Sariputta | Suttapitaka | MANOJA-JĀTAKA Sariputta

MANOJA-JĀTAKA

Manojajātaka (Ja 397)

“Busur dilengkungkan,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan ini ketika berdiam di Veluvana, tentang seorang bhikkhu yang berteman dengan orang jahat.

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Mahilāmukhata-Jātaka173.

Beliau berkata, “Para Bhikkhu, bukan untuk pertama kalinya ia berteman dengan seorang yang jahat,” dan kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor singa jantan yang tinggal dengan seekor singa betina, mempunyai dua ekor anak, satu jantan dan satu betina.

Nama anaknya yang jantan adalah Manoja. Ketika dewasa, Manoja kawin dengan seekor singa betina lainnya sehingga jumlah mereka semua menjadi lima.

Manoja membunuh kerbau-kerbau liar dan hewan lainnya dan membawakan daging mereka bagi orang tua, adik dan istrinya.

[322] Pada suatu hari di tempat ia biasa berburu mangsanya, ia melihat seekor serigala yang bernama Giriya, yang tidak bisa melarikan diri dan berbaring telungkup. “Ada apa, Teman?” tanyanya. “Saya ingin untuk melayanimu, Tuanku.” “Baiklah,” maka ia pun membawa serigala ke sarangnya.
Bodhisatta yang melihat serigala itu berkata, “Anakku Manoja, serigala adalah hewan yang bermoral bejat dan jahat, dan suka memberikan nasihat yang tidak baik, jangan bawa hewan yang satu ini berada di dekatmu.” Tetapi ia tidak berhasil mencegahnya.

Kemudian pada suatu hari, serigala ingin memakan daging kuda, dan ia berkata kepada Manoja, “Tuan, selain daging kuda tidak ada lagi yang belum pernah kita makan, mari kita berburu kuda.” “Tetapi di mana kuda-kuda itu berada, Teman?” “Di Benares, dekat tepi sungai.” Manoja mengikuti sarannya dan pergi dengannya ke sana.

Ketika kuda-kuda itu sedang mandi di sungai, ia menerkam seekor dari mereka, kemudian dengan meletakkannya ke atas punggungnya, ia berlari dengan cepat kembali ke sarangnya. Ayahnya yang sedang makan daging kuda itu berkata, “Anakku, kuda adalah kepunyaan para raja, mereka mempunyai banyak strategi, mereka mempunyai pemanah-pemanah jitu untuk memanah. Singa yang memakan daging kuda tidak akan berumur panjang. Oleh karenanya, janganlah berburu kuda lagi.” Anak singa itu tidak mengikuti nasihat ayahnya dan tetap berburu kuda.

Raja, yang mendengar bahwa seekor singa sedang berburu kuda, membuat sebuah kolam pemandian bagi kuda-kuda yang terletak di dalam kota. Akan tetapi, singa itu tetap datang dan berburu mereka. Raja membuatkan kandang-kandang kuda untuk mereka, dan memberikan mereka makanan serta minuman di dalamnya.

Singa itu datang dengan melompati pagar tembok dan membawa keluar kuda dari kandangnya. Kemudian raja memanggil seorang pemanah yang menembak secepat kilat dan menanyakan apakah ia mampu memanah seekor singa. Ia mengatakan bahwa ia dapat melakukannya, dan setelah membangun sebuah menara di dekat tembok tempat singa itu datang, menunggunya di sana.

Setelah menetapkan posisi serigala di suatu pekuburan di luar, singa itu datang dan menerjang masuk ke dalam kota untuk berburu kuda.” Pemanah itu berpikir, “Kecepatannya sangat hebat ketika ia datang,” dan tidak menembaknya. Tetapi ketika ia akan pergi dengan membawa seekor kuda, terhambat dengan beban yang cukup berat, pemanah itu menembaknya dengan panah yang tajam di bagian belakang. Panah itu menembus keluar dari bagian depan dan terbang di udara. [323] Singa berseru, “Saya tertembak.” Pemanah itu, setelah menembaknya, mendentingkan busurnya seperti suara guntur. Serigala yang mendengar suara ribut dari singa dan busur itu berkata kepada dirinya sendiri, “Temanku tertembak dan pasti dibunuh, tidak ada persahabatan lagi dengan yang telah mati. Sekarang saya akan pulang ke rumah tuaku di dalam hutan,” dan demikian ia mengucapkan dua bait berikut:—

Busur dilengkungkan,
tali busur berdenting dengan keras:
Manoja, raja hewan buas, temanku, telah mati dibunuh.
Karenanya saya mencari yang terbaik di dalam hutan:
Tidak ada persahabatan demikian ini;
yang lainnya akan menjadi tempat tinggalku.
Singa itu dengan cepat pulang dan melempar kuda itu di depan sarangnya, kemudian ia pun terjatuh dan mati. Sanak keluarganya keluar dan melihatnya berlumuran darah, darah mengalir keluar dari lukanya, mati karena mengikuti hewan yang jahat itu. Ayah, ibu, adik dan istrinya yang melihat keadaannya yang demikian mengucapkan empat bait kalimat berikut secara bergantian:—

Kekayaannya tidak akan berlimpah,
ia yang tergoda oleh makhluk jahat;
Lihatlah Manoja yang berbaring di sana
dikarenakan saran dari Giriya.
Tidak ada kegembiraan bagi seorang ibu
terhadap anaknya yang memiliki teman yang tidak baik:
Lihatlah Manoja yang berbaring di sana,
sekujur tubuhnya berlumuran darah.
Demikianlah yang akan dihadapi oleh semuanya,
terbaring rendah di tanah,
mereka yang tidak mengikuti nasihat baik
dari teman sejatinya dan orang bijak.
Keadaan seperti ini atau
bahkan yang lebih buruk dari ini,
akan dialami oleh ia yang berkedudukan tinggi
tetapi memercayai yang rendah:
[324] Lihat, demikian ia terjatuh rendah ke bawah
dari keadaannya yang tinggi sebelumnya
Yang terakhir, bait yang diucapkan oleh Ia Yang Tercerahkan Sempurna:—

Ia yang mengikuti orang-orang jahat akan menjadi jahat,
ia yang berteman dengan sesama temannya yang baik,
tidak akan dikhianati,
ia yang memberi hormat di depan orang mulia
dapat bangkit dengan cepat;
Carilah, oleh karena itu, orang-orang yang lebih baik darimu,
untuk membantumu.
____________________

Setelah uraian-Nya selesai, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:— Setelah kebenarannya dipaparkan, bhikkhu yang berteman dengan orang yang jahat itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, serigala itu adalah Devadatta, Manoja adalah bhikkhu yang berteman dengan orang jahat, adiknya adalah Uppalavaṇṇā, istrinya adalah Ratu Khema, ibunya adalah ibu dari Rahula, dan ayahnya adalah saya sendiri.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com