Sariputta | Suttapitaka | AṬṬHISENA-JĀTAKA Sariputta

AṬṬHISENA-JĀTAKA

Aṭṭhi­senaka­jātaka (Ja 403)

“Atthisena, banyak pengemis,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan ini ketika berdiam di Cetiya Aggāḷava dekat Āḷavī, tentang peraturan latihan yang harus diperhatikan dalam membuat kediaman berkamar tunggal188.

Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Maṇikaṇṭha-Jātaka189.

Sang Guru berkata kepada mereka, “Para Bhikkhu, di masa lampau [352] sebelum Buddha terlahir di dunia ini, petapa dari ajaran lain, meskipun ditawarkan oleh raja untuk memilih anugerah (hadiah) mereka, tidak pernah meminta karena meyakini bahwa meminta-minta (hadiah) dari orang lain adalah hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak menyenangkan,” dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang brahmana yang tinggal di sebuah desa, dan mereka memanggilnya dengan nama Aṭṭhisena (Atthisena).

Ketika dewasa, ia mempelajari semua ilmu pengetahuan di Takkasila, dan setelah melihat keburukan dari kesenangan indriawi, ia menjalani kehidupan suci sebagai seorang petapa, dan setelah memperoleh kesaktian dan pencapaian meditasi melalui jhana, ia tinggal di Himalaya untuk waktu yang lama.

Kemudian sewaktu ingin memperoleh garam dan cuka, ia turun gunung ke Benares, dan setelah bermalam di taman milik raja, keesokan harinya ia berkeliling sampai ke istana raja untuk mendapatkan derma makanan.

Raja, yang merasa senang dengan sikap dan tingkah lakunya, mempersilakannya masuk dan memberikannya tempat duduk serta mempersembahkan makanan pilihan kepadanya. Ia berterima kasih kepada raja. Raja merasa senang dan setelah mengucapkan satu tekad, ia memberikan tempat tinggal kepadanya di dalam taman kerajaan, dan selalu datang untuk melayaninya sebanyak dua atau tiga kali sehari.

Pada suatu hari, merasa sangat senang atas pemaparan kebenaran darinya, raja menawarkannya untuk memilih hadiahnya, dengan berkata, “Beritahukanlah saya apa yang Anda inginkan, dimulai dari kerajaanku.” Bodhisatta tidak mengatakan, ‘Berikan saya anu,’ sedangkan yang lain meminta apa pun yang mereka inginkan dengan berkata, ‘Berikan saya ini dan itu,’ dan raja akan memberikannya jika ia tidak melekat dengannya.

Suatu hari, raja berpikir, “Para peminta dan pengemis lainnya selalu meminta ini dan itu, sedangkan Atthisena yang mulia ini tidak meminta apa pun dariku semenjak ditawarkan untuk memilih hadiahnya. Ia adalah orang yang bijak dan ahli dalam daya upaya benar, saya akan bertanya kepadanya.”

Maka pada suatu hari sesudah menyantap sarapan pagi, raja duduk di satu sisi dan menanyakan kepadanya alasan mengapa ia tidak meminta apa pun, sedangkan yang lainnya meminta ini dan itu, dengan mengucapkan bait pertama berikut:—

Atthisena, banyak pengemis, walaupun mereka adalah orang asing,
berbondong-bondong datang kepadaku dengan permintaan mereka:
mengapa Anda tidak meminta apa pun dariku?
[353] Mendengar pertanyaan dari raja, Bodhisatta mengucapkan bait kedua berikut:—
Baik orang yang meminta maupun
orang yang menolak tidak akan merasa senang:
Itulah alasannya, jangan marah,
mengapa saya tidak meminta apa pun dari Anda.
Setelah mendengar jawabannya, raja mengucapkan bait ketiga berikut:—

Ia yang hidup dengan meminta-minta,
tidak meminta pada waktu yang tepat,
membuat orang lain tidak mendapatkan jasa kebajikan,
gagal untuk mendapatkan kehidupan.
Ia yang hidup dengan meminta-minta,
meminta pada waktu yang tepat,
membuat orang lain mendapatkan jasa kebajikan,
mendapatkan kehidupan bagi.
Orang bijak tidak marah ketika melihat
para peminta datang berbondong-bondong;
Katakanlah, wahai temanku:
tidaklah salah untuk memintanya.
[354] Demikianlah Bodhisatta, meskipun ditawarkan pilihan untuk menguasai kerajaan, tidak meminta apa pun.
Ketika keinginan raja telah demikian diungkapkan, Bodhisatta menunjukkan kepadanya cara hidup petapa dengan berkata, “Wahai paduka, permintaan ini disukai oleh manusia yang masih ingin memiliki kesenangan indriawi dan para perumah tangga, tetapi tidak oleh para petapa. Sejak penahisan mereka, para petapa harus menjalani kehidupan suci, tidak sama dengan kehidupan para perumah tangga,” dan untuk menunjukkan cara hidup petapa, ia mengucapkan bait keenam berikut:—

Orang suci tidak pernah membuat permintaan,
umat awam seharusnya mengetahui ini:
Diam adalah hal yang dilakukan oleh para peminta yang mulia:
itulah permintaan yang dibuat oleh orang suci.
[355] Raja yang mendengar kata-kata Bodhisatta itu, berkata, “Bhante, jika seorang umat yang bijak, atas kebijaksanaannya sendiri, memberikan apa yang patut diberikan kepada temannya, maka saya memberikan ini kepada Anda,” dan demikian ia mengucapkan bait ketujuh berikut:—
Brahmana, saya persembahkan padamu seribu ternak,
sapi merah ditambah dengan pemimpin kawanan ternak;
Mendengar kata-katamu yang demikian murah hati,
saya juga akan bermurah hati dalam memberi.
Ketika raja mengatakan ini, Bodhisatta menolaknya dengan berkata, “Paduka, saya menjalani kehidupan suci yang bebas dari noda: Saya tidak memerlukan ternak.”

Kemudian raja kembali menjalani kehidupannya dengan mengikuti nasihatnya, memberikan derma dan melakukan kebajikan lainnya.

Ia terlahir kembali di alam surga, sedangkan Bodhisatta, dengan tidak terputus dari meditasinya, terlahir kembali di alam brahma.
____________________

Setelah uraian-Nya selesai, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:— Setelah kebenarannya berakhir, banyak orang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, raja adalah Ānanda dan Aṭṭhisena (Atthisena) adalah saya sendiri.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com