Sariputta | Suttapitaka | ANUSĀSIKA-JĀTAKA Sariputta

ANUSĀSIKA-JĀTAKA

Anusā­si­kajā­taka (Ja 115)

“Burung pengadu yang serakah itu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhuni yang memberikan peringatan kepada orang lain. Diberitahukan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, namun sejak menjadi, bhikkhuni ia gagal melaksanakan kewajibannya dan dipenuhi oleh keserakahan; ia selalu mencari dana di tempat pemukiman dalam kota yang tidak dikunjungi oleh bhikkhuni yang lain. Di sana, ia mendapatkan makanan pilihan. Keserakahannya membuat ia takut kalau bhikkhuni lain akan pergi ke sana juga dan mengambil makanan yang merupakan bagiannya. Ia mencari cara untuk menghentikan kepergian mereka dan menahan semua untuk dirinya sendiri. Ia memberi peringatan kepada bhikkhuni yang lain bahwa di sana adalah pemukiman yang berbahaya, diganggu oleh seekor gajah yang ganas, seekor kuda yang liar dan seekor anjing yang galak, ia meminta mereka untuk tidak pergi kesana untuk mengumpulkan dana. Karenanya, tidak ada seorang bhikkhuni yang memberi lebih dari sekilas tatapan pada tempat tersebut.
Suatu hari dalam perjalanan melalui wilayah itu untuk melakukan pindapata, saat sedang terburu-buru menuju salah satu rumah disana, seekor domba jantan menanduknya dengan keras sehingga kakinya patah. Orang-orang berdatangan, mengobati kakinya dan membawanya dengan tandu menuju ke wihara yang dihuni oleh para bhikkhuni. Semua bhikkhuni mencelanya dengan berkata ia mengalami patah kaki karena pergi ke tempat yang ia peringatkan agar tidak dikunjungi oleh mereka.
Tidak lama kemudian, para bhikkhu juga mendengar hal tersebut; suatu hari di Balai Kebenaran [429] mereka mengatakan bahwa bhikkhuni ini mengalami patah kaki dikarenakan oleh seekor domba jantan liar di tempat pemukiman dalam kota itu, bertentangan dengan apa yang ia peringatkan pada bhikkhuni yang lain; mereka mengecam perbuatannya. Masuk ke dalam balai tersebut pada saat itu, Sang Guru bertanya dan diberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. “Sama seperti sekarang, para Bhikkhu,” kata Beliau, “di kehidupan yang lampau ia juga memberi peringatan yang tidak ia patuhi sendiri; dan sama seperti saat ini, ia menderita rasa sakit.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung, dan tumbuh dewasa menjadi raja burung. Ia pergi ke Pegunungan Himalaya bersama ribuan ekor burung dalam barisannya. Selama menetap di tempat tersebut, seekor burung yang galak selalu mencari makanan di sepanjang jalan raya tempat ia menemukan padi, kacang-kacangan dan biji-bijian yang dijatuhkan oleh gerobak yang lewat. Mencari cara untuk mencegah agar burung yang lain tidak pergi ke sana, ia mengatakan seperti ini pada mereka : — “Jalan raya itu penuh bahaya. Di sepanjang jalan terdapat gajah dan kuda, gerobak yang ditarik oleh sapi liar, dan hal-hal berbahaya lainnya. Tidak mungkin untuk dapat terbang pergi ke tempat itu, jadi janganlah pergi ke sana sama sekali.” Karena peringatannya, burung yang lain memberinya julukan ‘Pemberi Peringatan’.
Suatu hari saat sedang mencari makanan di sepanjang jalan raya itu, ia mendengar suara gerobak yang mendekat dengan cepat di sepanjang jalan, dan ia berpaling untuk melihat. “Oh, masih jauh,” pikirnya, dan melanjutkan pencarian makanan. Suara angin berdesir diiringi dengan datangnya gerobak, dan sebelum ia bisa terbang pergi, roda gerobak telah menerjangnya dan berputar di jalan. Saat berkumpul, raja burung menyadari ketidakhadirannya dan memerintahkan agar pencarian segera dilakukan. Akhirnya ia ditemukan di jalan raya dalam keadaan terbelah dua dan berita itu disampaikan kepada raja. “Karena tidak mematuhi peringatannya sendiri pada burung yang lain, ia terbelah menjadi dua,” katanya dan mengucapkan syair berikut:
Burung pengadu yang serakah itu, tamak akan makanan,
roda gerobak meninggalkannya terkoyak-koyak di jalan.

[430] Setelah Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhuni yang memberikan peringatan itu adalah burung ‘Pemberi Peringatan’ di masa itu, dan Saya adalah raja para burung.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com