Sariputta | Suttapitaka | BANDHANAMOKKHA-JĀTAKA Sariputta

BANDHANAMOKKHA-JĀTAKA

Bandha­na­mokkha­jātaka (Ja 120)

“Ketika orang bodoh berbicara,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana wanita bernama Ciñca, yang kisahnya akan diceritakan di Buku Kedua Belas dalam Mahāpaduma-Jātaka 199 . Pada kesempatan itu Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Ciñca melempar tuduhan palsu kepada saya. Ia juga melakukan hal yang sama di masa lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam keluarga pendeta, dan setelah ayahnya meninggal, ia menduduki jabatan pendeta kerajaan.
Pada masa itu, raja berjanji untuk mengabulkan apa pun permintaan yang diminta oleh ratu padanya, dan ratu berkata, — “Permintaan yang saya minta sangat mudah; mulai saat ini engkau tidak boleh menatap wanita lain dengan tatapan penuh cinta.” Awalnya raja menolak, namun bosan pada desakan yang tidak berhenti itu, akhirnya raja menyerah. Sejak saat itu, ia tidak pernah melemparkan tatapan yang penuh cinta lagi kepada siapapun dari keenam belas ribu gadis penarinya.
Suatu waktu, kerusuhan timbul di daerah pinggiran kerajaan, dan setelah dua atau tiga kali bertempur dengan para perampok, pasukan yang berada di sana mengirim sepucuk surat kepada raja yang menyatakan bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Raja dipenuhi oleh keinginan untuk pergi sendiri ke sana dan mulai mengumpulkan rombongan besar. Ia berkata kepada istrinya, “Istriku, saya akan pergi ke garis depan, dimana perang akan berkecamuk, yang akan berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Medan perang bukanlah tempat untuk wanita, engkau harus tinggal di sini.”
“Saya tidak akan bisa (bertahan) jika engkau pergi, Tuanku,” kata ratu. Namun melihat raja tetap teguh pada keputusannya, ia menurutinya dengan permintaan berikut ini sebagai gantinya, — “Pada akhir setiap yojana, kirimkanlah seorang pembawa pesan (kurir) untuk mengetahui bagaimana perkembangan keadaanku.” Raja berjanji untuk melakukan hal tersebut. Kemudian raja berderap keluar bersama rombongannya, meninggalkan Bodhisatta di dalam kota. Raja mengirimkan seorang kurir di akhir setiap yojana untuk memberitahukan keadaannya kepada ratu dan menanyakan bagaimana keadaan ratu. Pada setiap lelaki yang datang, ratu menanyakan apa yang membawanya kembali, dan menerima jawaban bahwa ia kembali untuk mengetahui bagaimana kondisi perkembangannya. Ratu memberi isyarat pada sang kurir dan berbuat zina dengannya. Saat itu, raja telah melakukan perjalanan sejauh tiga puluh dua yojana dan telah mengirim tiga puluh dua kurir [438], dan ratu berbuat zina dengan mereka semua. Setelah mengamankan garis depan, dalam kegembiraan rakyatnya, raja memulai perjalanan kembali, mengirim rangkaian kedua dari tiga puluh dua kurir. Dan ratu melakukan hal yang sama dengan masing-masing dari mereka, sama seperti sebelumnya. Setelah menghentikan pasukan yang membawa kemenangan di dekat kota, raja mengirim sepucuk surat kepada Bodhisatta agar mempersiapkan kota untuk menyambut kedatangannya. Setelah kota dipersiapkan, Bodhisatta mempersiapkan istana untuk menyambut kedatangan raja, sampai akhirnya tiba di tempat kediaman ratu. Melihat ketampanannya, ratu memintanya untuk memuaskan hasrat ratu. Namun Bodhisatta memohon kepada ratu, dengan menyinggung tentang kehormatan raja, dan mengatakan bahwa ia telah menjauhkan diri dari segala nafsu dan tidak akan melakukan apa yang diinginkan oleh ratu. “Keenam puluh empat kurir itu tidak memikirkan tentang raja,” katanya, “apakah kamu takut melakukan permintaan saya karena mengingat raja?”
Bodhisatta berkata, “Jika saja kurir-kurir itu memiliki pemikiran yang sama seperti diriku, mereka tidak akan melakukan hal tersebut. Dan bagi saya yang mengetahui apa yang benar, saya tidak akan melakukan kesalahan.”
“Jangan mengucapkan omong kosong,” kata ratu, “jika engkau menolak, saya akan membuat kepalamu dipenggal.”
“Lakukanlah hal tersebut. Penggallah kepala saya dalam kelahiran ini maupun dalam seratus ribu kali kelahiran; saya tetap tidak akan melakukan permintaanmu.”
“Baik, kita akan lihat nanti,” kata ratu penuh ancaman. Dan setelah masuk kembali ke kamarnya, ia mencakar dirinya sendiri, menaruh minyak di lengan dan tungkainya, memakai pakaian yang kotor dan berpura-pura sakit. Kemudian ia memanggil pelayannya dan meminta mereka memberi tahu raja, jika raja menanyakan dirinya, bahwa ia sedang sakit.
Pada saat yang sama Bodhisatta pergi untuk menemui raja, yang setelah mengelilingi kota dengan prosesi yang khidmat, masuk ke dalam istana. Tidak melihat ratu, ia menanyakan keberadaan ratu, dan diberitahu bahwa ratu sedang sakit. Masuk ke dalam kamar tidur kerajaan, raja memeluk dan membelai ratu, dan menanyakan apa yang membuat ia sakit. Ratu tidak memberi jawaban, namun saat pertanyaan itu diulangi raja sebanyak tiga kali, ia menatap raja dan berkata, “Walaupun Tuanku masih hidup, wanita yang malang seperti saya ini harus mempunyai seorang majikan.”
“Apa maksud perkataanmu?”
“Pendeta kerajaan, yang Anda serahkan tugas untuk menjaga kota, datang kemari berpura-pura untuk mengurus istana; namun karena saya tidak menyerah pada keinginannya, [439] ia memukuli saya sepuas hatinya dan pergi.”
Raja menggerutu dalam kemarahannya, seperti letupan garam atau gula dalam api; dan bergegas keluar dari kamar. Memanggil para pelayannya, ia meminta mereka mengikat kedua tangan pendeta itu ke belakang punggungnya, seperti orang yang mendapat hukuman mati, dan memenggal kepalanya di tempat pelaksanaan hukuman mati. Maka mereka bergegas pergi dan mengikat Bodhisatta. Bunyi genderang terdengar untuk mengumumkan tentang hukuman mati itu.
Bodhisatta berpikir, “Pasti ratu yang jahat itu telah meracuni pikiran raja terhadap saya, dan sekarang saya harus menyelamatkan diri saya dari bencana ini.” Maka ia berkata kepada orang yang menahannya, “Bawa saya ke istana sebelum kalian membunuh saya.” “Mengapa demikian?” tanya mereka. “Karena, sebagai pelayan raja, saya telah bekerja keras untuk kepentingan raja, dan mengetahui dimana terdapat harta terpendam yang ditemukan oleh saya. Jika saya tidak dibawa ke hadapan raja, semua harta itu akan lenyap. Maka, bawa saya ke hadapannya, setelah itu lakukan kewajiban kalian.”
Karenanya, mereka membawanya ke hadapan raja, yang kemudian bertanya mengapa kemuliaan tidak menahannya melakukan kejahatan seperti itu.
“Paduka,” jawab Bodhisatta, “saya terlahir sebagai brahmana, dan tidak pernah membunuh seekor semut. Saya tidak pernah mengambil apa pun yang bukan merupakan milik saya, termasuk sehelai rumput. Saya tidak pernah memandang dengan tatapan yang penuh nafsu kepada istri orang lain. Bahkan dalam senda gurau pun, saya tidak pernah mengucapkan kebohongan; dan tidak setetes pun minuman keras yang pernah saya minum. Saya tidak bersalah, Paduka; namun wanita jahat itu lah yang menarik tangan saya dengan penuh nafsu, dan karena ditolak, mengancam saya, sebelum kembali ke kamarnya ia menceritakan sebuah rahasia kejahatannya kepada saya. Terdapat enam puluh empat kurir yang datang dengan surat darimu untuk ratu. Mintalah orang-orang ini untuk datang dan tanyakanlah apakah mereka melakukan apa yang diminta oleh ratu atau tidak.” Kemudian raja mengumpulkan keenam puluh empat orang itu dan meminta ratu menghadap. Ratu mengakui telah melakukan kesalahan dengan para kurir itu. Raja memerintahkan agar enam puluh empat orang itu dipenggal.
Pada kesempatan ini, [440] Bodhisatta berseru, “Tidak, Paduka, orang-orang itu tidak seharusnya disalahkan; mereka dipaksa oleh ratu, karena itu maafkanlah mereka. Dan bagi ratu:—ia tidak dapat disalahkan, karena nafsu keinginan wanita tidak ada puasnya, ia hanya tertindak sesuai dengan nalurinya. Karenanya, maafkanlah dirinya juga, wahai Raja.”
Atas permohonan ini, raja bermurah hati; maka Bodhisatta telah menyelamatkan nyawa ratu dan enam puluh empat orang tersebut, ia memberikan tempat tinggal bagi masing-masing dari mereka. Bodhisatta menemui raja dan berkata, “Paduka, tuduhan yang tidak beralasan dan bodoh menempatkan ia yang bijaksana dalam ikatan yang tidak pantas, namun kata-kata ia yang bijaksana membebaskan mereka yang bodoh. Demikianlah orang bodoh diikat oleh kesalahan; dan kebijaksanaan membebaskan ikatan tersebut”. Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia mengucapkan syair berikut:—
Ucapan dan perilaku orang bodoh
diikat oleh ketidakbenaran,
sedangkan kata-kata bijak yang tepat
melepaskan semua ikatan.
Setelah ia menyampaikan kebenaran kepada raja dalam syair tersebut, ia berseru, “Semua masalah ini timbul karena hidup saya yang masih merupakan seorang perumah tangga. Saya harus merubah cara hidup saya, dan sangat mengharapkan izin darimu, Paduka, untuk melepaskan keduniawian.” Dengan izin dari raja, ia meninggalkan keduniawian, meninggalkan hubungan yang penuh air mata dan kekayaannya untuk menjadi seorang petapa. Ia menetap di Pegunungan Himalaya dan memperoleh kemampuan batin luar biasa dan pencapaian (meditasi) lainnya, kemudian mendapatkan kelahiran kembali di alam brahma.

Ketika uraian tersebut telah berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ciñca adalah ratu yang jahat di masa itu, Ānanda adalah sang raja, dan Saya adalah pendeta kerajaan.”
Catatan kaki :
199 No.472. Bandingkan catatan di hal.323.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com