SILAVIMAMSANA-JATAKA


“Dalam kebenaran tidak ada ,”dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kecaman terhadap nafsu (noda batin). Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Pānīya-Jātaka dalam buku kesebelas. Berikut adalah ringkasan kisahnya.

Lima ratus bhikkhu yang tinggal di Jetavana, pada penggal tengah malam hari, berdebat tentang kesenangan indriawi. Sang Guru selalu mengawasi para bhikkhu sepanjang siang dan malam, selama enam penggal waktu, seperti orang bermata satu yang menjaga matanya dengan hati-hati, seperti seorang ayah yang menjaga putra semata wayangnya, atau seperti sapi (yak) yang menjaga ekornya. Pada malam hari itu di Jetavana, dengan mata dewanya, Beliau mengetahui bahwa para bhikkhu ini seperti para perampok yang mendapatkan jalan masuk ke dalam istana raja. Setelah membuka ruangan-Nya yang wangi (gandhakuṭi) , Beliau memanggil Ānanda (Ananda) dan memintanya untuk mengumpulkan para bhikkhu yang tinggal di dalam koṭisanthāra17, dan menyiapkan sebuah tempat duduk untuk-Nya di dalam ruangan wangi tersebut. Ananda melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Guru. Kemudian Sang Guru, dengan duduk di tempat duduk yang sudah disiapkan, menyapa para bhikkhu ini secara bersamaan dan berkata, “Para Bhikkhu, orang bijak di masa lampau berpikir tidak akan bisa ada rahasia dalam perbuatan salah, dan disebabkan oleh itu menghindarinya,” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam kehidupan keluarga brahmana. Ketika beranjak dewasa, ia diajari ilmu pengetahuan oleh seorang guru di kota itu yang termashyur di dunia, yang juga

memimpin lima ratus siswa. Guru tersebut mempunyai seorang putri yang juga beranjak dewasa dan ia berpikir: “Saya akan menguji moralitas dari para pemuda ini dan akan menikahkan putriku dengan ia yang paling unggul dalam latihan moralitas (sila).”

Maka pada suatu hari, guru itu berkata kepada siswa-siswanya:

“Siswa-siswaku, saya mempunyai seorang putri dan saya bermaksud untuk menikahkannya, tetapi saya harus mendapatkan pakaian dan hiasan yang cocok untuknya terlebih dahulu. Oleh karena itu, kalian semua curilah benda-benda itu tanpa boleh diketahui siapa pun dan bawakan kepadaku. Benda apa pun yang kalian bawakan tanpa diketahui orang lain akan saya terima, sebaliknya bila benda itu diketahui oleh orang lain maka saya tidak akan menerimanya.” Mereka semuapun setuju, sembari berkata, “Bagus sekali,” dan mulai saat itu, mereka mencuri pakaian dan perhiasan tanpa diketahui teman-temannya dan membawakannya kepada sang guru. Dan ia mengatur tempat untuk setiap barang yang dibawa oleh masing-masing siswa di tempat terpisah. Sedangkan Bodhisatta tidak mencuri apa pun.

Guru itu berkata, “Siswaku, Anda tidak membawa apa pun kepadaku.” “Benar, Guru,” jawabnya. Sang guru pun bertanya, “Mengapa demikian, Siswaku?” “Anda tidak akan menerima benda apa pun kecuali benda itu diambil secara diam-diam tanpa diketahui siapa pun. Tetapi saya merasa tidak ada hal yang bisa dirahasiakan dalam perbuatan salah.”

Dan untuk mengilustrasikan kebenaran ini, ia mengucapkan dua bait berikut:

Dalam kebenaran tidak ada perbuatan salah yang dapat disembunyikan di dunia ini, perbuatan yang dianggap si dungu sebagai rahasia, ternyata diketahui oleh para makhluk halus lainnya.

Persembunyian (untuk rahasia) tidak dapat ditemukan di mana pun, bagiku kehampaan itu tidak ada, bahkan ketika tidak ada seorangpun yang terlihat, selagi diriku ada, maka itu bukanlah suatu kehampaan.

Sang Guru yang merasa senang dengan kata-katanya tersebut berkata, “Teman, tidak ada kekurangan kekayaan apa pun di dalam rumahku, tetapi saya berkeinginan untuk menikahkan putriku kepada orang yang bermoral, dan kulakukan perbuatan ini untuk menguji sifat para pemuda ini. Tetapi Andalah yang pantas mendapatkan putriku.” Kemudian ia menghiasi putrinya dan menikahkannya dengan Bodhisatta, dan kepada siswa-siswanya yang lain, ia berkata, “Bawalah benda yang kalian curi untukku kembali ke tempatnya.”

Kemudian Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, Oleh karena siswa-siswa yang buruk itu dengan ketidakjujuran mereka gagal mendapatkan wanita itu, sedangkan siswa yang bajik tersebut, dengan moralitasnya, mendapatkan wanita itu sebagai istrinya.” Dan dengan kebijaksanaan-Nya yang tercerahkan sempurna, Beliau mengucapkan dua bait berikut:

Tuan-tuan yang buruk dan rendah dan murahan dan

yang menyukai kesenangan,

bersemangat mendapatkan seorang istri,

menjadi tersesat;

Tetapi brahmana ini, sangat patuh pada peraturan

di masa mudanya,

memenangkan seorang mempelai wanita, dengan

keberaniannya menjunjung kebenaran.

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir mendengarkan kebenaran ini, kelima ratus bhikkhu ini mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada waktu itu, Sāriputta (Sariputta) adalah guru tersebut dan saya sendiri adalah pemuda yang bijak tersebut.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3
Kritik dan saran,hubungi : [email protected]