Pingiya

Piṅgiya­māṇava­pucchā (Snp 5.17)

Kemudian brahmana Pingiya berbicara:
‘Saya sudah tua dan melapuk. Tubuhku lemah dan kulitku pucat. Saya hampir tidak dapat melihat dan pendengaran saya sudah payah. Jangan biarkan saya mati dalam keadaan masih bingung. Ajarkanlah pada saya Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya sehingga saya tahu bagaimana meninggalkan kelahiran dan ketuaan.’
‘Lihatlah,’ jawab Sang Buddha, ‘lihatlah betapa banyaknya orang yang tersiksa oleh penderitaan. Lihatlah betapa cerobohnya mereka, dan betapa menderitanya mereka karena tubuh dan bentuk. Jika engkau tidak ingin terus menerus terlahir, Pingiya, engkau harus melepaskan tubuh dan bentuk.’
‘Di kesepuluh arah,’ kata Pingiya, ‘di atas, di bawah, dan di setiap sudut penjuru, tidak ada satu pun yang tidak Engkau dengar, lihat, ketahui, atau pahami. Ajarilah saya tentang Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya, sehingga saya mengetahui bagaimana saya dapat meninggalkan kelahiran dan usia tua.
‘Dapatkah kau lihat,’ jawab Sang Buddha, bagaimanakah orang-orang dikuasai oleh nafsu? Dapatkah kau lihat bagaimana mereka disakiti dan didera oleh ketuaan? Jika engkau tidak ingin terus-menerus lahir, engkau harus melepaskan nafsu keinginan.’

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com