Sariputta | Suttapitaka | Kepada Subha Sariputta

Kepada Subha

Subha (MN 99)

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu murid brahmana Subha, putera Todeyya, sedang menetap di rumah seorang perumah-tangga di Sāvatthī untuk suatu urusan. Kemudian murid brahmana Subha, putera Todeyya, bertanya kepada si perumah-tangga yang menjadi tuan rumahnya: “Perumah-tangga, aku mendengar bahwa Sāvatthī tidak kosong dari para Arahant. Petapa atau brahmana manakah yang dapat kami kunjungi hari ini untuk memberikan penghormatan?”

“Tuan, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Engkau boleh memberikan penghormatan kepada Sang Bhagavā itu, Tuan.”

Kemudian, setelah menyetujui saran si perumah-tangga, murid brahmana Subha, putera Todeyya, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā:

“Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Perumah-tangga menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. Seorang yang meninggalkan keduniawian menuju kehidupan tanpa rumah tidak menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Murid, Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan ini secara sepihak. Aku tidak memuji jalan praktik yang salah baik di pihak perumah-tangga maupun seorang yang meninggalkan keduniawian; karena apakah seorang perumah-tangga ataupun seorang yang meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki jalan praktik yang salah, karena jalan praktiknya yang salah, maka ia tidak menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. Aku memuji jalan praktik yang benar baik di pihak perumah-tangga maupun seorang yang meninggalkan keduniawian; karena baik seorang perumah-tangga ataupun seorang yang meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki jalan praktik yang benar, karena jalan praktiknya yang benar, maka ia menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.”

“Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Karena pekerjaan dalam kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, maka berbuah besar. Karena pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, maka berbuah kecil.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Sekali lagi, murid, Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan ini secara sepihak. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika gagal, maka berbuah kecil. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah besar. Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika gagal, maka berbuah kecil. Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah besar.

“Apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang, jika gagal, maka berbuah kecil? Pertanian adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang jika gagal, maka berbuah kecil. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang, jika berhasil, maka berbuah besar? Pertanian juga adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang jika berhasil, maka berbuah besar. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang, jika gagal, maka berbuah kecil? Perdagangan adalah pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang jika gagal, maka berbuah kecil. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang, jika berhasil, maka berbuah besar? Perdagangan juga adalah pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang jika berhasil, maka berbuah besar.

“Seperti halnya pertanian, murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … tetapi berbuah kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dalam kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, tetapi berbuah kecil jika gagal. Seperti halnya pertanian yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … dan berbuah besar jika berhasil, demikian pula pekerjaan dalam kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan dan berbuah besar jika berhasil. Seperti halnya perdagangan, murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … dan berbuah kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, dan berbuah kecil jika gagal. Seperti halnya perdagangan yang merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … tetapi berbuah besar jika berhasil, demikian pula pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan,tetapi berbuah besar jika berhasil.”

“Guru Gotama, para brahmana menetapkan lima hal bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”

“Jika tidak merepotkan engkau, murid, silahkan sebutkan pada kumpulan ini kelima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”

“Tidak merepotkan bagiku, Guru Gotama, ketika Yang Mulia seperti Engkau dan yang lainnya sedang duduk dalam kumpulan ini.”

“Maka sebutkanlah, murid.”

“Guru Gotama, kebenaran adalah hal pertama yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Pertapaan adalah hal ke dua … Kehidupan selibat adalah hal ke tiga … Belajar adalah hal ke empat … Kedermawanan adalah hal ke lima yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Ini adalah lima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Bagaimanakah, murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?”—“Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimanakah, murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut:
‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimanakah, murid, para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian, yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan, diucapkan, dan dihimpun, yang oleh para brahmana sekarang masih dibacakan dan diulangi—yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu—apakah bahkan para petapa brahmana masa lampau ini mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?”—“Tidak, Guru Gotama.”

“Jadi, murid, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Dan di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Dan para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian … bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan dengan yang berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, murid, sehubungan dengan pernyataan mereka, para brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya, menjadi marah dan tidak senang dengan perumpamaan sebaris orang buta itu, dan ia mencaci, menghina, dan mencela Sang Bhagavā, dengan mengatakan: “Petapa Gotama akan dikalahkan.” Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, Brahmana Pokkharasāti dari suku Upamaññā, penguasa Hutan Subhaga, berkata sebagai berikut: ‘Beberapa petapa dan brahmana di sini mengaku telah mencapai kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Tetapi apa yang mereka katakan terbukti menggelikan; terbukti hanya sekadar kata-kata, kosong dan hampa. Karena bagaimana mungkin seorang manusia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia? Itu adalah tidak mungkin.’”

“Bagaimanakah, murid, apakah Brahmana Pokkharasāti memahami pikiran semua petapa dan brahmana, setelah melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya sendiri?”

“Guru Gotama, Brahmana Pokkharasāti bahkan tidak memahami pikiran budak perempuannya Puṇṇikā, setelah melingkupinya dengan pikirannya sendiri, jadi bagaimana mungkin ia memahami pikiran semua petapa dan brahmana itu?”

“Murid, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa yang rata dan tidak rata, yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Ia mungkin berkata sebagai berikut: ‘Tidak ada bentuk-bentuk yang gelap dan terang, tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang; tidak ada bentuk-bentuk yang berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda, dan tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda tidak ada yang rata dan tidak rata, dan tidak ada seorangpun yang melihat apa yang rata dan tidak rata; tidak ada bintang-bintang dan tidak ada matahari dan bulan, dan tidak ada seorangpun yang melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Aku tidak mengetahui hal-hal ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak ada.’ Dengan berkata demikian, murid, apakah ia mengatakan yang sebenarnya?”

“Tidak, Guru Gotama. Ada bentuk-bentuk yang gelap dan terang, dan ada orang-orang yang melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … ada bintang-bintang dan ada matahari dan bulan, dan ada orang-orang yang dapat melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Dengan mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui hal-hal ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak ada,’ maka ia tidak mengatakan yang sebenarnya.”

“Demikian pula, murid, Brahmana Pokkharasāti adalah buta dan tidak berpenglihatan. Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia—ini adalah tidak mungkin. Bagaimana menurutmu, murid? Apakah yang lebih baik bagi para brahmana kaya dari Kosala seperti Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti, Brahmana Jāṇussoṇi, atau ayahmu, Brahmana Todeyya—bahwa pernyataan mereka selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?”—“Bahwa pernyataan mereka selaras dengan konvensi duniawi, Guru Gotama.”

“Apakah yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan mereka adalah penuh pertimbangan atau tanpa pertimbangan?”—“Penuh pertimbangan, Guru Gotama.”—“Apakah yang lebih baik bagi mereka, bahwa mereka membuat pernyataan setelah merenungkan atau tanpa perenungan?”—“Setelah merenungkan, Guru Gotama.”—“Apakah yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan yang mereka buat adalah bermanfaat atau tidak bermanfaat?”—“Bermanfaat, Guru Gotama.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Kalau begitu, apakah pernyataan yang dibuat oleh Brahmana Pokkharasāti selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?—“Pernyataannya melawan konvensi duniawi, Guru Gotama.”—“Apakah pernyataan itu dibuat dengan penuh pertimbangan atau tanpa pertimbangan?”—“Tanpa pertimbangan, Guru Gotama.”—“Apakah pernyataan itu dibuat setelah direnungkan atau tanpa perenungan?”—“Tanpa perenungan, Guru Gotama.”—“Apakah pernyataan yang dibuat itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?”—“Tidak bermanfaat, Guru Gotama.”

“Sekarang ada lima rintangan ini, murid. Apakah lima ini? Rintangan keinginan indria, rintangan permusuhan, rintangan kelambanan dan ketumpulan, rintangan kegelisahan dan penyesalan, dan rintangan keragu-raguan. Ini adalah lima rintangan. Brahmana Pokkharasāti terhalangi, terintangi, terganjal, dan terselubung oleh kelima rintangan ini. Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia—ini adalah tidak mungkin.

“Sekarang ada lima utas kenikmatan indria ini, murid. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria. Brahmana Pokkharasāti terikat pada kelima utas kenikmatan indria ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya menjalaninya; ia menikmatinya tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan membebaskan diri darinya. Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia—ini adalah tidak mungkin.

“Bagaimana menurutmu, murid? Yang manakah dari kedua api ini yang memiliki kobaran, warna, dan cahaya yang lebih baik—api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar, seperti rumput dan kayu, atau api yang menyala tanpa bergantung pada bahan bakar, seperti rumput dan kayu?”

“Jika memungkinkan, Guru Gotama, bagi api untuk menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, maka api itu akan memiliki kobaran, warna, dan cahaya yang lebih baik.”

“Adalah tidak mungkin, murid, tidak dapat terjadi api menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu kecuali dengan pengerahan kekuatan batin. Yang seperti api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang bergantung pada kelima utas kenikmatan indria. Yang seperti api yang menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah, murid, sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ini juga adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.

“Dari kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, yang manakah dari kelima itu yang mereka tetapkan sebagai yang paling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat?”

“Dari kelima hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, mereka menetapkan kedermawanan sebagai yang paling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Di sini seorang brahmana mungkin sedang mengadakan upacara pengorbanan besar, dan dua brahmana lainnya pergi ke sana dengan pikiran untuk berpartisipasi dalam upacara besar tersebut. Salah satu brahmana itu berpikir: ‘Oh, semoga hanya aku yang mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan; semoga tidak ada brahmana lain yang mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan!’ Dan adalah mungkin bahwa brahmana lainnya, bukan brahmana itu, mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan. Karena memikirkan hal ini, brahmana pertama menjadi marah dan tidak senang. Jenis akibat apakah yang dijelaskan oleh para brahmana untuk hal ini?”

“Guru Gotama, para brahmana tidak memberikan persembahan dengan cara itu, dengan berpikir: ‘Semoga orang lain menjadi marah dan tidak senang karena hal ini.’ Sebaliknya, para brahmana memberikan persembahan karena didorong oleh belas kasih.”

“Oleh karena itu, murid, tidakkah ini menjadi landasan ke enam para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih?”

“Oleh karena itu, Guru Gotama, itu adalah landasan ke enam para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih.”

“Kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat—di manakah engkau lebih sering melihat kelima hal tersebut, pada para perumah-tangga atau pada mereka yang meninggalkan keduniawian?”

“Kelima hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang terlihat pada para perumah-tangga. Karena perumah-tangga memiliki banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan: ia tidak secara konstan dan senantiasa mengucapkan kebenaran, mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni pelajaran, atau menekuni kedermawanan. Tetapi seseorang yang meninggalkan keduniawian memiliki sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan: ia secara konstan dan senantiasa mengucapkan kebenaran, mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni pelajaran, dan menekuni kedermawanan. Demikianlah kelima hal itu, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang terlihat pada para perumah-tangga.”

“Kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, Aku menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Di sini, murid, seorang bhikkhu adalah seorang yang mengatakan kebenaran. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang yang mengatakan kebenaran,’ ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan inspirasi dalam Dhamma, mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Adalah kegembiraan yang berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai perlengkapan pikiran. Di sini, murid, seorang bhikkhu adalah seorang petapa … seorang yang menjalani kehidupan selibat … seorang yang menekuni pelajaran … seorang yang menekuni kedermawanan. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang yang menekuni kedermawanan,’ ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan inspirasi dalam Dhamma, mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Adalah kegembiraan yang berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai perlengkapan pikiran. Demikianlah Kelima hal itu yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, Aku menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengetahui jalan menuju alam-Brahma.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Apakah desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini?”

“Ya, Tuan, desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Misalkan ada seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra, dan segera setelah ia meninggalkan Naḷakāra mereka menanyakan kepadanya tentang jalan menuju desa itu. Apakah orang itu akan lambat atau ragu-ragu dalam menjawabnya?”

“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah? Karena orang itu dilahirkan dan dibesarkan di Naḷakāra, dan mengenal dengan baik semua jalan menuju desa itu.”

“Bagaimanapun juga, seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra mungkin saja lambat atau ragu-ragu dalam menjawab ketika ditanya tentang jalan menuju desa itu, tetapi seorang Tathāgata, ketika ditanya tentang alam-Brahma atau jalan menuju alam-Brahma, tidak akan pernah lambat atau ragu-ragu dalam menjawab. Aku memahami Brahmā, murid, dan Aku memahami alam-Brahma, dan Aku memahami jalan menuju alam-Brahma, dan Aku memahami bagaimana seseorang berlatih agar muncul kembali di alam-Brahma.”

“Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengajarkan jalan menuju alam Brahma. Baik sekali jika Guru Gotama sudi mengajarkan kepadaku jalan menuju alam-Brahmā.”

“Maka, murid, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Tuan,” ia menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Apakah, murid, jalan menuju alam-Brahmā? Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini adalah jalan menuju alam-Brahmā.

“Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh keseimbangan, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh keseimbangan, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini juga adalah jalan menuju alam-Brahmā.”

Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.

“Dan sekarang, Guru Gotama, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.”

“Silahkan engkau pergi, murid.”

Kemudian murid brahmana Subha, putera Todeyya, setelah merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.

Pada saat itu Brahmana Jāṇussoṇi sedang berkendara keluar dari Sāvatthī di siang hari dengan mengendarai kereta yang seluruhnya berwarna putih yang ditarik oleh kuda-kuda betina putih. Dari kejauhan ia melihat kedatangan si murid brahmana Subha, putera Todeyya dan bertanya kepadanya: “Dari manakah Guru Bhāradvāja datang di siang hari ini?”
“Tuan, aku datang dari hadapan Petapa Gotama.”

“Bagaimanakah menurut Guru Bhāradvāja sehubungan dengan kecemerlangan kebijaksanaan Petapa Gotama? Apakah Beliau bijaksana atau tidak?”

“Tuan, Siapakah aku yang dapat mengetahui kecemerlangan kebijaksanaan Petapa Gotama? Hanya seorang yang setara dengan Beliau yang dapat mengetahui kecemerlangan kebijaksanaan Petapa Gotama.”

“Guru Bhāradvāja memuji Petapa Gotama dengan sangat tinggi.”

“Tuan, siapakah aku yang dapat memuji Petapa Gotama? Petapa Gotama dipuji oleh pujian sebagai yang terbaik di antara para dewa dan manusia. Tuan, kelima hal itu yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, Petapa Gotama menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Jāṇussoṇi turun dari kereta putihnya yang ditarik oleh kuda-kuda betina putih, dan merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangannya sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan mengucapkan seruan ini: “Suatu keuntungan bagi Raja Pasenadi dari Kosala, sungguh suatu keuntungan besar bagi Raja Pasenadi dari Kosala bahwa Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, menetap di kerajaannya.”

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com