Nanda

Nanda­māṇava­pucchā (Snp 5.8)

3.1 Kamma Lampau

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu seorang bhikkhu sedang duduk bermeditasi tidak jauh dari Sang Bhagava, dengan tubuh yang tetap tegak, waspada, dan penuh pemahaman, menahan dan mengalami tanpa keluhan perasaan-perasaan yang menyakitkan, keras, tajam dan berat, akibat masaknya kamma lampau.

Sang Bhagava melihat, bahwa bhikkhu itu duduk bermeditasi tidak jauh ….. menahan dan mengalami tanpa keluhan perasaan-perasaan yang menyakitkan, keras, tajam dan berat, akibat masaknya kamma lampau.

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Seorang bhikkhu yang sudah meninggalkan semua kamma,
Membuang kekotoran perbuatan perbuatan lampau,
Tidak rindu, tidak goyah, tenang,
Tidak mempunyai kebutuhan untuk membicarakannya kepada
orang-orang. [1]

3.2 Nanda

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Yang Ariya Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, [2] putra bibi (dari pihak ibu) yang membesarkannya, memberitahukan sejumlah bhikkhu demikian: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci, sahabat-sahabat. Saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.” [3]

Kemudian seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Ariya Nanda, Bhante, saudara tiri Sang Bhagava, dari bibi yang membesarkan Nya, memberitahu sejumlah bhikkhu demikian : “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….. saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

Kemudian Sang Bhagava berbicara kepada seorang bhikkhu: O, bhikkhu, atas namaku beritahukan bhikkhu Nanda, “Guru memanggilmu, sahabat Nanda.”

“Baiklah, Bhante,” jawab bhikkhu itu. Dia mendekati Yang Ariya Nanda dan berkata, “Guru memanggilmu, sahabat Nanda.”

“Baiklah, sahabat,” Yang Ariya Nanda menjawab, dan mendatangi Sang Bhagava, dia bersujud dan duduk di satu sisi. Sang Bhagava kemudian berkata kepadanya: “Apakah benar Nanda, bahwa kamu memberitahu sejumlah bhikkhu demikian: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….. saya akan kembali ke kehidupan rendah ?”

“Ya, Bhante.”

“Tetapi mengapa, Nanda, kamu tidak puas dengan menjalani kehidupan suci?”

“Ketika berangkat dari rumah, Bhante, seorang gadis Sakya yang tercantik di negeri ini, dengan rambutnya setengah tersisir, memandang saya dan berkata “Kembalilah segera, Tuan.” [4] Ketika mengingat kembali hal itu, Bhante, saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….., saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda, dan persis seperti seorang laki-laki kuat yang menjulurkan tangannya yang lentur atau melenturkan tangannya yang terjulur, demikianlah mereka lenyap dari hutan Jeta dan muncul di antara para dewa di surga Tavatimsa. Pada saat itu, kira-kira 500 bidadari berkaki merah muda datang untuk melayani Sakka, penguasa para dewa. Dan Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Nanda, “Apakah kamu melihat 500 bidadari yang berkaki merah muda itu?”

“Ya, Bhante.”

“Apa pendapatmu, Nanda, siapakah yang lebih cantik, lebih indah untuk dipandang, dan lebih menggiurkan – gadis Sakya yang tercantik di seluruh negeri atau 500 bidadari yang berkaki merah muda ini ?”

“Bhante, dibanding dengan 500 bidadari yang berkaki merah muda ini, gadis Sakya, yang tercantik di seluruh negeri itu, seperti seekor monyet betina buntung [5] yang hidung dan telinganya dipotong. Dia tidak masuk hitungan; dia tidak cukup berharga dibandingkan dengan para bidadari itu; sama sekali tidak dapat dibandingkan. Lima ratus bidadari ini jauh lebih cantik, jauh lebih indah untuk dipandang, dan jauh lebih menggiurkan.”

“Bergembiralah, Nanda, bergembiralah Nanda! Saya jamin kamu akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda.”

“Bhante, jika Sang Bhagava menjamin bahwa saya akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda ini, saya akan puas menjalani kehidupan suci dibawah bimbingan Sang Bhagava.”

Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda ….. dan dengan demikian mereka lenyap dari antara para dewa di surga Tavatimsa dan muncul di hutan Jeta.

Para bhikkhu mendengar: “Dikatakan bahwa Yang Ariya Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuhnya, menjalani kehidupan suci demi para bidadari. Dikatakan bahwa Sang Bhagava telah menjamin bahwa dia akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda.”

Kemudian sahabat-sahabat bhikkhu dari Yang Ariya Nanda, berkeliling dengan menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”, dengan mengatakan: “Yang Ariya Nanda adalah orang jaminan! Yang Ariya Nanda adalah orang rendah! Dia menjalani hidup suci demi para bidadari! Dikatakan bahwa Sang Bhagava menjamin dia akan mendapat 500 bidadari berkaki merah muda!”

Maka Yang Ariya Nanda merasa terhina, malu, dan sedih karena sahabat-sahabatnya menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”. Dengan hidup menyendiri, menyepi, rajin,bersemangat dan penuh tekad, dia segera menyadari, bahkan di sini dan saat ini juga melalui pengetahuan langsungnya sendiri, tujuan kehidupan suci yang tiada bandingnya itu dimana putra keluarga baik-baik sudah pada tempatnya pergi dari keadaan berumah ke keadaan tidak berumah, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya. Dan dia tahu: “Selesailah sudah kelahiran, telah dijalani kehidupan suci, telah dilakukan apa yang harus dilakukan, tidak akan ada keadaan seperti ini lagi.” Dan Yang Ariya Nanda menjadi salah seorang Arahat.

Kemudian, setelah malam semakin larut, seorang dewata yang tampan sekali menyinari seluruh hutan Jeta, mendekati Sang Bhagava, bersujud dan berdiri di satu sisi. Sementara berdiri di sana, Sang Dewata berkata kepada Sang Bhagava: “Yang Ariya Nanda, Bhante, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuh Nya, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”. Dalam batin Sang Bhagava pun muncul pengertian: “Nanda, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”.

Ketika malam itu telah berakhir, Yang Ariya Nanda mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, mengenai jaminan Sang Bhagava bahwa saya akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda tersebut, saya membebaskan Sang Bhagava dari janji itu.”

“Tapi, Nanda, dengan memahami jalan pikiranmu melalui pikiranku, pada saat itu saya tahu: ‘Nanda telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Juga seorang dewata memberitahu saya: ‘Yang Ariya Nanda, Bhante, telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Nanda, ketika batinmu telah terbebas dari noda-noda tanpa kemelekatan, dengan demikian saya bebas dari janji itu.”

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Bhikkhu yang sudah melewati lumpur,
Menghancurkan duri nafsu indria,
Dan mencapai pemusnahan ketidaktahuan,
Tak lagi terganggu oleh kesenangan dan rasa sakit.

3.3 Yasoja

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu kira-kira 500 bhikkhu yang diketuai oleh Yasoja tiba di Savatthi untuk menemui Sang Bhagava. Ketika para bhikkhu pendatang ini sedang bertegur sapa dengan para bhikkhu yang berada di sana, tempat bermalam sedang diatur dan mangkuk serta jubah disimpan, terdengarlah suara yang keras, kegaduhan yang hingar bingar. Maka Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Ananda: “Ananda, apakah suara keras itu, kegaduhan yang hingar bingar itu ? Kedengarannya seperti para nelayan yang mendarat dengan hasil tangkapan ikan mereka.”

“Kira-kira 500 bhikkhu yang diketuai oleh Yasoja, Bhante, telah tiba di Savatthi untuk menemui Sang Bhagava. Dan ketika para bhikkhu pendatang ini bertegur sapa ….. terdengarlah suara keras, kegaduhan yang hingar bingar.”

“Kalau demikian, Ananda, atas namaku beritahu para bhikkhu itu: ‘Guru memanggil semua bhikkhu'”.

“Baik, Bhante,” Yang Ariya Ananda menjawab, dan mendatangi para bhikkhu dia berkata, “Guru memanggil semua bhikkhu.”

“Baiklah, sahabat”, para bhikkhu itu menjawab Yang Ariya Ananda, dan mendekati Sang Bhagava, mereka bersujud dan duduk di satu sisi. Sang Bhagava kemudian berkata kepada para bhikkhu tersebut: “Wahai, bhikkhu, mengapa ada suara yang keras, kegaduhan yang hingar bingar, yang kedengarannya seperti para nelayan yang mendarat dengan hasil tangkapan ikan mereka ?”

Yang Ariya Yasoja menjawab: “Lima ratus bhikkhu ini, Bhante, tiba di Savatthi untuk menemui Sang Bhagava. Ketika 500 bhikkhu ini bertegur sapa ….. terdengarlah suara yang keras, kegaduhan yang hingar bingar.”

“Pergilah bhikkhu. Saya membubarkan kalian. Kalian seharusnya tidak berada di dekat saya.”

“Baiklah, Bhante,” para bhikkhu itu menjawab Sang Bhagava. Kemudian, mereka bangkit dari tempat duduk mereka, bersujud di hadapan Sang Bhagava, sambil tetap menjaga agar sisi kanan mereka menghadap Sang Bhagava. Sesudah merapikan tempat bermalam mereka, serta membawa mangkuk dan pakaian mereka, mereka pergi menuju ke wilayah Vajji. Berjalan pelahan-lahan antara para penduduk Vajji, mereka mendekati sungai Vaggumuda. Dan di sisi sungai Vaggumuda, mereka mendirikan gubug-gubug dari daun dan memulai vassa. [6]

Kemudian Yang Ariya Yasoja berkata kepada para bhikkhu yang mulai melaksanakan masa vassa: “Sahabat, Sang Bhagava menolak kita karena kasih sayang, demi kebaikan kita, demi keuntungan kita, karena kasih sayangnya. Marilah, sahabat, kita patuhi agar Sang Bhagava senang dengan cara hidup kita.”

“Baiklah, sahabat,” jawab para bhikkhu itu. Dan dengan hidup menyendiri, rajin, bersemangat dan penuh tekad, para bhikkhu itu, dalam masa vassa itu juga, semuanya telah mendapatkan ketiga pengetahuan. [7]

Kemudian Sang Bhagava, sesudah berada di Savatthi selama waktu yang Beliau inginkan, berangkat menuju Vesali. Dengan berjalan secara pelahan, Sang Bhagava tiba di Vesali dan berada di sana, dekat Vesali, di Hutan Besar di Aula Rumah yang atapnya berjendela. Kemudian Sang Bhagava, karena memahami keadaan batin para bhikkhu di dekat sungai Vaggumuda dengan pengertiannya dan sesudah mempertimbangkan hal itu, berkata kepada Yang Ariya Ananda: “Arah ini, Ananda, tampaklah seperti sudah menjadi terang. Arah ini, Ananda, bagiku kelihatannya seolah-olah telah menjadi cemerlang. Baik bagi saya untuk pergi dan mempertimbangkan arah dimana para bhikkhu tinggal di dekat sungai Vaggumuda. Ananda, kamu harus mengirim seorang kurir kepada para bhikkhu di dekat sungai Vaggumuda dan katakan: “Guru memanggil para bhikkhu; Guru berharap untuk bertemu dengan para bhikkhu.”

“Baiklah, Bhante,”Yang Ariya Ananda menjawab Sang Bhagava. Mendekati salah seorang bhikkhu, Ananda berkata kepadanya: ‘Sahabat, pergilah kepada para bhikkhu di dekat sungai Vaggumuda dan beritahu mereka, “Guru memanggil para bhante; Guru berharap untuk bertemu dengan para bhante.”

“Baiklah, sahabat,” bhikkhu itu menjawab Yang Ariya Ananda. Kemudian, seperti seorang kuat dapat menjulurkan tangannya yang lentur atau melenturkan tangannya yang terjulur, begitu saja dia lenyap dari Aula Rumah yang atapnya berjendela di Hutan Besar dan muncul di hadapan para bhikkhu di tepi sungai Vaggumuda. Dia berkata kepada mereka: “Guru memanggil para bhante; guru berharap untuk bertemu dengan para bhante.”

“Baiklah, sahabat,” para bhikkhu itu menjawab. Kemudian sesudah mengatur tempat bermalam mereka dan membawa mangkuk serta jubahnya, seperti seorang kuat yang menjulurkan tangannya yang lentur … dengan demikian mereka lenyap dari tepi sungai Vaggumuda dan muncul di hadapan Sang Bhagava di Hutan Besar di Aula Rumah yang atapnya berjendela. Pada saat itu Sang Bhagava sedang duduk dalam konsentrasi tenang. [8] Kemudian para bhikkhu itu berpikir: “Di dalam tingkat yang bagaimanakah sekarang Sang Bhagava berada?”

Kemudian para bhikkhu itu berpikir, “Sang Bhagava berada dalam keadaan yang tidak tergoyahkan”, dan mereka juga duduk dalam konsentrasi yang tak tergoyahkan.

Kemudian ketika malam sudah larut dan malam jaga pertama sudah berakhir, Yang Ariya Ananda bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya menutupi satu bahu, mengangkat tangannya yang terlipat dan berkata kepada Sang Bhagava: “Malam telah larut, Bhante, saat jaga pertama telah berakhir dan para bhikkhu yang datang telah lama duduk. Bhante, sudilah Sang Bhagava menyapa para bhikkhu yang datang.”

Ketika ini telah diucapkan, Sang Bhagava tetap diam. Ketika malam lebih larut lagi dan saat jaga pertengahan telah berakhir, untuk kedua kalinya Yang Ariya Ananda bangkit dari tempat duduknya …. dan berkata kepada Sang Bhagava: “Malam telah larut, Bhante, saat jaga pertengahan telah berakhir dan para bhikkhu yang datang telah lama duduk. Bhante, sudilah Sang Bhagava menyapa para bhikkhu yang datang.”

Untuk kedua kalinya Sang Bhagava tetap diam. Ketika malam telah (lebih) larut lagi dan masa jaga terakhir telah berakhir, ketika fajar akan menyingsing dan malam mendekati akhir, ketiga kalinya Yang Ariya Ananda bangkit dari tempat duduknya ….. dan berkata kepada Sang Bhagava: “Malam telah sangat larut, Bhante, masa jaga terakhir telah usai, fajar akan menyingsing dan malam mendekati akhir. Para bhikkhu telah lama duduk disini. Bhante, sudilah Sang Bhagava menyapa para bhikkhu yang datang.”

Sang Bhagava kemudian muncul dari konsentrasinya dan berkata kepada Yang Ariya Ananda: “Seandainya kamu tahu, Ananda, kamu tidak akan berbicara sedemikian rupa. Lima ratus bhikkhu ini dan saya, Ananda, telah duduk dalam konsentrasi yang tidak tergoyahkan.”

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Siapa yang telah menguasai duri nafsu indria,
Caci maki, hukuman, keterbelengguan,
Bhikkhu itu berdiri kokoh seperti gunung,
Tidak bernafsu, tidak terganggu oleh kesenangan maupun
rasa sakit.

3.4 Sariputta

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Yang Ariya Sariputta sedang duduk bersila tidak jauh dari Sang Bhagava, menjaga tubuhnya tetap tegak, setelah sebelumnya mengokohkan kewaspadaan.

Sang Bhagava melihat Yang Ariya Sariputta duduk bersila tidak jauh, menjaga tubuhnya tetap tegak, setelah sebelumnya mengokohkan kewaspadaan.

Kemudian ketika menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Persis seperti gunung yang terbuat dari batu yang kokoh,
Berdiri kokoh dan tak tergoyahkan.
Demikianlah, ketika ketidaktahuan telah dimusnahkan,
Seorang bhikkhu, seperti gunung tidak tergoyahkan.

3.5. Mahamoggallana

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, dekat Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Yang Ariya Mahamoggallana duduk bersila tidak jauh dari Sang Bhagava, tubuhnya tegak, mengendalikan kewaspadaan terhadap tubuhnya yang telah terbentuk dengan baik.

Sang Bhagava melihat Yang Ariya Mahamoggallana duduk bersila tidak jauh darinya, tubuhnya tegak, mengendalikan kewaspadaan terhadap tubuhnya yang telah terbentuk dengan baik.

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Dengan kesadaran terhadap badan jasmani yang ada,
Terkendali terhadap enam dasar indria,
Seorang bhikkhu yang selalu terkonsentrasi,
Dapat mengetahui Nibbana untuk dirinya sendiri.

3.6. Pilindavaccha

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada dekat Rajagaha, di hutan bambu, di Tempat Pemberian Makan Tupai. Pada saat itu bhikkhu Pilindavaccha berkeliling menyebut para bhikkhu adalah kaum paria (orang buangan). Sejumlah bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan memberitahukan Nya: “Bhante, bhikkhu Pilindavaccha kemana-mana menyebut para bhikkhu adalah orang paria.”

Kemudian Sang Bhagava menyapa seorang bhikkhu dan berkata, “O, bhikkhu, atas namaku beritahulah bhikkhu Pilindavaccha, ‘Guru memanggilmu, sahabat Pilindavaccha.'”

“Baiklah, sahabat,” bhikkhu Pilindavaccha menjawab, dan mendekati Sang Bhagava, dia bersujud dan duduk di satu sisi. Sang Bhagava kemudian berkata kepada bhikkhu Pilindavaccha: “Apakah benar, Vaccha, bahwa kamu kemana-mana menyebut para bhikkhu adalah orang paria ?”

“Ya, Bhante.”

Kemudian Sang Bhagava, setelah melihat kehidupan masa lalu Pilindavaccha, menyapa para bhikkhu: “Jangan jengkel, O bhikkhu, dengan Pilindavaccha. Bukanlah kesalahan Pilindavaccha bila dia kemana-mana menyebut para bhikkhu adalah orang paria. Selama 500 kehidupan yang lampau tanpa putus, bhikkhu Vaccha dilahirkan dalam kasta Brahmana dan dengan demikian sudah lama sekali ia terbiasa menyebut orang-orang lain orang paria. Karena inilah maka Vaccha kemana-mana menyebut para bhikkhu adalah orang paria.” [9]

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Dalam diri orang yang tidak mempunyai kelicikan maupun
kesombongan,
Yang tidak mempunyai keserakahan, tidak mementingkan diri sendiri,
tidak bernafsu,
Yang sudah membuang kemarahan dan yang kejahatannya sudah padam,
Dia seorang Brahmana, dia seorang pertapa, dia seorang bhikkhu.

3.7. Kassapa

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada dekat Rajagaha, di Hutan Bambu, di Tempat Pemberian Makan Tupai. Pada saat itu Yang Ariya Mahakassapa sedang berada di gua Pipphali, duduk bersila selama tujuh hari, Sesudah mencapai (keadaan) konsentrasi tertentu. Kemudian pada akhir tujuh hari itu Yang Ariya Mahakassapa keluar dari konsentrasi itu. Setelah itu Yang Ariya Mahakassapa berpikir: “Bagaimana jika saya masuk ke Rajagaha untuk mengumpulkan makanan?” [10]

Pada saat itu 500 dewata sedang sibuk mempersiapkan pengumpulan makanan untuk Yang Ariya Mahakassapa, tetapi sesudah beliau menolak tawaran ke 500 dewata itu, Yang Ariya Mahakassapa berpakaian sebelum siang, membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Rajagaha untuk mengumpulkan makanan.

Pada saat itu Sakka penguasa para dewa, berkeinginan untuk memberi dana makan kepada Yang Ariya Mahakassapa. Dia mengubah penampilannya menjadi seorang pemintal yang sedang memintal di alat pemintal, sementara Suja putri-asura mengatur pintalan. Yang Ariya Mahakassapa, setelah berjalan untuk mengumpulkan dana makanan di Rajagaha dalam suatu perjalanan yang tak terganggu [11], sampai di tempat tinggal Sakka penguasa para dewa. Ketika melihat Yang Ariya Mahakassapa datang dari jauh, Sakka penguasa para dewa keluar dari rumahnya dan pergi menjumpai beliau. Diambilnya mangkuk dari tangan Yang Ariya Mahakassapa dan dibawanya masuk ke dalam rumah, diambilnya nasi dari panci, diisinya mangkuk itu dan diberikannya kepada Yang Ariya Mahakassapa. Dan makanan ini mencakup berbagai macam kare, berbagai macam saos, kare dengan berbagai macam rasa dan aroma (yang lezat).

Kemudian Yang Ariya Mahakassapa berpikir: “Siapakah mahluk yang mempunyai kekuatan dan kemampuan luar biasa seperti ini?”

Kemudian Yang Ariya Mahakassapa berpikir : “Bukankah ini Sakka penguasa para dewa ?” Ketika menyadari itu dia berkata: “Ini adalah perbuatanmu, Kosiya [12]; Jangan lakukan hal seperti ini lagi. ”

“Kami juga butuh kebaikan, Yang Ariya Kassapa. Kami juga harus berbuat kebaikan.”

Kemudian Sakka penguasa para dewa, sesudah bersujud di hadapan Yang Ariya Mahakassapa, sambil tetap mengarahkan sebelah kanan tubuhnya pada beliau, naik ke langit. Sementara melayang di langit, tiga kali dia mengucapkan kata-kata inspirasi ini: “Ah, pemberian makanan yang terbaik! Pada Kassapa lah makanan sepantasnya diberikan!”

Sang Bhagava, dengan pendengarannya yang sempurna dan telah dimurnikan serta melebihi pendengaran manusia, mendengar Sakka penguasa para dewa melayang di langit sambil 3 kali mengucapkan kata-kata inspirasi itu.

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Para dewa mencintai bhikkhu
Yang mengumpulkan makanannya dengan berpindapata,
Yang menopang dirinya sendiri dan tidak menyimpan apapun,
Yang tenang dan selalu waspada.
Dewa menyayangi yang semacam itu.

3.8. Pengumpul Sedekah

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang tinggal di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu setelah makan, ketika kembali dari mengumpulkan dana makan, sejumlah bhikkhu telah berkumpul di bangsal pohon-kareri ketika topik pembicaraan ini muncul: “Bhikkhu yang berjalan mendapatkan dana makanan, sahabat-sahabat, sementara berjalan, kadang-kadang melihat bentuk yang menyenangkan lewat mata, kadang-kadang mendengar suara yang menyenangkan lewat telinga, kadang-kadang membau bau-bauan yang menyenangkan lewat hidung, kadang-kadang merasakan cita rasa yang menyenangkan lewat lidah, kadang-kadang menyentuh obyek-obyek nyata yang menyenangkan lewat tubuhnya. Seorang bhikkhu yang mengumpulkan dana makanan, sahabat-sahabat, ketika berjalan, dia dihormati, dipuja, dihargai, dimuliakan, dan disembah. Sahabat-sahabat, marilah kita semua menjadi pengumpul dana makanan dan kita juga kadang-kadang akan melihat bentuk yang menyenangkan lewat mata ….. menyentuh benda nyata yang menyenangkan lewat tubuh. Dan kita juga akan dihormati, dipuja, dihargai, dimuliakan, dan disembah ketika berjalan untuk mendapatkan dana makanan.” Dan percakapan para bhikkhu itu terus berlangsung tanpa akhir.

Kemudian Sang Bhagava, setelah selesai dari meditasi sore hari, pergi ke bangsal pohon kareri dan duduk di tempat yang disediakan untuk beliau. Sementara duduk disana, Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu: “Apa yang baru saja kalian percakapkan, bhikkhu, sementara berkumpul di sini? Apakah pokok pembahasan yang kalian biarkan tidak selesai?”

“Setelah makan, Bhante, ketika kembali dari mengumpulkan makanan, kita berkumpul di sini di bangsal pohon-kareri ketika pokok percakapan ini muncul: “Seorang bhikkhu yang mengumpulkan dana makanan, teman-teman, sementara berjalan untuk mengumpulkan dana makanan, dari waktu ke waktu akan melihat bentuk yang menyenangkan lewat mata ….. menyentuh benda-benda nyata yang menyenangkan lewat tubuh. Dan kita juga akan dihormati …. ketika kita berjalan untuk mengumpulkan dana makanan.” Hal inilah, Bhante, yang merupakan pokok pembahasan kami yang dibiarkan tidak selesai ketika Bhante datang.”

“O, bhikkhu, adalah tidak benar bagi kalian, anak keluarga baik-baik yang telah meninggalkan keduniawian dengan penuh keyakinan, dari keadaan berumah menjadi tidak berumah, untuk membicarakan hal semacam ini. Jika kalian berkumpul bersama, bhikkhu, kalian seharusnya melakukan salah satu dari dua hal ini, yaitu: bercakap-cakap mengenai Dhamma atau mempertahankan kesunyian yang agung.” [13]

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Para dewa menyayangi bhikkhu
Yang mengumpulkan dana makanannya dengan berkeliling,
Menopang dirinya sendiri dan tidak menyimpan apapun,
Tetapi tidak demikian jika dia berniat mendapat pujian dan kemashuran.

3.9. Keahlian

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu ….. sejumlah bhikkhu berkumpul di bangsal pohon-kareri ketika pokok pembahasan ini muncul. “Siapakah, teman-teman, yang tahu satu keahlian? Siapakah yang terlatih dan dalam keahlian apa? Keahlian mana yang utama?”; Dalam hal ini beberapa bhikkhu berkata, “Keahlian naik gajah adalah yang utama”; beberapa mengatakan, “Keahlian berkuda adalah yang utama”; beberapa berkata, “Keahlian berkereta ….. Memanah ….. Bermain pedang, …..Berkomunikasi lewat gerak [14] ….. Memperhitungkan angka ….. Seni menulis ….. Seni puisi ….. Seni berdebat [15] ….. Ilmu politik [16] adalah keahlian utama”. Dan percakapan para bhikkhu ini terus berlangsung tanpa mencapai akhir.

Pada saat itu Sang Bhagava, yang selesai meditasi sore hari, pergi ke bangsal pohon-kareri …..”Tidaklah benar, bhikkhu, bahwa kalian membicarakan topik semacam itu. Jika kalian berkumpul bersama, bhikkhu, kalian seharusnya melakukan salah satu dari dua hal ini, yaitu: bercakap-cakap mengenai Dhamma atau mempertahankan kesunyian yang agung.”

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Mereka yang hidup tanpa keahlian, tidak terbebani,
menginginkan tujuan,
Dengan kesadaran yang terkendali, sepenuhnya bebas,
Berkelana tanpa rumah, tidak mementingkan diri, tanpa
nafsu,
Kesombongan telah terhancurkan dan hidup menyendiri – ia
adalah seorang bhikkhu.

3.10. Memeriksa Dunia

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Uruvela, di tepi sungai Neranjara, di kaki Pohon Bodhi, setelah baru saja mencapai Penerangan Sempurna. Pada saat itu Sang Bhagava duduk bersila selama 7 hari mengalami kebahagiaan pembebasan. Kemudian, pada akhir dari tujuh hari itu, Sang Bhagava bangkit dari konsentrasinya dan memeriksa dunia dengan Mata-Buddha. Sementara memeriksa dunia dengan Mata-Buddha, Sang Bhagava melihat mahluk-mahluk yang tersiksa oleh berbagai macam siksaan dan dipenuhi oleh berbagai kerinduan meluap-luap yang disebabkan oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan. [17]

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Dunia ini pasti terkena siksaan;
Menderita karena kontak, itu disebut sebagai penyakit “aku”;
Karena bagaimanapun “aku” dipahami
Itu selalu bukan demikian. [18] Menjadi sesuatu yang lain,
Dunia dikuasai oleh dumadi,
Dirundung derita oleh dumadi tetapi bergembira dalam dumadi,
Tetapi apa yang mendatangkan kegembiraan membawa ketakutan
Dan apa yang ditakutkan adalah penderitaan.
Sekarang kehidupan suci ini dijalani
Untuk meninggalkan dumadi.

Apapun yang dikatakan oleh para pertapa dan Brahmana bahwa kebebasan dari dumadi akan tercapai melalui semacam dumadi, tak satupun dari itu semua, aku katakan, terbebas dari dumadi. Dan apapun yang dikatakan oleh para pertapa dan Brahmana bahwa kebebasan dari dumadi muncul melalui bukan dumadi, tak satupun dari itu, aku katakan, telah bebas dari dumadi. [19] Penderitaan ini muncul tergantung pada kemelekatan. Dengan berakhirnya nafsu keinginan, tidak ada penderitaan yang dihasilkan. [20]

Lihatlah orang-orang di dunia, menderita karena
ketidaktahuan,
Menjadi dumadi, bergembira dalam dumadi, tidak terbebas,
Bentuk keberadaan apapun yang ada, dengan cara apapun,
dimanapun,
Semua bentuk dumadi ini tidak kekal,
Pasti terkena penderitaan, mempunyai sifat perubahan.
Ketika melihat ini sebagaimana apa adanya dengan
kebijaksanaan sempurna,
Nafsu untuk dumadi akan hilang.
Tetapi seseorang tidak akan bergembira di dalam bukan dumadi,
Nibbana adalah penghancuran semua nafsu,
Lenyapnya nafsu dan penghentian sepenuhnya.
Seorang bhikkhu yang nafsunya telah padam,
Dengan tidak menginginkan tidak akan ada pembaharuan dumadi,
Mara punah, pertempuran telah dimenangkan;
Yang damai telah melewati semua bentuk dumadi. [21]

Catatan Kaki :

Arahat sudah “meninggalkan semua kamma” yang berarti bahwa dia sudah melepaskan semua perbuatan yang dapat menyebabkan kelahiran kembali di masa yang akan datang. Dia tidak perlu membicarakan sakitnya kepada orang lain untuk mendapatkan obat dan perawatan pribadi. Comy. menerangkan kata tadino, disini diterjemahkan sebagai “tenang”, yang dihubungkan dengan “ketenangan hati yang berfaktor enam” yang dimiliki seorang Arahat, yaitu ketenangannya ketika dihadapkan dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyakitkan dari ke enam obyek indria. [Kembali]
Mereka bersaudara tiri karena mempunyai ayah yang lama tetapi ibu yang berbeda. Dikatakan bahwa ibu Nanda adalah Mahapajapati, bibi dan ibu angkat Sang Buddha. Bahasa India tidak mempunyai kata terpisah untuk sepupu. [Kembali]
Hinaya: yaitu status seorang perumah tangga. [Kembali]
Walaupun janapadakalyani berarti “gadis tercantik di negara itu,” dan digunakan di tempat lain dalam Canon dalam pengertian itu (lihat M.ii.33), Comy. mengartikannya sebagai nama pribadi tunangan Nanda. Menurut cerita tradisi, di pagi hari perkawinan Nanda, Sang Buddha datang ke rumahnya untuk mengumpulkan makanan. Setelah memberikan mangkuk makanannya kepada Nanda, tanpa menerimanya kembali, beliau berbalik dan mulai berjalan menuju ke vihara beliau. Nanda mengikuti beliau dengan maksud mengembalikan mangkuk, dan ketika dia akan meninggalkan rumah, calon istrinya -mungkin cemas akan kehilangan dia – mendesaknya untuk segera kembali. Sang Buddha terus berjalan ke vihara tanpa berhenti. Ketika Nanda mendekati beliau untuk mengembalikan mangkuk, Sang Buddha bertanya kepadanya apakah dia ingin menjadi seorang bhikkhu, dan walaupun keinginan Nanda hanya kembali ke pernikahan, karena rasa hormat terhadap kakak tirinya, dia menjawab bahwa dia ingin. Maka Sang Buddha memberinya pentahbisan dan Nanda dengan demikian kemudian dipenuhi oleh rasa tidak enak. Lihat Buddhist Legends, 1:2.18-19. [Kembali]
Paluttha: Disini menyiratkan pembakaran sisa potongan sesudah amputasi. [Kembali]
Berdiam selama 3 bulan tradisional, selama musim hujan di India, dari pertengahan Juli sampai pertengahan Oktober, ketika para bhikkhu dilarang mengadakan banyak perjalanan. Ini dimaksud untuk dijadikan periode latihan intensif dalam pengembangan pikiran dan meditasi. [Kembali]
Pengetahuan mengenai kelahiran lampau, mengenai muncul dan lenyapnya mahluk-mahluk lain, dan mengenai akhir dari kekotoran batin. [Kembali]
Ananja-samadhi. Suatu istilah untuk konsentrasi kematangan kearahatan yang didasarkan pada empat jhana atau salah satu dari empat jhana tanpa materi (Comy.). Lihat M. Sutta 106, Vism. XII. 16-17 (377). [Kembali]
Comy. menyatakan bahwa penyebab dari kebiasaan ini adalah vasana, suatu istilah yang mungkin diterjemahkan sebagai “watak” Comy. menerangkan bahwa vasana adalah sekedar kekuatan bertindak dalam cara-cara tertentu yang mirip dengan tingkah laku orang yang masih mempunyai kekotoran; vasana ini ditimbulkan oleh kekotoran yang sudah tertanam dalam pikiran melalui waktu yang tak berawal dan tetap berada dalam rangkaian kesatuan arahat bahkan setelah kekotoran sudah ditinggalkan, hanya sebagai kecenderungan kebiasaan. Vasana-vasana itu tidak ditemukan dalam rangkaian kesatuan seorang Buddha, yang menghilangkan kekotoran- kekotoran itu dengan meninggalkan penghalang; dan menuju ke yang maha tahu, tetapi vasana-vasana ini ditemukan dalam pikiran para Savakabuddha dan Paccekabuddha. [Kembali]
Bandingkan 1.6. [Kembali]
Sapadanam: pergi ke setiap rumah secara berturutan tanpa melewati siapapun. [Kembali]
Kosiya, “burung hantu,” adalah nama marga Sakka. [Kembali]
Lihat 2.2. dan Bab 2, catatan 2. [Kembali]
Mudda-sippan: dengan isyarat tangan (Comy.). Mungkin ini seperti sikap militer, seperti halnya keahlian-keahlian sebelumnya, yaitu menentukan arah pertempuran dengan memberikan tanda-tanda perintah. [Kembali]
Lokayata: seni berdebat secara filsafat yang mempergunakan pemikiran dan logika, asal mulanya merupakan cabang pelajaran untuk para brahmana. Contoh pokok perdebatan adalah pasangan pandangan seperti yang terdapat dalam 6.4: “Dunia adalah kekal/ dunia tidak kekal”. “Dunia adalah terbatas/ dunia tidak terbatas,” dan sebagainya. Kemudian kata ini menjadi nama untuk filsafat materialistis murni. [Kembali]
Beberapa teks mempunyai khettavijja (secara harafiah berarti “ilmu bidang,” yaitu, mencari tempat yang cocok untuk bangunan) dan bukannya khattavijja (ilmu politik). Ada juga suatu bacaan yang mungkin mengenai nakkattavijja (astrologi). [Kembali]
Bandingkan ini dengan Kotbah Api yang terkenal: “Semuanya terbakar, Bhikkhu. Mata terbakar, obyek yang dapat dilihat terbakar ….. pikiran terbakar, obyek mental terbakar. Terbakar oleh apa? Terbakar oleh api keserakahan, oleh api kebencian, oleh api ketidaktahuan; itu terbakar oleh kelahiran, menjadi tua dan kematian, oleh kesedihan, keluhan, kesakitan, kedukaan dan keputusasaan, demikianlah saya katakan.” (Vin.i,34:S.iv,19; juga S.iii.71). [Kembali]
Kelima kumpulan -tubuh jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk pikiran, dan kesadaran- ditunjuk sebagai “penyakit” karena mereka pada dasarnya tidak memuaskan, merupakan dasar penderitaan. Tetapi karena kebodohan batin, pandangan yang salah dan nafsu keinginan, orang-orang biasa, “dunia,” (salah) memahaminya sebagai yang permanen, kekal dan menyenangkan, sebagai suatu “diri” sebagai “aku” dan “kepunyaanku”. Tetapi, apapun yang mereka terima, karma tidak kekal, tidak memuaskan dan bukan diri, adalah berbeda dari cara yang salah dimana hal itu dipahami. Ide yang sama menggaris bawahi istilah yang annathabhavi “menjadi sesuatu yang lain,” di syair berikut. [Kembali]
Kedua kalimat ini dapat dipahami mengacu, secara berturutan, pada penganut paham kekekalan dan penganut paham penghancuran, yang pertama mengkokohkan kepermanenan suatu diri, yang terakhir menerima suatu diri sementara yang akhirnya akan terkena penghancuran. “Jalan Tengah” mengenai sebab musabab yang saling bergantungan dan pengkondisian, menghindari dua ekstrem itu. [Kembali]
Disini upadhi diterjemahkan sebagai “kemelekatan,” upadhana (sama artinya tetapi akar katanya berbeda) sebagai “kelobaan.” [Kembali]
Kata-kata kunci untuk udana ini -dumadi, nafsu keinginan, keserakahan, dan sebagainya -semuanya akan ditemukan dalam formula sebab musabab yang saling bergantungan (lihat 1.1 -3 dan Pengantar), dimana kotbah ini merupakan penjelasan rinci yang dipusatkan pada penderitaan yang sudah menjadi sifat “dumadi.” [Kembali]

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com