Kehendak

Cetanākaraṇīya [Cetana] (AN 11.2)

(1)-(2) “Para bhikkhu, bagi seorang yang bermoral, seorang yang perilakunya bermoral, tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga ketidak-menyesalan muncul padaku.’ Adalah sewajarnya bahwa ketidak-menyesalan muncul pada seorang yang bermoral, seorang yang perilakunya bermoral.
(3) “Bagi seorang yang tanpa penyesalan tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga kegembiraan muncul padaku.’ Adalah sewajarnya bahwa kegembiraan muncul pada seorang yang tanpa penyesalan.
(4) “Bagi seorang yang bergembira tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga sukacita muncul padaku.’ Adalah sewajarnya bahwa sukacita muncul pada seorang yang bergembira.
(5) “Bagi seorang yang bersukacita tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga jasmaniku menjadi tenang.’ Adalah sewajarnya bahwa jasmani seorang yang bersukacita menjadi tenang.
(6) “Bagi seorang yang tenang dalam jasmani tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga aku merasakan kenikmatan.’ Adalah sewajarnya bahwa seorang yang tenang dalam jasmani merasakan kenikmatan.
(7) “Bagi seorang yang merasakan kenikmatan tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga pikiranku terkonsentrasi.’ Adalah sewajarnya bahwa pikiran seorang yang merasakan kenikmatan menjadi terkonsentrasi.
(8) “Bagi seorang yang terkonsentrasi tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga aku mengetahui dan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.’ Adalah sewajarnya bahwa seorang yang terkonsentrasi mengetahui dan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.
(9) “Bagi seorang yang mengetahui dan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga aku menjadi kecewa.’ Adalah sewajarnya bahwa seorang yang mengetahui dan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya menjadi kecewa.
(10) “Bagi seorang yang kecewa tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga aku menjadi bosan.’ Adalah sewajarnya bahwa seorang yang kecewa menjadi bosan.
(11) “Bagi seorang yang bosan tidak ada kehendak yang perlu dikerahkan: ‘Semoga aku merealisasikan pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan.’ Adalah sewajarnya bahwa seorang yang bosan merealisasikan pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan.
“Demikianlah, para bhikkhu, (11)-(10) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan adalah tujuan dan manfaat dari kebosanan; (9) kebosanan adalah tujuan dan manfaat dari kekecewaan; (8) kekecewaan adalah tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya; (7) pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya adalah tujuan dan manfaat dari konsentrasi; (6) konsentrasi adalah tujuan dan manfaat dari kenikmatan; (5) kenikmatan adalah tujuan dan manfaat dari ketenangan; (4) ketenangan adalah tujuan dan manfaat dari sukacita; (3) sukacita adalah tujuan dan manfaat dari kegembiraan; (2) kegembiraan adalah tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan; (1) ketidak-menyesalan adalah tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral.
“Demikianlah, para bhikkhu, satu tahap mengalir menuju tahap berikutnya, satu tahap mengisi tahap berikutnya, untuk pergi dari pantai sini ke pantai seberang.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com