SUJATA-JATAKA


“Buah apa ini yang berbentuk seperti telur,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana, tentang Ratu Malikā (Ratu Mallika).

Pada suatu hari, dikatakan, terjadi perselisihan di istana antara ratu dan raja. Orang-orang menyebutnya ‘Pertengkaran Kerajaan”. Raja menjadi begitu marah sehingga ia mengabaikan keberadaan ratunya. Malika berpikir, “Sang Guru tidak mengetahui hal ini, tentang bagaimana hubunganku dengan raja sekarang ini.” Tetapi Sang Guru rupanya mengetahui semuanya dan berencana untuk mendamaikan mereka berdua. Maka pada pagi hari, setelah berpakaian, sambil membawa serta patta dan jubah (luar), Beliau pergi ke kota Sāvatthi (Savatthi) diikuti rombongan lima ratus bhikkhu menuju istana. Raja membawakan patta-Nya dan mengantar-Nya masuk ke dalam rumahnya, mempersilakan Beliau duduk di tempat yang sudah disiapkan. Raja menuangkan air persembahan untuk para bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpin mereka, kemudian mempersembahkan makanan utama dan makanan pendamping untuk mereka. Akan tetapi, Sang Guru menutupi patta-Nya dengan tangan dan berkata, “Paduka, di manakah ratu berada?”

“Ada urusan apakah dengan ratu, Bhante?” jawabnya, “ia telah berubah, ia telah dimabukkan dengan kehormatan yang dinikmatinya saat ini.”

“Paduka,” kata Beliau, “setelah Anda sendiri yang memberi kehormatan tersebut kepada wanita ini, adalah salah untuk tidak menghiraukannya dengan tidak memaafkan pelanggaran yang telah ia perbuat terhadapmu.”

Raja mendengarkan perkataan-Nya dan menyuruh pelayan untuk memanggil ratu. Ratu pun melayani Sang Guru. Ia berkata, “Kalian seharusnya hidup bersama dalam kedamaian,” Ia pun pergi sembari melantunkan pujian-pujian kedamaian. Mulai saat itu, raja dan ratu hidup bersama dengan bahagia.

Para bhikkhu memulai pembicaraan di dalam balai kebenaran tentang bagaimana cara Beliau dapat merukunkan mereka kembali hanya dengan kata-kata. Ketika datang, Beliau menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Setelah diberitahukan jawabannya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, tetapi juga di masa lampau saya merukunkan mereka dengan kata-kata nasihat.” Dan Beliau pun menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala Brahmaddata adalah Raja Benares dan Bodhisatta menjadi menterinya sekaligus sebagai penasihat.

Suatu hari, ketika raja sedang duduk di jendela memandang ke luar istana, ia melihat seorang putri pedagang buah, seorang wanita yang sangat cantik di usianya yang muda, sedang berdiri dengan sebuah keranjang buah bidara cina dan meneriakkan, “Buah bidara, buah bidara ranum, siapa yang mau beli buah bidara saya?” Tetapi ia tidak berani masuk dalam istana kerajaan.

Tidak lama setelah mendengar suaranya, raja menjadi jatuh cinta kepadanya, dan ketika raja mengetahui bahwa ia belum menikah, raja pun memanggilnya dan menjadikannya sebagai permaisuri, dengan memberikannya kehormatan terbesar. Waktu itu ia sangat disayang dan menyenangkan di mata raja. Suatu hari, raja sedang duduk sambil makan buah bidara beralaskan piring emas. Dan ratu Sujātā (Sujata) bertanya kepadanya ketika melihat raja sedang memakan buah bidara itu, “Tuanku, apa gerangan yang sedang Anda makan?” dan mengucapkan bait pertama berikut:

Buah apa ini yang berbentuk seperti telur,

begitu cantik dan merah warnanya, diletakkan di atas

piring emas di hadapanmu?

Beritahukanlah saya dimana mereka tumbuh.

Raja menjadi marah dan berkata, “O putri dari seorang

penjual buah, penjual buah bidara. Tidakkah kamu mengenali

bidara, buah istimewa dari keluargamu sendiri?” Dan ia

mengucapkan dua bait berikut:

Dahulu dengan kepala kosong dan pakaian acak

Anda tidak merasa malu, memangku buah bidara, dan

sekarang Anda menanyakan namanya;

Anda telah termakan oleh kesombongan, Ratuku, Anda

tidak akan mendapat ketenangan dalam hidup,

pergilah dan kumpulkan buah bidaramu kembali. Anda

bukan lagi istriku.

Kemudian Bodhisatta berpikir, “Tak ada seorang pun kecuali diriku yang dapat merukunkan pasangan ini. Saya akan menenangkan kemarahan raja dan mencegahnya mengusir ratu.” Beliau pun mengucapkan bait keempat berikut:

Ini adalah keburukan dari seorang wanita, Tuanku, yang diberikan kedudukan tinggi:

Maafkanlah ia dan tenangkanlah amarahmu,

karena dirimulah yang memberikan kedudukan itu kepadanya.

Maka raja pun memaafkan kesalahan ratu dan mengembalikan posisinya seperti sediakala. Mulai saat itu, mereka hidup dengan tenang bersama.

Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka setelah selesai menyampaikan uraian ini: “Pada masa itu, raja Kosala adalah Raja Benares, Mallikā (Mallika) adalah Sujātā (Sujata) dan saya sendiri adalah menterinya.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3
Kritik dan saran,hubungi : [email protected]