Sariputta | Suttapitaka | DUTIYA-PALĀYI-JĀTAKA Sariputta

DUTIYA-PALĀYI-JĀTAKA

Duti­ya­palā­yi­ta­jātaka (Ja 230)

“Panji-panjiku tak terhitung,” dan seterusnya.—[219] Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang petapa pengembara yang melarikan diri.
Kala itu, dikelilingi oleh rombongan orang banyak, duduk pada tempat duduk kebenaran (dhammāsana), di permukaan berwarna merah, Sang Guru memaparkan khotbah Dhamma, seperti seekor singa yang mengaum mengeluarkan suara singa. Petapa pengembara itu, yang melihat rupa Sang Buddha seperti Brahma, wajah-Nya seperti bulan purnama yang bercahaya, kening-Nya seperti papan emas, berbalik arah dari tempat dia datang di tengah-tengah rombongan dan melarikan diri, seraya berkata, “Siapa yang mampu mengalahkan orang seperti ini?”
Orang-orang pergi mengejarnya, kemudian kembali dan memberi tahu Sang Guru. Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya petapa pengembara ini bergegas kabur ketika melihat rupa keemasan-Ku, dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.”
Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala, Bodhisatta terlahir sebagai raja di Benares, dan di Takkasila terdapat seorang Raja Gandhāra. Raja ini, yang berkeinginan untuk menguasai Benares, pergi dan mengepung kota tersebut dengan empat kelompok pengawal.
Setelah mengambil posisi di depan gerbang kota, dia melihat ke arah pasukannya dan berkata, “Siapa yang mampu mengalahkan pasukan yang hebat seperti ini?” Dan untuk menguraikan pasukannya, dia mengucapkan bait pertama berikut:—
Panji-panjiku tak terhitung jumlahnya:
mereka tidak memilikinya:
Kawanan burung (gagak) tidak mampu
menenangkan lautan yang bergejolak—
pun badainya tidak mampu menghancurkan gunung:—
Oleh karena itu, tidak ada siapa pun yang
mampu mengalahkan diriku.
[220] Kemudian Bodhisatta menunjukkan penampilannya yang berjaya, bagaikan bulan purnama yang bercahaya; dan untuk mengecamnya, berkata demikian: “Orang Dungu, berbicara tidak ada manfaatnya! Sekarang saya akan menghancurkan pasukanmu, seperti seekor gajah mabuk menghancurkan belukar!”
Dan dia mengulangi bait kedua berikut:
Orang Dungu, belum pernahkah Anda
menemukan lawan tanding?
Anda sakit panas jika ingin melukai gajah liar
seperti diriku ini!
Seperti gajah-gajah yang menghancurkan batang-batang belukar,
demikianlah juga akan kuhancurkan dirimu!
Ketika mendengarnya mengecam demikian, [221] Raja Gandhāra menoleh ke atas dan melihat keningnya yang lebar seperti papan emas. Karena merasa takut dirinya akan tertangkap, dia pun berbalik arah dan melarikan diri, kembali ke kotanya sendiri.


Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Petapa pengembara itu adalah Raja Gandhāra, dan Raja Benares adalah diri-Ku sendiri.”
Diposting oleh Thiyan Ika di 08.50

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com