Sariputta | Suttapitaka | SŪCI-JĀTAKA Sariputta

SŪCI-JĀTAKA

Sūcijātaka (Ja 387)

“Dapat dengan cepat,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan.

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Mahāummagga-Jātaka159.

“Ini bukan kali pertamanya Sang Tathāgata adalah orang yang bijak dan ahli dalam pengupayaan,” kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di kerajaan (Kāsi) Kasi dalam sebuah keluarga tukang pandai besi, dan ketika dewasa, ia menjadi sangat ahli dalam keterampilannya itu. Orang tuanya adalah orang yang miskin.

Tidak jauh dari desa mereka, terdapat juga sebuah desa pandai besi yang terdiri dari seribu rumah. Kepala pandai besi dari desa tersebut adalah salah satu kesayangan raja, orang yang kaya dan memiliki harta berlimpah. Putrinya juga cantik luar biasa, seperti bidadari surgawi (apsara), dengan pertanda baik seorang wanita di desa itu.

Orang-orang datang dari sekitar desa itu untuk menempa pisau, kapak, bajak dan tombak, dan sering melihat putrinya itu. Ketika kembali ke desanya masing-masing, mereka selalu memuji kecantikannya [282] di tempat mereka duduk dan dimana pun mereka berada.

Bodhisatta, yang tertarik kepadanya hanya dengan mendengar cerita orang-orang itu, berpikir, “Saya akan menjadikannya sebagai istriku,” kemudian ia mengambil besi yang terbaik dan membuat sebuah jarum halus yang tajam yang dapat menusuk tembus sebuah dadu dan terapung di air, kemudian membuat sarung penutupnya dengan jenis yang sama.

Dan dengan cara yang sama, ia membuat sarung itu sebanyak tujuh buah: bagaimana ia membuatnya tidak diberitahukan karena hal yang demikian (hanya) dapat dilakukan melalui pengetahuan para Bodhisatta yang luar biasa.

Kemudian ia meletakkan jarum itu ke dalam sebuah tabung, menyimpannya dalam sebuah kotak dan pergi ke desa itu dengan menanyakan jalan menuju ke tempat tukang pandai besi itu berada, kemudian dengan berdiri di depan pintu rumahnya, ia berkata, “Siapa yang mau membeli jarum jenis ini, yang ada di tanganku?” Untuk menjelaskan jarum itu dan setelah berdiri di depan rumah kepala pandai besi tersebut, ia mengucapkan bait pertama berikut:

Dapat dengan cepat dipasang oleh benang,
kuat dan lurus,
telah dibersihkan dengan penghalus,
berujung tajam,
Jarum! Siapakah yang hendak membelinya?
Setelah ini, ia memuji jarumnya lagi dan mengucapkan bait kedua berikut:

Dapat dengan cepat dipasang oleh benang,
kuat dan lurus, dapat berputar dengan tepat,
besi dapat ditembusnya,
Jarum! Siapakah yang hendak membelinya?
[283] Pada waktu itu, putri kepala tukang pandai besi tersebut sedang mengipasi ayahnya dengan daun lontar yang sedang berbaring di tempat tidur untuk menghilangkan kepenatannya setelah makan. Ketika mendengar suara merdu Bodhisatta, seolah-olah dirinya seperti mendapatkan angin segar dan dahaganya dilepaskan oleh ribuan kendi air, putrinya berkata, “Siapa itu yang menjajakan jarum dengan suara merdu di desa pandai besi ini? ada urusan apa ia datang ke sini? Saya akan mencari tahu.” Kemudian setelah meletakkan kipas lontar itu, ia keluar dan berbicara dengannya di luar, dengan berdiri di beranda.
Tujuan kedatangan Bodhisatta: demi dirinyalah ia datang ke desa itu. Gadis itu berbicara kepadanya dengan berkata, “Anak muda, semua penghuni kerajaan datang ke desa ini untuk menempa jarum dan lain sebagainya, adalah suatu hal yang tidak bijaksana untuk datang menjual jarum di desa tukang pandai besi. Walaupun Anda memberitahukan keunggulan dari jarum itu seharian, tidak akan ada seorang pun yang membelinya darimu; jika Anda bermaksud untuk menjualnya, pergilah ke desa yang lain,” ia mengucapkan dua bait kalimat berikut:

Kail-kail kami terjual, baik mahal maupun murah,
orang-orang mengenal jarum kami dengan baik:
Kami semua adalah pandai besi di desa ini:
Jarum! siapa yang bisa menjualnya?
Kami memiliki ketenaran dalam pekerjaan dengan besi,
dalam membuat senjata, kami adalah ahlinya:
Kami semua adalah pandai besi di desa ini:
Jarum! siapa yang bisa menjualnya?
Bodhisatta yang mendengar perkataannya, berkata, “Nona, Anda mengatakan hal ini karena Anda tidak tahu dan tidak paham,” dan mengucapkan dua bait kalimat berikut:

[284] Meskipun semuanya adalah pandai besi di desa ini,
tetapi keahlian membuat jarum masih bisa dijual;
Karena para ahli kerajinan ini akan memiliki
suatu benda yang terbaik.
Nona, jika ayahmu mengetahui
jarum ini dibuat oleh diriku,
kepadaku, ia akan memberikan tanganmu
dan semua harta miliknya.
Kepala tukang pandai besi tersebut mendengar percakapan mereka dan memanggill putrinya, bertanya, “Dengan siapa Anda berbicara di sana?” “Seorang laki-laki penjual jarum, Ayah.” “Kalau begitu, persilakan ia masuk ke sini.” Ia pergi dan memanggilnya.

Bodhisatta memberi salam kepadanya dan berdiri di satu sisi. Kepala tukang pandai besi itu bertanya, “Dari desa mana Anda berasal?” “Saya berasal dari desa anu dan saya adalah putra dari tukang pandai besi anu.” “Apa tujuanmu datang ke sini?” “Untuk menjual jarum.” “Coba perlihatkan jarummu.” [285] Bodhisatta, yang ingin memberitahukan kualitas jarumnya kepada semua orang di sana, berkata, “Tidakkah lebih bagus bila sebuah benda dilihat oleh orang banyak pada waktu yang bersamaan daripada dilihat oleh orang satu per satu? “Benar, Teman.” Maka ia mengumpulkan semua pandai besi di sana dan di tengah-tengah mereka, ia berkata, “Tuan, perlihatkanlah jarum itu.” “Tuan kepala pandai besi, tolong minta pelayan untuk bawakan paron160 dan sebuah bejana perunggu yang penuh dengan air.” Permintaannya pun dilaksanakan. Bodhisatta mengeluarkan tabung jarumnya dari pembungkusnya dan memberikannya kepada mereka.

Kepala tukang pandai besi itu mengambilnya dan berkata, “Apakah ini jarumnya?” “Bukan, itu bukan jarumnya, itu adalah sarungnya.” Dengan mencoba untuk memeriksanya, kepala tukang pandai besi itu tidak bisa melihat ujung maupun pangkalnya.

Kemudian Bodhisatta mengambilnya kembali dari mereka, membuka sarungnya dengan kuku tangannya dan menunjukkannya kepada mereka, dengan berkata, “Ini adalah jarumnya, ini adalah sarungnya,” ia meletakkan jarum itu di tangan kepala pandai besi dan sarung jarum itu di kakinya. Kemudian kepala pandai besi berkata, “Ini adalah jarumnya.” Ia menjawab, “Ini juga adalah sarung jarumnya,” kemudian kembali membukanya dengan kukunya, dan demikian seterusnya sampai ia membuka enam sarung secara berturut-turut di kaki tukang pandai besi itu dan mengatakan ‘Ini adalah jarumnya,’ dan meletakkannya di tangannya. Ribuan tukang besi lainnya bertepuk tangan dengan perasaan sukacita, dan melambai-lambaikan kain.

Kemudian kepala pandai besi berkata, “Teman, seberapa kuatnya jarum ini?” “Tuan, mintalah seorang yang kuat untuk mengangkat paron ini dan letakkan bejana air itu di bawahnya, kemudian pukullah jarum itu tepat masuk ke dalam paron.” Kepala pandai besi melakukan permintaanya dan memukul jarum itu masuk ke dalam paron. Jarum itu menembus paron dan mengapung di permukaan air, tak bergerak sedikit pun ke atas atau ke bawah. Semua tukang besi yang ada di sana berkata, “Kami belum pernah mendengar sebelumnya, bahkan dari kabar angin sekali pun, kalau ada tukang pandai besi anu seperti ini,” kemudian menepuk tangan mereka kembali dan melambai-lambaikan ribuan kain.

[286] Kepala pandai besi memanggil putrinya, dan di tengah kumpulan orang banyak itu, berkata, “Wanita ini adalah pasangan yang cocok untukmu.” Ia memercikkan air kepada mereka161 dan menyerahkan putrinya kepada Bodhisatta. Dan setelahnya, ketika kepala tukang pandai besi itu meninggal, Bodhisatta menjadi kepala tukang pandai besi di desa itu.
____________________
Setelah menyampaikan uraian-Nya, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Putri dari kepala pandai besi adalah ibu dari Rahula, dan pemuda tukang besi yang pandai adalah saya sendiri.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com