Sariputta | Suttapitaka | KĀSĀVA-JĀTAKA Sariputta

KĀSĀVA-JĀTAKA

Kāsāvajātaka (Ja 221)

“Jika ada seseorang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Devadatta.
Ini adalah suatu kejadian yang terjadi di Rājagaha. Ada suatu waktu, Panglima Dhamma tinggal dengan lima ratus bhikkhu di Veḷuvana. Dan Devadatta, dengan sekelompok orang yang jahat seperti dirinya, tinggal di Gayāsīsa.
Kala itu, penduduk Rājagaha biasanya berkumpul bersama dengan tujuan memberikan derma. Seorang pedagang, yang datang ke sana untuk berdagang, membawa sebuah jubah kuning wangi yang indah sekali, bertanya jikalau dia boleh bergabung mereka, dan memberikan pakaian ini sebagai dermanya. Orang-orang kota membawa banyak sekali pemberian. Semua yang disumbangkan oleh mereka yang berkumpul bersama terdiri dari uang tunai. Hanya jubah inilah yang tersisa.
Kelompok yang datang bersama itu berkata, “Ini ada jubah wangi yang cantik tersisa. Siapa yang akan memilikinya—Thera Sāriputta atau Devadatta?” Beberapa orang memilih Sāriputta: yang lain berkata, “Thera Sāriputta akan tinggal di sini selama beberapa hari, [197] dan setelah itu akan bepergian sesuai dengan keinginannya sendiri; sedangkan Devadatta selalu tinggal di dekat kota kita; dia adalah tempat perlindungan kita di saat baik atau buruk. Devadatta-lah yang berhak memilikinya!” Mereka terpisah, dan yang memilih Devadatta adalah suara terbanyak. Jadi kepada Devadatta-lah mereka memberikannya. Devadatta meminta orang mengguntingnya menjadi potongan-potongan, menjahitnya, mewarnainya dengan warna keemasan, lalu dia memakainya.
Pada saat itu juga, tiga puluh bhikkhu datang ke Sāvatthi untuk memberi hormat kepada Sang Guru. Setelah beruluk salam, mereka menceritakan kepada Beliau semua kejadian ini, dan menambahkan, “Dan demikianlah, Bhante, Devadatta memakai tanda orang suci, yang tidak cocok buatnya.” “Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya, Devadatta memakai pakaian seorang suci, pakaian yang paling tidak sesuai, tetapi dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.”
Dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor gajah di daerah pegunungan Himalaya. Raja dari sebuah kumpulan delapan puluh ribu ekor gajah liar, dia tinggal di hutan.
Seorang laki-laki miskin yang tinggal di Benares, ketika melihat pekerja kerajinan gading di pasar gading membuat gelang dan bermacam-macam barang perhiasan gading, menanyakan mereka apakah mereka mau membeli gading gajah jika dia bisa mendapatkannya. Mereka mengiyakannya.
Maka dia membawa sebuah senjata dan memakai jubah kuning di badannya, dia menyamar menjadi seorang Pacceka-Buddha136, dengan sebuah penutup di kepalanya. Berdiri di jalan gajah-gajah itu, dia membunuh salah satu dari mereka dengan senjatanya, menjual gadingnya di Benares; dan dengan beginilah dia mencari nafkah. Setelah ini, dia mulai membunuh gajah yang berjalan paling belakang di kelompok Bodhisatta.
Dari hari ke hari, gajah-gajah menjadi makin sedikit. Kemudian mereka pergi dan menanyakan kepada Bodhisatta mengapa jumlah mereka semakin berkurang. Dia mengetahui sebabnya. “Ada orang,” pikirnya, “ yang berdiri di tempat gajah lewat, membuat dirinya kelihatan seperti seorang Pacceka-Buddha. Apakah dia yang membunuh gajah-gajah itu? Saya akan mencari tahu.” Jadi suatu hari, dia mengutus yang lainnya di depannya [198] dan dia mengikuti dari belakang. Orang tersebut melihat Bodhisatta dan menyerangnya dengan senjata. Bodhisatta berbalik dan berdiri. “Saya akan memukulnya ke tanah dan membunuhnya!” pikirnya: dan merentangkan belalainya,—ketika dia melihat jubah kuning yang dipakai orang itu—“Saya harus menghormati jubah suci itu!” katanya. Jadi menarik belalainya kembali, dia berteriak—“Oh Manusia, bukankah itu jubah, tanda kesucian, tidak cocok untukmu? Mengapa Anda memakainya?” Dan dia mengulangi bait-bait berikut ini:
Jika ada seseorang, yang masih penuh dengan keburukan,
berani memakai jubah kuning, yang tidak memiliki pengendalian diri
atau kecintaan terhadap kebenaran,
maka dia tidak layak memakai jubah tersebut.
Dia yang telah terbebas dari keburukan,
yang di mana saja kukuh dalam moralitas,
yang memiliki pengendalian diri terhadap nafsunya, dan benar,
maka dia layak memakai jubah kuning tersebut.
[199] Dengan kata-kata ini, Bodhisatta mengecam orang tersebut dan memintanya untuk tidak pernah datang ke sana lagi, kalau tidak dia akan mati untuk itu. Demikian dia mengusirnya.


Setelah uraian berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah orang yang membunuh gajah-gajah tersebut, dan pemimpin kelompok (gajah) itu adalah diri-Ku sendiri.”

Catatan kaki :
136 Seseorang yang telah memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai nibbana, tetap tidak bisa mengajarkannya pada orang.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com