Sariputta | Suttapitaka | GAJAKUMBHA-JĀTAKA Sariputta

GAJAKUMBHA-JĀTAKA

Gaja­kumbha­jātaka (Ja 345)

“Jika api melalap,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang lamban.

Dikatakan bahwa ia adalah putra keluarga terpandang dan tinggal di Savatthi. Awalnya ia mendengarkan khotbah Dhamma dengan perhatian penuh dan menjadi seorang bhikkhu. Tetapi kemudian ia menjadi malas, akibatnya praktik Dhamma, pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, dan kewajiban-kewajiban lain seorang bhikkhu tidak lagi dilakukannya, batinnya dipenuhi oleh rintangan-rintangan, dan selalu terlihat lamban dalam segala tindak-tanduknya91.

Para bhikkhu lainnya membahas kelambanannya itu di dalam balai kebenaran, dengan berkata, “Āvuso, bhikkhu anu, meskipun telah ditahbis menjadi bhikkhu dan mendapatkan ajaran yang menuntun ke arah pembebasan, menjadi orang yang lamban dan malas, serta terlihat lamban dalam segala tindak-tanduknya.” [140] Ketika Sang Guru datang dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan, dan setelah mendengar jawabannya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, para Bhikkhu, tetapi juga di masa lampau ia menjadi orang yang lamban.”

Dan setelah berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai menterinya yang sangat berharga. Raja Benares, kala itu, adalah orang yang lamban, dan Bodhisatta selalu berusaha mencari cara untuk dapat membangkitkan raja dari kelambanannya. Suatu hari, raja pergi ke tamannya ditemani oleh para menterinya, dan ketika mereka sedang berkeliling di sana, raja melihat seekor kura-kura yang lamban.

Dikatakan, makhluk lamban ini hanya berpindah sejauh satu atau dua aṅgula92 saja meskipun telah berjalan seharian.

Ketika melihatnya, raja bertanya, “Teman, apakah nama hewan ini?”

Bodhisatta menjawab, “Makhluk ini adalah kura-kura, Paduka. Ia adalah makhluk yang begitu lamban sehingga, meskipun berjalan seharian, ia hanya berpindah sejauh satu atau dua aṅgula saja.” Raja menyapanya dan berkata, “Kura-kura, gerakanmu lamban sekali. Seandainya terjadi kebakaran besar di hutan, apa yang akan kamu lakukan?” Dan berikutnya raja mengucapkan bait pertama ini:

Jika api melalap hutan,
meninggalkan jejak kehitaman,
Tuan yang bergerak dengan lamban,
bagaimana kamu bisa mendapatkan tempat yang aman?


Kura-kura mengucapkan bait kedua berikut setelah mendengar pertanyaan raja:



Terdapat banyak lubang di setiap sisi,
banyak celah di setiap pohon,
di situlah kami bisa mendapatkan tempat berlindung,
kalau tidak, kami akan berakhir.
[141] Sewaktu mendengar jawaban kura-kura, Bodhisatta mengucapkan dua bait kalimat berikut:
Orang yang bergerak cepat di saat ia seharusnya bergerak lamban,
dan bergerak lamban di saat ia seharusnya bergerak cepat,
telah menghancurkan semangat dalam dirinya sendiri,
bagaikan daun layu yang hancur berada di bawah sepatu.
Akan tetapi, orang yang bergerak tidak terlalu lamban maupun tidak terlalu cepat,
akan dapat memenuhi tujuan mereka,
bagaikan cakra pada bulan.
Raja yang mendengar perkataan Bodhisatta, mulai saat itu tidak lagi menjadi lamban ataupun malas.
____________________

Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka setelah menyelesaikan uraian ini: “Pada masa itu, bhikkhu yang lamban adalah kura-kura, dan saya sendiri adalah menteri yang bijak.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com