Sariputta | Suttapitaka | Kasih Sayang Sariputta

Kasih Sayang

Pemadosa [Pema] (AN 4.200)

“Para bhikkhu, ada empat hal ini yang dilahirkan. Apakah empat ini? Kasih sayang dilahirkan dari kasih sayang; kebencian dilahirkan dari kasih sayang; kasih sayang dilahirkan dari kebencian; dan kebencian dilahirkan dari kebencian.

(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, kasih sayang yang dilahirkan dari kasih sayang? Di sini, seseorang disukai, disayangi, dan menyenangkan bagi orang lain. Orang-orang lain memperlakukan orang itu dengan cara yang disukai, disayangi, dan menyenangkan. Orang itu berpikir: ‘Orang-orang lain memperlakukan orang yang disukai, disayangi, dan menyenangkan bagiku itu dengan cara yang disukai, disayangi, dan menyenangkan.’ Demikianlah ia merasakan kasih sayang pada mereka. Dengan cara inilah kasih sayang dilahirkan dari kasih sayang.

(2) “Dan bagaimanakah kebencian dilahirkan dari kasih sayang? Di sini, seseorang disukai, disayangi, dan menyenangkan bagi orang lain. Orang-orang lain memperlakukan orang itu dengan cara yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan. Orang itu berpikir: ‘Orang-orang lain memperlakukan orang yang disukai, disayangi, dan menyenangkan bagiku itu dengan cara yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan.’ Demikianlah ia merasakan kebencian pada mereka. Dengan cara inilah kebencian dilahirkan dari kasih sayang.

(3) “Dan bagaimanakah kasih sayang dilahirkan dari kebencian? Di sini, seseorang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan bagi orang lain. Orang-orang lain memperlakukan orang itu dengan cara yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan. Orang itu berpikir: ‘Orang-orang lain memperlakukan orang yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan bagiku itu dengan cara yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan.’ Demikianlah ia merasakan kasih sayang pada mereka. Dengan cara inilah kasih sayang dilahirkan dari kebencian.

(4) “Dan bagaimanakah kebencian dilahirkan dari kebencian? Di sini, seseorang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan bagi orang lain. Orang-orang lain memperlakukan orang itu dengan cara yang disukai, disayangi, dan menyenangkan. Orang itu berpikir: ‘Orang-orang lain memperlakukan orang yang tidak disukai, tidak disayangi, dan tidak menyenangkan bagiku itu dengan cara yang disukai, disayangi, dan menyenangkan.’ Demikianlah ia merasakan kebencian pada mereka. Dengan cara inilah kebencian dilahirkan dari kebencian.

“Ini adalah empat hal yang dilahirkan.

“Ketika, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria … seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, pada saat itu kasih sayang yang dilahirkan dari kasih sayang tidak ada padanya, kebencian yang dilahirkan dari kasih sayang tidak ada padanya, kasih sayang yang dilahirkan dari kebencian tidak ada padanya, dan kebencian yang dilahirkan dari kebencian tidak ada padanya.

“Ketika, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … jhāna ke tiga … jhāna ke empat, pada saat itu kasih sayang yang dilahirkan dari kasih sayang tidak ada padanya, kebencian yang dilahirkan dari kasih sayang tidak ada padanya, kasih sayang yang dilahirkan dari kebencian tidak ada padanya, dan kebencian yang dilahirkan dari kebencian tidak ada padanya.

“Ketika, dengan hancurnya noda-noda, seorang bhikkhu telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan pikiran melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya, maka ia telah meninggalkan kasih sayang yang dilahirkan dari kasih sayang, memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan; ia telah meninggalkan kebencian yang dilahirkan dari kasih sayang, memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan; ia telah meninggalkan kasih sayang yang dilahirkan dari kebencian, memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan; dan ia telah meninggalkan kebencian yang dilahirkan dari kebencian, memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

“Ini disebut seorang bhikkhu yang tidak menarik juga tidak mendorong, yang tidak berasap, tidak menyala, dan tidak terbakar.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menarik? Di sini, seorang bhikkhu menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Ia menganggap perasaan sebagai diri … persepsi sebagai diri … aktivitas-aktivitas kehendak sebagai diri … kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Dengan cara inilah seorang bhikkhu menarik.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu tidak menarik? Di sini, seorang bhikkhu tidak menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri … persepsi sebagai diri … aktivitas-aktivitas kehendak sebagai diri … kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Dengan cara inilah seorang bhikkhu tidak menarik.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu mendorong? Di sini, seorang bhikkhu menghina orang yang menghinanya, memarahi orang yang memarahinya, dan berdebat dengan orang yang mendebatnya. Dengan cara inilah seorang bhikkhu mendorong.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu tidak mendorong? Di sini, seorang bhikkhu tidak menghina orang yang menghinanya, tidak memarahi orang yang memarahinya, dan tidak berdebat dengan orang yang mendebatnya. Dengan cara inilah seorang bhikkhu tidak mendorong.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berasap? Ketika ada [gagasan] ‘Aku,’ maka ada [gagasan] ‘Aku demikian,’ ‘Aku hanya seperti itu,’ ‘Aku adalah sebaliknya,’ ‘Aku abadi,’ ‘Aku sementara,’ ‘Aku mungkin menjadi,’ ‘Aku mungkin menjadi demikian,’ ‘Aku mungkin hanya seperti itu,’ ‘Aku mungkin adalah sebaliknya,’ ‘Semoga aku menjadi,’ ‘Semoga aku demikian,’ ‘Semoga aku menjadi hanya seperti itu,’ ‘Semoga aku menjadi sebaliknya,’ ‘Aku akan menjadi,’ ‘Aku akan menjadi demikian,’ ‘Aku akan menjadi hanya seperti itu,’ ‘Aku akan menjadi sebaliknya.’ Dengan cara inilah seorang bhikkhu berasap.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu tidak berasap? Ketika tidak ada [gagasan] ‘Aku,’ maka tidak ada [gagasan] ‘Aku demikian,’ … … ‘Aku akan menjadi sebaliknya.’ Dengan cara inilah seorang bhikkhu tidak berasap.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menyala? Ketika ada [gagasan], ‘Aku ada karena ini,’ maka ada [gagasan]: ‘Aku demikian karena ini,’ ‘Aku hanya seperti itu karena ini,’ ‘Aku adalah sebaliknya karena ini,’ ‘Aku abadi karena ini,’ ‘Aku sementara karena ini,’ ‘Aku mungkin menjadi karena ini,’ ‘Aku mungkin menjadi demikian karena ini,’ ‘Aku mungkin hanya seperti itu karena ini,’ ‘Aku mungkin adalah sebaliknya karena ini,’ ‘Semoga aku menjadi karena ini,’ ‘Semoga aku demikian karena ini,’ ‘Semoga aku menjadi hanya seperti itu karena ini,’ ‘Semoga aku menjadi sebaliknya karena ini,’ ‘Aku akan menjadi karena ini,’ ‘Aku akan menjadi demikian karena ini,’ ‘Aku akan menjadi hanya seperti itu karena ini,’ ‘Aku akan menjadi sebaliknya karena ini.’ Dengan cara inilah seorang bhikkhu menyala.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu tidak menyala? Ketika tidak ada [gagasan], ‘Aku ada karena ini,’ maka tidak ada [gagasan]: ‘Aku demikian karena ini,’ … ’ ‘Aku akan menjadi sebaliknya karena ini.’ Dengan cara inilah seorang bhikkhu tidak menyala.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terbakar? Di sini, seorang bhikkhu belum meninggalkan keangkuhan ‘aku,’ belum memotongnya di akarnya, belum membuatnya seperti tunggul pohon palem, belum melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Dengan cara inilah seorang bhikkhu terbakar.

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu tidak terbakar? Di sini, seorang bhikkhu telah meninggalkan keangkuhan ‘aku,’ telah memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Dengan cara inilah seorang bhikkhu tidak terbakar.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com