Sariputta | Suttapitaka | TITTIRA-JĀTAKA Sariputta

TITTIRA-JĀTAKA

Daddarajātaka (Ja 438)

“Anak-anakmu yang tidak bersalah,” dan seterusnya.
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di puncak Gunung Burung Hering, tentang percobaan dari Devadatta untuk membunuh-Nya. Pada waktu itu, para bhikkhu memulai suatu pembahasan di dalam balai kebenaran, dengan mengatakan, “Āvuso, betapa tidak tahu malu dan rendahnya Devadatta itu. Dengan bergabung bersama Ajātasattu, ia membuat suatu persekongkolan untuk membunuh Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha), menyewa para pemanah, menjatuhkan batu yang besar, dan melepaskan Gajah Nāḷāgiri.” Sang Guru datang dan menanyakan apa yang sedang mereka bahas. Setelah diberi tahu apa yang sedang dibahas, Beliau berkata,

[537] “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau,
Devadatta (selalu) mencoba untuk membunuhku. Akan tetapi, ia tidak berhasil, bahkan untuk membuatku takut,” dan Beliau menghubungkannya dengan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala di bawah pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, hiduplah seorang guru yang termasyhur di kota Benares yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada lima ratus
brahmana muda. Suatu hari ia berpikir, “Selama saya tinggal di sini, saya menemui hambatan untuk menjalankan kehidupan suci dan siswa-siswaku tidak sempurna dalam pembelajaran mereka. Saya akan pensiun menjadi guru dan tinggal dalam hutan di landaian pegunungan Himalaya serta melanjutkan pengajaranku di sana.” Ia memberitahukan ini kepada para siswanya, dan meminta mereka membawakan wijen, beras, minyak, pakaian dan lain sebagainya. Ia pergi ke dalam hutan, membangun gubuk daun sebagai tempat tinggalnya dekat jalan besar. Para siswanya juga masing-masing membuat sebuah gubuk. Sanak keluarga mereka mengirimkan nasi dan sebagainya, dan penduduk negeri tersebut berkata, “Seorang guru yang termasyhur hidup di tempat anu di dalam hutan dan mengajar ilmu pengetahuan di sana.” Mereka juga membawakan nasi, dan penjaga hutan juga memberikan sesuatu, sedangkan ada seorang laki-laki yang memberikan seekor sapi perah dan anak sapi agar mereka dapat minum susu. Kemudian seekor kadal dan dua ekor anaknya datang untuk tinggal bersama guru itu, seekor singa dan harimau juga datang untuk mendengar ajarannya. Seekor burung ketitir260 juga tinggal di sana, dan dari
mendengar guru mereka mengajarkan kitab suci kepada para siswanya, burung ketitir tersebut menjadi paham akan ajaran tiga kitab Weda. Dan brahmana itu pun menjadi sangat akrab dengan burung tersebut. Tetapi sebelum para siswanya mendapatkan keahlian di dalam ilmu pengetahuan, guru mereka meninggal dunia. Para siswa mengkremasi jasadnya, membuat sebuah gundukan (stupa), dan dengan tangisan serta ratapan, mereka juga menghiasnya dengan beragam jenis bunga. Burung ketitir menanyakan mengapa mereka menangis. “Guru kami,” jawab mereka, “sudah meninggal dunia, sedangkan pembelajaran kami masih belum selesai.” “Kalau itu masalahnya, jangan khawatir, saya yang akan mengajari kalian.” “Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?” “Dahulu, saya biasa mendengarkan guru kalian sewaktu ia mengajar, dan saya dapat menghapal tiga kitab Weda
luar kepala.

” [538] Burung ketitir berkata, “Baiklah, dengarkan,” dan memaparkan inti sari pelajaran kepada mereka, semudah mengalirkan air ke bawah dari gunung. Para brahmana muda tersebut menjadi sangat senang dan mendapatkan ilmu pengetahuan dari ketitir yang terpelajar itu. Burung itu berdiri di tempat yang dahulunya digunakan oleh guru yang termashyur tersebut dan memberikan ajaran tentang ilmu pengetahuan. Para brahmana muda itu membuatkan sebuah sangkar emas untuknya dan memberinya penutup (tempat teduh), mereka mempersembahkan kepadanya madu dan biji-bijian kering dalam piring emas dan memberikannya beraneka ragam warna bunga, mereka benar-benar memberikan kehormatan yang besar kepadanya. Tersebar di seluruh India bahwasanya seekor burung ketitir di dalam hutan mengajarkan kitab suci kepada lima ratus orang brahmana. Kala itu, orang-orang mengadakan sebuah festival besar—ini seperti berkumpulnya orang-orang di puncak sebuah gunung. Orang tua para brahmana muda tersebut mengirim pesan untuk anak-anak mereka agar datang dan melihat festival tersebut. Mereka memberitahukan burung ketitir akan hal ini, dan memercayakan tempat pertapaan mereka kepada burung terpelajar tersebut dan juga kepada kadal yang ada di sana. Mereka pun pergi ke kota. Saat itu seorang petapa jahat yang tak berbelas kasihan261 yang sedang mengembara ke
sana dan ke sini tanpa tujuan, tiba di tempat itu. Kadal yang melihatnya masuk ke dalam berbicara dengan ramah kepadanya sambil berkata, “Di tempat anu Anda bisa mendapatkan beras, minyak dan lain sebagainya; masaklah nasi dan nikmatilah,” sesudah berkata demikian, kadal itu pergi untuk mencari makanannya sendiri. Pada awal pagi hari makhluk jahat itu
memasak nasi, membunuh dan memakan dua ekor anak kadal tersebut, menjadikan mereka sebagai makanan yang enak. Pada siang hari ia membunuh dan memakan burung ketitir terpelajar serta anak sapi tersebut, dan pada sore hari, tidak lama setelah ia melihat induk sapi kembali, kemudian ia membunuh dan memakan dagingnya. Kemudian ia berbaring dengan mendengkur di bawah kaki sebuah pohon dan tertidur. Pada malam hari kadal itu kembali dan karena merindukan anak-anaknya, ia pergi untuk mencari mereka. Seorang dewa pohon melihat kadal ini gemetaran karena tidak dapat menemukan anak-anaknya. Dengan kesaktiannya, ia berdiri di lubang batang pohon dan berkata, “Berhentilah gemetaran, kadal. Kedua anakmu, burung ketitir, anak dan induk sapi tersebut telah dibunuh oleh orang yang jahat ini. Gigit lehernya, dan dengan itu ia akan menemui ajalnya.” Dalam pembicaraan mereka yang demikian, dewa pohon mengucapkan bait pertama berikut:

[539] Anak-anakmu yang tidak bersalah telah dimakannya,
meskipun Anda telah memberikan
banyak makanan kepadanya;
Tusukkanlah gigimu di dalam dagingnya,
jangan biarkan makhluk itu hidup dan melarikan diri.

Kemudian kadal mengucapkan dua bait kalimat berikut:

Jiwa tamaknya dipenuhi oleh kotoran,
tetapi ia seperti ditutupi oleh pakaian khusus,
tubuhnya kebal terhadap gigitanku.
Kesalahan yang diperbuat manusia yang tidak
tahu berterima kasih ini dapat dilihat di mana-mana,
Tidak bisa ia dipuaskan dengan benda-benda duniawi.

Setelah berkata demikian, kadal itu berpikir, “Orang ini akan segera bangun dan memakanku,” dan ia pun lari untuk menyelamatkan dirinya. Sebelumnya, singa dan harimau sudah
berteman akrab dengan burung ketitir. Kadang kala mereka datang mengunjunginya dan sebaliknya, kadang kala ia yang mengunjungi mereka dan mengajarkan kebenaran kepada mereka. Hari itu, singa berkata kepada harimau, “Sudah lama kita tidak bertemu dengan burung ketitir, sudah sekitar tujuh atau delapan hari. Pergilah dan cari tahu kabarnya.” Harimau
mengiyakannya dan pergi ke sana. Sesampainya di tempat itu, ia tidak melihat kadal yang telah pergi dan melihat makhluk jahat yang sedang tidur itu. Di rambutnya yang kusut terlihat beberapa helai bulu burung ketitir,

[540] dan di dekatnya juga terlihat tulang belulang induk dan anak sapi. Raja harimau yang melihat semua ini dan merasa kehilangan burung ketitir yang sudah tidak terlihat di sarang emasnya, berpikir, “Mereka semua pasti telah dibunuh oleh orang jahat ini,” dan menendangnya untuk membuat ia bangun. Sewaktu melihat seekor harimau di hadapannya, petapa
itu menjadi sangat ketakutan. Harimau bertanya, “Apakah Anda yang membunuh dan memakan mereka semua?” “Saya tidak membunuh maupun memakan mereka.” “Makhluk jahat, jika bukan Anda yang melakukannya, beri tahu saya siapa yang melakukannya? Dan jika tidak bisa menjawabku, Anda akan mati!” Merasa takut akan keselamatan dirinya, ia berkata, “Ya, Harimau, saya yang membunuh dan memakan anak kadal, anak sapi dan induk sapi itu. Akan tetapi saya tidak membunuh dan memakan burung ketitir.” Walaupun ia berbicara demikian, harimau tidak begitu saja memercayainya dan bertanya lagi, “Anda datang dari mana?” “Harimau, sebelumnya dengan berkeliling saya menjual barang dagangan seorang saudagar untuk bertahan hidup di Kerajaan Kāliṅga, dan setelah mencoba melakukan beberapa hal ini dan itu, saya baru datang ke sini.” Akan tetapi setelah laki-laki itu memberitahukan semua yang telah dilakukannya, harimau berkata, “Kamu adalah seorang yang jahat, jika bukan kamu yang membunuh burung ketitir, siapa lagi yang melakukannya?

Ayo, saya akan membawamu
untuk menjumpai singa, si raja rimba.”

Maka harimau pergi ke tempat singa, dengan berjalan di belakang petapa itu. Ketika singa melihat harimau kembali dengan membawa petapa itu, ia mengucapkan bait keempat
berikut:

Mengapa demikian tergesa-gesanya,
Subāhu 262, datang ke sini?
Dan mengapa pemuda ini terlihat bersamamu?
Ada keperluan penting ini?
Cepat, beri tahu saya selengkapnya,
jangan ditunda-tunda lagi.

[541] Setelah mendengar ini, harimau mengucapkan bait kelima berikut:

Singa, burung ketitir adalah teman kita yang sangat baik,
hari ini ia berakhir dengan buruk:
Kuragukan kata-kata dari orang ini yang membuatku
takut, kita mungkin akan mendengar berita buruk
tentang burung ketitir yang baik itu.

Kemudian singa mengucapkan bait keenam berikut:

kata-kata apa dari orang ini, dan perbuatan apa
yang telah diakuinya kepadamu,
yang membuatmu ragu bahwa hal yang buruk
telah menimpa unggas yang terpelajar itu hari ini?

Kemudian untuk menjawabnya, raja harimau mengucapkan sisa bait kalimat berikut:

Sebagai seorang pedagang keliling di negeri Kāliṅga
ia melewati jalan-jalan rusak,
dengan barang bawaan di tangannya;
Ia ditemukan berada dengan para pemain akrobat,
dan hewan-hewan tak bersalah banyak ditemukan
di dalam jaringnya;

Sering bermain dengan para penjudi, dan membuat
perangkap untuk unggas-unggas kecil;
Dalam keramaian berkelahi dengan menggunakan
pentungan kayu, dan pernah mencari penghasilan
dengan menjual jagung:

Tidak menepati sumpahnya, dalam perkelahiannya
di tengah malam, ia terluka, ia mencuci noda darahnya:
Ia membuat tangannya terbakar karena gegabah
mengambil makanan yang terlalu panas untuk dipegang.

[542] Demikianlah yang kudengar tentang kehidupan yang pernah dijalaninya, demikianlah keburukan yang ada di dalam dirinya, sekarang karena kita tahu bahwa sapi telah mati,
dan ada beberapa helai bulu di sekitar rambutnya, saya benar-benar takut dengan nasib teman kita.

Singa bertanya kepada pemuda itu, “Apa Anda membunuh burung ketitir yang terpelajar itu?” “Ya, Singa, saya membunuhnya.” Singa yang mendengarnya berkata benar, ingin
melepaskan dirinya, tetapi raja harimau berkata, “Orang jahat ini pantas mati,” dan kemudian mengoyaknya dengan taringnya, menggali lubang dan melempar mayatnya ke dalam.

[543] Ketika para brahmana muda itu kembali dan tidak menemukan burung ketitir, mereka meninggalkan tempat itu dengan tangisan dan ratapan.
Sang Guru mengakhiri uraian-Nya dengan berkata,
“Demikianlah percobaan Devadatta di masa lampau yang berusaha untuk membunuhku,” dan Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, petapa adalah Devadatta,
kadal adalah Kisāgotamī, harimau adalah Moggallāna, singa adalah Sāriputta, guru yang termasyhur adalah Kassapa, dan burung ketitir yang terpelajar adalah saya sendiri.”

260 tittira. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): ketitir adalah burung kecil yang suaranya
nyaring dan panjang, biasa dipertandingkan suaranya; perkutut.
261 Teks aslinya agak meragukan. Ada yang menuliskan nikkāruṇika, “tak berbelas kasihan”:
sedangkan Morris, untuk kata niggatiko menyebutkan nigaṇṭho, “petapa telanjang”.
262 Subāhu (lengan yang kuat) adalah harimau


Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com