengikat rambutnya ke atas, menyandangkan perlengkapan petapa di bahu68, mengambil tongkat petapa dan keluar dari gubuknya, menaiki jalan yang tertutup, ia berjalan bolak-balik beberapa kali. Demikianlah ia menghias hutan itu dengan keagungan petapa.

Setelah melaksanakan meditasi pendahuluan kasiṇa, pada hari ketujuh dari kehidupan pabbajitanya, ia memperoleh delapan pencapaian (meditasi) dan lima kesaktian. Ia tinggal menyendiri, bertahan hidup dengan memakan apa yang dapat dikumpulkannya dan akar-akaran serta buah-buahan. Orang tuanya, kumpulan teman dan sanak keluarganya meratap tangis mencari-cari dirinya. Kemudian seorang pemburu yang melihat dan mengenali Sang Mahasatwa di tempat pertapaan Kaviṭṭha, memberitahu orang tuanya, dan mereka memberitahu raja tentang hal itu.

Raja berkata, “Ayo, mari kita pergi melihatnya.” Dengan membawa si ayah dan ibu, dan ditemani oleh rombongan orang banyak, raja tiba di tepi Sungai Godhāvarī melalui jalan yang ditunjukkan oleh pemburu tersebut kepadanya. Ketika tiba di tepi sungai itu, Bodhisatta duduk melayang di angkasa. Setelah mengajarkan Dhamma kepada mereka, [133] ia membawa mereka semua ke dalam tempat pertapaannya dan di sana juga dengan duduk melayang di angkasa, ia mengajarkan Dhamma dengan memaparkan keburukan yang timbul dari kesenangan indriawi. Dan mereka semua, termasuk sang raja, bertahbis (menjadi pabbajita). Demikianlah Bodhisatta tetap tinggal di sana, dengan dikelilingi oleh rombongan resi. Berita tentang dirinya yang tinggal di sana tersebar ke seluruh India.

Para raja beserta dengan penduduk kerajaan mereka datang dan menerima penahbisan darinya, sehingga terdapat satu kumpulan besar dari mereka yang sampai akhirnya mencapai jumlah banyak ratusan ribu. Siapa saja yang merenungkan pengarahan pikiran pada kesenangan indriawi, pengarahan pikiran pada niat jahat dan pengarahan pikiran pada keadaan melukai (orang lain), maka Sang Mahasatwa akan datang di hadapannya dengan duduk melayang di angkasa mengajarkan Dhamma dan menguraikan kepadanya meditasi pendahuluan Kasiṇa.

Tujuh siswa terbaiknya adalah Sālissara69, Meṇḍisara, Pabbata, Kāḷadevala, Kisavaccha, Anusissa, dan Nārada. Dan mereka, dengan mengikuti wejangannya, memperoleh delapan pencapaian (meditasi) dan kesempurnaan jhana. Tak lama kemudian, tempat pertapaan Kaviṭṭha menjadi penuh, dan tidak memiliki ruang lagi bagi rombongan resi untuk tinggal di sana. Maka Sang Mahasatwa memanggil Sālissara dan berkata, “Sālissara, tempat pertapaan ini tidak memiliki ruang lagi bagi rombongan resi. Pergilah bersama rombongan resi ini dan tinggallah di dekat kota niaga Lambacūlaka di daerah kekuasaan Raja Caṇḍapajjota.” Ia pun melakukan demikian dan dengan membawa rombongan resi berjumlah banyak ratusan ribu, ia pergi dan tinggal di sana.

Tetapi karena orang-orang masih berdatangan dan bertahbis menjadi pabbajita, tempat pertapaan itu pun kembali menjadi penuh. Bodhisattta memanggil Meṇḍissara dan berkata, “Di perbatasan negeri Suraṭṭha ada sebuah sungai yang bernama Sātodikā. Bawalah rombongan resi ini dan tinggallah di tepi sungai itu.” Dan ia memintanya pergi. Dengan keadaan yang sama, pada kali ketiga, Sang Mahasatwa meminta Pabbata pergi dengan berkata, “Di dalam hutan rimba itu tedapat Gunung Añjana (Anjana). Pergilah dan tinggal di dekat gunung itu.” Pada kali keempat, ia mengirim Kāḷadevala pergi dengan berkata, “Di sebelah selatan, Kerajaan Avanti terdapat Gunung Ghanasela. Tinggallah di dekat gunung itu.” Tempat pertapaan Kaviṭṭha masih tetap menjadi penuh meskipun sudah di lima tempat yang berbeda terdapat rombongan resi yang berjumlah banyak ratusan ribu orang. Dan Kisavaccha, berpamitan kepada Sang Mahasatwa, [134] mengambil tempat tinggalnya di sebuah taman, di Kota Kumbhavatī di wilayah kekuasaan Raja Daṇḍakī. Nārada tinggal di Majjhimadesa70 di barisan pegunungan Arañjara. Dan Anusissa tetap tinggal bersama Sang Mahasatwa.

Pada waktu itu, Raja Daṇḍakī mencabut kedudukan seorang pelacur yang dahulu sangat ia hormati. Berjalan ke sana dan ke sini sesuka hatinya, wanita itu sampai di taman itu dan ketika melihat petapa Kisavaccha, ia berpikir, “Pasti ini adalah suatu ketidakmujuran. Saya akan menghilangkan ketidakberuntunganku71 pada orang ini dan kemudian pergi mandi.” Pertama-tama ia mengunyah serat pembersih giginya, meludahkan dahak tebal, dan tidak hanya meludahi rambut sang petapa, tetapi juga melempar serat pembersih gigi itu ke kepalanya, kemudian pergi mandi.

Raja, yang terus terpikir akan dirinya (pelacur itu), mengembalikan ia pada kedudukannya semula. Dan dikarenakan kebodohannya, pelacur itu berkesimpulan bahwa ia mendapatkan kembali kehormatan ini karena ia telah menghilangkan ketidakberuntungannya pada orang yang membawa ketidakmujuran itu. Tidak lama setelah kejadian ini, raja mencabut kedudukan pendeta kerajaannya, dan pendeta itu pergi bertanya kepada wanita tersebut dengan cara apakah ia mendapatkan kembali kedudukannya. Maka ia memberitahu petapa tersebut bahwa hal itu disebabkan karena ia menghilangkan ketidakberuntungannya pada orang yang membawa ketidakmujuran di taman kerajaan. Petapa itu pun pergi dan menghilangkan ketidakberuntungannya dengan cara yang sama, dan raja juga mengembalikan kedudukannya seperti semula di dalam kerajaan.

Tak lama kemudian terjadi pemberontakan di daerah perbatasan, raja berangkat bersama dengan satu divisi pasukannya untuk bertempur. Kemudian pendeta kerajaan yang bodoh tersebut bertanya kepada raja dengan berkata, “Paduka, apakah Anda menginginkan kemenangan atau kekalahan?” Ketika raja menjawab, “Kemenangan,” ia berkata, “Baiklah, orang yang membawa ketidakmujuran tinggal di taman kerajaan. Pergi dan hilangkanlah ketidakberuntungan Anda padanya.” Raja setuju dengan saran ini dan berkata, “Ayo semuanya ini ikut bersamaku ke taman dan hilangkan ketidakberuntungan pada orang yang membawa ketidakmujuran tersebut.” Setibanya di taman, pertama-tama raja menguyah serat pembersih giginya dan meludahi serta membuang serat pembersih giginya itu di rambut petapa tersebut, kemudian mandi. Pasukannya juga melakukan hal yang sama.

Setelah raja pergi, Panglima Tertinggi Raja datang. Ketika melihat sang petapa, ia mengambil serat pembersih gigi tersebut dari rambutnya dan membersihkan dirinya, kemudian bertanya, “Bhante, apa yang akan terjadi kepada raja?” “Teman, tidak ada pikiran buruk di dalam diriku, tetapi para dewa [135] menjadi murka dan pada hari ketujuh dimulai dari hari ini, seluruh kerajaannya akan musnah. Pergilah Anda ke tempat lain secepatnya.” Panglima itu sangat terkejut dan pergi memberitahukan ini kepada raja. Raja tidak memercayainya. Maka ia kembali ke rumahnya sendiri, membawa serta istri dan anak-anaknya, pergi menyelamatkan diri ke kerajaan lain. Sarabhaṅga72, Sang Guru, yang mengetahui tentang masalah ini, mengutus dua petapa muda untuk membawa Kisavaccha ke hadapannya dengan tandu melalui angkasa.

Raja melakukan perang, dan setelah menawan para pemberontak, ia pun kembali ke kota. Di saat raja kembali, pertama-tama para dewa menyebabkan hujan turun. Ketika semua mayat telah dibersihkan oleh aliran air hujan tersebut, kemudian turun hujan bunga surgawi di atas pasir putih nan bersih, di atas bunga-bunga itu turun hujan uang logam (yang bernilai rendah)73, berikutnya turun hujan uang logam yang (yang bernilai tinggi), dan disusul dengan turunnya hujan benda perhiasan surgawi. Orang-orang menjadi sangat gembira dan mulai memunguti perhiasan berupa emas kepingan dan emas lantakan tersebut. Setelahnya, turun hujan beragam jenis senjata, dan semua orang tersebut pun terpotong hancur berkeping-keping. Kemudian tumpukan-tumpukan bara api menghujani mereka, dan di atas puncak-puncak gunung bara api tersebut disusul dengan hujan butiran pasir yang menutupi tempat seluas enam puluh hasta. Dengan cara demikianlah kerajaanya yang seluas enam puluh yojana hancur, dan berita tentang kehancuran itu tersebar luas di seluruh India.

Kemudian para raja dari kerajaan yang berada di bawah kekuasaannya, ketiga raja: Kaliṅga, Aṭṭhaka, Bhīmaratha, berpikir, “Dahulu kala di Benares, Kalābu74, Raja Kasi, setelah melakukan kesalahan kepada petapa Khantivādī, dikatakan bahwa ia ditelan bumi; Nāḷikīra75 dengan perbuatan yang sama menyebabkan para petapa digigit oleh anjing; dan Ajjuna76 seribu tangan yang melakukan kesalahan kepada Aṅgīrasa juga mati dengan cara yang sama; dan sekarang Raja Daṇḍaki, setelah melakukan kesalahan terhadap Kisavaccha, dikabarkan bahwa kerajaan dan semua miliknya musnah. Kami tidak mengetahui tempat keempat raja ini dilahirkan kembali. Tidak seorangpun, kecuali Sarabhaṅga, Guru kami, yang dapat memberitahu kita tentang hal ini. Kami akan pergi [136] dan bertanya kepadanya.” Dan ketiga raja tersebut berangkat masing-masing diikuti dengan rombongan besar untuk menanyakan pertanyaan ini.

Meskipun mereka mendengar kabar bahwa si anu telah berangkat, tetapi mereka tidak mengetahuinya dengan pasti. Walaupun demikian, mereka masing-masing berpikir bahwa hanya mereka sendirian yang berangkat. Dan tidak jauh dari Godhāvarī mereka semuanya pun berjumpa. Setelah turun dari keretanya masing- masing, mereka bertiga naik ke satu kereta dan pergi bersama ke tepi Sungai Godhāvarī.

Pada waktu ini, Dewa Sakka, yang sedang duduk di takhta batu laken warna kuningnya, memikirkan tujuh buah pertanyaan dan berkata kepada dirinya sendiri, “Selain Sarabahaṅga, Sang Guru, tidak ada orang lain lagi di alam manusia atau alam dewa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya akan menanyakannya kepada beliau. Ketiga raja ini telah datang ke tepi Sungai Godhāvarī untuk menanyakan pertanyaan kepada Sarabhaṅga, Sang Guru. Saya juga akan bertanya kepada beliau tentang pertanyaan ini.” Dengan ditemani oleh dewa-dewa dari dua alam dewa, Sakka turun dari alam dewa.

Pada hari yang sama, Kisavaccha meninggal dunia, dan untuk melakukan pemakamannya, rombongan resi yang tidak terhitung banyak ribuan jumlahnya, yang tinggal di empat tempat yang berbeda, membuat tumpukan kayu pemakaman dari kayu cendana dan membakar jasad Kisavaccha sang petapa, dan dalam jarak sejauh setengah yojana di sekeliling tempat pengkremasian itu turun hujan bunga surgawi.

Setelah mengumpulkan reliknya, Sang Mahasatwa masuk ke dalam tempat pertapaannya, duduk dan dikelilingi oleh rombongan resi. Ketika para raja itu tiba di tepi sungai, terdengar lantunan suara musik. Mendengar suara ini, Sang Mahasatwa memanggil petapa Anusissa dan berkata, “Pergilah cari tahu suara musik apakah ini.”

Dengan membawa sebuah mangkuk air, ia pergi ke sana, dan ketika melihat raja-raja ini, ia mengucapkan bait pertama berikut dalam bentuk pertanyaan:

Dengan mengenakan cincin dan dihiasi dengan gagah,
semuanya memiliki pedang bergagang batu mulia,
berhentilah, wahai penunggang kereta, katakanlah nama
yang kalian miliki di alam manusia ini?
[137] Mendengar perkataannya, mereka turun dari kereta dan berdiri sembari memberi hormat kepadanya. Di antara mereka, Raja Aṭṭhaka, yang berbicara kepadanya, mengucapkan bait kedua berikut:
Raja Bhīmaratha, Raja Kaliṅga, dan Raja Aṭṭhaka
adalah nama kami; Untuk berjumpa para resi
yang berkemampuan, dan bertanya kepada mereka
adalah tujuan kami datang ke sini.
Kemudian petapa itu berkata kepada mereka, “Baiklah, Maharaja, Anda telah sampai di tempat yang Anda tuju. Oleh karenanya, setelah mandi dan beristirahat, masuklah ke dalam tempat pertapaan itu, berilah hormat kepada rombongan resi dan tanyakanlah pertanyaanmu kepada Sang Guru.” Dan demikianlah setelah melakukan pembicaraan yang ramah dengan mereka, ia mengambungkan mangkuk air77 dan mengelap tetesan air yang jatuh, ia menengadah ke atas langit dan melihat Sakka, raja para dewa, dikelilingi oleh para dewa, turun dari alam dewa dengan menunggangi Erāvaṇa78. Untuk berbicara kepadanya, ia mengucapkan bait ketiga berikut ini:

Anda yang berdiri di tengah-tengah angkasa,
seperti bulan purnama yang membuat langit berwarna emas,
saya bertanya kepadamu, wahai yaksa yang memiliki kekuatan besar,
dengan nama apa Anda disebut di alam manusia ini?
Mendengar ini, Dewa Sakka mengucapkan bait keempat:

Sujampati79, di alam dewa saya dikenal demikian,
Maghavā, di alam manusia saya dipanggil;
Yang datang ke sini pada hari ini adalah raja para dewa,
untuk bertemu dengan para resi yang berkemampuan.
[138] Kemudian Anusissa berkata kepadanya: “Baiklah, raja agung, ikutilah kami,” dan dengan membawa mangkuk airnya, ia masuk ke dalam tempat pertapaan itu. Setelah meletakkan mangkuk air tersebut, ia memberitahu Sang Mahasatwa bahwa ketiga raja itu dan raja para dewa datang untuk menanyakan pertanyaan kepada dirinya.
Dikelilingi oleh rombongan resi, Sang Guru duduk di mālaka80 besar yang luas. Ketiga raja itu datang dan duduk di satu sisi setelah memberikan hormat kepada rombongan resi. Dan Sakka, yang turun dari langit, menghampiri rombongan resi, memberikan hormat dengan bersikap anjali, mengucapkan bait kelima berikut:

Tersebar dengan luas ketenaran rombongan resi ini
yang memiliki kemampuan gaib: Dengan perasaan sukacita,
saya memberikan hormat: Dalam nilai, Anda sekalian jauh melebihi
ia yang terbaik di alam makhluk berjiwa ini.
Demikianlah Sakka memberi hormat kepada rombongan resi itu, dan Sakka yang menjaga diri dari enam kesalahan dalam duduk, duduk di satu sisi. Kemudian Anusissa yang melihat Sakka duduk berseberangan arah dengan para resi, mengucapkan bait keenam berikut:

Resi yang telah berusia ber-aroma kurang enak,
mem-bau-i udara.
Sakka yang agung, cepatlah mundur
dari aroma para resi ini, tidak ada yang segar.
[139] Mendengar ini, Sakka mengucapkan bait berikutnya:
Meskipun resi yang telah berusia ber-aroma kurang enak,
mem-bau-i udara; tetapi dibandingkan dengan aroma untaian wewangian bunga,
kami menyukai aroma ini; Bagi para dewa, ini bukanlah
suatu hal yang harus tidak disukai.
Setelah berkata demikian, ia menambahkan, “Bhante, saya telah berusaha keras datang ke sini untuk menanyakan suatu pertanyaan. Izinkanlah saya untuk menanyakannya.” Ketika mendengar perkataan Sakka, Anusissa bangkit dari duduknya dan mengucapkan dua bait kalimat berikut kepada rombongan resi:

Mahgavā Sujampati—Purindada, Bhūtapati,
penakluk para asura, raja para dewa—memohon izin
untuk menanyakan pertanyaannya.
Siapakah di antara para bijaksana yang berada di sini
yang akan menjawab pertanyaan mereka, yaitu tiga orang raja
dan Sakka yang dihormati oleh para dewa?
[140] Mendengar ini, rombongan resi berkata, “Mārisa81, Anda berbicara seolah-olah Anda tidak melihat bumi tempat Anda berpijak. Selain Sarabhaṅga, Guru kita, siapa lagi yang mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?” dan setelah berkata demikian, mereka mengucapkan satu bait kalimat:
Sang petapa Sarabhaṅga, seorang resi, seorang yang penuh pengendalian diri,
yang “asli”82, yang menjauhkan diri dari yang berkaitan dengan hubungan seksual,
putra dari sang guru83, sosok yang terdidik dengan sangat baik,
akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka.
Setelah berkata demikian, rombongan petapa itu menyapa Anusissa: “Mārisa, tolong Anda sampaikan salam hormat kepada Sang Guru dari rombongan resi dan cari kesempatan untuk memberitahu dirinya tentang pertanyaan yang akan diajukkan oleh Dewa Sakka.” Ia langsung menyetujuinya dan ketika mendapatkan kesempatan itu, ia mengucapkan bait berikutnya:

Koṇḍañña84, Yang Suci, mohon Anda bersedia
menghilangkan keraguan mereka;
Beban (pertanyaan) ini, yang dimiliki oleh mereka yang tidak abadi,
berada pada diri manusia dan dewa dalam waktu yang lama.
Kemudian Sang Manusia Agung memberikan izin dengan mengucapkan bait berikut ini:

Saya berikan izin kepadamu untuk menanyakan
apa pun yang ingin didengar hatimu;
Saya mengetahui alam kehidupan ini dan kehidupan berikutnya;
Tidak ada pertanyaan yang meninggalkan kebingungan dalam pikiranku.
[141] Setelah demikian mendapatkan izin, Sakka menanyakan suatu pertanyaan yang telah dipersiapkannya sendiri:
Untuk menjelaskan masalahnya, Sang Guru berkata:

Maghavā Sakko, Purindada, Yang Melihat Objek,
memulai bertanya untuk mendapatkan jawaban
atas apa yang hendak ia cari tahu.
Apa yang harus seseorang lenyapkan
dan tidak akan pernah menyesalinya?
Apa yang harus seseorang hindari,
yang disetujui oleh semua resi?
Dari siapa sajakah seseorang harus bersabar
atas suatu perkataan, betapa pun kasarnya perkataan itu?
Inilah yang saya hendak Koṇḍañña beritahukan kepadaku.
Kemudian untuk menjelaskan pertanyaannya, ia berkata:

Kemarahan adalah apa yang seseorang harus lenyapkan
dan tidak akan pernah menyesalinya;
Kemunafikan adalah yang seseorang harus hindari,
yang disetujui oleh semua resi;
Dari siapa saja ia harus bersabar atas suatu perkataan,
betapa pun kasarnya perkataan itu, Kesabaran inilah
yang dikatakan sebagai kesabaran yang terbaik.
Sakka kemudian berkata:

Perkataan kasar dari dua jenis orang mungkin dapat diterima dengan kesabaran,
orang yang kedudukannya lebih tinggi atau dari orang yang kedudukannya setara.
Akan tetapi, bagaimana bersabar dengan perkataan seorang yang rendah
adalah hal yang saya hendak Koṇḍañña jelaskan kepadaku.
Bodhisatta menjawabnya:

Perkataan kasar dari orang yang kedudukannya lebih tinggi
dapat seseorang terima karena takut, atau untuk menghindari
sebuah pertengkaran dari seorang yang kedudukannya setara;
[142] Tetapi bersabar atas perkataan kasar dari orang yang rendah
adalah kebijaksanaan yang terbaik.
Ketika ia telah mengatakan demikian, Sakka berkata kepada Sang Mahasatwa, “Bhante, pertama Anda mengatakan ‘Dari siapa saja ia harus bersabar atas suatu perkataan, betapa pun kasarnya perkataan itu, Kesabaran inilah yang dikatakan sebagai kesabaran yang terbaik,’ tetapi sekarang Anda mengatakan, ‘Bersabar atas perkataan dari orang yang rendah adalah kebijaksanaan yang terbaik.’ Pernyataan yang kedua ini tidak sesuai dengan pernyataan yang pertama.”

Kemudian Sang Mahasatwa berkata kepadanya, “Sakka, pernyataanku yang kedua adalah untuk menghormati orang yang bersabar dengan perkataan kasar karena mengetahui bahwa si penutur adalah orang yang lebih rendah; sedangkan apa yang saya katakan pertama tadi adalah karena orang tidak mampu mengetahui kedudukan si penutur yang sebenarnya hanya dengan melihat penampilan luarnya, apakah lebih tinggi atau tidak,” kemudian untuk menjelaskan betapa sulit mengetahui kedudukan seseorang, apakah lebih tinggi atau tidak, hanya berdasarkan pada penampilan luarnya, kecuali dengan pergaulan yang dekat, ia mengucapkan bait berikut ini:

Betapa sulit menilai seseorang yang berkilauan di bagian luarnya,
apakah ia orang yang kedudukannya lebih tinggi, sama, atau lebih rendah.
Acap kali, orang yang terbaik datang ke dunia ini dengan samaran
penampilan orang yang terlihat paling rendah;
Oleh karenanya, jika Anda, Temanku, ingin nasihat yang terbaik,
maka bersabarlah atas semua perkataan kasar.
Mendengar ini, Sakka dengan penuh keyakinan memohon kepadanya, dengan berkata, “Bhante, katakanlah kepada kami manfaat yang didapatkan dari kesabaran ini,” dan Sang Mahasatwa mengucapkan bait berikut:

Tidak ada pasukan, betapa pun besar kekuatannya,
yang mampu memenangkan keuntungan ini, yang demikian besar
dalam suatu pertempuran, [143] seperti yang akan didapatkan
oleh orang baik dari kesabaran: Kekuatan dari kesabaran meredakan kebencian.
Ketika Sang Mahasatwa telah demikian memaparkan manfaat dari kesabaran, para raja tersebut berpikir, “Dewa Sakka hanya menanyakan pertanyaannya sendiri. Ia tidak akan memberikan kita kesempatan untuk menanyakan pertanyaan kita.” Maka dengan mengetahui apa keinginan mereka, Sakka mengesampingkan empat pertanyaan yang telah dipersiapkannya, dan untuk memaparkan keraguan para raja itu, ia mengucapkan bait berikut ini:

Saya merasa puas dan bersuka cita mendengar kata-katamu.
Akan tetapi satu hal lagi yang saya ingin dengar: beritahukanlah kepada kami
nasib dari Raja Daṇḍaki, Nāḷikīra, Ajjuna, dan Kalābu , terlahir di alam apakah mereka
akibat perbuatannya yang melakukan kesalahan kepada para resi.
Untuk menjawab pertanyaannya, Sang Mahasatwa mengucapkan lima bait kalimat berikut:

Seluruh kerajaannya musnah, ia yang mengotori Kisavaccha;
Diserang dengan bara api yang menyala-nyala,
Daṇḍaki terlihat berada di neraka Kukkuḷa85.
Nāḷikīra yang melukai seorang pabbajita,
seorang pengkhotbah Dhamma, seorang resi yang tak bernoda,
terjatuh di neraka Sunakha, tersiksa bergabung dengan anjing-anjing.
Ajjuna si Tangan Seribu yang membunuh Aṅgīrasa Gotama,
[144] seorang resi, yang menapaki kehidupan suci,
terjatuh dalam siksaan berkepanjangan di neraka Sattisūla (sula besi).
Kalābu yang menyiksa seorang pabbajita, seorang petapa yang tidak bernoda
–Khantivādī – sekarang terbakar di neraka Avīci, di tengah-tengah penderitaan
yang menyakitkan dan mengerikan.
Orang bijak yang mendengar cerita tentang alam neraka ini,
tidak akan pernah melakukan kesalahan terhadap petapa atau brahmana
yang berada dalam Dhamma; Dan dengan tindakannya yang benar, akan terlahir di alam surga.
[146] Ketika Sang Mahasatwa telah selesai memaparkan tempat-tempat empat raja itu dilahirkan kembali, ketiga raja tersebut pun terbebas dari segala keraguan. Kemudian untuk mengemukakan sisa empat pertanyaannya, Sakka mengucapkan bait berikut:
Saya merasa puas dan bersuka cita mendengar kata-katamu.
Akan tetapi ada lagi yang saya ingin dengar:
Bagaimana seseorang dikatakan memiliki moralitas (sīla)?
Bagaimana seseorang dikatakan memiliki kebijaksanaan (pañña)?
Bagaimana seseorang dikatakan sebagai orang yang baik (sappurisa)?
Dan dari siapakah keberuntungan (sirī ) tidak pernah hilang?
Kemudian untuk menjawabnya, Sang Mahasatwa mengucapkan empat bait kalimat berikut:

Orang yang dalam perbuatan jasmani dan ucapannya terlatih baik,
dan pikirannya bebas dari pikiran buruk— tidak menyerah sampai akhir
untuk mengikuti keinginannya sendiri— maka ia dikatakan memiliki moralitas.
Orang yang berpikir secara mendalam di dalam pikirannya
akan pertanyaan-pertanyaan, tidak ada pemikiran buruk atau yang tidak baik,
memberikan nasihat dengan kata-kata yang baik pada waktu yang sesuai,
maka ia dikatakan memiliki kebijaksanaan.
Orang yang berterima kasih atas kebaikan yang diperolehnya,
yang menenangkan rasa duka, membuktikan dirinya sebagai teman
yang baik dan setia, maka ia dikatakan sebagai orang yang baik.
Orang yang dengan semua kualitas bagus (guṇa) berada padanya,
berkeyakinan, lembut, suka memberi, simpatik, ramah-tamah,
bertutur kata sopan, maka dari orang yang demikian
keberuntungan tidak akan pernah hilang.
[148] Demikianlah Sang Mahasatwa menjawab keempat pertanyaannya, seolah-olah seperti menyebabkan bulan muncul di langit. Kemudian bait-bait berikut muncul dalam bentuk pertanyaan dan jawaban:
Saya merasa puas dan bersuka cita mendengar kata-katamu.
Akan tetapi ada lagi yang saya ingin dengar:
Kebajikan, kebijaksanaan, kebaikan, keberuntungan,
dari kesemuanya ini manakah yang disebut sebagai yang terbaik?
Kebijaksanaan dikatakan sebagai yang terbaik,
seperti bulan yang mengungguli bintang;
Kebajikan, kebaikan, dan keberuntungan akan muncul
mengikuti dalam setiap tindakan orang bijak.
Saya merasa puas dan bersuka cita mendengar kata-katamu.
Akan tetapi ada lagi yang saya ingin dengar:
Untuk mendapatkan kebijaksanaan apa yang harus dilakukan oleh seseorang,
jalur perbuatan apa dan bagaimana yang harus diikuti?
Katakan kepada kami berada di jalan apakah kebijaksanaan itu,
dan dengan tindakan apakah seseorang dapat menjadi bijak.
Bergaul dengan orang yang berpengalaman, yang cerdas,
yang terdidik, dengan bertanya kepada mereka
akan mendapatkan kebijaksanaan:
Nasihat-nasihat baik dari mereka harus didengar dan dihargai,
karena dengan demikianlah seseorang dapat menjadi bijak.
Orang bijak melihat akibat dari kesenangan indriawi sebagai ketidakkekalan,
penderitaan, dan penyakit; Penderitaan, kesenangan indriawi, dan ketakutan,
orang bijak dengan tenang mengabaikan semuanya.
Demikianlah ia akan mengalahkan keburukan, bebas dari nafsu/kemelakatan (vītarāga),
dan dengan mengembangkan kebajikan tak terbatas, kepada semua makhluk hidup
menunjukkan pikiran welas asih, maka ia akan lahir di alam brahma.
[149] Ketika Sang Mahasatwa sedang demikian berkata tentang keburukan dari kesenangan indriawi, tiga raja tersebut beserta dengan pasukannya menyingkirkan nafsu mereka dengan menggunakan sifat-sifat diri yang sebaliknya. Dan Sang Mahasatwa, yang mengetahui akan hal ini, memuji mereka dengan mengucapkan bait kalimat berikut:
Dengan tujuan yang sangat mulia mereka datang,
Bhīramatha, Aṭṭhaka dan Kaliṅga;
tadinya masih menjadi budak dari nafsu kesenangan indriawi,
tetapi sekarang telah bebas.
[150] Ketika mendengar ini, raja-raja agung tersebut melantunkan pujian terhadap Sang Mahasatwa dengan mengucapkan bait berikut:
Hal ini benar, Pembaca Pikiran Orang Lain:
Kami semua bertiga terbebas dari nafsu kesenangan indriawi.
Berikanlah kepada kami berkah yang berhak didapatkan,
sehingga kami dapat mencapai keadaan bahagia.
Kemudian Sang Mahasatwa mengucapkan bait berikutnya untuk mengabulkan permintaan mereka:

Saya berikan hadiah yang kalian inginkan;
semakin kalian terbebas dari nafsu kesenangan indriawi,
maka kalian akan semakin banyak akan dilimpahi oleh kegembiraan tak terhingga
untuk mendapatkan keadaan bahagia yang kalian ingin capai.
Mendengar ini, mereka mengucapkan bait berikut ini dengan menandakan persetujuan:

Kami akan melakukan segala perintahmu, apa pun itu
yang Anda anggap terbaik dalam kebijaksanaanmu;
Sehingga kami akan dilimpahi oleh kegembiraan tak terhingga
untuk mendapatkan keadaan bahagia yang kami ingin capai.
Kemudian Sang Mahasatwa menabhis semua pasukan mereka, dan untuk membubarkan rombongan resi tersebut, ia mengucapkan bait berikut:

Kehormatan yang sesuai telah diterima oleh Kisavaccha;
Jadi sekarang pergilah, Anda para resi yang memiliki sifat yang bagus;
selalu bangkitkan sukacita dalam keadaan jhana.
Sukacita dalam kehidupan suci ini adalah yang terbaik.
[151] Para resi, yang mematuhi perkataannya dengan membungkuk memberi hormat kepadanya, terbang melayang ke angkasa dan kembali ke kediaman masing-masing. Dan Sakka bangkit dari tempat duduknya, mengangkat tangannya bersikap anjali dan membungkuk memberi hormat kepada Sang Mahasatwa, seperti memuja matahari, kembali bersama dengan rombongannya.
____________________
Melihat ini, Sang Guru mengucapkan bait-bait berikut:

Setelah mendengar kalimat yang diajarkan oleh Kebenaran Tertinggi ini,
para resi dan para orang bijak bersukacita;
Makhluk-makhluk dewata itu kembali ke tempat tinggal surgawi mereka,
sekali lagi dengan kegembiraan dan rasa terima kasih.
Kalimat itu terdengar jelas di telinga, diikuti dengan makna dan kegunaan yang jelas pula;
Yang memberikan perhatian baik dan memusatkan pikirannya
pada pemikiran istimewa mereka, pasti akan menemukan jalan menuju ke kebahagiaan,
dan terbebas dari cengkeraman kematian yang tak berujung.
Demikianlah Sang Guru membawa pengajaran-Nya ke satu tingkat tertinggi, sampai pada kesucian Arahat, dan berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau, terjadi hujan bunga di saat pengkremasian jasad Moggallana,” Beliau juga memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini: “Sālissara adalah Sariputta, Meṇḍissara adalah Kassapa, Pabbata adalah Anuruddha, Devala adalah Kaccāyana, Anusissa adalah Ananda, Kisavaccha adalah Kolita, Sarabhaṅga adalah Bodhisatta: Demikianlah kisah kelahiran ini dapat dipahami.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com