Sariputta | Suttapitaka | Persoalan Disiplin Sariputta

Persoalan Disiplin

Adhikaraṇika [Nappiya] (AN 10.87)

Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sehubungan dengan Bhikkhu Kalandaka: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab:

Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(1) “Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang pembuat persoalan disiplin dan ia tidak memuji penyelesaian persoalan-persoalan disiplin. Ketika seorang bhikkhu adalah seorang pembuat persoalan disiplin dan ia tidak memuji penyelesaian persoalan-persoalan disiplin, ini adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, atau persatuan.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak menginginkan latihan dan ia tidak memuji pelaksanaan latihan. Ketika seorang bhikkhu tidak menginginkan latihan … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keinginan jahat dan ia tidak memuji pelenyapan keinginan. Ketika seorang bhikkhu memiliki keinginan jahat … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu rentan pada kemarahan dan ia tidak memuji pelenyapan kemarahan. Ketika seorang bhikkhu rentan pada kemarahan … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(5) “Kemudian, seorang bhikkhu adalah seorang yang merendahkan [orang lain] dan ia tidak memuji pelenyapan sikap merendahkan. Ketika seorang bhikkhu adalah seorang yang merendahkan … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(6) “Kemudian, seorang bhikkhu bersifat licik dan ia tidak memuji pelenyapan kelicikan. Ketika seorang bhikkhu bersifat licik … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(7) “Kemudian, seorang bhikkhu penuh muslihat dan ia tidak memuji pelenyapan muslihat. Ketika seorang bhikkhu penuh muslihat … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(8) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak condong untuk memperhatikan ajaran-ajaran dan ia tidak memuji sikap memperhatikan ajaran-ajaran. Ketika seorang bhikkhu tidak condong untuk memperhatikan ajaran-ajaran … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(9) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak condong pada keterasingan dan ia tidak memuji keterasingan. Ketika seorang bhikkhu tidak condong pada keterasingan … ini juga, adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju … persatuan.

(10) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak menunjukkan keramahan kepada teman-temannya para bhikkhu dan ia tidak memuji seorang yang menunjukkan keramahan. Ketika seorang bhikkhu tidak menunjukkan keramahan kepada teman-temannya para bhikkhu dan ia tidak memuji seorang yang menunjukkan keramahan, ini juga adalah satu kualitas yang tidak mengarah menuju kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, atau persatuan.

“Walaupun bhikkhu itu mungkin berharap: ‘Oh, seandainya teman-temanku para bhikkhu menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakanku!’ namun teman-temannya para bhikkhu tidak menghormati, tidak menghargai, tidak menjunjung, dan tidak memuliakannya. Karena alasan apakah? Karena teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana melihat bahwa ia belum meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.

“Misalkan seekor anak kuda liar berharap: ‘Oh, seandainya orang-orang menempatkanku pada posisi seekor kuda berdarah murni, memberikan makanan kuda berdarah murni kepadaku, dan merawatku seperti seekor kuda berdarah murni!’ namun orang-orang tidak menempatkannya pada posisi seekor kuda berdarah murni, tidak memberikan makanan kuda berdarah murni kepadanya, dan tidak merawatnya seperti seekor kuda berdarah murni. Karena alasan apakah? Karena orang-orang bijaksana melihat bahwa ia belum meninggalkan tipuan, taktik, strategi, dan muslihatnya. Demikian pula, walaupun bhikkhu itu mungkin berharap: ‘Oh, seandainya teman-temanku para bhikkhu menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakanku!’ namun teman-temannya para bhikkhu tidak menghormati, tidak menghargai, tidak menjunjung, dan tidak memuliakannya. Karena alasan apakah? Karena teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana melihat bahwa ia belum meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.

(1) “Tetapi, seorang bhikkhu bukanlah seorang pembuat persoalan disiplin dan ia memuji penyelesaian persoalan-persoalan disiplin. Ketika seorang bhikkhu bukanlah seorang pembuat persoalan disiplin dan ia memuji penyelesaian persoalan-persoalan disiplin, ini adalah satu kualitas yang mengarah menuju kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, atau persatuan.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu menginginkan latihan dan ia memuji pelaksanaan latihan. Ketika seorang bhikkhu menginginkan latihan … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki sedikit keinginan dan ia memuji pelenyapan keinginan. Ketika seorang bhikkhu memiliki sedikit keinginan … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak rentan pada kemarahan dan ia memuji pelenyapan kemarahan. Ketika seorang bhikkhu tidak rentan pada kemarahan … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(5) “Kemudian, seorang bhikkhu bukanlah seorang yang merendahkan [orang lain] dan ia memuji pelenyapan sikap merendahkan. Ketika seorang bhikkhu bukanlah seorang yang merendahkan [orang lain] … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(6) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak bersifat licik dan ia memuji pelenyapan kelicikan. Ketika seorang bhikkhu tidak bersifat licik … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(7) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak penuh muslihat dan ia memuji pelenyapan muslihat. Ketika seorang bhikkhu tidak penuh muslihat … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(8) “Kemudian, seorang bhikkhu condong untuk memperhatikan ajaran-ajaran dan ia memuji sikap memperhatikan ajaran-ajaran. Ketika seorang bhikkhu condong untuk memperhatikan ajaran-ajaran … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(9) “Kemudian, seorang bhikkhu condong pada keterasingan dan ia memuji keterasingan. Ketika seorang bhikkhu condong pada keterasingan … ini juga, adalah satu kualitas yang mengarah menuju … persatuan.

(10) “Kemudian, seorang bhikkhu menunjukkan keramahan kepada teman-temannya para bhikkhu dan ia memuji seorang yang menunjukkan keramahan. Ketika seorang bhikkhu menunjukkan keramahan kepada teman-temannya para bhikkhu dan ia memuji seorang yang menunjukkan keramahan, ini juga adalah satu kualitas yang mengarah menuju kasih-sayang, penghormatan, penghargaan, kerukunan, atau persatuan.

“Walaupun bhikkhu itu tidak berharap: ‘Oh, seandainya teman-temanku para bhikkhu menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakanku!’ namun teman-temannya para bhikkhu akan menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakannya. Karena alasan apakah? Karena teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana melihat bahwa ia telah meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.

“Misalkan seekor kuda baik yang berdarah murni tidak berharap: ‘Oh, seandainya orang-orang menempatkanku pada posisi seekor kuda berdarah murni, memberikan makanan kuda berdarah murni kepadaku, dan merawatku seperti seekor kuda berdarah murni!’ namun orang-orang menempatkannya pada posisi seekor kuda berdarah murni, memberikan makanan kuda berdarah murni kepadanya, dan merawatnya seperti seekor kuda berdarah murni. Karena alasan apakah? Karena orang-orang bijaksana melihat bahwa ia telah meninggalkan tipuan, taktik, strategi, dan muslihatnya. Demikian pula, walaupun bhikkhu itu tidak berharap: ‘Oh, seandainya teman-temanku para bhikkhu menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakanku!’ namun teman-temannya para bhikkhu menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakannya. Karena alasan apakah? Karena teman-temannya para bhikkhu yang bijaksana melihat bahwa ia telah meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com