Kemunduran Dhamma Sejati (2)

Saddhammasammosa 2 (AN 5.155)

“Para bhikkhu, ada lima hal ini yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati. Apakah lima ini?
(1) “Di sini, para bhikkhu tidak mempelajari Dhamma: khotbah-khotbah, campuran prosa dan syair, penjelasan-penjelasan, syair-syair, ucapan-ucapan inspiratif, kutipan-kutipan, kisah-kisah kelahiran, kisah-kisah menakjubkan, dan pertanyaan-dan-jawaban. Ini adalah hal pertama yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
(2) “Kemudian, para bhikkhu tidak mengajarkan Dhamma kepada orang lain secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke dua yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
(3) “Kemudian, para bhikkhu tidak menyuruh orang-orang lain untuk mengulangi Dhamma secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke tiga yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
(4) “Kemudian, para bhikkhu tidak melafalkan Dhamma secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke empat yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
(5) “Kemudian, para bhikkhu tidak mempertimbangkan, memeriksa, dan menyelidiki Dhamma dalam pikiran seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke lima yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
“Ini adalah kelima hal itu yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.
“Para bhikkhu, ada lima hal [lainnya] ini yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati. Apakah lima ini?
(1) “Di sini, para bhikkhu mempelajari Dhamma: khotbah-khotbah … dan pertanyaan-dan-jawaban. Ini adalah hal pertama yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.
(2) “Kemudian, para bhikkhu mengajarkan Dhamma kepada orang lain secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke dua yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.
(3) “Kemudian, para bhikkhu menyuruh orang-orang lain untuk mengulangi Dhamma secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke tiga yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.
(4) “Kemudian, para bhikkhu melafalkan Dhamma secara terperinci seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke empat yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.
(5) “Kemudian, para bhikkhu mempertimbangkan, memeriksa, dan menyelidiki Dhamma dalam pikiran seperti yang mereka dengar dan mereka pelajari. Ini adalah hal ke lima yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.
“Ini adalah kelima hal itu yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com