Sariputta | Suttapitaka | SAṀKAPPA-JĀTAKA Sariputta

SAṀKAPPA-JĀTAKA

Saṅkap­pa­rā­gajā­taka (Ja 251)

[271] “Tidak ada pemanah,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal.
Seorang putra dari keluarga terpandang yang tinggal di Sāvatthi (Savatthi) meletakkan keyakinannya kepada ajaran (Buddha) dan kemudian menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa. Pada suatu hari, ketika berpindapata di Savatthi, secara tidak sengaja dia melihat seorang wanita yang berpenampilan cantik. Nafsu (kesenangan indriawi) muncul di dalam dirinya dan dia menjadi gelisah.
Ketika para ācariya (guru)186, upajjhāya187, dan rekan-rekannya melihatnya gelisah, mereka pun menanyakan apa sebabnya kepada dirinya. Mengetahui bahwa dia berkeinginan untuk kembali menjalani kehidupan duniawi, mereka berkata kepada satu sama lain, “Āvuso, Sang Guru mampu menghancurkan kotoran batin berupa nafsu kesenangan indriawi dan juga yang lainnya, kemudian dengan memaklumkan kebenaran, mampu mengukuhkan orang tersebut dalam tingkat kesucian Sotāpanna. Mari kita bawa orang ini ke hadapan Sang Guru.”
Kemudian mereka membawa bhikkhu tersebut ke hadapan Sang Guru. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, mengapa kalian membawa bhikkhu ini ke hadapan-Ku di luar kemauannya?” Mereka memberitahukan alasannya kepada Beliau. “Benarkah bhikkhu,” tanya Beliau, “bahwasanya Anda menyesal seperti yang mereka katakan?” Dia mengiyakannya. Sang Guru menanyakan alasannya, dan dia menceritakan apa yang telah terjadi.
Beliau kemudian berkata, “Wahai Para Bhikkhu, sebelumnya juga wanita ini telah menyebabkan munculnya nafsu dalam diri seorang makhluk suci yang kotoran batinnya sebenarnya telah ditekan dengan kekuatan jhāna (jhana). Kotoran batin itu sendiri (pernah) muncul di dalam diri seorang makhluk suci, jadi mengapa (batin) seorang makhluk biasa seperti dirimu ini tidak mampu dikotori? Bahkan seseorang yang tinggi ketenarannya pun pernah jatuh dalam ketidakhormatan, apalagi mereka yang belum suci! Apakah angin yang menggetarkan Gunung Sineru tidak akan bisa menyerakkan tumpukan daun kering? [272] Kotoran batin ini pernah menyusahkan makhluk yang memiliki pengetahuan sempurna, yang duduk di bawah pohon bodhi, dan mengapa kotoran batin ini tidak mampu menyusahkan dirimu?”
Dan atas permintaan mereka, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga brahmana yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta. Dia tumbuh dewasa dan mendapatkan pendidikan di Takkasilā, kemudian kembali ke Benares. Di sana dia menikah, dan ketika orang tuanya meninggal, dia melaksanakan upacara pemakaman. Kemudian di saat melihat harta kekayaannya, dia merenung— “Hartanya masih ada di sini, tetapi orang-orang yang mengumpulkannya sudah tidak ada di sini lagi!” Dia dirundung dengan kesedihan dan keringat mengalir keluar dari badannya.
Dia tinggal di dalam rumah itu dalam waktu yang cukup lama dan memberikan semua hartanya sebagai derma. Dia (mampu) menguasai kesenangan indriawinya, meninggalkan teman-temannya yang meratap tangis, pergi ke daerah pegunungan Himalaya, tempat dia membangun sebuah gubuk daun di satu tempat yang menyenangkan, dan bertahan hidup dengan memakan buah-buahan dan akar-akaran yang dijumpainya di dalam hutan. Tidak lama kemudian dia memperoleh kesaktian, pencapaian meditasi, dan berhibur (diri) di dalam jhana.
Kemudian terlintas suatu pemikiran di dalam benaknya. Dia akan pergi ke rumah-rumah penduduk untuk memperoleh garam dan cuka sehingga dengan demikian tubuhnya bisa menjadi kuat, dan dia akan pergi dengan berjalan kaki. “Mereka yang memberikan derma kepada seorang petapa (pengemis) yang menjaga moralitas seperti diriku ini,” pikirnya, “dan yang menyapa diriku dengan penuh hormat, akan memenuhi jumlah penghuni alam-alam surga.”
Maka dia turun dari Himalaya dan akhirnya dengan tetap berjalan kaki sampai di Benares ketika matahari terbenam. Dia mencari tempat untuk bermalam dan kemudian melihat taman milik raja. “Ini,” katanya, “adalah tempat yang cocok untuk beristirahat. Saya akan bermalam di sini.” Dia pun masuk ke dalam taman itu, duduk di bawah sebuah pohon, dan melewati malam itu dalam kebahagiaan jhana.
Keesokan harinya, ketika hari menjelang siang, setelah memenuhi kebutuhannya, merapikan rambut beranyamnya, jubah kulit kayu dan kulit antelop, dia pun mengambil mangkuknya; semua indranya terjaga, keangkuhannya terkendali, dia menjaga segala kelakuannya dengan baik, melihat ke depan tidak lebih dari jarak satu kuk188. Dengan penampilan yang berjaya demikian, yang sempurna dalam segala hal, [273] dia membuat semua mata tertuju kepadanya. Dengan pakaian itu, dia masuk ke dalam kota, dan mulai meminta-minta dari rumah ke rumah, sampai akhirnya tiba di istana raja.
Kala itu raja berada di teras, berjalan mondar-mandir. Raja melihat Bodhisatta dari sebuah jendela dan merasa senang dengan tingkah lakunya. Dia berpikir, “Jika kedamaian dan ketenangan itu ada, maka mereka dapat ditemukan di dalam diri orang ini.” Maka dia mengutus salah satu pengawalnya untuk menjemput petapa tersebut. Pengawal menghampirinya dengan memberikan salam, mengambil mangkuknya, dan berkata, “Raja ingin berjumpa denganmu, Bhante.” “Teman yang Bajik,” balas Bodhisatta, “raja tidak mengenal diriku.” “Kalau begitu, Bhante, tunggulah sebentar di sini sampai saya kembali.” Dia pun memberitahukan apa yang dikatakan petapa pengemis itu kepada raja. Kemudian raja berkata, “Kita tidak memiliki petapa di sini. Pergilah, bawa dia ke sini,” dan pada saat yang bersamaan, raja memberi isyarat dari jendela, dengan memanggilnya terlebih dahulu—“Masuklah ke sini, Bhante!”
Bodhisatta memberikan mangkuknya kepada pengawal dan naik ke atas istana. Raja menyambutnya dan memberikan tempat duduk kerajaan kepadanya, mempersembahkan bubur kepadanya, makanan utama dan makanan pendamping. Setelah petapa itu selesai makan, raja menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya, dan jawaban-jawaban yang diberikan itu membuatnya lebih senang, sehingga dengan kata-kata yang penuh hormat, dia bertanya, “Bhante, Anda tinggal di mana? Datang dari mana?”
“Saya tinggal di Himalaya, Paduka, dan saya datang dari Himalaya.” Raja bertanya kembali, “Mengapa?” “Selama musim hujan, Paduka, kami harus mencari tempat menetap (sementara).” “Kalau begitu,” kata raja, “tinggallah di sini, Bhante, di tamanku. Anda tidak akan kekurangan keempat jenis kebutuhan, dan saya akan mendapatkan jasa-jasa kebajikan yang pada akhirnya menuntun ke alam surga.”
Janji pun diucapkan; dan setelah selesai sarapan pagi, raja bersama Bodhisatta pergi ke taman. Raja meminta pengawalnya untuk membangun sebuah gubuk daun di sana. Dia juga membuat jalan setapak dan menyiapkan semua tempat untuk hidupnya selama siang dan malam. Dia membawa segala keperluan dan perlengkapan sebagai seorang petapa. Setelah mendoakan agar petapa itu dapat merasa nyaman, raja pun menyerahkan segala sesuatunya kepada penjaga taman.
Selama dua belas tahun, [274] Bodhisatta berdiam di tempat itu (menghabiskan masa vassa).
Suatu ketika terjadi pemberontakan di perbatasan. Raja ingin memimpin pasukannya sendiri untuk pergi memadamkan pemberontakan tersebut. Dia memanggil ratunya dan berkata, “Ratu, salah satu dari kita harus tetap tinggal di sini.” “Mengapa demikian, Paduka?” tanyanya. “Untuk mengurusi petapa bajik itu.” “Saya tidak akan mengabaikan dirinya,” kata ratu. “Serahkanlah padaku tugas untuk melayani orang suci ini. Pergilah, Paduka, tidak perlu khawatir.”
Maka raja pun pergi, dan ratu melayani Bodhisatta dengan penuh perhatian.
Raja telah pergi, pada suatu waktu Bodhisatta datang. Ketika merasa ingin, dia akan pergi ke istana dan makan di sana. Suatu hari, dia berada di istana lebih lama dari biasanya. Ratu telah mempersiapkan semua makanannya; dia mandi dan berhias diri, menyiapkan tempat duduk yang rendah; dengan pakaian longgar yang disampirkan di bahunya, dia berbaring sembari menunggu kedatangan Bodhisatta.
Bodhisatta memerhatikan waktu pada hari itu; dia mengambil mangkuknya dan melalui udara, dia sampai pada satu jendela yang besar. Ratu mendengar suara gemeresik dari jubah kulit kayunya itu, dan ketika bangkit dengan tergesa-gesa, pakaiannya pun terlepas. Bodhisatta membiarkan penampakan yang tidak biasa itu masuk menembus indra-indranya dan melihat ratu dengan penuh nafsu. Kemudian kotoran batin yang telah ditekan sekian lama oleh kekuatan jhananya pun bangkit kembali, bagaikan seekor ular kobra yang bangun dengan membentangkan tudungnya dari keranjang tempat dia dikurung, bagaikan sebuah pohon yang banyak airnya ditebang dengan kapak.
Ketika kotoran batinnya mendapatkan kekuatan, maka keadaan tenangnya dalam jhana pun hilang, indra-indranya pun kehilangan kendalinya, bagaikan seekor burung gagak yang patah sayapnya. Dia tidak lagi bisa duduk (tenang) seperti sebelumnya dan tidak bisa makan; meskipun ratu memintanya untuk duduk, tetapi dia juga tidak bisa duduk. Maka ratu meletakkan semua makanannya ke dalam mangkuknya; [275] tetapi pada hari itu, dia tidak mampu melakukan aktivitas seperti yang biasa dilakukannya setelah selesai makan, dia pun terbang di udara dan keluar dari jendela itu. Dia membawa makanannya, turun melewati tangga, dan kemudian pergi menuju ke taman.
Ketika berada di sana, dia tidak mampu memakan apa pun. Dia meletakkan makanannya di bawah tempat dia duduk, dan mengoceh, “Betapa cantiknya wanita! Tangan-tangan yang indah, kaki-kaki yang indah! Pinggang yang bagus, paha yang bagus!” dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, dia duduk selama tujuh hari. Semua makanannya membusuk dan dikerumuni oleh lalat-lalat hitam.
Kemudian raja pun kembali setelah berhasil meredakan pemberontakan di perbatasan. Seluruh kota dihias; raja mengadakan prosesi berkeliling, dimulai dari sebelah kanan, dan akhirnya tiba di istana. Berikutnya, raja pergi ke taman karena berkeinginan untuk bertemu dengan Bodhisatta. Dia melihat kotoran dan sampah yang ada di sekitar pertapaannya, dan berpikir bahwa Bodhisatta telah pergi, dia mendobrak pintu gubuknya dan masuk ke dalam.
Di sana petapa itu sedang berbaring. “Dia pasti lagi sakit,” pikir raja. Maka raja memerintahkan pengawalnya untuk membuang makanan busuk tersebut dan merapikan gubuk itu kembali, kemudian dia bertanya, “Ada masalah, Bhante?” “Paduka, saya terluka.” Raja berpikir, “Pasti musuh-musuhku yang telah melakukan ini. Mereka tidak mampu melukaiku jadi mereka memutuskan untuk melukai orang yang kukasihi.” Maka raja memintanya untuk berbalik dan mencari-cari lukanya, tetapi tidak ada luka yang ditemukannya. Kemudian raja bertanya kepadanya, “Di manakah lukanya, Bhante?”
“Tidak ada yang melukaiku,” balas Bodhisatta, “saya sendiri yang telah melukai batinku.” Kemudian dia bangkit, duduk di satu tempat duduk, dan mengulangi bait-bait berikut:
Tidak ada pemanah yang menarik panahnya
sampai ke telinganya untuk menyebabkan luka ini;
tidak ada anak panah berbulu di sini,
yang dicabut dari sayap merak dan
dilengketkan dengan indahnya oleh pembuat panah:—
batinku yang terluka.
Tadinya dia terbebas dari kotoran batin karena
ketetapan hatiku yang tegas, pengetahuan yang baik,
sekarang disebabkan oleh nafsu (kotoran batin),
luka ini membunuh diriku, membakar sekujur tubuhku,
bagaikan api.
[276] Saya tidak melihat adanya luka
yang mengalirkan darah keluar:
Kebodohan batinku sendirilah yang menusuk diriku ini.
Demikianlah Bodhisatta menjelaskan permasalahannya kepada raja dalam tiga bait kalimat di atas. Kemudian dia meminta kepada raja untuk pergi dari gubuknya, dan memulai kembali dari meditasi pendahulan kasiṇa, yang akhirnya mengembalikan ketenangan dirinya di dalam jhana.
Kemudian dia pergi meninggalkan gubuknya, dan dengan duduk melayang di udara, dia memberikan wejangan kepada raja. Sesudah itu, dia mengatakan bahwa dia akan pergi kembali ke daerah pegunungan Himalaya. Raja berkeinginan untuk membujuknya tetap tinggal, tetapi dia berkata, “Paduka, lihatlah kesalahan yang telah kuperbuat ketika berdiam di tempat ini! Saya tidak boleh lagi tinggal di sini.” Meskipun raja memohon kepadanya, dia bangkit dari duduknya dan terbang ke angkasa menuju Himalaya, tempat dia berdiam sampai meninggal, kemudian terlahir kembali di alam brahma.


[277] Ketika uraian ini selesai disampaikan, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Arahat, sebagian bhikkhu yang lain mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, sebagian yang lain mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi, sebagian mencapai tingkat kesucian Anāgāmi, sebagian lagi juga mencapai tingkat kesucian Arahat.—“Ānanda adalah raja, dan Aku sendiri adalah petapa pengemis.”

Catatan kaki :
186 Ada empat jenis guru: guru pabbajā, yang menahbiskan seseorang menjadi sāmaṇera; guru upasampadā, yang membacakan mosi/usul dan keputusan dalam upacara upasampadā; guru dhamma, yang mengajarkan bahasa Pali dan kitab suci; guru nissaya, yang kepadanya seseorang hidup bersandar.
187 Guru yang melantik seseorang menjadi bhikkhu, guru pemberi sila kebhikkhuan.
188 KBBI: kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati, dsb).

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com