Sariputta | Suttapitaka | Bukan-Dhamma (3) Sariputta

Bukan-Dhamma (3)

Adhamma 3 (AN 10.115)

“Para bhikkhu, apa yang bukan-Dhamma dan apa yang adalah Dhamma harus dipahami, dan apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat juga harus dipahami. Setelah memahami apa yang bukan-Dhamma dan apa yang adalah Dhamma, dan juga apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat, seseorang harus berlatih sesuai dengan Dhamma dan sesuai dengan apa yang bermanfaat.”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan ini, Yang Berbahagia bangkit dari dudukNya dan memasuki kediamanNya. Kemudian, segera setelah Sang Bhagavā pergi, para bhikkhu mempertimbangkan: “Teman-teman, Sang Bhagavā mengajarkan ringkasan singkat ini: ‘Para bhikkhu, apa yang bukan-Dhamma dan apa yang adalah Dhamma harus dipahami … seseorang harus berlatih sesuai dengan Dhamma dan sesuai dengan apa yang bermanfaat.’ Kemudian Beliau bangkit dari dudukNya dan memasuki kediamanNya tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci. Sekarang siapakah yang akan menjelaskan maknanya secara terperinci?” Kemudian mereka berpikir: “Yang Mulia Ānanda dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana; ia mampu menjelaskan secara terperinci makna dari ringkasan singkat ini. Marilah kita mendatangi Yang Mulia Ānanda dan menanyakan kepadanya makna dari ini. Kita akan mengingatnya sebagaimana yang ia jelaskan kepada kita.”

Kemudian para bhikkhu itu mendatangi Yang Mulia Ānanda dan saling bertukar sapa dengannya, setelah itu mereka duduk di satu sisi dan berkata: “Teman Ānanda, Sang Bhagavā mengajarkan kami ringkasan singkat ini … Kemudian Beliau bangkit dari dudukNya dan memasuki kediamanNya tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci. Segera setelah Beliau pergi, kami mempertimbangkan: ‘Teman, Sang Bhagavā mengajarkan kami ringkasan singkat ini … [seluruhnya seperti di atas hingga:] … Marilah kita mendatangi Yang Mulia Ānanda dan menanyakan kepadanya makna dari ini. Kita akan mengingatnya sebagaimana yang ia jelaskan kepada kita.’ Sudilah Yang Mulia Ānanda menjelaskannya kepada kami.”

[Yang Mulia Ānanda menjawab:] “Teman-teman, ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, mengembara dalam mencari inti kayu, melewatkan akar dan batang dari pohon yang memiliki inti kayu, berpikir bahwa inti kayu harus dicari di antara dahan-dahan dan dedaunan. Dan demikian pula dengan kalian. Ketika kalian saling berhadapan dengan Sang Guru kalian melewatkan Sang Bhagavā, dengan berpikir untuk menanyakan maknanya kepadaku. Karena, teman-teman, dalam mengetahui, Sang Bhagavā tahu; dalam melihat, Beliau melihat; Beliau telah menjadi penglihatan, Beliau telah menjadi pengetahuan, Beliau telah menjadi Dhamma; Beliau telah menjadi Brahmā; Beliau adalah pembabar, pewarta, pengurai makna, pemberi tanpa-kematian, Raja Dhamma, Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kalian seharusnya mendatangi Sang Bhagavā dan bertanya kepada Beliau tentang maknanya. Kalian harus mengingatnya sebagaimana Yang Beliau jelaskan kepada kalian.”

“Tentu saja, teman Ānanda, dalam mengetahui, Sang Bhagavā tahu; dalam melihat, Beliau melihat; Beliau telah menjadi penglihatan … Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kami seharusnya mendatangi Sang Bhagavā dan bertanya kepada Beliau tentang maknanya, dan kami akan mengingatnya sebagaimana Yang Beliau jelaskan kepada kami. Namun Yang Mulia Ānanda dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana. Ia mampu menjelaskan secara terperinci makna dari ringkasan ini. Sudilah Yang Mulia Ānanda menjelaskannya jika tidak menyusahkan.”

“Kalau begitu dengarkanlah, teman-teman, dan perhatikanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Ānanda berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, Sang Bhagavā mengajarkan ringkasan singkat ini tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci: ‘Para bhikkhu, apa yang bukan-Dhamma dan apa yang adalah Dhamma harus dipahami, dan apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat juga harus dipahami. Setelah memahami apa yang bukan-Dhamma dan apa yang adalah Dhamma, dan juga apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat, seseorang harus berlatih sesuai dengan Dhamma dan sesuai dengan apa yang bermanfaat.’ Sekarang apakah, teman-teman, yang bukan-Dhamma dan apakah yang adalah Dhamma? Dan apakah yang berbahaya dan apakah yang bermanfaat?

(1) “Pandangan salah, teman-teman, adalah bukan-Dhamma; pandangan benar adalah Dhamma. Berbagai kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang berasal mula dengan pandangan salah sebagai kondisi: ini adalah apa yang berbahaya. Berbagai kualitas bermanfaat yang mencapai pemenuhan melalui pengembangan dengan pandangan benar sebagai kondisi: ini adalah apa yang bermanfaat.

(2)-(9) “Kehendak salah adalah bukan-Dhamma; kehendak benar adalah Dhamma … Ucapan salah adalah bukan-Dhamma, ucapan benar adalah Dhamma … Perbuatan salah adalah bukan-Dhamma, perbuatan benar adalah Dhamma … Penghidupan salah adalah bukan-Dhamma, penghidupan benar adalah Dhamma … Usaha salah adalah bukan-Dhamma, usaha benar adalah Dhamma … Perhatian salah adalah bukan-Dhamma, perhatian benar adalah Dhamma … Konsentrasi salah adalah bukan-Dhamma. Konsentrasi benar adalah Dhamma … Pengetahuan salah adalah bukan-Dhamma; pengetahuan benar adalah Dhamma …

(10) “Kebebasan salah adalah bukan-Dhamma; kebebasan benar adalah Dhamma. Berbagai kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang berasal mula dengan kebebasan salah sebagai kondisi: ini adalah apa yang berbahaya. Berbagai kualitas bermanfaat yang mencapai pemenuhan melalui pengembangan dengan kebebasan benar sebagai kondisi: ini adalah apa yang bermanfaat.

“Teman-teman, dengan cara inilah aku memahami secara terperinci makna dari ringkasan singkat dari Sang Bhagavā. Sekarang, jika kalian menghendaki, kalian boleh mendatangi Sang Bhagavā dan bertanya kepada Beliau tentang makna dari ini. Kalian harus mengingatnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Sang Bhagavā kepada kalian.”

“Baik, teman,” para bhikkhu itu menjawab, dan setelah merasa puas dan gembira mendengar pernyataan Yang Mulia Ānanda, mereka bangkit dari duduk mereka dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhante, Sang Bhagavā mengajarkan ringkasan ini … [di sini mereka menceritakan semua yang telah terjadi, menambahkan:] … Kemudian, Bhante, kami mendatangi Yang Mulia Ānanda dan bertanya kepadanya tentang maknanya. Yang Mulia Ānanda menjelaskan maknanya kepada kami dengan cara ini, dengan kata-kata dan frasa-frasa ini.”

“Bagus, bagus, para bhikkhu! Ānanda bijaksana. Ānanda memiliki kebijaksanaan tinggi. Jika kalian mendatangiKu dan bertanya kepadaKu tentang makna dari ini, Aku akan menjelaskannya kepada kalian dengan cara yang sama seperti Ānanda. Demikianlah makna dari ini, dan demikianlah kalian harus mengingatnya.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com