Sariputta | Paritta | Anattalakkhana Suttam Sariputta

Anattalakkhana Suttam


Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā bersemayam di dekat Benares, di
Isipatana, di Taman Rusa (Migadāya).
Di sana, Sang Bhagavā bersabda kepada rombongan lima orang bhikkhu:
Assajji, Vappa, Bhadiya, Koṇḍañña, Mahānama.
“O, para Bhikkhu.”
“Ya, Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“O, para Bhikkhu, badan jasmani (Rūpa) bukan aku. Jika badan jasmani
ini aku, maka badan jasmani ini tidak menimbulkan penderitaan. Orang yang memiliki badan jasmani demikian akan berpikir:
“Biarlah badan jasmaniku seperti ini,
biarlah badan jasmaniku tidak seperti ini.”
Tetapi oleh karena badan jasmani ini bukan aku,
maka badan jasmani ini menimbulkan penderitaan.
Tidak seorang pun dapat memiliki badan jasmani,
dengan demikian ia akan berpikir:
“Biarlah badan jasmaniku seperti ini, biarlah badan jasmaniku tidak seperti ini.”
“O, para Bhikkhu, perasaan (Vedanā) bukan aku . . . .
“O, para Bhikkhu, pencerapan (Saññā) bukan aku . . . .
“O, para Bhikkhu, bentuk pikiran (Sankhārā) bukan aku . . . .
“O, para Bhikkhu, kesadaran indria (Viññāṇa) bukan aku.
Jika kesadaran indria ini aku, maka kesadaran indria ini tidak menimbulkan penderitaan.
Orang yang memiliki kesadaran indria demikian akan berpikir:
“Biarlah kesadaran indriaku seperti ini,
biarlah kesadaran indriaku tidakseperti ini.”
Tetapi oleh karena kesadaran indria ini bukan aku,
maka menimbulkan penderitaan.
Tidak seorang pun dapat memiliki kesadaran indria,
dengan demikian ia akan berpikir:
“Biarlah kesadaran indriaku seperti ini,
biarlah kesadaran indriaku tidak seperti ini.”
“O, para Bhikkhu, bagaimanakah pandanganmu:
“Apakah badan jasmani ini kekal (Nicca) atau tidak kekal (Anicca)?”
“Tidak kekal, Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada
perubahan patut dipandang demikian:
“Ini milikku. Ini aku. Ini diriku?”
“Tidak, Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“Apakah perasaan ini kekal atau tidak kekal? . . . .
“Apakah pencerapan ini kekal atau tidak kekal? . . . .
“Apakah bentuk pikiran ini kekal atau tidak kekal? . . . .
“Apakah kesadaran indria ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan (Sukha) atau menyedihkan
(Dukkha)?”
“Menyedihkan (Dukkha), Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada
perubahan patut dipandang demikian:
“Ini milikku. Ini aku. Ini diriku?”
“Tidak, Bhante.” jawab kelima bhikkhu.
“Demikianlah, O, para Bhikkhu, setiap badan jasmani apa pun;
baik yang lalu, yang akan datang mau pun yang sekarang ada,
baik kasar mau punhalus, baik dalam diri sendiri mau pun di luar diri sendiri,
baik rendah mau pun luhur, baik jauh mau pun dekat
sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar.
Demikianlah hendaknya:
“Ini bukan milikku. Ini bukan aku. Ini bukan diriku.”
“Demikianlah, O, para Bhikkhu, setiap perasaan apa pun . . . .
“Demikianlah, O, para Bhikkhu, setiap pencerapan apa pun . . . .
“Demikianlah, O, para Bhikkhu, setiap bentuk pikiran apa pun . . . .
“Demikianlah, O, para Bhikkhu, setiap kesadaran indria apa pun; baik yang lalu, yang akan datang mau pun yang sekarang ada,
baik kasar mau pun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah mau pun luhur, baik jauh mau pun dekat,
sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar.
Demikianlah hendaknya:
“Ini bukan milikku. Ini bukan aku. Ini bukan diriku.”
“O, para Bhikkhu, apabila Siswa Ariya yang telah mendengar ini (Ariya-
Sacca) dan telah memahaminya,
dia menjauhkan diri dari kemelekatan badan jasmani,
dia menjauhkan diri dari kemelekatan perasaan,
dia menjauhkan diri dari kemelekatan pencerapan,
dia menjauhkan diri dari kemelekatan bentuk pikiran,
dia menjauhkan diri dari kemelekatan kesadaran indria.
“Apabila dia telah menjauhkan diri dari semuanya itu,
nafsu indria menjadi lenyap.
Dengan lenyapnya nafsu indria, dia terbebas (Vimutti).
Apabila dia telah bebas, timbullah Pengetahuan bahwa dia telah bebas.
Dia memahami:
Tumimbal lahir telah lenyap,
Telah tercapai hidup suci,
Tidak ada lagi yang harus dikerjakan,
Tidak kembali lagi ke dunia ini.”
Demikianlah sabda Sang Bhagavā,
kelima bhikkhu merasa puas dan mengerti sabda Beliau.
Sewaktu khotbah ini disampaikan,
batin kelima bhikkhu tersebut tidak lagi dikotori oleh kemelekatan.
Kritik dan Saran, Hubungi : cs@sariputta.com