Sariputta | Suttapitaka | SĪLA-VĪMAṀSA-JĀTAKA Sariputta

SĪLA-VĪMAṀSA-JĀTAKA

Sīla­vī­maṃ­sa­ka­jātaka (Ja 290)

“Moralitas adalah menyenangkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana yang menguji kekuatan dari moralitas (sila).

Cerita pembukanya telah dikemukakan sebelumnya di dalam Buku I.
____________________

Ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, pendeta kerajaannya berkeinginan untuk menguji kekuatan moralitas dirinya sendiri, dan selama dua hari berturut-turut mengambil satu keping uang logam dari tempat penyimpanan harta kerajaan.

Pada hari ketiga, mereka membawanya ke hadapan raja dan menuduhnya melakukan pencurian. Di tengah perjalanan menuju istana, dia sempat melihat seorang pawang ular yang mampu membuat seekor ular menari-nari. Raja menanyakan untuk apa dia melakukan hal yang demikian.

Brahmana itu membalas, “Untuk menguji kekuatan moralitas diriku,” dan melanjutkan:

Moralitas itu menyenangkan—demikian yang terpikir—
Moralitas di seluruh dunia dianggap tinggi.
Lihatlah, ular yang mematikan ini tidak mereka bunuh,
‘Karena dia adalah yang baik,’ kata mereka.
[430] Di sini saya katakan betapa terberkahinya moralitas
dan betapa menyenangkannya di dunia ini:
Dia yang bajik (memiliki moralitas) dikatakan
melewati jalan menuju kesempurnaan.
Kepada para sanak saudagar,
dia akan bersinar di antara mereka:
dan ketika badan jasmaninya hancur terurai,
akan terlahir kembali di alam surga.
Setelah demikian melantunkan pujian terhadap moralitas dan memberikan wejangan kepada mereka, Bodhisatta kemudian menambahkan, “Paduka, sudah banyak yang diberikan kepadamu oleh keluargaku, barang-barang milik ayahku, milik ibuku, dan juga apa yang kudapatkan sendiri: tidak ada akhir untuk ini. Saya mengambil beberapa uang logam dari tempat itu untuk menguji nilai diriku sendiri. Sekarang saya tahu betapa tidak berharganya kelahiran dan keturunan ini, hubungan darah dan keluarga, dan yang paling baik adalah moralitas. Saya akan menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa; izinkanlah saya melakukan hal ini!”

Setelah memberikan banyak permohonan, raja akhirnya setuju. Dia meninggalkan keduniawian dan pergi ke Himalaya, tempat dia menjalankan kehidupan sebagai petapa, mengembangkan pencapaian meditasi dan kekutan gaib, sampai akhirnya terlahir di alam brahma.
____________________

Ketika Sang Guru telah mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, brahmana, si pendeta kerajaan, yang menguji kekuatan dari moralitas (sila) itu adalah diri-Ku sendiri.”

____________________

Catatan kaki :

273 Bandingkan No. 86, 290, 305, 330, 362.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com