Punnaka

Puṇṇaka­māṇava­pucchā (Snp 5.4)

Siswa brahmana Punnaka adalah penanya berikutnya:
‘Saya datang,’ katanya, ‘untuk mengajukan pertanyaan mengenai orang yang tanpa nafsu, orang yang, memiliki penglihatan yang berakar dalam. Yang Mulia, saya mohon penjelasan, mengapa para bijaksana di dunia, para brahmana, para penguasa dan lain-lain, selalu memberikan persembahan kepada para dewa?’
‘Orang-orang itu,’ kata Sang Buddha, ‘selalu memberikan persembahan kepada para dewa, karena sementara bertambah tua mereka ingin mempertahankan kehidupan mereka seperti dahulu.’
‘Tetapi, Yang Mulia,’ kata Punnaka, ‘dengan melakukan semua persembahan yang khidmat ini, apakah mereka akan pernah melampaui usia tua dan kelahiran?’
‘Doa-doa mereka,’ kata Sang Buddha, ‘puji-pujian, persembahan dan aspirasi mereka semuanya dibuat atas dasar ingin memiliki, ingin ganjaran: Mereka merindukan kenikmatan sensual. Orang-orang, para ahli dalam persembahan ini, bersuka ria di dalam nafsu untuk dumadi (menjadi). Orang-orang ini tidak dapat melampaui usia tua dan kelahiran.’
‘Engkau harus menjelaskan hal ini, Yang Mulia,’ kata Punnaka. Jika semua persembahan yang diberikan para ahli itu tidak dapat membawa mereka menyeberangi usia tua dan kelahiran, siapakah di antara manusia, di antara para dewa yang telah pernah berhasil melampauinya?’
‘Ketika seseorang telah memeriksa dunia dari atas sampai bawah,’ jawab Sang Buddha, jika tidak ada apa pun di dunia ini yang menimbulkan percikan gejolak, maka dia telah menjadi manusia yang bebas dari asap, getaran dan kelaparan nafsu. Dia telah menjadi tenang. Dia telah melampaui usia tua; dia telah melampaui kelahiran.’

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com