Sariputta | Suttapitaka | Tubuh Sariputta

Tubuh

Kāya (SN 46.2)

(i. Makanan bagi rintangan)
Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, seperti halnya tubuh ini, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan, demikian pula kelima rintangan, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya keinginan indria yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya keinginan indria yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, gambaran keindahan: berulang-ulang memperhatikan dengan tidak seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya keinginan indria yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya keinginan indria yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya permusuhan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya permusuhan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, gambaran kejijikan: berulang-ulang memperhatikan dengan tidak seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya permusuhan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya permusuhan yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya kelambanan dan ketumpulan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya kelambanan dan ketumpulan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, ketidak-puasan, kelesuan, kemalasan, kantuk setelah makan, kelembaman pikiran: berulang-ulang memperhatikan dengan tidak seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya kelambanan dan ketumpulan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya kelambanan dan ketumpulan yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, kekacauan pikiran: berulang-ulang memperhatikan dengan tidak seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya keragu-raguan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya keragu-raguan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, hal-hal yang melandasi keragu-raguan: berulang-ulang memperhatikan dengan tidak seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya keragu-raguan yang belum muncul dan untuk meningkatnya dan meluasnya keragu-raguan yang telah muncul.

“Seperti halnya tubuh ini, para bhikkhu, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan, demikian pula kelima rintangan, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan.

(ii. Makanan bagi faktor-faktor pencerahan)
“Para bhikkhu, seperti halnya tubuh ini, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan, demikian pula tujuh faktor pencerahan, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan perhatian yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan perhatian yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, hal-hal yang menjadi landasan bagi faktor pencerahan perhatian: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan perhatian yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan perhatian yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, kondisi-kondisi bermanfaat dan tidak bermanfaat, kondisi-kondisi tercela dan tanpa cela, kondisi-kondisi hina dan mulia, kondisi-kondisi gelap dan cerah, dengan pendampingnya masing-masing: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan kegigihan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan kegigihan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, unsur membangkitkan, unsur usaha, unsur pengerahan: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan kegigihan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan kegigihan yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan sukacita yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan sukacita yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, hal-hal yang menjadi landasan bagi faktor pencerahan sukacita: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan sukacita yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan sukacita yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan ketenangan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan ketenangan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, ketenangan jasmani, ketenangan batin: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan ketenangan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan ketenangan yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan konsentrasi yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan konsentrasi yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, gambaran ketenangan dan gambaran ketidak-kacauan: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan konsentrasi yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan konsentrasi yang telah muncul.

“Dan apakah, para bhikkhu, makanan bagi munculnya faktor pencerahan keseimbangan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan keseimbangan yang telah muncul? Ada, para bhikkhu, hal-hal yang menjadi landasan bagi faktor pencerahan keseimbangan: berulang-ulang memperhatikan dengan seksama terhadapnya adalah makanan bagi munculnya faktor pencerahan keseimbangan yang belum muncul dan bagi pemenuhan-melalui-pengembangan atas faktor pencerahan keseimbangan yang telah muncul.

“Seperti halnya tubuh ini, para bhikkhu, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan, demikian pula tujuh faktor pencerahan, terpelihara oleh makanan, bertahan hidup dengan bergantung pada makanan dan tidak bertahan tanpa makanan.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com