MĀTI-POSAKA-JĀTAKA

Mātu­posa­ka­jātaka (Ja 455)

[90] “Walaupun jauh,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berada di Jetavana, tentang seorang tetua yang harus menghidupi ibunya.
Situasi dari kejadian ini sama seperti kejadian di dalam kisah Sāma-Jātaka.

Di dalam kesempatan ini juga Sang Guru berkata kepada para bhikkhu, “Jangan marah dengan laki-laki ini; orang bijak di masa lampau, yang bahkan terlahir dari rahim seekor hewan, tidak mau makan selama tujuh hari, menjadi kurus kering karena dipisahkan dengan induknya. Bahkan ketika diberikan makanan yang dimakan oleh seorang raja, mereka mengatakan, ‘Saya tidak akan makan tanpa ibuku’, yang kemudian mengambil makanannya setelah melihat ibunya.”

Setelah selesai berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor gajah di daerah pegunungan Himalaya. Warna tubuhnya semua putih, seekor hewan yang luar biasa besarnya, dan sekumpulan gajah berjumlah delapan puluh ribu ekor mengikutinya, tetapi ibunya buta.

Ia memberikan buah-buahan yang manis, sangat manis kepada rombongan gajahnya untuk diberikan sebagian kepada ibunya. Akan tetapi mereka tidak memberikan apapun kepadanya, mereka memakannya sendiri. Ketika bertanya dan mendengar kabar tentang hal ini, ia berkata, “Saya akan meninggalkan rombongan ini dan membuat ibuku bahagia.”

Maka di malam hari, tanpa diketahui oleh yang lainnya, ia membawa ibunya pergi ke Gunung Caṇḍoraṇa. Di sana ia menempatkan ibunya di dalam sebuah gua yang ada di bukit, dekat dengan sebuah danau dan membahagiakannya.

Waktu itu ada seorang penjaga hutan yang tersesat—ia tinggal di Benares. Karena tidak bisa mendapatkan jalan keluarnya, [91] ia mulai meratap dengan teriakan suara yang keras. Ketika mendengar teriakan tersebut, Bodhisatta berpikir dalam dirinya sendiri, “Ada seseorang yang berada dalam kesedihan, dan tidaklah benar bagi ia mengalami itu di saat saya berada di sini.” Maka ia mendekati laki-laki tersebut, tetapi laki-laki tersebut malah lari ketakutan. Ia kemudian berkata, “Hai manusia! Anda tidak perlu merasa takut terhadap diriku. Jangan lari, tetapi katakan mengapa Anda berjalan sendirian sambil meratap?”

“Tuan,” katanya, “Saya tersesat, ini sudah hari yang ketujuh.”

Gajah itu berkata, “Jangan takut, O manusia. Karena saya akan mengembalikan Anda ke jalan manusia. Kemudian ia mendudukkan laki-laki itu di atas punggungnya, membawanya keluar dari hutan, dan kemudian kembali.

Laki-laki jahat ini bermaksud untuk pergi ke kota dan memberitahu raja, jadi ia menandai pepohonan, perbukitan yang mengarah ke Benares. Waktu itu gajah kerajaan baru saja mati. Raja menyuruh pengawalnya untuk mengumumkan dengan membunyikan drum, “Jika ada orang melihat seekor gajah yang sehat dan cocok untuk ditunggangi oleh raja, katakanlah itu kepada raja!”

Kemudian laki-laki ini datang ke hadapan raja dan berkata, “Paduka, saya pernah melihat seekor gajah yang sangat bagus sekali, berwarna putih semuanya, sangat cocok bagi raja. Saya akan menunjukkan jalannya, Anda kirimkan seorang pawang gajah dan pasti bisa menangkapnya.” Raja menyetujuinya dan mengirimkan pawang gajah serta sekelompok besar pasukan pengawal.

Pawang itu pergi dengannya, dan mereka melihat Bodhisatta sedang makan di dalam kolam. Ketika melihat penjaga hutan tersebut, gajah berpikir, “Tidak diragukan lagi, bahaya yang akan muncul ini berasal dari laki-laki itu. Tetapi saya adalah gajah yang kuat; saya dapat menceraiberaikan ribuan gajah; dalam keadaan marah saya dapat mengalahkan semua hewan yang membawa pasukan satu kerajaan. Akan tetapi jika saya menjadi marah, kebajikanku akan rusak. Maka hari ini saya tidak boleh menjadi marah, bahkan jika ditusuk dengan pisau.” Dengan ketetapan hati ini, ia tetap diam di sana sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

Penjaga hutan itu masuk ke dalam kolam teratai tersebut dan sewaktu melihat keindahan tubuhnya, ia berkata, “Ayo, anakku!” Kemudian dengan menarik belalainya (seperti dengan menggunakan tali perak), ia menuntunnya menuju ke Benares dalam tujuh hari.

Ketika induk gajah itu mengetahui bahwa anaknya tidak pulang-pulang, ia berpikir bahwa anaknya pasti telah ditangkap oleh anak buah raja. [92] Ia meratap, “Semua pohon ini akan terus tumbuh, tetapi dirinya akan menjadi semakin jauh,” dan mengucapkan dua bait berikut ini:

“Walaupun jauh gajah ini dibawa pergi,
Sallāki56 dan kuṭaja57 akan tetap tumbuh,
Padi, rumput, karavīra58, akar teratai,
Di tempat yang terlindungi, angin tetap berhembus.
“Suatu tempat dimana gajah besar itu dibawa pergi,
Diberi makan oleh mereka yang tubuh dan badannya
Dihiasi dengan emas, yaitu mungkin raja atau pangeran yang menungganginya
tanpa rasa takut menuju kemenangan atas musuh-musuhnya.”
Kemudian pawang gajah itu mengirimkan pesan kepada raja di tengah perjalanan mereka pulang. Dan raja menyuruh orang-orang untuk menghias kota. Pawang itu membawa Bodhisatta ke kandangnya yang dihias dan diperindah dengan karangan bunga, dan di sekelilingnya penuh dengan warna-warni, dan akhirnya memberi laporan kepada raja. Dan raja mengambil semua makanan yang bagus dan mengirimnya kepada Bodhisatta, tetapi ia tidak makan sedikitpun, “Tanpa ibuku, saya tidak akan makan apapun,” katanya.

Raja memohonnya untuk makan dengan mengucapkan bait ketiga berikut ini:

[93] “Mari gajah, ambil potongan kecil,
dan jangan biarkan dirimu menjadi kurus kering:
Banyak hal yang harus kamu lakukan
untuk melayani raja suatu hari nanti.”
Mendengar perkataaan raja ini, Bodhisatta mengucapkan bait keempat berikut ini:

“Tidak, ia di Gunung Caṇḍoraṇa,
tinggal sendirian dalam keadaan buta dan menyedihkan,
Bergerak dengan kaki yang tersandung pada akar pepohonan,
tanpa anaknya yang besar.”
Raja mengucapkan bait kelima untuk menanyakan maksud dari perkataannya:

“Siapa yang berada di Gunung Caṇḍoraṇa,
tinggal sendirian dalam keadaan buta dan menyedihkan,
Bergerak dengan kaki yang tersandung pada akar pepohonan,
tanpa anaknya yang besar?”
Kemudian gajah itu menjawabnya dengan mengucapkan bait keenam berikut ini:

“Ibuku yang ada di Caṇḍoraṇa,
buta dan menyedihkan!
bergerak dengan kaki yang tersandung akar pepohonan
dengan tiadanya diriku, anaknya ini!”
Dan setelah mendengar ini, raja memberikan kebebasan kepadanya sambil mengucapkan bait ketujuh berikut ini:

“Gajah besar ini, yang memberi makan ibunya,
bebaskanlah ia:
Biarkan ia kembali kepada ibunya,
dan keluarganya.”
Bait kedelapan dan kesembilan ini adalah yang diucapkan Sang Buddha dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna:

“Gajah itu dibebaskan dari kandang kurungannya,
dilepaskan rantainya,
Dengan kata-kata yang menghibur59
kembali ke bukit.
[94] “Kemudian dari kolam yang airnya dingin dan jernih,
dimana gajah sering berada di sana,
Dengan belalainya ia menghisap air,
dan memberikan semua itu kepada ibunya.”
Akan tetapi induk gajah itu mengira bahwa itu adalah air hujan, dan ia mengucapkan bait kesepuluh berikut dengan mengecam hujan tersebut:

“Siapa yang menyebabkan hujan
yang tidak pada musimnya ini—dewa jahat mana?
Karena ia menghilang, anak kandungku,
yang biasanya merawatku.”
Kemudian Bodhisatta mengucapkan bait kesebelas berikut untuk meyakinkan ibunya:

“Bangunlah ibu! mengapa Anda berbaring saja di sana?
Anak kandungmu sudah datang!
Vedeha, raja mulia Kasi,
mengantarku pulang dengan selamat.”
Dan akhirnya induk gajah itu berterima kasih kepada raja dengan mengucapkan bait terakhir berikut ini:

“Semoga Paduka panjang umur!
semoga ia membawa kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya,
Yang telah membebaskan anakku,
yang telah memberikan kehormatan yang begitu besar
kepada diriku!”
Raja merasa senang dengan kebaikan Bodhisatta, dan ia membangun sebuah kota kecil tidak jauh dari danau tersebut dan memberikan pelayanan yang tanpa putus kepada Bodhisatta dan ibunya.

Sesudah ibunya meninggal dan Bodhisatta telah melakukan semua upacara pemakamannya, [95] raja pergi ke sebuah vihara yang bernama Karaṇḍaka. Tempat ini didatangi dan dihuni oleh lima ratus orang suci dan raja yang memberikan pelayanan kepada mereka. Raja menyuruh orang membuat sebuah patung bentuk Bodhisatta itu, ia memberi hormat yang besar kepada ini. Di sana, seluruh penduduk India merayakan apa yang disebut dengan Festival Gajah setiap tahunnya.
____________________

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaparkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran ini: (Di akhir kebenarannya, sang Thera yang menghidupi ibunya itu mencapai tingkat kesucian sotapanna:) “Pada masa itu, Ananda adalah raja, Mahamaya adalah induk gajah dan saya sendiri adalah gajah yang merawat ibunya.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com