Sariputta | Suttapitaka | SAÑJĪVA-JĀTAKA Sariputta

SAÑJĪVA-JĀTAKA

Sañjīvajātaka (Ja 150)

“Berteman dengan seorang penjahat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana mengenai Raja Ajātasattu yang patuh pada para guru palsu230. Karena percaya pada musuh yang dipenuhi oleh kebencian pada Sang Buddha, yakni Devadatta yang hina dan jahat, dan dalam kegilaannya, dalam harapannya memuja Devadatta, ia menghabiskan uang dalam jumlah yang besar untuk membangun sebuah wihara di Gayāsīsa. Dengan mengikuti nasihat Devadatta yang jahat, ia membunuh ayahnya, seorang raja tua yang baik dan suci, yang telah mencapai tingkat kesuucian Sotāpanna, dengan tindakannya itu ia telah menghancurkan kesempatannya sendiri untuk memperoleh kebaikan dan kesucian, dan telah membawa kesengsaraan pada dirinya sendiri.
Mendengar bahwa Devadatta telah ditelan oleh bumi, ia takut nasib yang sama akan menimpanya. Demikianlah rasa takutnya menggila, sehingga ia tidak memperhatikan kesejahteraan kerajaannya, ia tidak berbaring di tempat tidurnya, melainkan bergerak ke sana kemari dengan anggota tubuh yang gemetaran, seperti seekor gajah muda yang didera oleh rasa takut yang mengerikan.
Dalam khayalannya ia melihat bumi menganga untuknya, dan kobaran api neraka memancar ke atas; ia bisa melihat dirinya sendiri diikat pada sebuah tempat tidur dari logam panas dengan tombak besi menusuk tubuhnya. Seperti ayam jantan yang terluka, ia tidak bisa merasa damai sesaat pun. Timbul niatnya untuk bertemu dengan Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna, untuk memberi rasa damai kepadanya, dan meminta petunjuk dari Beliau; namun karena besarnya pelanggaran yang dilakukan olehnya, ia merasa segan untuk pergi ke tempat Sang Buddha.
Ketika perayaan Kattikā tiba, dan pada malam hari, Kota Rājagaha diterangi dan dihiasi seperti kota para dewa, raja, saat duduk di singgasana emasnya yang menjulang tinggi, melihat Jīvaka Komārabhacca duduk di dekatnya. Timbul sebuah ide di benaknya untuk pergi bersama Jīvaka menemui Sang Guru, namun ia tidak bisa mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak bisa pergi sendiri, melainkan menginginkan Jīvaka untuk membawanya. Tidak; jalan yang lebih baik adalah setelah memuji keindahan malam itu, [509] ia berniat untuk duduk di bawah kaki beberapa orang guru atau brahmana dan bertanya kepada para anggota istana, siapa guru yang bisa memberikan kedamaian hati. Tentu, sebagian dari mereka akan langsung memuji guru mereka masing-masing, namun Jīvaka pasti akan memuji Yang Tercerahkan Sempurna; dan raja bersama Jīvaka akan pergi menemui Sang Buddha.
Maka ia meledak dalam lima pujian terhadap malam dengan berkata, “Betapa terangnya malam tanpa awan ini! Betapa indahnya! Betapa menariknya! Betapa menggembirakannya! Betapa eloknya! Siapa guru atau brahmana yang harus kita cari yang mampu memberikan kedamaian pada diri kita?”
Satu menteri merekomendasikan Pūraṇa Kassapa, yang lain menunjuk Makkhali Gosāla, sementara yang lainnya lagi menyatakan Ajita Kesakambala, Kakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta atau Nigaṇṭha Nāthaputta. Semua nama ini didengarkan dalam kebisuan oleh raja, menunggu Perdana Menterinya, Jīvaka, berbicara. Namun Jīvaka, menduga bahwa tujuan utama raja adalah untuk membuatnya berbicara, tetap diam untuk memastikan hal tersebut.
Akhirnya raja berkata, “Jīvaka yang baik, mengapa engkau tidak berkata apa-apa?” Mendengar perkataan tersebut, Jīvaka bangkit dari tempat duduknya, merangkupkan tangan dengan penuh pemujaan terhadap Sang Buddha, berseru, “Paduka, di sana, di hutan mangga saya, tinggallah Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna, bersama seribu tiga ratus lima puluh orang bhikkhu. Ini adalah kemashyuran tertinggi yang timbul berkenaan dengan Beliau.” Dan ia melanjutkan untuk menyatakan sembilan gelar kehormatan yang mewakili-Nya, dimulai dengan ‘Yang Patut Dimuliakan 231 ’. Ketika ia telah menunjukkan lebih jauh bagaimana sejak kelahiran hingga seterusnya, kekuatan Sang Buddha telah melampaui semua pertanda dan harapan sebelumnya. Jīvaka berkata, “Kepada Beliau, Sang Bhagawan, raja seharusnya pergi untuk mendengarkan kebenaran dan mengajukan pertanyaan.”
Setelah tujuannya tercapai, raja meminta Jīvaka untuk mempersiapkan gajah dan pergi dalam kebesaran kerajaan menuju Hutan Mangga Jīvaka, dimana ia melihat dalam Kamar Harum-Nya, Sang Buddha berada di antara para bhikkhu dalam keadaan hening, seperti lautan di saat tenang sempurna. Melihat ke arah yang mampu ia lihat, mata raja hanya dapat melihat barisan bhikkhu tanpa akhir, melampaui jumlah pengikut manapun yang pernah ia lihat.
Senang melihat kelakuan para bhikkhu, raja membungkuk dengan penuh hormat, dan mengucapkan pujian. Kemudian ia memberikan penghormatan kepada Sang Guru, mengambil tempat duduk dan bertanya pada Beliau, ‘Apa hasil dari kehidupan petapa?’. Dan Sang Bhagawan menjelaskan dengan terperinci mengenai Sāmaññaphala Sutta dalam dua bagian 232 . Merasa gembira, raja merasakan kedamaian bersama Sang Buddha, saat Sutta tersebut berakhir, ia bangkit dan berpamitan dengan penuh hormat.
Segera setelah ia pergi, Sang Guru berkata kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, raja ini telah tumbang; [510] jika raja ini tidak membunuh karena hasratnya untuk menguasai kerajaan yang dijalankan dengan penuh keadilan oleh ayahnya, ia telah mencapai tingkat kesucian Arahat, pandangan yang jernih pada kebenaran, sebelum ia bangkit dari tempat duduknya. Namun atas kesalahannya memberi dukungan kepada Devadatta, ia bahkan telah kehilangan (kesempatan untuk) tingkat kesucian Sotāpanna.”
Keesokan harinya para bhikkhu berkumpul bersama membicarakan kejahatan Ajātasattu atas pembunuhan terhadap keluarganya sendiri, berkenaan dengan Devadatta yang jahat dan penuh keburukan, yang didukung olehnya, yang telah menghilangkan nibbana bagi dirinya dan Devadatta juga yang menyebabkan kehancuran sang raja.
Pada saat itu, Sang Buddha masuk ke dalam Balai Kebenaran dan menanyakan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka. Setelah diberitahu oleh mereka, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu, Ajātasattu menderita karena mendukung orang yang penuh keburukan; tetapi juga kelakuan yang sama pada kehidupan yang lampau membuat ia kehilangan nyawanya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali dalam sebuah keluarga brahmana yang kaya. Setelah tumbuh dewasa, ia belajar di Takkasilā, tempat ia menerima pendidikan yang lengkap.
Di Benares, ia merupakan seorang guru yang sangat terkenal dan mempunyai lima ratus orang brahmana muda sebagai muridnya. Di antara mereka, terdapat satu orang yang bernama Sañjiva, yang oleh Bodhisatta diajarkan satu mantra untuk membangkitkan kembali yang telah meninggal.
Walaupun anak muda ini diajari mantra tersebut, ia tidak mempelajari mantra balasannya. Bangga dengan kekuatan barunya, ia pergi bersama teman-temannya sesama murid ke dalam hutan untuk mengumpulkan kayu, dan tiba di tempat dimana terdapat seekor harimau yang telah mati.
“Lihat bagaimana saya akan menghidupkan kembali harimau ini,” katanya.
“Engkau tidak akan bisa,” kata mereka.
“Perhatikan baik-baik, kalian akan melihat saya melakukan hal itu.”
“Baiklah, jika engkau memang mampu, lakukanlah,” kata mereka dan segera memanjat ke sebatang pohon.
Kemudian Sañjiva mengucapkan mantranya dan memukul harimau tersebut dengan pecahan barang yang terbuat dari tanah. Harimau tersebut bangkit dan secepat kilat menerkam Sañjiva kemudian menggigit kerongkongannya, membunuhnya seketika itu juga. Kematian menimpa harimau tersebut di saat dan tempat itu, kematian juga menimpa Sañjiva di tempat yang sama. Maka keduanya terbaring berdampingan, mati di sana.
Para brahmana muda itu mengambil kayu mereka dan kembali ke tempat gurunya untuk menceritakan hal tersebut. “Murid-muridku yang terkasih,” katanya, “lihat di sini bagaimana karena menunjukkan dukungan kepada ia yang penuh kejahatan dan menghormati apa yang tidak seharusnya dihormati, ia membawa semua malapetaka ini muncul bagi dirinya sendiri.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini : —
[511] Berteman dengan seorang penjahat,
membantunya dalam memenuhi keperluannya;
Maka, seperti harimau yang dihidupkan kembali oleh Sañjiva ini,
ia akan langsung memangsamu dalam rasa sakitmu.
Demikianlah ajaran Bodhisatta kepada para brahmana muda, dan setelah menghabiskan hidup dengan berdana dan melakukan perbuatan baik lainnya, ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia, sesuai dengan hasil perbuatannya.

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ajātasattu adalah brahmana muda di masa itu yang menghidupkan kembali harimau yang telah mati, dan Saya adalah guru yang terkenal tersebut.”
Catatan kaki :
230 Lihat Vinaya, Cullav.vii.3.4- (diterjemahkan dalam S.B.E. xx. hal.242 dst.). Dalam Sāmaññaphala Sutta, Dīgha Nikāya memberikan kejadian dalam cerita pembuka ini dan menunjukkan raja mengakui telah membunuh ayahnya sendiri (Vol.I. hal 85).
231 Lihat Vol. I dari Digha Nikāya untuk daftar tersebut.
232 Dalam Digha Nikāya tidak ada pembagian sutta ini menjadi dua bhāṇavara atau bagian.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com