Sariputta | Suttapitaka | HATTHI-PĀLA JĀTAKA Sariputta

HATTHI-PĀLA JĀTAKA

Hatthi­pāla­jātaka (Ja 509)

“Akhirnya kami melihat,” dan seterusnya—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pelepasan kehidupan duniawi.

Kemudian dengan kata-kata ini,— “Ini bukan pertama kalinya, para bhikkhu, Sang Tathagata melakukan pelepasan kehidupan duniawi ini, tetapi juga sama dalam kehidupan sebelumnya,”—Sang Guru menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala berkuasalah di Benares seorang raja yang bernama Esukari.

Pendeta kerajaannya adalah merupakan sahabat kesukaannya semenjak kecil. Mereka berdua ini tidak memiliki anak.

Suatu hari ketika sedang duduk dengan sikap yang bersahabat, keduanya berpikir, “Kami mempunyai kejayaan yang besar, tetapi tidak memiliki seorang putra maupun putri. Apa yang harus dilakukan sekarang?” Kemudian raja berkata kepada pendetan kerajaan itu, “Teman, jika Anda mendapatkan seorang putra nantinya, ia akan menjadi pemimpin kerajaanku; tetapi jika saya yang mendapatkan seorang putra, ia akan menjadi pemilik kekayaanmu.” Mereka berdua membuat kesepakatan seperti ini.

Suatu hari, ketika pendeta tersebut menghampiri desanya yang memberikan pajak, dan masuk melalui gerbang selatan, ia melihat seorang wanita malang yang memiliki banyak putra di luar gerbang: [474] Ia memiliki tujuh orang putra, semuanya besar dan kuat; satu di antaranya memegang belanga dan piring untuk masakan, satunya lagi memegang tikar dan tempat tidur, satunya lagi berjalan di depan dan satunya lagi mengikuti di belakang, satunya lagi memegang jari tangannya (ibunya), satunya lagi duduk di pinggulnya dan satunya lagi di bahunya.

“Dimana,” tanya pendeta itu, “ayah dari anak-anak ini?” “Tuan,” jawabnya, “anak-anak ini tidak mempunyai ayah.” “Mengapa begitu, bagaimana Anda mendapatkan tujuh anak-anak ini?”288 tanyanya. Tidak memperhatikan yang lain dari hutan tersebut, sang ibu menunjuk ke arah pohon beringin yang tumbuh berdiri dekat gerbang kota dan berkata, “Saya memberikan persembahan, Tuan, kepada dewa yang berdiam di dalam pohon ini, dan ia menjawabku dengan memberikan anak-anak ini kepadaku.” “Anda boleh pergi, kalau begitu,” kata pendeta itu.

Turun dari keretanya, ia mendekat ke pohon tersebut dan dengan memegang satu cabangnya, ia mengguncangnya, sambil berkata, “O dewa, apa yang tidak diberikan oleh raja kepadamu? Tahun demi tahun ia memberikan upeti berupa ribuan keping uang kepadamu dan Anda tidak memberikan seorang putra pun kepada raja. Apa yang telah dilakukan oleh istri pengemis itu kepadamu sehingga Anda memberikan tujuh orang anak kepadanya? Anda harus memberikan seorang putra kepada raja, atau dalam waktu tujuh hari saya akan menyuruh orang menebangmu sampai ke akar dan membelahmu menjadi berkeping-keping.” Demikian ia memarahi dewa pohon beringin tersebut dan ia kemudian pergi.

Hari demi hari berlalu, selama enam hari ia melakukan hal yang sama, dan pada hari keenam, sambil memegang cabangnya, ia berkata—“Dewa pohon, hanya satu malam lagi tersisa. Jika Anda tidak memberikan seorang putra kepada rajaku, pohon ini akan tumbang!”

Dewi pohon itu mempertimbangkannya, sampai ia mengetahui permasalahannya dengan jelas. Ia berpikir, “Brahmana itu akan menghancurkan tempat tinggalku jika ia tidak mendapatkan putra. Baiklah, dengan cara apa dapat saya berikan ia seorang putra?”

Kemudian ia pergi menjumpai empat dewa agung 289 dan memberitahu mereka. “Bagaimana,” kata mereka, “kami tidak dapat memberikan laki-laki itu seorang putra.” Kemudian ia pergi menjumpai Dua puluh delapan Panglima Yakkha (Aṭṭhavīsatiyakkhasenāpati) dan mereka semuanya memberikan jawaban yang sama. Ia pergi menjumpai Dewa Sakka, raja para dewa, dan memberitahunya. Ia (Sakka) berpikir di dalam dirinya sendiri, “Apakah raja pantas mendapatkan putra atau tidak?” [475] Kemudian ia menelitinya sekelilingnya dan melihat empat putra dewa yang sangat berjasa.

Dikatakan, mereka ini di kehidupan sebelumnya terlahir sebagai para penenun di kota Benares, dan semua penghasilan yang didapatkan mereka akan dibagi dalam lima tumpukan: keempat tumpukan adalah bagian mereka masing-masing dan yang kelima mereka berikan sebagai dana. Ketika meninggal, mereka terlahir di alam Tavatimsa, kemudian lagi mereka terlahir di alam DewaYāma290, mulai dari tempat ini mereka naik dan turun di enam alam Dewa menikmati banyak kejayaan.

Saat itu, mereka baru akan pergi dari alam Tavatimsa menuju ke alam Dewa Yāma. Sakka pergi mencari mereka, memanggil mereka dan berkata, “Dewa-dewa suci, Anda harus turun ke alam Manusia untuk dilahirkan di dalam rahim ratu utama Esukari.” “Baik, Dewa,” kata mereka menanggapi perkataan Sakka, “kami akan pergi. Tetapi kami tidak ingin apapun yang berhubungan dengan istana kerajaan, kami akan dilahirkan di dalam keluarga pendeta kerajaan dan di saat masih muda kami akan meninggalkan kehidupan duniawi.” Kemudian Sakka menyetujui janji mereka dan kembali, memberitahu semuanya kepada dewi yang tinggal di pohon tersebut. Dengan merasa sangat senang, sang dewi pohon berpamitan kepada Sakka dan pergi ke tempat kediamannya sendiri.

Keesokan harinya, pendeta kerajaan tersebut datang bersama anak buahnya yang kuat yang telah dikumpulkannya dengan membawa pisau-kapak dan sejenisnya. Pendeta itu menghampiri pohon tersebut, dan dengan memegang satu cabangnya, berteriak—“Hai, dewa pohon! Hari ini adalah hari ketujuh sejak pertama saya memohon bantuan kepadamu: masa kehancuranmu telah tiba!”

Dengan kekuatan besarnya, dewi pohon itu membelah batang pohon dan keluar, dengan suara yang manis menyapanya demikian: “Satu orang putra, brahmana? Pooh! Saya akan memberikanmu empat orang.” Katanya, “Saya tidak menginginkan putra, berikan satu saja kepada rajaku.” “Tidak,” jawabnya, “saya hanya akan memberikannya kepadamu saja.” “Kalau begitu berikan dua kepada raja dan dua kepada saya.” “Tidak, raja tidak akan mendapatkan satu pun, Anda yang akan mendapatkan ke empat-empatnya. Mereka hanya akan diberikan kepadamu karena mereka tidak akan menjalani kehidupan duniawi. Di masa muda, mereka akan meninggalkan keduniawian.” “Berikan saja putra-putra itu kepadaku dan saya akan membuat mereka untuk tidak meninggalkan keduniawian,” katanya. Demikian dewi pohon tersebut mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan anak, dan kembali ke tempat kediamannya. Setelah kejadian itu, dewi pohon tersebut diberikan kehormatan.

Kemudian dewa yang tertua turun, [476] dan terkandung di dalam rahim istri brahmana tersebut. Di hari pemberian nama, mereka memberinya nama Hatthipala, si penunggang gajah. Untuk mencegahnya meninggalkan keduniawian, mereka mempercayakan dirinya kepada asuhan penjaga-penjaga gajah yang tumbuh besar dengannya. Ketika ia cukup besar untuk berjalan di atas kakinya sendiri, dewa yang kedua lahir dari rahim wanita yang sama. Mereka memberinya nama Assapala, atau si perawat kuda, dan ia tumbuh di antara orang-orang yang menjaga kuda. Di saat dewa yang ketiga lahir, mereka memberinya nama Gopala, si penggembala sapi, dan ia tumbuh besar di antara para peternak. Ajapala, si penggembala kambing, adalah nama yang diberikan kepada dewa keempat, ia tumbuh besar di antara kawanan kambing. Ketika dewasa, mereka menjadi laki-laki yang memiliki tanda keberuntungan.

Waktu itu dikarenakan ketakutan bahwa mereka akan meninggalkan kehidupan duniawi, semua petapa yang telah melakukan hal tersebut (meninggalkan kehidupan duniawi) diusir keluar dari kerajaan; di kerajaan Kasi tidak tersisa satu orang pun. Anak-anak tersebut keras sifatnya. Di tempat mana saja pergi, mereka mengambil persembahan dari upacara yang dikirim ke sana dan ke sini.

Ketika Hattipāla berusia enam belas tahun, raja dan pendeta kerajaan yang melihat kesempurnaan fisiknya, berpikir demikian dalam pikiran mereka. “Anak-anak tersebut sudah tumbuh dewasa. Ketika payung kerajaan diberikan kepada mereka, apa yang harus dilakukan dengan mereka?—Segera setelah upacara pemberkatan dilaksanakan, mereka akan tumbuh dengan kekuasaan yang besar sekali: para petapa akan datang, mereka akan melihat para petapa tersebut dan menjadi petapa juga. Ketika mereka melakukan hal ini, seluruh kerajaan akan berada dalam kekacauan. Pertama-tama kita harus menguji mereka, setelahnya baru mengadakan upacara pemberkatan.” Maka mereka berdua berpakaian seperti para petapa dan berkeliling berpindapata sampai tiba di depan pintu rumah tempat Hatthipala tinggal. Anak laki-laki tersebut senang dan bahagia melihat mereka. Berjalan menghampiri mereka, ia menyapa mereka dengan hormat dan mengucapkan tiga bait kalimat berikut:

“Akhirnya kami melihat seorang brahmana
yang seperti dewa, dengan ikat rambut yang indah,
Dengan gigi yang tidak dibersihkan,
kotor oleh debu, dan berat dengan beban.
“Akhirnya kami melihat satu orang suci,
yang mendapatkan kebahagiaan dalam Dhamma,
Dengan jubah dari kulit kayu menutupi tubuhnya
dan dengan pakaian berwarna kuning.
“Silahkan duduk, dan basuhlah kaki Anda
dengan air segar ini; adalah hal yang benar
Untuk memberikan dana makanan kepada para tamu—
terimalah, kami yang mengundang.”
[477] Demikianlah ia menyapa mereka satu per satu. Kemudian pendeta kerajaan tersebut berkata kepadanya: “Putraku, Hatthipala, Anda berkata seperti ini karena tidak mengenal kami. Anda berpikir bahwa kami ini adalah orang-orang suci dari pegunungan Himalaya. Kami bukan orang yang demikian, putraku. Ini adalah raja Esukāri dan saya adalah ayahmu, pendeta kerajaan.” “Kalau begitu,” kata anak laki-laki itu, “mengapa kalian berpakaian seperti orang suci?” “Untuk mengujimu,” jawabnya. “Mengapa ingin mengujiku?” tanyanya kembali. “Karena jika Anda telah melihat kami dan tidak meninggalkan kehidupan duniawi, maka kami siap untuk melaksanakan upacara pemberkatan dan menjadikanmu sebagai raja.” “Oh, ayahku,” katanya, “saya tidak menginginkan kerajaan; saya akan meninggalkan kehidupan duniawi.” Kemudian ayahnya menjawab, “Putraku, Hatthipala, sekarang bukanlah waktunya untuk meninggalkan kehidupan duniawi,” dan ia menjelaskan maksudnya dalam bait keempat berikut ini:
“Pertama-tama pelajari kitab Veda,
kemudian dapatkanlah harta kekayaan dan istri untukmu,
Dan putra-putra, nikmati hal-hal yang menyenangkan dalam kehidupan,
Penciuman, perasa, dan semua indera lainnya:
Saat itulah hutan itu terasa enak untuk tinggal di dalamnya,
dan kemudian menjadi orang suci adalah hal yang bagus.”
Hatthipala membalasnya dalam satu bait berikut:

“Kebenaran tidak datang baik dengan kitab Veda maupun dengan emas;
Ataupun dengan mendapatkan anak tidak akan membuat kita terhindar dari menjadi tua;
[478] Ada suatu pembebasan dari semua indera, seperti yang orang bijak ketahui;
Di dalam kehidupan berikutnya kita akan menuai hasil sesuai apa yang kita tanam.”
Untuk menjawab pemuda tersebut, raja kemudian mengucapkan satu bait kalimat berikut:

“Sebagian besar kata-kata yang keluar dari mulutmu itu adalah benar:
Di dalam kehidupan berikutnya kita akan menuai hasil sesuai apa yang kita tanam,
Kedua orang tuamu sekarang sudah tua: tetapi Anda dapat melihat
Kesehatan seratus tahun telah tersimpan untukmu.”
“Apa maksud Anda, Paduka?” tanya pangeran itu, dan mengucapkan dua bait kalimat berikut ini:

“Ia yang dalam kematian, O raja, dapat menemukan seorang teman,
Dan telah menandatangani suatu persetujuan dengan usia tua;
Jika ini adalah keinginanmu, baginya yang tidak akan meninggal,
Kehidupan seratus tahun akan menjadi miliknya.
“Seperti seseorang yang menyeberangi sungai
Dengan perahu, dalam perjalanan ke pantai seberang,
Begitu juga manusia tidak dapat menghindar dari
Penyakit dan usia tua, dan kematian adalah akhirnya.”
[479] Dengan cara ini, ia menunjukkan betapa keadaan dari kehidupan duniawi ini hanyalah sementara, sambil menambahkan nasehat berikut ini: “Ketika Anda berdiri di sana, O raja agung, dan bahkan ketika saya berbicara denganmu, penyakit, usia tua, dan kematian sekarang ini semakin mendekat kepadaku. Jangan lengah!” Maka setelah memberi salam hormat kepada raja dan ayahnya, dan membawa para pengawalnya, ia pergi meninggalkan kerajaan Benares dengan tujuan untuk menjalankan kehidupan suci.
Dan serombongan besar orang pergi bersama dengan pemuda itu, Hatthipala; kata mereka, “karena kehidupan suci ini pastilah suatu hal yang mulia.” Rombongan orang itu menjadi bertambah banyak, sepanjang satu yojana. Bersama dengan rombongannya, ia terus berjalan sampai tiba di tepi sungai Gangga. Di sana ia bermeditasi mencapai jhana dengan melihat air sungai Gangga. “Akan ada suatu perkumpulan yang besar di sini,” pikirnya. “Ketiga adikku akan datang, kedua orang tuaku, raja, ratu, dan semuanya, mereka beserta dengan para pelayannya akan menjalankan kehidupan suci. Kota Benares akan menjadi kosong. Saya akan tetap berada di sini sampai mereka datang.” Maka ia duduk di sana, meminta rombongannya berkumpul.

Keesokan harinya raja dan pendeta kerajaan itu berpikir, “Demikianlah pangeran Hatthipala telah meninggalkan bagiannya dalam kerajaan dan duduk di tepi sungai Gangga. Ia pergi ke sana untuk menjalani kehidupan suci dan membawa rombongan besar bersama dengannya. Tetapi mari kita uji Assapala dan menobatkannya sebagai raja.”

Maka sama seperti sebelumnya, dengan berpakaian seperti petapa, mereka pergi ke rumahnya. Assapala merasa senang ketika melihat mereka dan menyambut mereka dengan mengucapkan bait kalimat “Akhirnya,” dan seterusnya. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh saudaranya. Mereka berdua juga melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dan memberitahukan alasan kedatangan mereka. Ia berkata, “Mengapa payung putih (tahta kerajaan) ditawarkan kepadaku terlebih dahulu, sedangkan saya memiliki seorang abang, pangeran Hatthipala?” Mereka menjawab, “Abangmu telah pergi, putraku, untuk menjalani kehidupan suci; ia tidak ingin berhubungan dengan kerajaan.” “Dimana ia sekarang?” [480] tanya anak laki-laki ini. “Sedang duduk di tepi sungai Gangga.” “Anda berdua yang terhormat,” katanya, “saya tidak akan mempedulikan hal yang telah dikeluarkan dari mulut abangku. Mereka yang dungu dan kurang bijaksana tidak dapat meninggalkan dosa ini, tetapi saya akan meninggalkannya.” Kemudian ia memaparkan kebenaran kepada ayahnya dan raja dalam dua bait kalimat berikut yang diucapkannya:

“Kesenangan inderawi adalah tanah rawa dan lumpur291;
Kegembiraan hati membawa kematian dan masalah yang amat pedih.
Ia yang tenggelam di dalam tanah rawa ini tidak akan dapat mendekat
Dalam pikiran gilanya, ke tanah kering di kejauhan292.
“Di sini ada seseorang yang dulunya menderita rasa duka dan sakit:
Sekarang ia telah ditangkap, dan tidak menemukan pembebasan.
Agar ia tidak pernah melakukan hal yang demikian lagi
Saya akan membuat dinding-dinding yang tidak dapat ditembus di sekelilingnya.”
“Ketika Anda berdiri di sana dan bahkan ketika saya berbicara dengan Anda, penyakit, usia tua, dan kematian sedang datang semakin dekat.” Dengan nasehat ini, [481] dan diikuti dengan rombongan orang yang panjangnya mencapai satu yojana, ia pergi ke tempat abangnya, Hatthipala, berada. Ia kemudian memaparkan kebenaran kepadanya dengan berdiri melayang di udara, dan berkata, “Saudaraku, akan ada suatu perkumpulan yang besar datang ke tempat ini. Mari kita berdua tinggal bersama di sini.” Adiknya pun setuju untuk tinggal di sana bersama.

Keesokan harinya dengan cara yang sama, raja dan pendeta kerajaan pergi ke rumah pangeran Gopala. Dan setelah disapa dengan kegembiraan yang sama seperti sebelumnya, mereka menjelaskan tentang tujuan kedatangan mereka kepadanya. Seperti Assapala, ia juga menolak tawaran mereka. “Sudah lama,” katanya, “saya telah berkeinginan untuk menjalani kehidupan suci; seperti sapi yang tersesat di dalam hutan, saya telah berkelana di dalam mencari kehidupan ini. Sekarang saya telah melihat jalan yang dilalui oleh kedua saudaraku, seperti jalan yang ditemukan oleh sapi yang tersesat itu, saya akan melalui jalan yang sama juga.” Kemudian ia mengucapkan satu bait kalimat berikut:

“Seperti seseorang yang mencari sapi yang
Kehilangan arah, yang tersesat kebingungan di hutan.
Demikian juga kesejahteraanku hilang, kalau begitu, mengapa harus kembali,
Raja Esukāri, untuk mengejar jalan tersebut?”
“Tetapi,” balas mereka, “ikutlah bersama kami, Gopalaka, selama satu hari, dua atau tiga hari. Buatlah kami menjadi bahagia dan setelahnya Anda dapat meninggalkan kehidupan duniawi.” Ia berkata, “O raja agung! Jangan pernah menunda sampai esok hal-hal yang seharusnya Anda kerjakan hari ini. Jika Anda menginginkan keberuntungan, ambillah kesempatan itu hari ini juga.” Kemudian ia mengucapkan satu bait kalimat yang berikutnya:

“Esok! Kata orang dungu; Hari berikutnya! teriaknya.
Tidak ada hal yang pasti di masa yang akan datang!
Kata orang bijak; Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik
yang berada di dalam jangkauannya.”
[482] Demikianlah Gopala berkata, memaparkan Kebenaran dalam dua bait kalimat tersebut. Dan ia menambahkan, “Ketika Anda berdiri di sana dan bahkan ketika saya berbicara dengan Anda, penyakit, usia tua, dan kematian sedang mendekati kita.” Kemudian diikuti dengan rombongan orang yang panjangnya mencapai satu yojana, ia berjalan ke tempat kedua abangnya berada. Dan Hatthipala juga memaparkan kebenaran kepadanya dengan berdiri melayang di udara.
Keesokan harinya, dengan cara yang sama, raja dan pendeta kerajaan pergi ke rumah pangeran Ajapala, yang kemudian menyambut mereka dengan kebahagiaan sama seperti yang dilakukan oeh saudara-saudaranya. Mereka memberitahukan maksud kedatangannya dan mengajukan untuk memberikan payung kerajaan kepada dirinya. Pangeran itu berkata, “Dimanakah saudara-saudaraku?” Mereka menjawab, “Saudara-saudaramu tidak ingin berhubungan dengan kerajaan. Mereka telah menolak tawaran payung putih ini, dan dengan rombongan orang yang panjangnya mencapai tiga yojana, mereka sedang duduk di tepi sungai Gangga.” “Saya tidak akan meletakkan di atas kepalaku sesuatu yang telah mereka keluarkan dari mulut mereka dan menjalani hidup yang demikian. Tetapi saya juga akan menjalani kehidupan suci.” “Putraku, Anda masih sangat muda; kesejahteraanmu adalah tanggung jawab kami. Jalanilah kehidupan suci setelah Anda menjadi tua.” Tetapi anak laki-laki tersebut berkata, “Apa yang Anda katakan ini? Kematian pasti datang juga pada anak muda, sama halnya dengan usia! Tidak ada seorang pun yang memiliki tanda di kaki atau tangannya untuk menunjukkan apakah ia akan mati muda atau tua. Saya tidak mengetahui waktu kematianku dan oleh karenanya saya akan benar-benar meninggalkan kehidupan duniawi sekarang.” Kemudian ia mengucapkan dua bait kalimat berikut:

“Sering saya melihat wanita yang muda dan cantik,
Mata yang cerah293, dimabukkan oleh keduniawian,
Bagian dari kebahagiaannya belum lagi dirasakan, dalam usia mudanya:
Kematian datang dan membawa pergi benda yang lembut tersebut.
“Jadi, laki-laki-laki-laki yang mulia, tampan, kuat dan muda,
Setumpuk janggut294 yang tergantung mengelilingi dagu gelapnya—
Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi dan semua nafsu keinginannya,
Dengan menjadi seorang petapa: Anda pulanglah, dan maafkanlah saya.”
[483] Ia melanjutkan perkataannya demikian, “Ketika Anda berdiri di sana dan bahkan ketika kami berbicara dengan Anda, penyakit, usia tua, dan kematian sedang datang mendekati diriku.” Ia kemudian memberi salam hormat kepada mereka berdua, dan sebagai pemimpin dari suatu rombongan yang panjangnya mencapai satu yojana, ia pergi ke tepi sungai Gangga. Hatthipala berdiri melayang di udara untuk memaparkan kebenaran juga kepadanya, dan kemudian duduk menunggu perkumpulan besar yang diharapkannya itu.
Keesokan harinya, pendeta kerajaan mulai bermeditasi ketika duduk di kursinya. “Semua putraku,” pikirnya, “telah menjalani kehidupan suci. Sekarang tinggal diriku sendiri, satu tunggul manusia yang telah layu. Saya juga akan menjalankan kehidupan suci.” Kemudian ia mengucapkan bait berikut ini kepada istrinya:

“Mereka menyebut benda yang memiliki dahan-dahan yang bercabang sebagai pohon:
Yang tidak memiliki cabang, itu adalah batang pohon, bukan pohon.
Demikian juga halnya dengan orang yang tidak memiliki anak, istriku yang mulia:
Kali ini adalah waktunya bagiku untuk menjalankan kehidupan suci.”
Setelah ini diucapkan, ia memanggil para brahmana untuk menghadapnya. Sebanyak enam puluh ribu brahmana datang. Kemudian ia bertanya apa yang mereka ingin lakukan. [484] “Anda adalah guru kami,” kata mereka. “Baiklah,” katanya, “saya akan pergi mencari anak-anakku dan menjalankan kehidupan suci.” Mereka menjawab, “Alam Neraka tidaklah panas bagi dirimu saja, kami juga akan melakukan hal yang sama.” Ia menyerahkan harta karunnya, yang berjumlah delapan ratus juta rupee kepada istrinya. Dan sebagai pemimpin dari barisan brahmana sepanjang satu yojana, ia berangkat ke tempat dimana putra-putranya berada. Dan seperti sebelumnya, Hatthipala memaparkan kebenaran kepada mereka juga dengan duduk melayang di udara.

Keesokan harinya, istri brahmana tersebut berpikir sendiri, “Keempat anak-anakku telah menolak payung putih, memilih kehidupan suci. Suamiku telah meninggalkan kekayaan sebanyak delapan puluh ribu ini dan juga jabatannya sebagai pendeta kerajaan untuk pergi bergabung dengan putra-putranya.” Dan sewaktu melihat sebuah gergaji tua, ia mengucapkan bait kalimat aspirasi berikut ini:

“Musim hujan berlalu, angsa-angsa merusak jaring dan perangkap,
Dengan kebebasan, terbang tinggi di udara seperti burung-burung bangau.295
Demikianlah dengan mengikuti jalan dari suami dan anakku,
Saya akan mencari pengetahuan sebagaimana yang telah mereka berdua lakukan.”
“Karena saya mengetahui ini,” katanya, “mengapa saya tidak meninggalkan kehidupan duniawi?” Dengan tujuan ini, ia mengumpulkan para wanita brahmana dan berkata kepada mereka: [485] “Apa yang hendak kalian lakukan dengan diri kalian sendiri?” Mereka bertanya, “Bagaimana denganmu?”— “Bagiku, saya akan meninggalkan kehidupan duniawi.”—“Kalau begitu, kami juga akan melakukan hal yang sama.” Maka dengan meninggalkan semua kebesarannya, ia menyusul putra-putranya dengan membawa rombongan wanita yang panjangnya mencapai satu yojana. Kepada rombongan ini, Hatthipala memaparkan kebenaran, dengan duduk melayang di udara.

Keesokan harinya raja berkata, “Dimana pendeta kerajaanku?” “Paduka,” jawab mereka, “pendeta kerajaan beserta dengan istrinya telah meninggalkan semua kekayaannya dan pergi mengikuti putra-putra mereka, dengan rombongan yang panjangnya mencapai dua atau tiga yojana.” Raja berkata, “Bawa padaku uang yang tak bertuan itu,” dan mengutus anak buahnya untuk mengambilnya dari rumah pendeta kerajaan tersebut.

Saat itu, ratu ingin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh raja. “Ia sedang meminta orang mengambil harta karun,” ratu diberitahu demikian, “dari rumah pendeta kerajaan.” “Dan dimana pendeta kerajaan?” tanyanya. “Pergi menjalani kehidupan suci, istri dan semuanya juga sama.” Ratu berpikir, “Mengapa, di sini raja membawa pulang kotoran dan air ludah yang dibuang oleh brahmana, istri dan keempat putranya itu ke dalam rumahnya sendiri! Orang bodoh yang tidak bijaksana! Saya akan mengajari dirinya dengan suatu contoh.” Ratu mengambil beberapa daging anjing dan membuat menjadi satu tumpukan di halaman istana. Kemudian ia juga membuat perangkap di sekitarnya, dengan membiarkan jalan terbuka langsung dari atas.

Burung-burung pemakan bangkai yang melihatnya itu langsung menukik turun. Tetapi yang bijaksana di antara mereka melihat bahwa ada perangkap yang disiapkan di sekitarnya dan karena merasa mereka akan menjadi terlalu berat untuk terbang lurus ke atas nantinya, mereka pun mengeluarkan apa yang telah dimakan. Mereka ini tidak tertangkap dalam perangkap tersebut dan berhasil terbang pergi. Sedangkan burung lain yang dibutakan oleh kebodohannya, memakan apa yang tadi dimuntahkan. Dikarenakan badan mereka menjadi berat, mereka tidak dapat terbang melarikan diri dan tertangkap di dalamnya.

Mereka membawa salah satu burung pemakan bangkai tersebut kepada ratu, dan ratu membawanya kepada raja. “Lihat, O raja!” katanya, “ada suatu petanda yang ditujukan kepada kita di halaman istana.” Kemudian dengan membuka satu jendela, ia berkata, “Lihatlah burung-burung pemakan bangkai itu, Yang Mulia!” Kemudian ia mengucapkan dua bait kalimat berikut:

“Burung-burung yang tadinya memakan daging itu
dan kemudian mengeluarkan kembali makanannya, sedang terbang bebas;
Tetapi mereka yang makan dan kemudian menelannya, tertangkap olehku.”
[486] “Seorang brahmana membuang nafsu keinginannya,
dan apakah Anda memakan benda yang sama?
Seseorang yang memakan benda muntahan,
Paduka, pantas mendapatkan kesalahan yang mendalam.”
Mendengar perkataan ini, raja menjadi cukup menyesal; tiga alam keberadaan terlihat seperti api yang membara. Dan ia berkata, “Hari ini juga saya harus meninggalkan kerajaan dan menjalani kehidupan suci.” Dengan dipenuhi dengan rasa duka, ia berkata dengan keras kepada ratunya dalam satu bait berikutnya:

“Seperti seorang laki-laki kuat yang meminjamkan satu tangannya membantu
Orang-orang lemah yang jatuh ke dalam tanah rawa dan pasir hisap:
Demikianlah, ratu Pañcātī, Anda telah menyelamatkanku,
Dengan syair-syair yang terdengar manis di telingaku.”
Tidak lama setelah berkata demikian, kemudian pada saat itu juga raja memanggil semua pejabat istananya, dengan berkeinginan untuk menjalankan kehidupan suci, berkata kepada mereka, “Dan apa yang akan kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Apa yang akan Anda lakukan?” Ia berkata, “Saya akan mencari Hatthipala dan menjadi seorang petapa.” “Kalau begitu,” kata mereka, “Paduka, kami akan melakukan hal yang sama.” Raja meninggalkan kekuasaannya atas kerajaan Benares, kerajaan yang megah itu, seluas dua belas yojana, dan berkata, “Biarlah siapa saja yang menginginkan payung putih itu dapat mengambilnya.” Kemudian dikeliilngi dengan semua pejabat istananya, sebagai pemimpin barisan yang panjangnya mencapai tiga yojana, raja pergi menjumpai pemuda tersebut. Hatthipala juga memaparkan kebenaran kepada rombongan orang ini, dengan duduk tinggi di udara.

Sang Guru mengucapkan satu bait kalimat yang memberitahu bagaimana raja meninggalkan kehidupan duniawi ini.

“Demikianlah Esukari, raja yang agung,
penguasa banyak daratan,
Dari seorang raja berubah menjadi seorang petapa,
seperti seekor gajah yang memutuskan ikatannya.”
[487] Keesokan harinya, penduduk yang masih tinggal di kota, berkumpul bersama di depan pintu istana dan mengirimkan pesan kepada ratu. Mereka masuk dan setelah memberi salam hormat kepada ratu, berdiri di satu sisi, mereka mengucapkan satu bait kalimat berikut:
“Adalah merupakan kesenangan dari raja mulia kita
Untuk menjadi seorang petapa, meninggalkan segalanya.
Maka sekarang kami memohon kepada Anda untuk mengambil ahli kedudukan raja;
Ceriakan kerajaan, yang dilindungi oleh tangan kita.”
Ratu mendengar apa yang dikatakan para penduduk tersebut dan mengucapkan bait-bait berikutnya ini:

“Adalah merupakan kesenangan dari raja mulia kita
Untuk menjadi seorang petapa, meninggalkan segalanya.
Sekarang dengan mengetahui ini, saya sendiri akan meninggalkan keduniawian,
Meninggalkan nafsu keinginan dan semua kesenangan.
“Adalah merupakan kesenangan dari raja mulia kita
Untuk menjadi seorang petapa, meninggalkan segalanya.
Sekarang dengan mengetahui ini, saya sendiri akan meninggalkan keduniawian,
Dimana pun mereka berada, meninggalkan semua nafsu keinginan.
“Waktu terus berjalan, malam berganti malam296,
Kecantikan masa muda satu demi satu akan memudar dan musnah:
Sekarang dengan mengetahui ini, saya sendiri akan meninggalkan keduniawian,
Meninggalkan nafsu keinginan dan semua kesenangan.
“Waktu terus berjalan, malam berganti malam,
Kecantikan masa muda satu demi satu akan memudar dan musnah:
Sekarang dengan mengetahui ini, saya sendiri akan meninggalkan keduniawian,
Dimanapun mereka berada, meninggalkan semua nafsu keinginan.
“Waktu terus berjalan, malam berganti malam,
Kecantikan masa muda satu demi satu akan memudar dan musnah:
Sekarang dengan mengetahui ini, saya sendiri akan meninggalkan keduniawian,
Semua ikatan dilepaskan dan saya juga tidak memiliki kekuatan dari nafsu keinginan.”
[488] Dalam bait-bait kalimat ini, ia memaparkan Kebenaran kepada orang banyak tersebut. Kemudian setelah memanggil para istri pejabat istana, ia berkata kepada mereka, “Dan apa yang akan kalian lakukan?” “Ratu, apa yang akan Anda lakukan?”—“Saya akan menjalani kehidupan suci.”—“Kalau begitu, kami juga akan melakukan hal yang sama.” Maka ratu membuka semua pintu dari gudang emas yang ada di dalam istana, dan ia meminta orang mengukir ini di sebuah piring emas, “Di tempat anu ada banyak harta karun yang tersimpan.” Siapa saja boleh mengambilnya. Piring emas ini diikat oleh ratu di satu tiang di atas mahatala, dan membunyikan drum untuk membuat pengumuman di seluruh kota. Kemudian dengan meninggalkan segala kebesarannya, ia pergi dari kota.
Kemudian seluruh kota berada dalam kepanikan, mereka berkata dengan keras, “Raja dan ratu kita telah meninggalkan kerajaan untuk menjalankan kehidupan suci. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Mulai dari sana, semua orang meninggalkan rumah masing-masing, dan semua yang ada di dalamnya, pergi dengan menggandeng tangan anak-anak mereka. Semua pintu toko tetap terbuka tetapi tidak ada seorang pun yang masuk melihat ke dalamnya: seluruh kota menjadi kosong.

Dan ratu beserta dengan barisan pengikutnya yang mencapai panjang tiga yojana, pergi ke tempat yang sama seperti yang dikunjungi oleh orang-orang sebelumnya. Hatthipala juga memaparkan kebenaran kepada mereka, dengan melayang di udara. Dan kemudian dengan semua rombongan yang mencapai panjang dua belas yojana, ia berangkat ke Gunung Himalaya.

Seluruh kerajaan Kasi berada dalam kegemparan, meneriakkan bagaimana si Hatthipala muda telah membuat kota Benares yang luasnya mencapai dua belas yojana menjadi kosong, dan juga bagaimana dengan rombongan yang amat besar pergi ke Gunung Himalaya untuk menjalani kehidupan suci. “Kalau begitu, pastinya akan ada banyak hal lain yang harus kita kerjakan!” Pada akhirnya rombongan orangn ini meluas menjadi tiga puluh yojana, [489] dan bersama dengan rombongan besar ini, ia pergi ke Gunung Himalaya.

Dewa Sakka dalam meditasinya mengetahui apa yang sedang terjadi. “Pangeran Hatthipala,” pikirnya, “telah melakukan pelepasan kehidupan duniawi. Akan ada kumpulan orang yang amat banyak, dan mereka ini harus memiliki tempat untuk tinggal.” Ia memberi perintah kepada Vissakamma: “Pergilah, buat satu tempat petapaan yang panjangnya tiga puluh enam yojana dan lebarnya lima belas. Dan sediakan di dalamnya segala yang dibutuhkan dalam kehidupan suci.” Vissakamma mematuhinya; di tepi sungai Gangga, di satu tempat yang menyenangkan, ia membangun tempat petapaan sesuai dengan ukuran luas yang diminta, di dalam gubuk daun itu menyiapkan kasur yang dibuat dari ranting-ranting pohon ataupun dedaunan, menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam kehidupan suci. Masing-masing gubuk memiliki pintu, masing-masing memiliki pekarangan, ada tempat yang terpisah untuk siang dan malam hari. Semuanya dikerjakan dengan rapi dan bersih, dan ada juga kursi panjang untuk beristirahat. Di sekitarnya terdapat pohon-pohon berbunga yang dilengkapi dengan bunga mekar yang beraneka warna dan berbau harum. Di masing-masing ujung pekarangan ada sebuah sumur, di sampingnya ada pohon buah, dan setiap pohon membuahkan semua jenis buah. Semuanya ini dilakukan dengan kekuatan dewa. Ketika Vissakamma telah menyelesaikan tempat petapaan tersebut dan menyediakan segala barang yang dibutuhkan, ia menulis di atas kertas yang berwarna merah terang yang diletakkan di dinding—“Siapa saja yang menjalani kehidupan suci dipersilahkan untuk mengambil barang yang dibutuhkan.” Kemudian dengan kekuatan gaibnya, ia menghilangkan semua suara yang mengerikan, semua hewan dan burung yang jahat, semua makhluk yang bukan manusia, dan kembali ke tempat kediamannya sendiri.

Hatthipala sampai di tempat petapaan ini, pemberian Sakka, melewati jalan setapak, dan melihat tulisan tersebut. Kemudian ia berpikir, “Sakka pasti telah mengetahui bahwa saya telah melakukan pelepasan kehidupan duniawi yang besar.” Ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya, dan setelah mengambil benda-benda yang memiliki tanda petapa, ia pun keluar kembali, pergi ke pekarangan, berjalan naik dan turun selama beberapa kali. Kemudian ia menabhiskan rombongan itu untuk menjalani kehidupan suci dan pergi untuk memeriksa tempat petapaan tersebut. Ia menyusun tempat tinggal bagi wanita dengan anak laki-laki di bagian tengah, kemudian wanita-wanita tua, berikutnya wanita-wanita yang tidak memiliki anak: gubuk lainnya diberikan kepada laki-laki.

[490] Kemudian seorang raja yang mendengar tidak ada raja lagi di Benares, pergi melihat dan menemukan bahwa kota tersebut masih dalam keadaan bagus. Sewaktu masuk ke dalam istana kerajaan, ia melihat tumpukan harta karun tersebut. “Apa!” katanya, “meninggalkan kota seperti ini dan menjadi orang suci begitu ada kesempatan. Ini adalah suatu hal yang mulia!” Dengan menanyakan jalan kepada beberapa orang mabuk, ia pergi mencari Hatthipala. Ketika Hatthipala mengetahui bahwa raja ini berada di pinggiran hutan, ia pergi keluar untuk menjumpainya dan dengan duduk melayang di udara ia memaparkan kebenaran kepada rombongan raja ini. Kemudian ia menuntun mereka ke tempat petapaan tersebut dan menerima seluruh rombongan tersebut untuk masuk ke dalam perkumpulan (menjalani kehidupan suci). Dengan cara yang sama pula, enam raja lainnya bergabung dengan mereka. Ketujuh raja ini meninggalkan harta kekayaan mereka. Ketika orang-orang agung memiliki pemikiran tentang nafsu keinginan atau hal lain sejenisnya, ia akan memaparkan Dhamma kepada orang tersebut dan mengajarkan mereka kasiṇabhāvana 297 , yang kemudian berkembang dalam jhānābhiñña. Dua per tiga dari mereka itu tumimbal lahir di alam Brahma, sedangkan satu per tiga lainnya dibagi dalam tiga bagian, satu bagian juga tumimbal lahir di alam Brahma, satu bagian lainnya di enam alam menyenangkan, dan yang satu bagian lagi yang melakukan misi penyebaran tumimbal lahir di alam Manusia. Demikianlah mereka menikmati masing-masing hasil dari pencapaian mereka. Demikan juga ajaran dari Hatthipala menyelamatkan semuanya dari alam Neraka (niraya), alam Binatang (tiracchāna), alam Setan (pettivisaya), dan alam Raksasa (asurā).
____________________
Di pulau Srilanka ini (Tambapaṇṇidipe), mereka yang melakukan pelepasan kehidupan duniawi adalah Dhammagutta Thera, yang membuat bumi bergoyang; Phussadeva Thera, seorang penghuni dari KaṭakandhaKāra; Mahāsaṁgharakkhita Thera, dari Uparimaṇdalakamalaya; Malimahādeva Thera; Mahādeva Thera, dari Bhaggiri; Mahāsīva Thera, dari Vāmantapabbhāra; Mahānāga Thera, dari Kāḷavallimaṇḍapa; orang-orang yang menemani Kuddāla, Mūgapakkha, Cūlasutasoma, Ayoghara yang bijak, dan yang terakhir adalah Hatthipala. Oleh karena itu, Sang Bhagava berkata, “Bergegaslah, kebahagiaan!” dan seterusnya298, yaitu, kebahagiaan akan datang hanya jika mereka melakukan semuanya dengan cepat.

[491] Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru berkata, “Demikianlah, para bhikkhu, Sang Tathagata telah melakukan pelepasan yang besar dalam kehidupan duniawi dalam kehidupan sebelumnya, sama seperti sekarang.” Setelahnya, Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, raja Suddhodana adalah raja Esukari, Mahamaya adalah ratunya, Kassapa adalah pendeta kerajaan, Bhaddakapilani adalah istrinya, Anuruddha adalah Ajapala, Moggallana adalah Gopala, Sariputta adalah Assapala, para pengikut Sang Buddha adalah sisanya, dan saya sendiri adalah Hatthipala.”
____________________

Catatan kaki :

288 Atau (mengambil teks di dalam bacaan), ‘dengan tidak melihat adanya jawaban yang lain dari itu.’ Para wanita (pelacur) di India dikatakan ada yang menikah dengan pohon-pohon tertentu: mungkin wanita ini termasuk ke dalam golongan tersebut.

289 Empat dewa bumi; Utara, Selatan, Timur dan Barat.

290 Alam ketiga dari alam Dewa.

291 Baris kalimat ini muncul di Vol. III. hal. 241.

292 Nibbana.

293 Dengan mata seperti bunga Pandanus Odoratissimus.

294 Janggut itu seperti ditutupi dengan Carthamus Tinctorius.

295 Para ahli merujuknya kepada sebuah cerita yang menjelaskan bagimana seekor laba-laba membuat sarangnya mengurung sekelompok angsa emas, bagaimana dua burung muda diantara mereka itu di penghujung musim hujan menembusnya dengan kekuatan besarnya, dan bagaimana burung-burung lainnya mengikuti jalan yang sama dan terbang pergi.

296 Lihat Saṁnyutta Nikāya, I. hal. 3.

297 kasiṇa adalah salah satu kelompok objek meditasi samatha, yang mana hasil yang dicapai adalah jhāna.

298 Dhammapada, 116.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com