Sariputta | Jataka | SIRI-JATAKA Sariputta

SIRI-JATAKA


“Kekayaan apa pun yang berusaha,” dan seterusnya .

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, tentang seorang brahmana yang mencuri keberuntungan. [410] Cerita pembukanya sudah dikemukakan sebelumnya. Sama seperti cerita tersebut sebelumnya, makhluk dewata yang berpandangan salah yang berdiam di pintu gerbang rumah Anāthapiṇḍika (Anathapindika), melakukan penyiksaan diri untuk menebus kesalahannya, memberikan lima ratus empat puluh juta emas kepingan dan memenuhi kamar gudangnya, kemudian menjadi teman dari saudagar tersebut. Anathapindika membawanya ke hadapan Sang Guru. Sang Guru memberikan khotbah Dhamma kepadanya. Dia mendengarkannya, dan kemudian menjadi seorang Sotāpanna. Mulai saat itu, kejayaan saudagar tersebut menjadi besar, sama seperti sebelumnya.

Kala itu hiduplah seorang brahmana di Sāvatthi, yang ahli dalam (melihat) keberuntungan, yang memikirkan kejadian ini, “Anathapindika itu tadinya miskin, tetapi sekarang dia menjadi kaya (dan terkenal). Bagaimana kalau dengan seolah-olah datang untuk berkunjung, saya pergi ke rumahnya dan mencuri keberuntungannya?” Maka dia pun berkunjung ke rumahnya dan disambut dengan hangat. Setelah beruluk salam, tuan rumah menanyakan ada keperluan apa dia datang. Brahmana itu sedang melihat ke sekeliling untuk mencari di mana keberuntungannya itu berada. Pada saat itu, Anathapindika memiliki seekor ayam jantan putih, seputih kerang, yang dipeliharanya di dalam sebuah kandang emas. Di jambul ayam jantan inilah keberuntungannya itu berada. Brahmana itu melihat di sekeliling dan kemudian mengetahui di mana keberuntungan saudagar itu berada. “Saudagar besar,” katanya, “saya mengajarkan ayat-ayat suci kepada lima ratus brahmana muda.

Kami mempunyai masalah dikarenakan seekor ayam jantan yang berkokok tidak pada waktunya. Ayam jantan milikmu itu (pastilah) berkokok tepat pada waktunya. Saya datang ke sini untuk mendapatkannya; sudikah Anda memberikannya kepadaku?”

“Ya,” balasnya. Persis pada saat kata itu diucapkan, keberuntungannya tersebut berpindah dari jambul ayam jantan ke sebuah permata yang ada di bantal. Brahmana itu memerhatikannya, dan kemudian meminta bantal itu juga. Begitu sang pemilik setuju untuk memberikan bantal itu kepadanya, keberuntungan tersebut pergi dari permata itu dan berdiam di sebuah tongkat yang digunakan sebagai alat pertahanan diri yang berada di atas bantal. Brahmana tersebut melihatnya dan memintanya juga. “Ambillah, dan pulanglah,” kata sang pemilik.

Dan persis pada saat itu juga, keberuntungan itu pergi dari tongkat tersebut dan pindah ke kepala istri (utama) sang saudagar, yang bernama Puññalakkhaṇādevī . Brahmana yang mencuri itu, di saat melihat kejadiannya, berpikir, “Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin kuminta.” Kemudian dia berkata kepada saudagar besar itu, “Tuan, saya tadinya datang ke rumahmu untuk mencuri keberuntunganmu. Keberuntungan itu awalnya berada di jambul ayam jantanmu. Tetapi ketika Anda memberikannya kepadaku, keberuntungan itu berpindah ke permata ini; ketika Anda memberikan permata ini kepadaku, dia kemudian berpindah ke tongkatmu; ketika Anda memberikan tongkat itu kepadaku, dia keluar darinya [411] dan berpindah ke kepala Puññalakkhaṇādevī. Sudah tentu ini tidak bisa diminta, saya tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Adalah hal yang tidak mungkin untuk mencuri keberuntunganmu—simpanlah itu!” dan setelah bangkit dari duduknya, dia pun pulang.

Anathapindika memutuskan untuk memberitahukan ini kepada Sang Guru, maka dia pun pergi ke wihara. Setelah memberikan salam penuh hormat kepada-Nya, dia duduk di satu sisi dan memberitahukan semuanya kepada Sang Buddha. Sang Guru mendengarkannya dan kemudian berkata, “Perumah Tangga yang Baik, kali ini keberuntungan dari seseorang tidak bisa diambil oleh orang lain. Akan tetapi, di masa lampau, keberuntungan milik orang yang yang tidak memiliki jasa-jasa kebajikan berpindah kepada orang yang memiliki jasa-jasa kebajikan.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepadanya.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga brahmana di Kerajaan Kāsi. Ketika dewasa, dia dididik di Takkasilā dan kemudian tinggal bersama dengan keluarganya. Tetapi ketika orang tuanya meninggal dunia, begitu terpukul dirinya sehingga dia (memutuskan untuk) menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa di Himalaya. Di sana dia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi.

Waktu yang lama pun berlalu dan dia turun gunung ke tempat tinggal penduduk untuk mendapatkan garam dan cuka (bumbu-bumbu lainnya), bermalam di taman milik Raja Benares. Keesokan harinya, ketika berkeliling untuk mendapatkan derma makanan, dia sampai di rumah seorang pelatih gajah. Orang ini sangat senang dengan sikap dan kelakuannya, memberinya makanan, dan tempat tinggal di taman miliknya sendiri, dengan melayaninya secara terus-menerus.

Kala itu, seorang laki-laki, yang pekerjaannya mengumpulkan kayu bakar, tidak berhasil kembali ke kota dari hutan tepat pada waktunya. Dia bermalam di sebuah kuil, kemudian meletakkan bundelan kayu bakar di bawah kepalanya sebagai bantal. Di kuil ini terdapat sejumlah ayam hutan, yang bertengger di sebuah pohon di dekatnya. Ketika hari menjelang pagi, salah satu dari mereka yang bertengger di tempat yang tinggi, membuang kotoran di badan seekor ayam hutan lainnya yang berada di bawah. “Siapa itu yang membuang kotoran di badanku?” tanya ayam hutan ini. “Saya,” jawab yang pertama.

“Mengapa?” “Tidak tahu,” jawabnya lagi, kemudian melakukannya kembali. Mereka pun saling mencela, dengan mengatakan, “Kekuatan apa yang kamu miliki?” Pada akhirnya, ayam yang berada di tempat yang lebih rendah berkata, “Barang siapa yang membunuhku dan memakan dagingku yang dipanggang di bara api, [412] akan mendapatkan uang seribu keping di pagi hari!” Dan ayam yang berada di tempat yang lebih tinggi berkata, “Jangan menyombongkan hal kecil seperti itu!

Barang siapa yang memakan dagingku akan menjadi raja; jika memakan dagingku yang bagian luar, dia akan menjadi panglima tertinggi atau permaisuri, tergantung apakah dia laki-laki atau wanita; jika memakan dagingku yang bagian dalam (di sekitar tulang), dia akan menjadi bendahara bila dia adalah seorang perumah tangga, bila dia adalah seorang petapa, maka dia akan menjadi kesayangan raja!”

Sang pengumpul kayu bakar ini mendengarnya dan berpikir, “Jika saya menjadi raja, maka tidaklah perlu mendapatkan uang seribu keping.” Tanpa bersuara, dia memanjat pohon itu dan menangkap ayam yang bertengger di tempat tinggi tersebut, kemudian membunuhnya: dia membungkusnya di dalam pakaiannya dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sekarang saya akan menjadi raja!” Segera setelah gerbang dibuka, dia pun berjalan masuk ke dalamnya.

Dia mencabuti bulu unggas tersebut, membersihkannya dan memberikannya kepada sang istri untuk dijadikan makanan yang enak untuk dimakan. Istrinya memasak daging itu dan nasinya, menghidangkannya di hadapannya, mempersilakan suaminya untuk makan.

“Istriku,” katanya, “terdapat kejayaan yang besar di dalam daging ini. Dengan memakannya, saya akan menjadi raja, dan Anda akan menjadi ratuku!” Maka mereka pun membawa daging dan nasi itu ke tepi Sungai Gangga, dengan maksud untuk mandi sebelum memakannya. Kemudian, setelah meletakkan daging dan nasi itu di tepi sungai, mereka pun mandi. Persis pada waktu itu, angin membuat air bergelombang yang kemudian menghanyutkan makanan tersebut. Daging itu terapung ke hilir sungai, sampai akhirnya terlihat oleh seorang pelatih gajah, seorang yang baik, yang sedang memandikan gajah-gajahnya. “Apa yang kita dapatkan ini?” katanya, dan mengambilnya. “Daging ayam dan nasi.” Dia meminta gajahnya untuk membungkus dan menutupnya kembali, kemudian membawanya pulang ke rumah kepada istrinya dengan pesan untuk membukanya ketika dia pulang nanti. Sang pengumpul kayu itu berlarian (ke sana ke sini) dengan perutnya yang dihantam oleh pasir dan air yang ditelannya.

Kala itu, seorang petapa yang memiliki kemampuan mata dewa, seorang murid kesayangan guru pelatih gajah, merenung, “Pelayanku ini tidak (pernah) meninggalkan tempat penjagaannya bersama dengan gajah-gajahnya. Kapan dia bisa mendapatkan promosi?” Ketika demikian merenung, dia menerawang laki-laki ini dengan penglihatannya dan mengetahui apa yang telah terjadi. Dia kemudian pergi dan duduk di dalam rumah pelayannya itu.

Ketika pulang, tuan rumah memberinya salam hormat dan duduk di satu sisi. Kemudian dia meminta istrinya untuk membawa bungkusan makanan itu dan menyiapkan makanan serta minuman untuk sang petapa. Petapa itu tidak menerima (semua) makanan yang diberikan kepadanya, dia berkata, “Saya akan membagi makanan ini.” Kemudian setelahnya, tuan rumah membiarkannya membagikan itu. Setelah membagi makanan itu ke dalam beberapa porsi, dia memberikan kepada tuan rumah daging bagian dalam, kepada istrinya daging bagian luar, dan daging di sekitar tulangnya kepada dirinya sendiri. Setelah selesai makan, dia berkata, “Pada hari ketiga, dimulai dari hari ini, Anda akan menjadi raja. Waspadalah dalam melakukan apa yang harus Anda lakukan.” Kemudian dia pun pergi.

Pada hari ketiga, seorang raja datang dan mengepung Benares. Raja meminta pelatih gajahnya untuk mengenakan jubah kerajaan miliknya dan naik gajahnya untuk bertempur. Dia sendiri mengenakan samaran dan berbaur dengan para penduduk. Tak lama kemudian, sebatang panah datang dengan cepat ke arahnya, menusuknya sampai akhirnya dia mati di sana. Pelatih gajah, yang mengetahui raja telah gugur, membagikan sejumlah besar uang dengan menabuh genderang memberikan pengumuman, “Bagi mereka yang menginginkan uang, ayo maju dan bertempur!” Para pasukannya kemudian dalam sekejap membunuh raja jahat tersebut. Dan setelah pemakaman raja dilaksanakan, para menteri membahas siapakah yang akan dinobatkan sebagai raja. Mereka berkata, “Sewaktu raja kita masih hidup, beliau memberikan jubah kerajaannya untuk dipakai oleh sang pelatih gajah. Orang ini telah bertempur dan menyelamatkan kerajaan. Maka kerajaan ini akan diberikan kepadanya!” Mereka pun menobatkannya sebagai raja dan istrinya sebagai ratu. Sedangkan Bodhisatta dijadikan sebagai anggota kerajaan yang paling disayang.

Setelah uraian ini berakhir, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Sang Guru mengucapkan dua bait kalimat berikut:

Kekayaan apa pun yang berusaha didapatkan oleh

mereka, tanpa bantuan keberuntungan, tidak akan pernah diperolehnya.

Semuanya itu, dengan bantuan dari keberuntungan,

mereka dapatkan, baik yang memiliki keahlian maupun tidak.

Di seluruh penjuru telah banyak kita lihat,

bukan hanya yang baik, tetapi juga makhluk lainnya,

yang harta bendanya itu berpindah tangan, tidak mereka

miliki dikarenakan bukan haknya.

Sesudah ini, Sang Guru menambahkan, “Perumah Tangga yang Baik, orang tersebut tidak memiliki jasa-jasa kebajikan apa pun di dalam kehidupan lampaunya; ini membuat Anda mendapatkan harta kekayaan itu.” Kemudian Beliau membabarkan khotbah Dhamma berikut264:

Inilah timbunan yang dapat memuaskan segala

keinginan dewa atau manusia;

Tak peduli apa pun yang ingin mereka miliki:

Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Wajah yang rupawan, suara yang merdu, tubuh yang

indah, bentuk yang elok, kekuasaan dan pengikut:

Semua itu diperolah dengan buah dari jasa kebajikan.

Kerajaan yang kecil maupun besar,

sukacita sebagai raja pemutar roda, serta kekuasaan

dewa di alam surga:

Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Dan setiap kejayaan manusia, kebahagiaan apa pun di

alam surga, bahkan kejayaan dari nibbana:

Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Dia memiliki sahabat-sahabat mulia;

berpedoman pada pengertian benar, dia mendapatkan

kebijaksanaan tertinggi dan pembebasan:

Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Kemampuan membeda-bedakan, pembebasan, dan

kesempurnaan para siswa, dan segala jenis pencerahan:

Semua itu diperoleh dengan buah dari jasa kebajikan.

Demikian besarnya buah yang dihasilkan,

singkatnya, demikian agungnya jasa kebajikan ini:

Karena itulah mereka yang kukuh (dalam Dhamma) serta

para bijak memuji penimbunan jasa-jasa kebajikan.

Terakhir, Beliau mengulangi bait ketiga berikut, menjelaskan kekayaan yang di dalamnya terdapat keberuntungan dari Anathapindika.

Seekor unggas, sebuah batu permata, sebuah tongkat,

seorang istri—semuanya ini telah matang dengan keberuntungan.

Ketahuilah, semua kekayaan ini, dimiliki oleh seorang

yang baik dan memiliki jasa kebajikan.

Kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Thera Ānanda adalah raja, dan petapa kesayangan raja adalah Aku, Sammāsambuddha.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2
Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com