Sariputta | Suttapitaka | KAPI JATAKA Sariputta

KAPI JATAKA

Kapijātaka (Ja 404)

“Orang bijak tidak seharusnya tinggal,” dan seterusnya.
Sang Guru menceritakan ini ketika berdiam di Jetavana, tentang Devadatta yang ditelan bumi. Mengetahui bahwa para bhikkhu sedang membicarakan ini di dalam balai kebenaran, Sang Guru berkata, “Devadatta bukan pertama kalinya dimusnahkan bersama dengan temannya, tetapi sebelumnya di kehidupan masa lampu ia juga dimusnahkan (bersama temannya),” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, Bodhisatta terlahir di sebagai seekor kera dan tinggal di taman milik raja bersama kawanan lima ratus ekor kera lainnya. [356]
Devadatta juga terlahir sebagai seekor kera dan tinggal di sana bersama dengan kawanan lima ratus ekor kera lainnya.
Kemudian pada suatu hari, ketika pendeta kerajaan pergi ke taman, mandi dan berhias diri, seekor kera yang nakal mendahuluinya, duduk di lengkungan pintu gerbang taman dan
membuang kotoran di atas kepala pendeta itu ketika ia berjalan keluar. Dan sewaktu ia melihat ke atas, kera itu membuang kotorannya lagi ke dalam mulutnya. Pendeta itu berbalik arah dan berkata, dengan nada mengancam, kepada kera-kera tersebut, “Bagus sekali, saya tahu bagaimana mengurus kalian semua nantinya,” dan pergi setelah membersihkan dirinya lagi.

Mereka memberi tahu Bodhisatta bahwa pendeta kerajaan itu marah dan mengancam mereka. Kemudian ia mengumumkan kepada ribuan kera lainnya, “Tidaklah baik untuk menetap di dekat tempat tinggal dari seorang yang marah, mari kita semuanya pergi ke tempat lain.” Seekor kera yang bandel membawa rombongannya sendiri dan tidak ikut pergi dari sana,
dengan berkata, “Akan kulihat apa yang akan dilakukanya,” sedangkan Bodhisatta membawa rombongannya sendiri pergi ke dalam dalam hutan. Pada suatu hari, seorang pelayan wanita sedang menumbuk padi dan kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari. Seekor kambing memakan padi tersebut. Ia dipukul dengan obor dan lari dalam keadaan terbakar, ia kemudian menggosok-gosokkan dirinya di dinding sebuah balai daun dekat kandang gajah. Api membakar gubuk itu dan menjalar ke kandang gajah. Di dalamnya, punggung gajah-gajah itu terbakar, dan dokter gajah merawat mereka.

Pendeta kerajaan itu selalu mencari kesempatan untuk dapat menangkap kera-kera tersebut. Kala itu, ia sedang duduk di hadapan raja dan raja berkata, “Guru, banyak gajah kita yang terluka dan dokter gajah tidak tahu cara mengobati mereka. Apakah Anda tahu ramuan obat tertentu?” “Saya tahu, Paduka.” “Apa itu?” “Lemak kera, Paduka.” “Bagaimana cara kita mendapatkannya?” “Ada banyak kera di dalam taman.” Raja berkata, “Bunuh kera-kera yang ada di dalam taman dan ambil lemak mereka.” Para pemanah pergi ke sana dan membunuh kelima ratus kera itu dengan panah mereka. Seekor kera tua berhasil melarikan diri meskipun terluka oleh anak panah dan meskipun ia tidak langsung mati di tempat [357], tetapi ia mati ketika sampai di kediaman Bodhisatta. Kawanan kera yang ada di sana berkata, “Ia sudah mati ketika sampai di kediaman kita,” dan memberi tahu Bodhisatta bahwa ia mati karena luka yang dideritanya. Bodhisatta datang dan duduk di antara kawanan kera tersebut dan mengucapkan bait-bait kalimat berikut untuk menasihati
mereka dengan nasihat dari orang bijak, yaitu “Orang yang tinggal di dekat musuh-musuh mereka akan mati dengan cara seperti ini:”—

Orang bijak tidak seharusnya tinggal
di tempat musuhnya berada:
Satu malam, dua malam, sangat dekat sehingga
penderitaan akan menghampiri dirinya.

Seorang yang dungu adalah musuh bagi semua yang
mempercayai ucapannya:
Seekor kera membawa bencana bagi semua yang
menjadi kawanannya.

Seorang pemimpin yang dungu, bijak dalam
kesombongan dirinya,
akan selalu kalah, seperti kera ini.

Seorang dungu yang kuat tidaklah bagus
untuk menjaga kawanannya,
bencana bagi saudara-saudaranya, seperti hewan
pengumpan.

Seorang yang kuat dan bijaklah yang bagus
untuk menjaga kawanannya,
berkah bagi saudara-saudaranya,
seperti Indra bagi para dewa.

Ia yang memiliki kebajikan, kebijaksanaan, pengetahuan,
perbuatannya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Oleh karenanya kebajikan, kebijaksanaan, pengetahuan,
hendaknya seseorang mempraktikkannya,
dengan menjadi orang suci yang menyendiri atau
berkelompok, selalu menjaga dan melindungi diri.

[358] Demikianlah Bodhisatta, yang menjadi raja bagi kawanan kera tersebut, menjelaskan cara mempelajari tata peraturan (disiplin).
Setelah uraian-Nya selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, kera yang membandel adalah Devadatta, kawanannya adalah teman-teman Devadatta,
dan kera yang bijak adalah saya sendiri.”



Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com