Sariputta | Suttapitaka | Penyiksaan-diri Sariputta

Penyiksaan-diri

Tapa [Attantapa] (AN 4.198)

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? (1) Di sini, sejenis orang tertentu menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri. (2) Tetapi jenis orang lainnya menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya. (3) Orang jenis lainnya lagi menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri, dan juga menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya. (4) Dan orang jenis lainnya lagi tidak menyiksa dirinya sendiri dan tidak menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri, dan juga tidak menyiksa orang lain dan tidak menekuni praktik menyiksa orang lain. Karena ia tidak menyiksa dirinya sendiri serta orang lain, dalam kehidupan ini ia berdiam tanpa lapar, padam dan sejuk, mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi brahma.

(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang yang menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri? Di sini, seseorang tertentu bepergian telanjang, menolakkebiasaan, menjilat tangannya, tidak datang ketika diminta, tidak berhenti ketika diminta; ia tidak menerima makanan yang diserahkan dan tidak menerima makanan yang secara khusus dipersiapkan dan tidak menerima undangan makan; ia tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang dipelihara oleh seorang laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; ia tidak menerima ikan atau daging, ia tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Ia mendatangi satu rumah [pada perjalanan menerima dana makanan], untuk satu suap makanan; ia mendatangi dua rumah, untuk dua suap … ia mendatangi tujuh rumah, untuk tujuh suap. Ia makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari. Ia makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari; dan seterusnya hingga sekali dalam dua minggu; ia berdiam dengan menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan.

“Ia adalah pemakan sayur-sayuran atau milet atau beras hutan atau kulit kupasan atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Ia hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; ia memakan buah-buahan yang jatuh.

“Ia mengenakan jubah yang terbuat dari rami, jubah dari kain campuran-rami, jubah dari kain pembungkus mayat, jubah dari potongan-potongan kain, kulit pohon, kulit antelop, cabikan kulit antelop, jubah dari kain rumput kusa, kulit kayu, atau kain serutan kayu; mantel yang terbuat dari rambut kepala atau dari kain bulu binatang, penutup dari bulu sayap burung hantu.

“Ia adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menekuni praktik mencabut rambut dan janggut. Ia adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Ia adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Ia adalah seorang yang menggunakan alas tidur berduri; ia menjadikan alas tidur berduri sebagai tempat tidurnya. Ia berdiam dengan menjalani praktik mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Dengan cara inilah seseorang menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri.

(2) “Dan bagaimanakah seseorang yang menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya? Di sini, seseorang tertentu adalah seorang penjagal domba, seorang penjagal babi, seorang penangkap burung, seorang penjebak binatang liar, seorang pemburu, seorang penangkap ikan, seorang pencuri, seorang algojo, seorang sipir penjara, atau seseorang yang menekuni pekerjaan-pekerjaan berdarah lainnya. Dengan cara inilah seseorang adalah seorang yang menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya.

(3) “Dan bagaimanakah seseorang yang menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya? Di sini, seseorang adalah seorang raja khattiya yang sah atau seorang brahmana kaya. Setelah membangun sebuah kuil pengorbanan baru di sebelah timur kota, dan setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan pakaian dari kulit antelop yang kasar, dan meminyaki tubuhnya dengan gheedan minyak, dengan menggaruk punggungnya dengan tanduk rusa, ia memasuki kuil pengorbanan bersama dengan ratunya dan pendeta brahmana tinggi. Di sana ia berbaring di atas tanah yang ditaburi dengan rumput. Raja bertahan hidup dari susu yang berasal dari puting susu pertama dari sapi yang memiliki anak dengan warna yang sama sedangkan ratu bertahan hidup dari susu yang berasal dari puting susu ke dua dan pendeta brahmana tinggi bertahan hidup dari susu yang berasal dari puting susu ke tiga; susu dari puting susu ke empat mereka tuangkan ke api, dan anak sapi hidup dari apa yang tersisa. Ia berkata: ‘Sembelihlah sapi-sapi jantan sebanyak itu untuk pengorbanan, sembelihlah banteng-banteng sebanyak itu untuk pengorbanan, sembelihlah sapi-sapi muda sebanyak itu untuk pengorbanan, sembelihlah kambing-kambing sebanyak itu untuk pengorbanan, sembelihlah domba-domba sebanyak itu untuk pengorbanan; tebanglah pepohonan sebanyak itu sebagai tiang pengorbanan, potonglah rumput sebanyak itu sebagai rumput pengorbanan.’ Dan kemudian budak-budaknya, utusan-utusannya, dan pelayan-pelayannya melakukan persiapan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, didorong oleh ancaman hukuman dan oleh ketakutan. Dengan cara inilah seseorang adalah seorang yang menyiksa dirinya sendiri dan menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa orang lain dan menekuni praktik menyiksa orang lainnya.

(4) “Dan bagaimanakah seseorang yang tidak menyiksa dirinya sendiri dan tidak menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri dan tidak menyiksa orang lain dan tidak menekuni praktik menyiksa orang lain—seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya sendiri serta orang lain, dalam kehidupan ini ia berdiam tanpa lapar, terpuaskan dan sejuk, mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi Brahmā?

“Di sini, para bhikkhu, Sang Tathāgata muncul di dunia, seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik dari orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci. Setelah dengan pengetahuan langsungNya sendiri merealisasikan dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Beliau mengajarkannya kepada orang lain. Beliau mengajarkan Dhamma yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna.

“Seorang perumah tangga atau putra perumah tangga atau seorang yang terlahir dalam suatu suku mendengar Dhamma ini. Ia kemudian memperoleh keyakinan pada Sang Tathāgata dan mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan melepaskan keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup di dalam rumah, juga menjalani kehidupan spiritual yang sepenuhnya sempurna dan murni bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Belakangan, setelah meninggalkan sedikit atau banyak kekayaan, setelah meninggalkan lingkaran sanak saudara yang kecil atau besar, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

“Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup para bhikkhu, setelah meninggalkan pembunuhan, ia menghindari pembunuhan; dengan tongkat pemukul dan senjata di singkirkan, berhati-hati dan bersikap baik, ia berdiam dengan berbelas kasihan terhadap semua makhluk hidup. Setelah meninggalkan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; mengambil hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan berdiam dengan jujur tanpa pikiran mencuri. Setelah meninggalkan aktivitas seksual, ia menjalankan hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang-orang biasa.

“Setelah meninggalkan berbohong, ia menghindari berbohong; ia membicarakan kebenaran, melekat pada kebenaran; ia dapat dipercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu dunia. Setelah meninggalkan ucapan yang memecah-belah, ia menghindari ucapan yang memecah-belah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang ia dengar di sini untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini; ia juga tidak mengulangi di sini apa yang ia dengar di tempat lain untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang menyatukan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persatuan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, seorang penyuara kata-kata yang mendorong kerukunan. Setelah meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, indah, kata-kata yang masuk ke dalam hati, kata-kata yang sopan yang disukai oleh banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Setelah meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, membicarakan apa yang benar, membicarakan apa yang bermanfaat, membicarakan tentang Dhamma dan disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, singkat, dan bermanfaat.

“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia makan sekali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang selayaknya. Ia menghindari menari, menyanyi, musik instrumental, dan pertunjukan yang tidak selayaknya. Ia menghindari menghias dan mempercantik dirinya dengan mengenakan kalung bunga dan mengoleskan wewangian dan salep. Ia menghindari tempat tidur yang tinggi dan lebar. Ia menghindari menerima emas dan perak, beras mentah, daging mentah, perempuan-perempuan dan gadis-gadis, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, ternak, kuda jantan, dan kuda betina, ladang dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh dan utusan; menghindari membeli dan menjual; menghindari menipu dengan timbangan, logam, dan ukuran;menghindari menerima suap, penipuan, kecurangan, dan muslihat. Ia menghindari melukai, membunuh, mengikat, merampok, menjarah, dan kekerasan.

“Ia puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan kemanapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Seperti halnya seekor burung, kemanapun ia pergi, ia terbang hanya dengan sayap-sayapnya sebagai beban satu-satunya, demikian pula, seorang bhikkhu puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan kemanapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Dengan memiliki kelompok perilaku bermoral yang mulia ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa cela.

“Setelah melihat bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengar suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian indria-indria yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan tak tercela dalam dirinya.

“Ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan pergi dan kembali; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika melihat ke depan dan ke sekeliling; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika menekuk dan merentangkan anggota-anggota tubuhnya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika makan, minum, mengunyah, dan mengecap; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika membuang air besar dan membuang air kecil; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.

“Dengan memiliki kelompok perilaku yang mulia ini, dan pengendalian indria-indria yang mulia ini, dan perhatian dan pemahaman jernih yang mulia ini, ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pemakaman, belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.

“Setelah makan, setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Setelah meninggalkan kerinduan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari kerinduan; ia memurnikan pikirannya dari kerinduan. Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari niat buruk, berbelas kasihan terhadap semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian. Setelah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, ia berdiam terbebas dari ketumpulan dan kantuk, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih; ia memurnikan pikirannya dari ketumpulan dan kantuk. Setelah meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa gejolak, dengan pikiran damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Setelah meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tidak bingung terhadap kualitas-kualitas bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

“Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, kekotoran pikiran, kualitas-kualitas yang melemahkan kebijaksanaan, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Dengan memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui keseimbangan.

“Ketika pikirannya telah terkonsentrasi dengan cara ini, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau … [seperti pada 3:58 §1] … pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk … [seperti pada 3:58 §2] … pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

“Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda indriawi, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’

“Dengan cara inilah seseorang tidak menyiksa dirinya sendiri dan tidak menekuni praktik menyiksa dirinya sendiri, dan tidak menyiksa orang lain dan tidak menekuni praktik menyiksa orang lain—seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya sendiri serta orang lain, dalam kehidupan ini ia berdiam tanpa lapar, terpuaskan dan sejuk, mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi Brahmā.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com