Sariputta | Suttapitaka | Pandai Emas Sariputta

Pandai Emas

Nimitta (AN 3.102)

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu menekuni pikiran yang lebih tinggi, dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan tiga gambaran. (1) Dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran konsentrasi, (2) dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran usaha, dan (3) dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran keseimbangan.

“Jika seorang bhikkhu menekuni pikiran yang lebih tinggi dan hanya memperhatikan gambaran konsentrasi, maka adalah mungkin bahwa pikirannya akan berbelok ke arah kemalasan. Jika ia hanya memperhatikan gambaran usaha, maka adalah mungkin bahwa pikirannya akan berbelok ke arah kegelisahan. Jika ia hanya memperhatikan gambaran keseimbangan, maka adalah mungkin bahwa pikirannya tidak terkonsentrasi dengan baik untuk hancurnya noda-noda. Tetapi ketika seorang bhikkhu yang menekuni pikiran yang lebih tinggi dari waktu ke waktu memperhatikan gambaran konsentrasi, dari waktu ke waktu memperhatikan gambaran usaha, dan dari waktu ke waktu memperhatikan gambaran keseimbangan, maka pikirannya menjadi lunak, dapat dibentuk, dan cerah, lentur dan terkonsentrasi dengan baik untuk hancurnya noda-noda.

“Misalkan, para bhikkhu, seorang pandai emas atau muridnya akan mempersiapkan tungku, memanaskan wadah, mengambil emas dengan penjepit, dan meletakkannya ke dalam wadah. Kemudian dari waktu ke waktu ia akan meniupnya, dari waktu ke waktu memercikkan air, dan dari waktu ke waktu hanya melihatnya saja. Jika si pandai emas atau muridnya hanya meniup emas itu, maka adalah mungkin bahwa emas itu hanya akan terbakar. Jika ia hanya memercikkan air pada emas itu, maka adalah mungkin bahwa emas itu akan menjadi dingin. Jika ia hanya melihatnya saja, maka adalah mungkin bahwa emas itu tidak mencapai kekentalan yang tepat. Tetapi jika si pandai emas atau muridnya itu dari waktu ke waktu ia meniupnya, dari waktu ke waktu memercikkan air, dan dari waktu ke waktu hanya melihatnya saja, maka emas itu akan menjadi lunak, dapat dibentuk, dan cerah, lentur dan dapat dikerjakan dengan baik. Kemudian perhiasan apa pun yang ingin dibuat oleh si pandai emas—apakah gelang, anting-anting, kalung, atau kalung bunga dari emas—maka ia dapat mencapai tujuannya.

“Demikian pula, ketika seorang bhikkhu menekuni pikiran yang lebih tinggi, dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan tiga gambaran. Dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran konsentrasi, dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran usaha, dan dari waktu ke waktu ia harus memperhatikan gambaran keseimbangan.

“Jika seorang bhikkhu menekuni pikiran yang lebih tinggi hanya memperhatikan gambaran konsentrasi, maka adalah mungkin bahwa pikirannya akan berbelok ke arah kemalasan. Jika ia hanya memperhatikan gambaran usaha, maka adalah mungkin bahwa pikirannya akan berbelok ke arah kegelisahan. Jika ia hanya memperhatikan gambaran keseimbangan, maka adalah mungkin bahwa pikirannya tidak terkonsentrasi dengan baik untuk hancurnya noda-noda. Tetapi ketika dari waktu ke waktu ia memperhatikan gambaran konsentrasi, dari waktu ke waktu memperhatikan gambaran usaha, dan dari waktu ke waktu memperhatikan gambaran keseimbangan, maka pikirannya menjadi lunak, dapat dibentuk, dan cerah, tidak rapuh melainkan terkonsentrasi dengan baik untuk hancurnya noda-noda. Kemudian, jika ada landasan yang sesuai, maka ia mampu merealisasikan kondisi apa pun yang dapat direalisasikan melalui pengetahuan langsung ke mana ia mengarahkan pikirannya.

“Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin’ … [seluruhnya seperti pada 3:101, hingga] … Jika ia menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya noda-noda, dalam kehidupan ini merealisasikan untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, aku berdiam di dalamnya,’ ia mampu merealisasikannya, jika ada landasan yang sesuai.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com