Sariputta | Suttapitaka | MAṀGALA-JĀTAKA Sariputta

MAṀGALA-JĀTAKA

Maṅgalajātaka (Ja 87)

“Siapapun yang meninggalkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai seorang brahmana yang ahli melihat ramalan [372] yang terlukis pada potongan kain 167 . Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, di Rajagaha tinggallah seorang brahmana yang sangat percaya pada takhayul dan berpegang pada pandangan yang salah, ia tidak percaya pada Ti Ratana. Brahmana ini sangat kaya dan makmur, hartanya berlimpah; dan seekor tikus betina telah menggerogoti satu setel bajunya yang tersimpan di dalam lemari. Suatu hari, setelah mandi, saat ia meminta agar pakaian tersebut dibawakan kepadanya, ia diberi tahu mengenai kejailan yang dilakukan tikus tersebut — “Jika pakaian ini disimpan di dalam rumah,” pikirnya, “maka akan membawa kesialan; pertanda buruk demikian pasti akan membawa kutukan. Tidak mungkin pula diberikan kepada anak maupun pelayan saya, karena siapapun yang memilikinya akan membawa kesialan bagi orang disekitarnya. Saya harus membuangnya di tanah pemakaman 168 ; namun bagaimana caranya? Saya tidak bisa memberikannya kepada para pelayan; karena mungkin mereka akan menginginkan dan menyimpannya, sehingga menyebabkan rumah saya mengalami kehancuran. Anak saya sendirilah yang harus membuangnya.” Maka ia pun memanggil putranya dan menceritakan seluruh kejadian itu, kemudian memintanya membuang pakaian tersebut dengan sebuah tongkat, tanpa menyentuhnya dengan tangan, dan melemparkannya di tanah pemakaman. Ia juga harus membersihkan dirinya sebelum kembali ke rumah. Pada waktu fajar, saat Sang Guru mengamati sekelilingnya dan melihat apakah ada orang yang dapat dibimbing menuju kebenaran, Beliau mengetahui bahwa telah tiba saatnya bagi ayah dan anak tersebut untuk mencapai pembebasan. Maka Beliau pergi dalam samaran sebagai seorang pemburu yang hendak pergi berburu, dan duduk di pintu gerbang tanah pemakaman tersebut dengan memancarkan sinar enam warna yang merupakan ciri seorang Buddha. Dalam waktu yang tidak lama, brahmana muda itu pun tiba di tempat tersebut, sesuai dengan perintah ayahnya, dengan hati-hati ia membawa pakaian itu di ujung tongkat, — seakanakan ia sedang membawa seekor ular.
“Apa yang engkau lakukan, Brahmana muda?” tanya Sang Guru.
“Gotama yang baik 169 ,” jawabnya, “setelan ini telah digerogoti oleh tikus, hal ini melambangkan kesialan, dan sangat berbahaya bagaikan direndam dalam racun yang mematikan; ayah saya merasa khawatir para pelayan akan menginginkan dan menyimpan pakaian ini, jadi beliau mengutus saya untuk membuangnya. Saya berjanji membuang pakaian tersebut dan membersihkan diri seusai melakukannya; pesan tersebutlah yang menyebabkan saya berada di sini.” “Kalau begitu, buang saja pakaian itu,” kata Sang Guru; brahmana muda tersebut melakukannya. “Pakaian ini cocok untuk saya,” kata Sang Guru, sambil memungut baju yang penuh kesialan itu di depan mata brahmana muda itu. Tanpa menghiraukan peringatan dari brahmana muda itu, yang bertubi-tubi memohon dengan sangat kepada Beliau agar tidak mengambil pakaian tersebut; Beliau segera berangkat menuju ke Weluwana.
Dengan terburu-buru brahmana muda itu berlari pulang, memberi tahu ayahnya bagaimana Guru Gotama menyatakan bahwa pakaian itu cocok untuk-Nya, mengabaikan semua peringatannya dan bersikeras membawa pakaian tersebut menuju ke Weluwana. “Pakaian tersebut,” pikir brahmana itu, “mempesona dan terkutuk. Bahkan Guru Gotama tidak dapat memakainya tanpa ditimpa bencana; hal itu akan merusak nama baik saya. Saya akan memberikan Guru tersebut pakaian lain dalam jumlah banyak dan memintanya membuang pakaian tersebut.” Maka dengan ditemani oleh anaknya, ia membawa sejumlah besar jubah dan memulai perjalanan menuju ke Weluwana. Saat tiba di hadapan Sang Guru, ia berdiri dengan penuh hormat di satu sisi dan berkata, “Benarkah, apa yang saya dengar, bahwa engkau, Gotama yang baik, [373] memungut satu setel pakaian di tanah pemakaman?” “Benar sekali, Brahmana.” “Gotama yang baik, setelan itu membawa kutukan; jika engkau memakainya, kehancuran akan menghampiri-Mu. Jika engkau membutuhkan pakaian, ambillah ini dan buang pakaian itu.” “Brahmana,” jawab Sang Guru, “melalui pernyataan terbuka saya telah meninggalkan keduniawian, dan saya puas dengan kain bekas yang tergeletak di pinggir jalan, tempat pemandian, atau yang dibuang dalam tumpukan sampah maupun di tanah pemakaman. Sedangkan engkau telah percaya pada takhayul di kehidupan yang lampau, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, atas permohonan brahmana tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Suatu ketika di Kota Rājagaha, Kerajaan Magadha, berkuasalah Raja Magadha yang adil. Pada masa itu Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang brahmana dari barat laut. Setelah dewasa, ia meninggalkan keduniawian dan menjalani hidup sebagai seorang petapa. Beliau memperoleh kesaktian/kemampuan batin luar biasa dan pencapaian, kemudian menetap di Pegunungan Himalaya. Pada suatu kesempatan, sekembalinya dari Pegunungan Himalaya, ia menetap di taman peristirahatan kerajaan. Keesokan harinya ia pergi ke kota untuk melakukan pindapata. Saat melihat petapa tersebut, raja mengundangnya ke istana dan menyediakan tempat duduk serta makanan, — memintanya untuk tinggal di taman peristirahatan kerajaan. Maka Bodhisatta menerima undangan tersebut, ia selalu menerima dana makanan dari istana dan menetap di tanah kerajaan.
Pada masa itu, di kota tersebut tinggal pula seorang brahmana yang dikenal sebagai pembaca pertanda di kain. Di dalam lemarinya terdapat satu setel pakaian yang digerogoti oleh tikus, dan segalanya berlangsung sama seperti pada cerita terdahulu. Tetapi pada saat anak brahmana itu sedang menuju ke tanah pemakaman, Bodhisatta tiba terlebih dahulu dan duduk di gerbang; memungut pakaian yang dibuang oleh brahmana muda tersebut, dan kembali ke taman peristirahatan. Ketika brahmana muda itu menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, brahmana tua itu berseru, “Ini akan menjadi akhir hidup dari petapa tersebut.” Kemudian ia memohon Bodhisatta untuk membuang setelan itu, karena tidak ia akan binasa. Namun petapa tersebut menjawab, “Kain bekas yang dibuang di tanah pemakaman sudah cukup bagus untuk kami. Kami tidak mempercayai takhayul mengenai keberuntungan, hal ini tidak disetujui oleh para Buddha, Pacceka Buddha, maupun Bodhisatta; karenanya, mereka yang bijaksana tidak akan percaya pada keberuntungan.” Setelah mendengarkan Dhamma yang diuraikan secara terperinci, brahmana tersebut meninggalkan kesalahannya dan berlindung pada Bodhisatta. Dan Bodhisatta, yang mempertahankan pencapaian jhananya secara terus menerus, terlahir kembali di alam brahma [374].

Setelah menceritakan kisah ini, Sang Guru sebagai seorang Buddha, mengajarkan Dhamma kepada brahmana tersebut dengan syair berikut ini: —
Siapapun yang meninggalkan pertanda, mimpi dan gelagat,
Ia, akan terbebaskan dari kesalahan karena takhayul,
akan menaklukkan perbuatan jahat
dan kemelekatan hingga akhir masa.
Ketika Sang Guru telah membabarkan ajaran-Nya kepada brahmana tersebut dalam bentuk syair ini, Beliau melanjutkannya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia, pada akhir khotbah brahmana tersebut, bersama putranya, mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. Sang Guru mempertautkan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ayah dan anak pada kelahiran ini juga merupakan ayah dan anak di masa itu, dan Saya sendiri adalah petapa tersebut.”
Catatan kaki :
167 Bandingkan Tevijja Sutta yang diterjemahkan oleh Rhys Davids dalam “Buddhist Suttas” hal.197.
168 Sebuah āmaka-susāna adalah lapangan terbuka atau hutan dimana mayat-mayat dibiarkan untuk dimakan oleh hewan buas, dengan tujuan agar bumi tidak tercemar. Bandingkan dengan ‘Towers of Silence’ Parsee.
169 Dalam Bahasa Pali bho Gotama, adalah suatu bentuk sapaan yang akrab. Brahmana selalu menunjukkan kelancangan dengan memanggil bho pada Buddha.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com