Sariputta | Suttapitaka | Tentang Pāyāsi Sariputta

Tentang Pāyāsi

Pāyāsi (DN 23)

Perdebatan dengan Seorang Skeptis

Demikianlah Yang Kudengar. Pada suatu ketika Yang Mulia Kumāra Kassapa sedang berkunjung ke Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan ia menetap di sebuah kota yang disebut Setavyā. Ia menetap di utara Setavyā di dalam Hutan Siṁsapā. Pada saat itu Pangeran Pāyāsi menetap di Setavyā, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.

Dan Pangeran Pāyāsi mengembangkan pemikiran salah berikut ini: ‘Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk.’ Sementara itu, para Brahmana dan perumah tangga Setavyā mendengar berita: ‘Petapa Kumāra-Kassapa, seorang siswa Petapa Gotama, sedang berkunjung ke Kosala bersama lima ratus bhikkhu; ia telah tiba di Setavyā dan menetap di utara Setavyā di Hutan Siṁsapā; dan sehubungan dengan Yang Mulia Kassapa suatu berita baik telah beredar: “Ia terpelajar, berpengalaman, bijaksana, berpengetahuan, pembabar yang baik, mampu memberikan jawaban yang benar, terhormat, seorang Arahant.” Dan adalah baik sekali menemui para Arahant demikian.’ Dan demikianlah para Brahmana dan perumah tangga Setavyā, meninggalkan Setavyā melalui gerbang utara dalam jumlah besar, menuju Hutan Siṁsapā.

Dan pada saat itu, Pangeran Pāyāsi naik ke teras atas istananya untuk istirahat siang. Melihat para Brahmana dan perumah tangga berjalan menuju Hutan Siṁsapā, ia bertanya kepada pelayannya mengapa. Sang pelayan berkata: ‘Tuan, ini karena Petapa Kumāra-Kassapa, seorang siswa Petapa Gotama, … dan sehubungan dengannya telah beredar berita baik …

Itulah sebabnya mereka pergi menemuinya.’ ‘Baiklah, pelayan, engkau pergilah kepada para Brahmana dan perumah tangga Setavyā itu dan katakan: “Tuan-tuan, Pangeran Pāyāsi berkata: ‘Mohon tunggu, Sang Pangeran akan pergi menemui Petapa Kumāra-Kassapa ini.”’ Petapa Kumāra-Kassapa ini telah mengajarkan kepada para Brahmana dan perumah tangga Setavyā yang dungu dan tidak berpengalaman ini bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, dan bahwa ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk. Tetapi sebenarnya tidak ada hal-hal demikian.’ ‘Baiklah, Tuan’, jawab si pelayan, dan menyampaikan pesan itu.

Kemudian Pangeran Pāyāsi, disertai dengan para Brahmana dan perumah tangga Setavyā, pergi ke Hutan Siṁsapā di mana Yang Mulia Kumāra-Kassapa berada. Setelah saling bertukar sapa dengan Yang Mulia Kumāra-Kassapa, ia duduk di satu sisi. Dan beberapa Brahmana dan perumah tangga memberi hormat kepada Yang Mulia Kumāra-Kassapa dan duduk di satu sisi, sementara beberapa lainnya pertama-tama bertukar sapa dengannya dan kemudian duduk di satu sisi, beberapa memberi hormat kepadanya dengan merangkapkan tangan, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa hanya berdiam diri duduk di satu sisi.

Kemudian Pangeran Pāyāsi berkata kepada Yang Mulia Kumāra-Kassapa: ‘Yang Mulia Kassapa, aku menganut ajaran dan pandangan ini: Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk.’ ‘Pangeran, aku tidak pernah melihat atau mendengar ajaran atau pandangan demikian seperti yang engkau nyatakan. Dan karena itu, Pangeran, aku akan bertanya kepadamu tentang persoalan ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar.

Bagaimanakah menurutmu, Pangeran? Adakah matahari dan bulan di dunia ini atau dunia lain, adakah dewa-dewa atau manusia?’

‘Yang Mulia Kassapa, semua itu ada di dunia lain, dan mereka adalah para dewa, bukan manusia.’ ‘Demikianlah, Pangeran, engkau harus mempertimbangkan: “Ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.”’

‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman, rekan kerja dan sanak saudara sedarah yang membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan pelanggaran seksual, berbohong, menghina, berkata-kata kasar dan bergosip, yang serakah, penuh kebencian dan menganut pandangan salah. Akhirnya mereka jatuh sakit, menderita, diserang penyakit.

Dan ketika aku yakin bahwa mereka tidak akan sembuh, aku mendatangi mereka dan berkata: “Ada para petapa dan Brahmana yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang membunuh, … menganut pandangan salah, setelah kematian saat hancurnya jasmani, akan terlahir di alam sengsara, di tempat buruk, di tempat hukuman, di neraka. Sekarang engkau telah melakukan hal-hal ini, dan jika apa yang dikatakan para petapa dan Brahmana itu benar, maka kesanalah kalian akan pergi. Sekarang jika, setelah kematian, kalian pergi ke alam sengsara, … datanglah kepadaku dan katakan bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk. Kalian, tuan-tuan, bisa dipercaya dan bisa diandalkan, dan apa yang kalian lihat akan menjadi seolah-olah aku melihatnya sendiri, maka demikianlah adanya.’”Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan. Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.”’

‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar. Bagaimanakah menurutmu, Pangeran? Seandainya mereka membawa seorang maling yang tertangkap basah, dan berkata: “Orang ini, Tuanku, adalah seorang maling yang tertangkap basah. Hukumlah ia seperti yang engkau inginkan.” Dan engkau akan berkata: “Ikat kedua tangannya di belakang dengan tali yang kuat, cukur rambutnya, dan giring ia dengan tabuhan genderang melalui jalan-jalan dan lapangan dan keluar melalui gerbang selatan, dan di sana penggal kepalanya.” Dan mereka, menjawab: “Baik, Tuanku” dan mereka … menggiringnya melalui gerbang selatan, dan di sana memenggal kepalanya.” Sekarang, jika maling itu berkata kepada para algojo: “Algojo yang baik, di kota dan desa ini aku memiliki teman-teman, rekan kerja, sanak saudara sedarah, mohon tunggulah sampai aku mengunjungi mereka semuanya”, apakah ia akan mendapatkan keinginannya? Atau apakah mereka akan langsung memenggal kepala si maling yang banyak bicara itu?’ ‘Ia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, Yang Mulia Kassapa. Mereka akan langsung memenggal kepalanya.’

‘Demikian pula, Pangeran, maling ini bahkan tidak mendapatkan dari algojo manusia agar mereka menunggu sementara ia mengunjungi teman-teman dan sanak-saudaranya. Demikian pula, bagaimana teman-teman, rekan kerja dan sanak saudara sedarahmu yang telah melakukan semua kejahatan ini, setelah kematian dan pergi ke alam sengsara, dapat membujuk penjaga neraka, dengan mengatakan: “Penjaga neraka yang baik, mohon tunggulah sementara kami melaporkan kepada Pangeran Pāyāsi bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.”? Oleh karena itu, Pangeran, akuilah bahwa ada alam lain …’

‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman …yang menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari pelanggaran seksual, menghindari berbohong, menghina, berkata-kata kasar dan bergosip, yang tidak serakah, tidak penuh kebencian dan menganut pandangan benar. Akhirnya mereka jatuh sakit … dan ketika aku yakin bahwa mereka tidak akan sembuh, aku mendatangi mereka dan berkata: “Ada para petapa dan Brahmana yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang menghindari pembunuhan … menganut pandangan benar, setelah kematian saat hancurnya jasmani, akan terlahir di alam bahagia, di alam surga. Sekarang engkau telah melakukan hal-hal ini, dan jika apa yang dikatakan para petapa dan Brahmana itu benar, maka kesanalah kalian akan pergi. Sekarang jika, setelah kematian, kalian pergi ke alam bahagia, alam surga, datanglah kepadaku dan katakan bahwa ada alam lain … Kalian, tuan-tuan, bisa dipercaya dan bisa diandalkan, dan apa yang kalian lihat akan menjadi seolah-olah aku melihatnya sendiri, maka demikianlah adanya.” Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan. Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain …”’

‘Pangeran, aku akan memberikan satu perumpamaan, karena beberapa orang bijaksana akan memahami apa yang disampaikan melalui perumpamaan. Seandainya ada seseorang yang terjatuh ke dalam lubang kotoran dengan kepala jatuh terlebih dulu, dan engkau mengatakan kepada para pelayanmu: “Angkat orang itu keluar dari lubang itu!” dan mereka menjawab: “Baiklah”, dan melakukan hal itu. Kemudian engkau akan mengatakan kepada mereka agar membersihkan badan orang itu dari kotoran dengan pengerik dari bambu, dan kemudian membersihkan pencuci rambut tiga kali dengan pasir kuning. Kemudian engkau mengatakan kepada mereka untuk mengoleskan minyak ke badan orang itu dan kemudian memandikannya tiga kali dengan bubuk sabun yang baik. Kemudian engkau mengatakan kepada mereka untuk mencukur rambut dan janggutnya, dan menghiasnya dengan karangan bunga harum, salep dan pakaian. Akhirnya engkau mengatakan kepada mereka untuk membawanya ke istanamu dan membiarkan ia menikmati kenikmatan lima indria, dan mereka melakukan semua hal itu. Bagaimana menurutmu, Pangeran? Apakah orang itu, setelah mandi bersih, dengan rambut dan janggut tercukur rapi, dhias dengan karangan bunga, berpakaian putih, dan dibawa ke istana, menikmati dan bergembira dalam kenikmatan lima indria, ingin pergi ke lubang kotoran itu lagi?’ ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Mengapa tidak?’ ‘Karena lubang kotoran itu kotor dan dianggap demikian, bau, mengerikan, menjijikkan, dan biasanya dianggap demikian.’

‘Demikianlah, Pangeran, manusia adalah kotor, berbau, mengerikan, menjijikkan dan biasanya dianggap demikian oleh para dewa. Jadi mengapakah teman-temanmu … yang tidak melakukan pelanggaran … (seperti paragraf 8), dan yang telah, setelah kematian terlahir kembali di alam bahagia, alam surga, datang kembali dan mengatakan: “Ada alam lain, … ada buah dari perbuatan baik dan buruk”? Oleh karena itu, Pangeran, akuilah bahwa ada alam lain …’

‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman yang menghindari … berbohong, menghindari meminum minuman keras dan obat-obatan yang melemahkan kesadaran. Akhirnya mereka jatuh sakit … “Ada para petapa dan Brahmana tertentu yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang menghindari pembunuhan … dan obat-obatan yang melemahkan kesadaran akan … terlahir di alam bahagia, di alam surga, di tengah-tengah para Dewa Tiga-Puluh-Tiga …” Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan. Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain …”’

‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apapun yang engkau anggap benar. Yang bagi manusia, Pangeran, seribu tahun adalah satu hari bagi alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa. Tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dua belas bulan menjadi satu tahun, dan umur kehidupan di alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa adalah seribu tahun demikian. Sekarang, seandainya mereka berpikir: “Setelah kita menikmati kenikmatan lima indria selama dua atau tiga hari, kita akan mendatangi Pāyāsi dan mengatakan kepadanya bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk”, apakah mereka dapat melakukan hal itu?’ ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa, karena kita akan telah lama meninggal dunia. Tetapi, Yang Mulia Kassapa siapakah yang memberitahumu bahwa Tiga-Puluh-Tiga Dewa itu ada, dan bahwa mereka berumur demikian panjang? Aku tidak percaya bahwa para Dewa Tiga-Puluh-Tiga itu ada dan berumur begitu panjang.’

‘Pangeran, bayangkan seorang yang buta sejak lahir dan tidak dapat melihat objek-objek yang terang atau gelap, atau objek berwarna biru, kuning, merah atau merah tua, tidak dapat melihat yang kasar dan yang halus, tidak dapat melihat bintang-bintang dan bulan. Ia akan berkata: “Tidak ada objek-objek yang terang dan gelap dan tidak ada yang dapat melihatnya, … tidak ada matahari dan bulan, dan tidak ada yang dapat melihatnya. Aku tidak merasakan objek-objek ini, dan oleh karena itu objek-objek ini tidak ada.” Apakah ia berkata benar, Pangeran?’ ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa. Ada objek-objek yang terang dan gelap …, ada matahari dan bulan, dan siapapun yang mengatakan: “Aku tidak merasakan objek-objek ini, aku tidak dapat melihatnya, dan karena itu objek-objek itu tidak ada” pasti tidak berkata benar.’

“Pangeran, jawabanmu adalah seperti orang buta itu ketika engkau menanyakan bagaimana aku tahu mengenai Tiga-Puluh-Tiga Dewa dan umur mereka yang panjang. Pangeran, alam lain tidak dapat dilihat dengan cara yang engkau pikirkan, dengan mata fisik. Pangeran, para petapa dan Brahmana yang mencari di hutan-hutan belantara dan mengasingkan diri ke dalam hutan sebagai tempat istirahat yang tenang, dengan sedikit kebisingan—mereka hidup tanpa merasa lelah, tekun, terkendali, memurnikan mata-dewa, dan dengan mata-dewa yang telah murni itu yang melampaui penglihatan manusia, mereka melihat alam ini dan alam lain, dan makhluk-makhluk yang terlahir spontan. Itu, Pangeran, adalah bagaimana alam lain dapat dilihat, dan bukan seperti yang engkau pikirkan dengan mata fisik. Oleh karena itu, Pangeran, akuilah bahwa ada alam lain, ada dan makhluk-makhluk yang terlahir spontan, dan ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.’

‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, aku melihat beberapa petapa dan Brahmana yang melaksanakan moralitas dan berperilaku baik, yang ingin hidup, tidak ingin mati, yang menginginkan kenyamanan dan membenci penderitaan. Dan aku menyadari bahwa jika para petapa dan Brahmana baik ini mengetahui bahwa setelah kematian mereka akan menjadi lebih bahagia, maka orang-orang baik ini sebaiknya mengambil racun, mengambil pisau dan bunuh diri, gantung diri, atau melompat ke jurang. Tetapi meskipun mereka memiliki pengetahuan itu, mereka tetap ingin hidup, tidak ingin mati, menginginkan kenyamanan dan membenci penderitaan. Dan itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain …”’

‘Pangeran, aku akan memberikan satu perumpamaan, karena beberapa orang bijaksana akan memahami apa yang disampaikan melalui perumpamaan. Suatu ketika, Pangeran, seorang Brahmana memiliki dua istri. Salah satunya memiliki seorang putra berusia sepuluh atau dua belas tahun, sementara yang lainnya dalam keadaan hamil dan menjelang melahirkan saat Sang Brahmana meninggal dunia. Kemudian anak muda itu berkata kepada ibu tirinya: “Nyonya, apapun kekayaan yang ada, perak atau emas, semuanya milikku. Ayahku telah menunjukku sebagai pewarisnya.” Dan sang nyonya Brahmana itu berkata kepada si anak muda: “Tunggulah, anak muda, sampai aku melahirkan. Jika anak ini laki-laki maka sebagian adalah miliknya, dan jika perempuan, maka ia akan menjadi pelayanmu.” Anak muda itu mengulangi kata-katanya untuk kedua kali, dan menerima jawaban yang sama. Ketika ia mengulangi untuk ketiga kalinya, sang nyonya mengambil pisau, dan masuk ke ruang dalam, membelah perutnya, berpikir: “Seandainya aku tahu apakah anak ini laki-laki atau perempuan!” Dan demikianlah ia menghancurkan dirinya sendiri dan janinnya, dan kekayaannya juga, bagaikan si dungu yang mencari warisannya dengan tidak bijaksana, tidak menyadari bahaya tersembunyi.

‘Demikianlah engkau, Pangeran, bagaikan si dungu memasuki bahaya tersembunyi dengan cara tidak bijaksana mencari alam lain, seperti si nyonya Brahmana yang mencari warisannya. Tetapi, Pangeran, para petapa dan Brahmana yang melaksanakan moralitas dan berperilaku baik tidak mencari cara untuk mempercepat kematangan apa yang belum matang, tetapi dengan bijaksana menunggu kematangannya. Kehidupan adalah menguntungkan bagi para petapa dan Brahmana itu, karena semakin lama para petapa dan Brahmana bermoral dan berperilaku baik itu hidup, semakin besar jasa yang mereka hasilkan; mereka berlatih demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi keuntungan dan manfaat para dewa dan manusia. Oleh karena itu, Pangeran, akuilah bahwa ada alam lain …’

‘Apapun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus di mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku, tertangkap basah dan berkata: “Ini, Tuanku, adalah maling yang tertangkap basah, hukumlah dia sesuai keinginanmu.” Dan aku berkata: “Bawa orang ini dan masukkan ke dalam tabung. Tutup mulutnya dengan kulit basah, oleskan dengan lapisan tanah basah, masukkan ke dalam tungku dan nyalakan api.” Dan mereka melakukan hal itu. Ketika dipastikan bahwa orang itu telah mati, kami membuka tabung, memecahkan lapisan tanah, membuka mulutnya, dan melihat dengan seksama: “Mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Tetapi kami tidak melihat jiwa apa pun yang keluar, dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain …’

‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apapun yang engkau anggap benar. Apakah engkau mengakui bahwa ketika engkau naik untuk beristirahat siang engkau melihat pemandangan-pemandangan menyenangkan, taman-taman, hutan, desa-desa yang indah dan kolam-kolam teratai?’
‘Benar, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Dan pada saat itu apakah engkau tidak dilihat oleh orang-orang bungkuk, orang-orang pendek, gadis-gadis muda dan para perawan?’ ‘Benar, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Dan apakah mereka melihat jiwamu masuk dan keluar dari tubuhmu?’ ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Jadi mereka tidak melihat jiwamu masuk dan keluar dari tubuhmu bahkan selagi engkau masih hidup. Karena itu bagaimana engkau dapat melihat jiwa dari orang yang telah mati masuk dan keluar dari tubuhnya? Oleh karena itu, Pangeran, akuilah bahwa ada alam lain …’

‘Apapun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus di mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Timbang orang ini dalam keadaan hidup, kemudian cekik dia, dan timbang lagi.” Dan mereka melakukan hal itu. Sewaktu ia masih hidup, ia lebih ringan, lebih lunak dan lebih lentur tetapi ketika ia telah mati, ia lebih berat, lebih kaku dan tidak lentur. Dan itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan bahwa tidak ada alam lain …’

‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Seandainya seseorang menimbang sebuah bola besi yang telah dipanaskan sepanjang hari, membara, terbakar hebat, berpijar. Dan seandainya setelah beberapa saat, ketika telah menjadi dingin dan padam, ia menimbangnya lagi. Pada saat yang manakah bole besi itu lebih ringan, lunak dan lebih lentur: saat panas, terbakar, berpijar, atau saat dingin dan padam?’ ‘Yang Mulia, saat bola besi itu panas, terbakar dan bersinar ada unsur api dan angin, maka bola besi itu lebih ringan, lebih lunak dan lebih lentur. Ketika tanpa unsur-unsur ini? bola besi itu menjadi dingin dan padam, bola besi itu menjadi lebih berat, lebih kaku dan lebih tidak lentur.’ ‘Maka, Pangeran, sama dengan jasmani ini. Ketika masih memiliki unsur kehidupan, panas dan kesadaran, maka jasmani ini lebih ringan, lebih lunak dan lebih lentur. Tetapi ketika dipisahkan dari unsur kehidupan, panas dan kesadaran, jasmani ini menjadi lebih berat, lebih kaku dan lebih tidak lentur. Demikianlah, Pangeran, engkau harus mempertimbangkan: “Ada alam lain …”’

‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus di mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Bunuh orang ini tanpa melukai kulit luar, kulit dalam, daging, urat, tulang atau sumsum”, dan mereka melakukan hal itu. Ketika ia hampir mati, aku berkata: “Sekarang baringkan orang ini telentang, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Mereka melakukan hal itu, tetapi kami tidak melihat jiwanya keluar. Kemudian aku berkata: Balikkan ia dengan wajahnya di bawah, … ke samping, … ke arah sebaliknya, … memberdirikannya, … memberdirikan dengan kepala di bawah, pukul dia dengan tinjumu, … lempar dia dengan batu, … pukul dengan tongkat, … tusuk dengan pedang, … guncang dia begini dan begitu, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Dan mereka melakukan semua hal ini, tetapi walaupun ia mempunyai mata namun ia tidak melihat objek-objek atau landasannya, walaupun ia mempunyai telinga namun ia tidak mendengar suara-suara …, walaupn ia mempunyai hidung namun ia tidak mencium bau-bauan …, walaupun ia mempunyai lidah namun ia tidak merasakan kecapan …, walaupun ia mempunyai badan namun ia tidak merasakan sentuhan objek-objek atau sekelilingnya. Dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain …’

‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika ada seorang peniup trompet yang membawa trompetnya dan pergi ke perbatasan. Sesampainya di sebuah desa, ia berdiri di tengah desa, meniup trompetnya tiga kali dan kemudian, meletakkan trompet itu di atas tanah, dan duduk di satu sisi. Kemudian, Pangeran, para penduduk perbatasan berpikir: ‘Dari manakah suara itu datang, begitu indah, begitu merdu, begitu memabukkan, begitu menggoda, begitu memikat?” Mereka bertanya kepada si peniup trompat. “Teman-teman, trompet ini adalah darimana suara indah itu berasal.” Maka kemudian mereka meletakkan trompet itu dan berteriak: “Bicaralah, tuan trompet, bicaralah!” Tetapi trompet itu tidak bersuara. Kemudian mereka membalikkannya menghadap ke bawah … ke samping, … ke arah sebaliknya, … memberdirikannya, … memberdirikan dengan menghadap ke bawah, … memukul dengan tinju mereka, … melemparnya dengan batu, … memukulnya dengan tongkat, … menusuknya dengan pedang, … mengguncangnya begini dan begitu, dan mereka berteriak: “Bicaralah, tuan trompet, bicaralah!” Tetapi trompet itu tidak bersuara. Si peniup trompet berpikir: “Betapa dungunya para penduduk perbatasan ini! Betapa bodohnya mereka mencari suara dari trompet ini!” Dan selagi mereka memperhatikan, ia mengambil trompet itu, meniupnya tiga kali dan pergi. Dan para penduduk perbatasan itu berpikir:

“Sepertinya ketika trompet itu disertai oleh seseorang, dengan usaha dan dengan angin, maka ia akan bersuara. Tetapi ketika tidak disertai oleh seseorang, tanpa usaha atau tanpa angin, maka ia tidak bersuara.”

‘Demikian pula, Pangeran, ketika jasmani ini memiliki kehidupan, panas dan kesadaran, maka jasmani ini berjalan kesana kemari, berdiri dan duduk dan berbaring,melihat objek-objek dengan matanya, mendengar suara-suara dengan telinganya, mencium bau-bauan dengan hidungnya, mengecap rasa dengan lidahnya, merasakan sentuhan dengan badannya, dan mengenali objek-objek pikiran dengan pikirannya. Tetapi ketika tidak memiliki kehidupan, panas atau kesadaran, maka tidak ada hal-hal ini. Demikianlah, Pangeran, engkau harus mempertimbangkan: bahwa “Ada alam lain …”’

‘Apapun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain …’ ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini, Pangeran?’ ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’ ‘Apakah itu, Pangeran?’

‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus yang mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Kuliti kulit luar orang ini, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Kemudian aku berkata kepada mereka agar menguliti kulit dalamnya, dagingnya, uratnya, tulang, sumsum … tetapi kami tetap tidak melihat jiwanya keluar. Dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain …’

‘Baiklah, Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika ada seorang pemuja api berambut kusut yang tinggal di hutan di gubuk daun. Dan sekelompok suku sedang melakukan perjalanan, dan pemimpinnya menetap selama satu malam di dekat tempat tinggal si pemuja api, dan kemudian pergi. Maka si pemuja api berpikir untuk pergi ke tempat itu untuk mencari sesuatu yang dapat ia gunakan. Ia bangun pagi dan pergi ke tempat itu, dan di sana ia melihat seorang bayi laki-laki kecil dan lembut terbaring telentang. Melihat pemandangan itu ia berpikir: ‘Tidaklah benar jika aku melihat dan membiarkan manusia mati. Lebih baik aku membawa anak ini ke pertapaanku, merawatnya, memberinya makan dan membesarkannya.” Maka ia melakukan hal itu. Ketika anak itu berusia sepuluh atau dua belas tahun, petapa itu harus pergi ke desa untuk suatu urusan. Maka ia berkata kepada anak itu: “Aku akan pergi ke desa, anakku. Engkau jagalah api ini dan jangan sampai padam. Jika hampir padam, ini kapak, ini beberapa tongkat, ini beberapa kayu api, agar engkau dapat menyalakan kembali api ini dan menjaganya.” Setelah memberikan instruksi kepada anak itu, si petapa pergi ke desa. Namun anak itu, tenggelam dalam permainannya, membiarkan api itu padam. Kemudian ia berpikir: “Ayah berkata: ‘ … ini kapak … agar engkau dapat menyalakan kembali api ini dan menjaganya.’ Sekarang aku sebaiknya berbuat demikian!” Maka ia membelah kayu-api itu menggunakan kapak, berpikir: “Aku harap aku akan mendapatkan api dengan cara ini.” Tetapi ia tidak mendapatkan api. Ia memotong kayu api itu menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, sepuluh, seratus potong, membuatnya menjadi serpihan, ia menumbuknya menjadi bubuk, menampinya di angin, berpikir: “Aku harap aku akan mendapatkan api dengan cara ini.” Tetapi ia tidak mendapatkan api, dan ketika si petapa pulang, setelah menyelesaikan urusannya, ia berkata: “Anakku, mengapa engkau membiarkan api itu padam?” dan anak itu memberitahukan apa yang telah terjadi. Petapa itu berpikir: “Betapa dungunya anak ini, betapa bodohnya! Cara yang tidak masuk akal untuk mendapatkan api!” Maka, selagi anak itu memperhatikan, ia mengambil kayu-api, dan menyalakan kembali api itu, berkata: “Anakku, beginilah cara untuk menyalakan kembali api, bukan dengan cara dungu, bodoh, dan tidak masuk akal seperti yang engkau lakukan!”

‘Demikian pula, Pangeran, engkau mencari-cari alam lain secara dungu, bodoh dan tidak logis. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini. Raja Pasenadi dari Kosala mengetahui pendapatku, dan demikian pula raja-raja di luar negeri. Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi, betapa bodohnya ia mencengkeram pandangan salah!” Aku akan mempertahankan pandangan ini meskipun mendapatkan kemarahan, hinaan dan siksaan.

‘Baiklah, Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika, Pangeran, ada sekelompok besar pedagang terdiri dari seribu kereta sedang melakukan perjalanan dari timur ke barat. Dan ke mana pun mereka pergi, mereka dengan cepat menghabiskan semua rumput, kayu, dan tumbuh-tumbuhan. Kelompok ini memiliki dua pemimpin, masing-masing [343 bertanggung jawab atas lima ratus kereta. Dan mereka berpikir: “Ini adalah kelompok besar terdiri dari seribu kereta. Kemanapun kami pergi kami menghabiskan semua perbekalan. Mungkin sebaiknya kami membagi kelompok ini menjadi dua masing-masing lima ratus”, dan mereka melakukannya. Kemudian salah satu pemimpin itu mengumpulkan cukup rumput, kayu dan air, dan berangkat. Setelah dua atau tiga hari perjalanan ia melihat seorang berkulit gelap dan bermata merah datang ke arahnya membawa kantung anak panah dan mahkota bunga teratai, dengan baju dan rambutnya basah, mengendarai kereta keledai yang rodanya berlumpur. Melihat orang itu, si pemimpin berkata “Dari manakah engkau, Tuan?” “Dari sana.” “Dan kemanakah tujuanmu?” “Ke sana” “Apakah telah turun hujan deras di hutan di depan sana?” “Oh ya, tuan, telah turun hujan deras di hutan di depan kalian, jalan dibanjiri air dan ada banyak rumput, kayu dan air. Buanglah rumput, kayu dan air yang kalian bawa, Tuan! Kalian akan berjalan lebih cepat dengan kereta bermuatan ringan jangan melelahkan sapi-sapi penarik kalian!” pemimpin kelompok itu memberitahu para kusir apa yang dikatakan orang itu: “Buang semua rumput, kayu dan air …” dan mereka melakukannya. Tetapi di tempat perhentian pertama mereka tidak menemukan rumput, kayu dan air, juga tidak di tempat ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam atau ke tujuh, dan dengan demikian mereka semua mendatangi kehancuran. Dan mereka semuanya, manusia dan sapi dilahap oleh yakkha, dan hanya tulang-belulang mereka yang tersisa.

‘Dan ketika pemimpin kelompok kedua yakin bahwa kelompok pertama telah pergi cukup jauh, ia mengumpulkan cukup rumput, kayu dan air. Setelah dua atau tiga hari perjalanan ia melihat seorang berkulit gelap dan bermata merah datang ke arahnya … yang menyarankan kepadanya untuk membuang perbekalan rumput, kayu dan air. Kemudian si pemimpin berkata kepada para kusir: “Orang ini memberitahukan agar kita membuang rumput, kayu dan air yang kita miliki. Tetapi dia bukan teman atau saudara kita, jadi mengapa kita harus mempercayainya? Jadi jangan buang rumput, kayu dan air yang kita miliki; biarkan kelompok ini melanjutkan perjalanan dengan barang-barang yang telah kita bawa, dan jangan membuangnya!” Para kusir setuju dan melakukan sesuai perintah. Dan di tempat perhentian pertama mereka tidak menemukan rumput, kayu dan air, juga tidak di tempat ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam atau ke tujuh, tetapi di sana mereka melihat puing-puing dari kelompok pertama, dan mereka melihat tulang-belulang dari manusia dan sapi yang telah dilahap oleh yakkha. Kemudian pemimpin kelompok itu berkata kepada para kusir: “Kelompok itu mengalami kehancuran karena kebodohan pemimpinnya. Jadi sekarang, mari kita meninggalkan barang-barang kita yang kurang berharga, dan mengambil barang-barang yang lebih berharga dari kelompok itu.” Dan mereka melakukan hal itu. Dan dengan pemimpin yang bijaksana itu, mereka melewati hutan itu dengan selamat.

‘Demikian pula engkau, Pangeran, akan mengalami kehancuran jika engkau secara dungu dan tidak bijaksana mencari alam lain dengan cara yang salah. Mereka yang berpikir bahwa mereka dapat mempercayai segala sesuatu yang mereka dengar akan mengalami kehancuran seperti kelompok pedagang itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini … Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi …”’

‘Baiklah, Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika, ada seorang peternak babi yang pergi dari desanya ke desa lain. Di sana ia melihat tumpukan kotoran kering yang dibuang, dan ia berpikir: “Ada banyak kotoran yang dibuang, itu dapat menjadi makanan babi-babiku. Aku akan mengambilnya. Dan ia menghamparkan jubahnya, mengumpulkan kotoran, membungkusnya dan memikulnya di atas kepalanya, dan pergi. Namun dalam perjalanan pulang itu, turun hujan deras yang bukan pada musimnya, dan ia melanjutkan perjalanannya dengan kotoran mengalir, menetes hingga ke ujung jarinya, dan ia masih tetap membawa beban kotoran itu. Mereka yang melihatnya berkata: “Engkau pasti gila! Mengapa engkau bepergian membawa beban kotoran yang mengalir dan menetes hingga ke ujung jarimu?” “Engkaulah yang gila! Ini adalah makanan untuk babi-babiku.” Pangeran, engkau berbicara seperti si pembawa kotoran dalam perumpamaanku itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini … Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi …”’

‘Baiklah, Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika, ada dua orang penjudi yang menggunakan kacang sebagai dadu. Salah satu dari mereka, saat kalah, menelan dadu kacang itu. Yang lain melihat apa yang ia lakukan, dan berkata: “Baiklah, temanku, engkau adalah pemenangnya! Berikan dadu itu dan aku akan memberikan persembahan.” “Baiklah”, jawab yang pertama, dan memberikan dadu itu kepadanya. Kemudian yang lain mengisi dadu itu dengan racun, dan kemudian berkata: “Mari, ayo bermain!” Yang lain setuju, mereka bermain lagi, dan sekali lagi salah satu pemain itu, saat kalah, menelan dadu itu. Orang kedua melihatnya melakukan hal itu, dan mengucapkan syair berikut:

“Dadu telah dilumuri dengan zat yang membakar,
Walaupun yang menelan tidak mengetahuinya.
Menelan, menipu, dan menelan dengan baik –
Pahitnya terasa seperti neraka!”

Pangeran, engkau berbicara seperti penjudi dalam perumpamaanku itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini … Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi …”’

‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan … Suatu ketika, beberapa penduduk dari suatu daerah merantau. Dan seseorang berkata kepada temannya: “Ayo, mari kita pergi ke desa itu, kita mungkin menemukan sesuatu yang berharga!” temannya setuju, maka mereka pergi ke daerah itu, dan sampai ke jalan desa. Dan di sana mereka melihat tumpukan rami yang telah dibuang, dan salah seorang berkata: “Ini adalah tumpukan rami. Engkau buat seikat, aku buat seikat, dan kita berdua akan membawanya.” Yang lainnya setuju, dan mereka melakukan hal itu. Kemudian, mereka sampai ke jalan desa yang lain, mereka menemukan tumpukan benang rami, dan salah satu dari mereka berkata: “Tumpukan benang rami ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami ini. Mari kita buang rami yang kita bawa, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban benang rami ini.” “Aku telah membawa rami ini menempuh perjalanan yang jauh dan rami ini sudah terikat dengan baik. Ini cukup buatku—engkau lakukanlah apa yang engkau suka!” Maka temannya membuang rami itu dan mengambil benang rami.

‘Sampai di jalan desa lainnya, mereka menemukan beberapa kain rami, dan salah seorang dari mereka berkata: “Tumpukan kain rami ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami atau benang rami ini. Engkau buanglah beban rami itu dan aku akan membuang beban benang rami ini, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban kain rami ini.” Tetapi yang lainnya menjawab seperti sebelumnya, maka temannya membuang benang rami itu dan mengambil kain rami. Di desa lainnya mereka melihat tumpukan batang linen …, di desa lainnya lagi, benang linen …, di desa lainnya lagi, kain linen …, di desa lainnya lagi, kapas …, di desa lainnya lagi, benang katun …, di desa lainnya lagi, kain katun …, di desa lainnya lagi, besi …, di desa lainnya lagi, tembaga …, di desa lainnya lagi, timah …, di desa lainnya lagi, timah hitam …, di desa lainnya lagi, perak …, di desa lainnya lagi, emas. Kemudian salah seorang berkata: “Tumpukan emas ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami, benang rami, kain rami, batang linen, benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, timah, timah hitam, perak ini. Engkau buanglah beban rami itu dan aku akan membuang beban perak ini, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban emas ini.” “Aku telah membawa rami ini menempuh perjalanan yang jauh dan rami ini sudah terikat dengan baik. Ini cukup buatku—engkau lakukanlah apa yang engkau suka!” Maka temannya membuang beban perak itu dan mengambil emas.

‘Kemudian mereka pulang ke desa mereka. Dan di sana, ia yang membawa beban rami tidak memberikan kesenangan kepada orangtua, istri dan anak-anaknya, dan ia bahkan tidak mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Tetapi ia yang pulang membawa emas memberikan kesenangan bagi orangtua, istri dan anak-anaknya, teman dan rekan-rekannya, dan ia mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri juga.

‘Pangeran, engkau berbicara seperti si pembawa rami dalam perumpamaanku. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Aku senang dan gembira dengan perumpamaan pertama dari Yang Mulia Kassapa, dan aku ingin mendengarkan jawaban cerdasnya atas pertanyaan-pertanyaan, karena aku merasa bahwa ia adalah seorang lawan bicara yang berharga. Sungguh indah, Yang Mulia Kassapa, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terbalik, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Kassapa telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Dan aku, Yang Mulia Kassapa, berlindung kepada Sang Bhagavā, Dhamma dan Sangha. Sudilah Yang Mulia Kassapa menerimaku sejak hari ini sebagai seorang umat awam sampai akhir hidupku! Dan, Yang Mulia Kassapa, aku ingin menyelenggarakan pengorbanan besar. Nasihatilah aku, Yang Mulia Kassapa, bagaimana melakukan hal ini demi manfaat dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.’

‘Pangeran, jika pengorbanan dilakukan dengan menyembelih sapi, kambing, unggas atau babi, atau berbagai makhluk dibunuh, dan para pesertanya memiliki pandangan salah, pemikiran salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian salah dan konsentrasi salah, maka pengorbanan itu tidak akan menghasilkan buah atau manfaat, tidak cemerlang dan tidak bersinar. Bagaikan, Pangeran, seorang petani pergi ke hutan membawa bajak dan benih, dan di sana, di tanah tanpa humus yang belum diolah yang mana tunggul-tunggul belum dicabut, ia menanam benih yang telah rusak, layu, hancur terkena angin dan panas, basi, dan tidak ditanam dengan baik di tanah, dan dewa hujan tidak menurunkan hujan pada waktunya—akankah benih ini bertunas, tumbuh dan berkembang, dan akankah petani itu mendapatkan panen yang berlimpah?’ ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’

‘Maka, Pangeran, sama halnya dengan pengorbanan yang dilakukan dengan menyembelih sapi, … dan para pesertanya memiliki pandangan salah, … konsentrasi salah. Tetapi jika tidak ada makhluk yang dibunuh dan para pesertanya memiliki pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar, maka pengorbanan itu akan menghasilkan buah dan manfaat besar, cemerlang dan bersinar. Bagaikan, Pangeran, seorang petani pergi ke hutan membawa bajak dan benih, dan di sana, di tanah berhumus yang gembur di mana tunggul-tunggul telah dicabut, ia menanam benih yang tidak rusak, tidak layu, tidak hancur terkena angin dan panas, tidak basi, dan ditanam dengan baik di tanah, dan dewa hujan menurunkan hujan pada waktunya—akankah benih ini bertunas, tumbuh dan berkembang, dan akankah petani itu mendapatkan panen yang berlimpah?’ ‘Ia akan mendapatkannya, Yang Mulia Kassapa.’

‘Demikian pula, Pangeran, pada pengorbanan dimana tidak ada sapi yang disembelih, … dan para pesertanya memiliki pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar, maka pengorbanan itu akan menghasilkan buah dan manfaat besar, cemerlang dan bersinar.’

Kemudian Pangeran Pāyāsi memberikan persembahan kepada para petapa dan Brahmana, para pengemis dan kaum miskin. Dan di sana makanan yang diberikan adalah dari beras berkualitas rendah dengan bubur yang asam, dan juga pakaian kasar berlubang-lubang. Dan seorang Brahmana muda bernama Uttara bertanggung jawab dalam hal pembagian persembahan. Merujuk pada hal ini, ia berkata: ‘Melalui persembahan ini aku bergabung dengan Pangeran Pāyāsi di dunia ini, tetapi tidak di dunia berikutnya.’

Dan Pangeran Pāyāsi mendengar kata-katanya, maka ia memanggilnya dan bertanya apakah ia memang mengatakan hal itu. ‘Benar, Tuanku.’ ‘Tetapi mengapa engkau mengatakan hal itu? Sahabat Uttara. Tidakkah kita yang ingin memperoleh jasa mengharapkan imbalan atas persembahan kita?’

‘Tetapi, Tuanku, makanan yang engkau berikan—beras kualitas rendah dengan bubur asam—engkau tidak akan sudi menyentuhnya dengan kakimu, apalagi memakannya! Dan pakaian kasar berlubang-lubang—engkau tidak akan sudi menginjakkan kakimu di atasnya, apalagi memakainya! Tuanku, engkau baik dan lembut kepada kami, jadi bagaimana kami dapat menggabungkan kebaikan dan kelembutan dengan keburukan dan kekasaran?’ ‘Baiklah, Uttara, engkau aturlah persembahan makanan seperti yang kumakan dan pakaian seperti yang kupakai.’ ‘Baiklah, Tuanku’, jawab Uttara, dan ia melakukan hal itu.

Dan Pangeran Pāyāsi, karena ia telah menyelenggarakan persembahan dengan enggan, tidak dengan kedua tangannya, dan tanpa perhatian yang selayaknya, seperti membuang sesuatu, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di tengah-tengah Empat Raja Dewa, di dalam istana kosong Serīsaka. Tetapi Uttara yang telah menyelenggarakan persembahan tidak dengan enggan, dengan kedua tangannya, dan dengan perhatian yang selayaknya, tidak seperti membuang sesuatu, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, di tengah-tengah para Dewa Tiga-Puluh-Tiga.

Pada saat itu, Yang Mulia Gavampati biasa mengunjungi istana kosong Serīsaka untuk beristirahat siang. Dan Dewa Pāyāsi menjumpai Yang Mulia Gavampati, memberi hormat kepadanya, dan berdiri di satu sisi. Dan Yang Mulia Gavampati berkata kepadanya, selagi ia berdiri di sana: ‘Siapakah engkau, teman?’ ‘Yang Mulia, aku adalah Pangeran Pāyāsi.’ ‘Teman, bukankah engkau adalah orang yang mengatakan: “Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk”?’ ‘Benar, Yang Mulia, aku adalah orang yang mengatakan hal itu, tetapi aku telah dialihkan dari pandangan salah itu oleh Yang Mulia Kumāra Kassapa.’ ‘Dan dimanakah Brahmana muda Uttara yang bertanggung jawab dalam pembagian persembahanmu itu, terlahir kembali?’

‘Yang Mulia, ia yang memberikan persembahan dengan tidak merasa enggan … terlahir kembali di antara para Dewa Tiga-Puluh-Tiga, tetapi, aku, yang memberikan dengan enggan, … terlahir kembali di sini di istana Serīsaka yang kosong. Yang Mulia, mohon, saat engkau kembali ke bumi, katakan kepada orang-orang untuk memberi tanpa enggan … dan beritahukan mereka tentang bagaimana Pangeran Pāyāsi dan Brahmana muda Uttara terlahir kembali.’

Dan demikianlah Yang Mulia Gavampati, setelah kembali ke bumi, menyatakan: ‘Engkau harus memberi tanpa enggan, dengan kedua tanganmu sendiri, dengan perhatian yang selayaknya, tidak dengan sembrono. Pangeran Pāyāsi tidak melakukan hal ini, dan setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di tengah-tengah Empat Raja Dewa di dalam istana Serīsaka yang kosong, sedangkan pelaksana persembahannya, Brahmana muda Uttara, yang memberi tanpa enggan, dengan kedua tangannya, dengan perhatian yang selayaknya dan tidak dengan sembrono, terlahir kembali di tengah-tengah para Dewa Tiga-Puluh-tiga.’

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com